Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. Umpan Berdarah
Lantai empat puluh Pratama Tower diselimuti oleh atmosfer dingin yang begitu mencekam. Ruang rapat utama bertaraf internasional itu didominasi oleh panel kayu jati gelap, marmer hitam import, serta pendar lampu kristal gantung yang memantulkan bayangan para petinggi perusahaan. Di sepanjang meja mahoni raksasa sepanjang dua belas meter, belasan komisaris senior, pengacara klan, wakil direksi, hingga perwakilan pemegang saham asing duduk kaku. Masing-masing memegang berkas rahasia dengan raut muka tegang, memendam intrik politik internal yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Pagi ini, konstelasi politik klan Pratama berubah total. Kehadiran Clarissa yang memegang kepemilikan mutlak atas sepuluh persen saham veto, berdampingan dengan Dominic selaku Chief Executive Officer (CEO) yang memimpin dewan dengan otoritas besi, telah mengguncang tatanan lama yang selama ini didominasi oleh para sesepuh klan.
Di kepala meja utama, Kakek Silas duduk tegap di kursi kepresidensialnya. Tangan tua yang dipenuhi urat-urat menonjol itu mencengkeram kepala tongkat naga berbalut perak murni. Di bibirnya, sebatang cerutu Kuba mengalunkan asap tipis berwarna kelabu yang membumbung lentur ke udara. Wajah Sang Patriark tampak bagaikan pahatan batu granit—keras, dingin, tak tersentuh emosi, dan memancarkan wibawa kepemimpinan yang telah bertahan selama setengah abad.
Mata Silas yang tajam bagaikan elang menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya tertuju lurus pada sosok Clarissa dan Dominic yang duduk berdampingan di sisi kanan meja.
"Sepuluh persen saham veto sudah resmi berpindah tangan kepadamu, Clarissa," suara Kakek Silas bergaung berat. Nada bicaranya berwibawa, memotong keheningan ruangan bagaikan vonis di ruang pengadilan. "Tapi jangan pernah berpikir kau bisa duduk bersenang-senang atau merasa sudah memenangkan perang ini hanya karena potongan kertas itu."
Kakek Silas memajukan posisi tubuhnya, mengetukkan ujung tongkat naganya ke lantai marmer dengan dentuman kencang. TAK!
Suara keras itu membuat beberapa komisaris senior yang penakut tersentak di kursi mereka.
"Dewan komisaris hari ini secara resmi menyetujui penunjukanmu sebagai Pengawas Utama untuk Proyek Garuda," sambung Kakek Silas dingin tanpa kompromi. "Sebuah proyek pembangunan infrastruktur pelabuhan dan jaringan logistik nasional senilai seratus triliun rupiah."
Deg!
Suasana di dalam ruangan seketika berubah riuh oleh bisik-bisik tertahan dari para anggota dewan. Beberapa komisaris dari faksi lama saling melempar lirikan penuh arti, menyembunyikan senyuman sinis di balik cangkir kopi porselen mereka. Bagi siapa pun yang paham peta politik Pratama Group, Proyek Garuda bukanlah sebuah hadiah kekuasaan, melainkan sebuah kuburan berdarah.
Proyek mega-infrastruktur tersebut dikenal sangat beracun. Selain melibatkan perputaran uang yang teramat fantastis, Proyek Garuda sarat akan ancaman sabotase fisik dari kartel saingan internasional, sengketa lahan lokal yang kerap memicu pertumpahan darah, serta permainan politik tingkat tinggi dari faksi-faksi korup. Menyerahkan kepemimpinan proyek tersebut kepada Clarissa sama saja dengan mendorong wanita itu masuk ke dalam rahang serigala. Jika Clarissa gagal atau terjadi cacat hukum sekecil apa pun, dewan memiliki alasan sah untuk mencabut kembali saham vetonya dan mendepaknya dari klan.
Dominic seketika menegakkan posisinya. Aura dominasi yang teramat menindas meluap dari tubuh Sang CEO. Garis rahangnya mengetat kaku, sementara iris mata kelamnya menyipit tajam menatap Sang Kakek. Pria itu menyandarkan kedua lengannya di atas meja, berdiri sedikit untuk menegaskan penolakan mutlaknya di depan seluruh komisaris.
