Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kepergok Sang Mama dan Gengsi yang Menguap
Waktu terasa berjalan sangat lambat di dalam kamar bernuansa abu-abu gelap itu.
Sudah hampir empat puluh menit Amira duduk di tepi kasur.
Punggungnya mulai terasa pegal, dan telapak tangan kanannya yang masih digenggam erat oleh Alfian sudah mulai berkeringat.
Namun, cowok itu tertidur begitu lelap.
Napasnya sudah lebih teratur, dan kerutan menahan sakit di dahinya sudah sepenuhnya menghilang.
Amira menopang dagunya dengan tangan kiri, menatap lekat wajah Alfian yang terlihat sangat polos saat sedang tidur.
Kalau lagi tidur gini, auranya damai banget. Coba aja pas melek dia nggak hobi ngegas, batin Amira sambil tersenyum geli.
Gadis itu meniup pelan poni Alfian yang sedikit menutupi mata.
Ceklek.
Suara pintu kamar yang terbuka tiba-tiba memecah kesunyian.
Amira terlonjak kaget di tempatnya.
Jantungnya seolah melompat ke tenggorokan saat melihat seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat elegan melangkah masuk.
Wanita itu mengenakan blazer rapi, raut wajahnya terlihat sangat panik.
Di belakangnya, menyusul Pak Tarjo yang membawa sebuah kantong plastik berisi obat-obatan.
"Ya ampun, Fian! Kamu ini kebiasaan banget maksa ke sekol—"
Kalimat wanita itu terputus seketika di udara.
Langkah kakinya terhenti mendadak tepat di tengah kamar.
Mata wanita cantik itu membelalak lebar, menatap lurus ke arah Amira yang duduk membeku di tepi kasur anaknya.
Keheningan yang luar biasa canggung langsung menyelimuti ruangan itu.
Amira menelan ludah dengan susah payah, wajahnya memucat karena panik tertangkap basah.
"E-eh, sore, Tante!" sapa Amira terbata-bata, buru-buru berdiri dari kasur.
Namun, karena tangan kanannya masih ditahan oleh Alfian, tubuh Amira kembali tertarik ke bawah dan berakhir duduk dengan posisi yang sangat tidak elit.
Sial! Lepasin, Alfian! jerit Amira dalam hati, berusaha menarik tangannya sekuat tenaga tanpa membangunkan cowok itu.
Namun genggaman sang kapten justru semakin mengerat dalam tidurnya.
Wanita elegan itu berkedip beberapa kali, memproses pemandangan langka di depan matanya.
Lalu, secara perlahan, raut paniknya menguap tanpa sisa.
Digantikan oleh senyum semringah yang luar biasa lebar hingga matanya menyipit bahagia.
"Pak Tarjo," panggil wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Amira.
"I-iya, Nyonya Diana?" sahut Pak Tarjo ikut bingung.
"Tolong cubit lengan saya, Pak. Ini saya nggak lagi berhalusinasi kan? Ada bidadari nyasar di kamar kulkas ini?"
Pak Tarjo hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya.
Wajah Amira kini sudah berubah warna menjadi semerah tomat rebus.
"B-bukan, Tante! A-aku temen satu sekolahnya Kak Alfian! Tadi kebetulan nganterin dia pulang karena dia nyaris pingsan di sekolah!" jelas Amira secepat kilat, bernapas pun ia lupa.
Diana melangkah mendekat, matanya berbinar-binar menatap gadis mungil di hadapannya.
Tatapan wanita itu turun ke arah tangan mereka yang saling bertautan erat di atas dada Alfian.
Lalu, tatapan itu naik ke arah hoodie hitam kebesaran yang menenggelamkan tubuh Amira.
"Temen satu sekolah? Tapi pakai jaket kesayangan Alfian dan pegangan tangan erat banget gitu?" goda Diana dengan kekehan renyah.
"I-ini... ini tadi terpaksa, Tante! Sumpah!" bela Amira makin panik, nyaris menangis karena saking malunya.
"Aku bawa motornya Kak Alfian, terus tanganku ditahan pas dia tidur. A-aku nggak ngapa-ngapain anak Tante kok!"
Diana tertawa lepas, suara tawanya sangat mirip dengan tawa Alfian yang renyah.
Wanita itu duduk di kursi belajar, menopang dagunya menatap Amira dengan penuh minat.
"Santai aja, Sayang. Tante malah seneng banget kamu ngapa-ngapain dia," celetuk Diana tanpa dosa.
"Hah?!" Amira melongo tak percaya.
"Habisnya, seumur hidup Tante rawat anak itu, nggak pernah sekalipun dia bawa cewek ke rumah. Apalagi sampai masuk kamar dan minta digenggam tangannya," jelas Tante Diana dengan nada hiperbola.
"Tante sampai sempat mikir, jangan-jangan anak Tante itu alergi perempuan."
Amira tak bisa menahan senyumnya mendengar penuturan polos ibu dari musuh bebuyutannya itu.
Ternyata, sikap dingin Alfian memang sudah bawaan orok.
"Berisik, Ma."
Suara parau yang teramat rendah itu tiba-tiba menginterupsi dari arah kasur.
Amira dan Tante Diana serempak menoleh.
Alfian perlahan membuka matanya, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya lampu.
Wajah cowok itu masih pucat, namun rahangnya langsung mengeras saat melihat mamanya sedang menatapnya dengan senyum penuh ejekan.