"Aku menolak keputusan ini," tegas Dominic dengan suara berat yang menggelegar kaku, seketika membungkam seluruh riuh bisikan di ruangan. "Proyek Garuda adalah ladang konflik yang dipenuhi risiko sabotase hukum dan keamanan fisik. Menaruh Clarissa sebagai Pengawas Utama tanpa persiapan tim eksekutif serta jaminan keamanan tingkat tinggi adalah keputusan konyol yang sengaja dirancang untuk kegagalan!"
Para komisaris senior menahan napas. Ruangan rapat itu mendadak menjadi arena pertempuran aura antara CEO dan Patriark klan. Penolakan terang-terangan dari Dominic membuktikan betapa pria itu siap memasang badannya untuk melindungi posisi Clarissa.
Namun, sebelum ketegangan itu memuncak menjadi ledakan konfrontasi yang memecah konsensus dewan, sebuah gerakan anggun terjadi.
Jemari lentik Clarissa terangkat, mendarat dengan sangat lembut di atas lengan tegap Dominic yang tegang.
Clarissa tidak menunjukkan kepanikan, amarah, ataupun keraguan sedikit pun. Wanita itu justru memiringkan kepalanya sedikit, menatap Dominic dari samping. Tatapan mata keemasannya yang biasanya dipenuhi oleh aura dingin dan tak tersentuh sebagai Ratu Victoria kini melunak. Di balik iris emas itu, berpijar kehangatan memikat yang hanya diperuntukkan bagi suaminya.
Jemari halus Clarissa mengusap perlahan punggung tangan Dominic, memberikan tekanan lembut namun mantap yang seketika meredakan otot-otot tegang di lengan pria itu.
"Dominic..." bisik Clarissa amat lembut. Suaranya yang merdu mengalun bagai bisikan sutra, sanggup meredam gelombang amarah dan badai kepanikan di dada Sang CEO. "Percayalah padaku. Aku bisa dan sangat mampu menangani proyek ini."
Dominic menoleh seketika. Pandangan matanya terkunci rapat pada binar keyakinan mutlak yang terpancar dari iris keemasan sang istri. Di dalam tatapan Clarissa, Dominic tidak menemukan ketakutan seorang wanita yang terancam, melainkan ketajaman seorang penguasa sejati yang telah memperhitungkan sepuluh langkah ke depan. Cengkeraman emosi di dada Dominic perlahan melarut di bawah pesona kelembutan dan otoritas halus istrinya.
"Aku tahu seberapa berbahaya tempat ini, Suamiku," lanjut Clarissa amat manis, menyunggingkan senyuman paling memikat yang melumpuhkan segala keraguan di mata Dominic. "Tapi dengan dirimu yang memegang kendali operasional di sisiku... tidak ada satu pun serigala di ruangan ini yang sanggup menjatuhkan kita."
Dua detik keheningan yang intens berlalu di antara mereka berdua. Dominic menarik napas panjang, merasakan gelora gairah, rasa bangga, dan rasa percaya yang mendalam mendominasi jiwanya. Ketegangan di wajahnya surut, berganti dengan sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyuman tipis yang teramat berbahaya, karismatik, dan sarat akan dominasi.
Dominic membalikkan tangannya, menggenggam erat jemari halus Clarissa di atas meja di hadapan seluruh dewan yang terperangah. Ia kemudian kembali berpaling menatap Kakek Silas dengan aura kepemimpinan yang tak tergoyahkan.
"Kami menerima Proyek Garuda," ujar Dominic tegas, penuh taktik, dan cerdik, seketika membalikkan kondisi tekanan dewan. "Tapi dengan satu syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat: seluruh kendali operasional, wewenang keamanan, dan alokasi anggaran proyek berada seratus persen di bawah otorisasi gabungan CEO dan Pengawas Utama. Tanpa campur tangan atau intervensi dari komisaris lain!"
Pernyataan Dominic mengunci pergerakan para komisaris yang berniat bermain keruh di belakang layar.