Lalu, mata Alfian beralih menatap tangan kanannya sendiri.
Tangan yang saat ini sedang memegang erat telapak tangan Amira tepat di depan dada bidangnya.
Deg.
Mata Alfian melebar.
Kesadaran menghantamnya bertubi-tubi.
Dalam hitungan detik, cowok jangkung itu langsung melepaskan tangan Amira seolah ia baru saja memegang bara api.
Alfian beringsut mundur, menarik selimutnya hingga sebatas leher, lalu membuang muka ke arah jendela dengan wajah yang memerah hebat.
Gengsinya benar-benar hancur lebur berkeping-keping.
Diana makin terbahak-bahak melihat reaksi anak bujangnya itu.
"Cieee, yang malu ketahuan mamanya lagi manja-manjaan," goda Diana tanpa ampun.
"Mama apaan sih! Dia yang maksa mau megang!" kilah Alfian ngegas, suaranya terdengar sangat parau.
Amira langsung melotot garang, tak terima difitnah.
"Enak aja! Kamu yang nahan tanganku dari tadi sampai kram tahu nggak?!" sembur Amira tak peduli ada mamanya di sana.
"Tuh kan, ketahuan bohongnya. Udah gengsian, tukang fitnah lagi," tambah Diana ikut memojokkan Alfian.
Alfian menenggelamkan setengah wajahnya ke balik selimut, benar-benar kehabisan kata-kata untuk membela diri.
Sialan.
Reputasinya sebagai kapten arogan yang ditakuti satu sekolah benar-benar musnah di dalam kamar ini.
Amira buru-buru berdiri, merapikan hoodie kebesaran di tubuhnya.
"Tante, berhubung Kak Alfian udah bangun dan ada Tante di sini, aku izin pamit pulang ya. Udah mau magrib," pamit Amira sopan.
"Loh, buru-buru amat, Sayang? Nggak mau makan malam dulu di sini?" tawar Diana menahan.
"Makasih Tante, tapi mama di rumah pasti udah nyariin," tolak Amira dengan senyum manis.
"Ya udah kalau gitu. Pak Tarjo, tolong antar... eh, nama kamu siapa, Cantik?" tanya Tante Diana lembut.
"Amira, Tante."
"Tolong antar Amira pulang ke rumahnya ya, Pak. Pakai mobil Saya aja yang di depan," perintah Tante Diana pada Pak Tarjo.
"Baik, Nyonya."
Amira menyalimi tangan Diana dengan sopan.
Namun sebelum pergi, Amira melirik ke arah gundukan selimut di atas kasur.
"Cepat sembuh, Kapten Kulkas. Besok jangan maksa ke sekolah lagi," pesan Amira pelan.
Tidak ada jawaban dari balik selimut, hanya terdengar dengusan kesal yang sengaja dikeraskan.
Amira terkekeh pelan, lalu melangkah keluar dari kamar mengikuti Pak Tarjo.
Sepeninggal Amira, Diana berjalan mendekati kasur anaknya.
Wanita itu menarik paksa selimut yang menutupi wajah Alfian.
"Apa sih, Ma," gerutu Alfian memejamkan mata, wajahnya masih memerah menahan gengsi.
Diana duduk di tepi kasur, menempelkan punggung tangannya ke dahi Alfian.
"Panas banget badan kamu, Fian. Kamu maksa ke sekolah hari ini cuma buat ketemu cewek manis itu, ya?" tebak Diana dengan insting ibunya yang setajam silet.
Alfian tidak menjawab, namun rahangnya yang mengeras menjadi jawaban yang lebih dari cukup.
Tante Diana tersenyum lembut, mengusap puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Mama seneng deh lihat kamu."
Alfian membuka matanya, menatap mamanya dengan bingung.
"Seneng kenapa?"
"Seneng, karena akhirnya kamu bisa natap orang lain selain keluarga kamu sendiri," ucap Tante Diana lirih, senyumnya menyiratkan kelegaan yang luar biasa.
"Sejak hari itu... Mama pikir kamu nggak akan pernah mau peduli lagi sama dunia luar."
Mendengar ucapan itu, dada Alfian mendadak terasa sesak.
'Hari itu'.
Kalimat sakti yang selalu dihindari oleh semua orang di rumah ini.
"Ma," panggil Alfian pelan.
"Iya, Sayang?"
Alfian menatap langit-langit kamarnya, pandangannya menerawang jauh.
"Dulu... sebelum kecelakaan itu... apa aku pernah punya temen masa kecil?"
Tangan Diana yang sedang mengusap kepala Alfian mendadak terhenti di udara.
Senyum di wajah wanita itu pudar seketika, digantikan oleh raut wajah pias yang menyiratkan ketakutan mendalam.
"K-kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu, Fian?" suara Diana bergetar sangat halus, nyaris tak terdengar.
Alfian menoleh, menatap ibunya dengan tatapan menuntut yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Jawab aja, Ma. Apa aku pernah punya temen masa kecil... yang manggil aku 'Sky'?"
Seketika itu juga, kantong plastik berisi obat di tangan Tante Diana terjatuh ke lantai.
Bruk.
Wajah Diana mendadak Pucat pasi, menatap mata anak lelakinya dengan napas tertahan.
Sebuah rahasia besar yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh keluarganya, kini kembali menggedor paksa pintu masa lalu.