Kakek Silas menyunggingkan senyuman dingin dari balik kumis tebalnya. Binar matanya yang tua berkilat puas menyaksikan bagaimana kedua cucunya saling mengunci kekuatan, berdiri sejajar sebagai pasangan penguasa yang mematikan dan tak tergolongkan.
"Buktikannya lewat tindakan, bukan mulut manis," desis Kakek Silas tajam, lalu berbalik berdiri dan melangkah pergi meninggalkan ruang rapat diiringi oleh derap langkah kaku dari para pengawal pribadinya.
Satu Bulan Kemudian — Ruang Kerja Pengawas Utama Proyek Garuda.
Satu bulan telah berlalu sejak keputusan mendadak di ruang rapat dewan hari itu, dan segalanya berkembang ke arah yang sama sekali tidak diduga oleh para musuh klan Pratama.
Di bawah kendali mutlak Clarissa dan Dominic, Proyek Garuda tidak menjadi kuburan seperti yang diharapkan faksi lama, melainkan tumbuh menjadi mahakarya kejayaan baru bagi Pratama Group. Semuanya berjalan sangat baik, bahkan jauh melampaui target awal yang ditetapkan oleh dewan direksi.
Di dalam ruangan kerja barunya yang luas berkonsep glass-office mewah di lantai tiga puluh lima, Clarissa berdiri anggun menatap panorama gedung pencakar langit Jakarta. Gaun blazer berwarna putih gading membingkus tubuh proporsionalnya dengan sempurna, memancarkan aura Ratu Victoria yang begitu dingin, cerdas, dan memesona.
Di meja kerjanya, bertumpuk laporan keuangan, audit independen, dan grafik pertumbuhan saham yang semuanya menunjukkan indikator hijau menyala.
Langkah kaki yang tegap dan berwibawa terdengar mendekat dari arah pintu. Dominic melangkah masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga ke siku. Senyuman penuh kebanggaan terukir di wajah tampannya saat melihat istrinya.
"Laporan audit minggu keempat baru saja dirilis, Clarissa," suara Dominic terdengar hangat dan rendah saat ia berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Clarissa. "Efisiensi alokasi dana logistik naik hingga empat puluh persen. Jaringan distributor internasional yang dulunya memblokir jalur pelabuhan kita, kini justru menawarkan kerja sama eksklusif setelah kau memotong jalur tengkulak korup faksi lama."
Clarissa membalikkan badan, menyunggingkan senyuman tipis yang amat elegan. "Aku hanya merapikan apa yang sengaja dibuat berantakan oleh orang-orang Kakek Silas, Dominic. Ketika jalur hukum dipastikan steril dan jaminan keamanan operasional dari timmu berjalan ketat, para investor luar tidak memiliki alasan untuk menolak."
"Kau bukan sekadar merapikannya, Sayang. Kau merevolusi seluruh sistemnya," puji Dominic penuh binar kekaguman. Tangan tegapnya terangkat, mengusap lembut pipi mulus Clarissa, menikmati momen keberhasilan mereka berdua. "Dalam waktu tiga puluh hari, nilai saham Garuda melonjak sampai ke titik tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Bahkan Kakek Silas tidak sanggup menemukan satu pun celah kesalahan untuk menegurmu di depan publik."
"Semua terlihat sempurna dan sangat tenang, bukan?" bisik Clarissa merdu, menyandarkan dagunya sedikit di dada tegap Dominic sambil menikmati kehangatan suaminya.
"Ya, semuanya berjalan dengan sangat baik," jawab Dominic mantap, memeluk pinggang halus istrinya dengan erat. "Kita berhasil menguasai benteng terkuat klan ini."
Namun, di tengah keheningan sore dan keberhasilan yang berkilauan itu, Clarissa hanya tersenyum tipis. Matanya yang berwarna keemasan menyipit menatap bayangan kota di balik kaca raksasa—merasakan kejayaan mutlak yang baru saja ia raih bersama Dominic, tanpa menyadari bayang-bayang mata misterius yang mulai bergerak di kegelapan.
sangat menarik sekali