Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kabut subuh yang dingin masih menyelimuti jalan setapak batu di lereng Puncak Pedang Utama.
Di bawah temaram lentera batu yang bergoyang ditiup angin pegunungan, sesosok pemuda berjalan terhuyung-huyung dengan langkah gontai.
Wajah tampan Song Ming yang dulu dipuja ribuan murid kini tampak tirus dan pucat pasi. Lingkaran hitam tebal melingkari kelopak matanya yang memerah, menandai sepuluh hari penuh tanpa memejamkan mata sedetik pun.
Bagi sang Tuan Muda Sekte, sepuluh hari terakhir terasa bagai siksaan di dasar neraka pertapaan.
Setiap kali mendengar bunyi sendok perak beradu dengan mangkuk sup di kamar lantai dua, bulu kuduk Song Ming langsung meremang kencang. Setiap kali Gu Ran terbatuk kecil karena menghirup udara dingin, jantung Song Ming serasa melompat keluar menembus tenggorokan.
Ancaman Kakek Leluhur yang bersumpah akan mengulitinya hidup-hidup jika sehelai rambut Gu Ran tanggal telah tertanam permanen di dalam alam bawah sadarnya.
TUK!
Suara kerikil kecil yang terlempar oleh ujung sepatunya seketika membuat Song Ming tersentak kaget.
Ia membeku di tempat, lalu menatap kerikil kapur sebesar biji jagung itu dengan tatapan penuh kengerian.
“Kerikil pembawa sial…” bisik Song Ming dengan suara parau yang gemetar.
Tanpa memedulikan jubah sutra zamrudnya yang mahal, Song Ming menjatuhkan kedua lututnya ke atas ubin batu pualam yang basah oleh embun beku.
Dari sela lengan bajunya, ia mengeluarkan selembar sapu tangan sutra bersulam benang perak. Sapu tangan pusaka bernilai puluhan batu roh itu kini tampak kusam dan robek di bagian sudutnya akibat bergesekan dengan batu kasar selama berhari-hari.
Dengan gerakan panik dan teliti, Song Ming mulai menggosok ubin batu pualam di bawah kakinya.
Ia menyapu debu tanah, menyingkirkan daun pinus basah, dan memunguti setiap serpihan pasir kapur yang mungkin bisa membuat sandal jerami Gu Ran tergelincir.
“Jangan sampai ada yang licin… tidak boleh ada yang tajam…” gumam Song Ming berulang-ulang dengan rahang bergemeletuk menahan dingin.
Di saat yang sama, serombongan murid luar yang hendak pergi berlatih pedang pagi melintas di persimpangan jalan setapak bawah tebing.
Langkah kaki belasan murid itu mendadak terhenti kaku.
Mereka memandang ke arah bukit dengan mata membelalak tak percaya.
Di sana, di tengah kabut subuh yang membekukan tulang, Tuan Muda Song Ming—jenius pedang nomor satu yang biasanya memandang orang lain dengan dagu terangkat tinggi—sedang berlutut di tanah batu sambil menggosok lantai menggunakan sapu tangannya.
Wajah sang Tuan Muda tampak sangat khusyuk dan penuh konsentrasi, seolah sedang memahat formasi dewa di atas batu kapur.
“Lihat itu…” bisik seorang murid luar dengan suara bergetar takjub. “Tuan Muda Song sedang membersihkan jalanan dengan tangannya sendiri di tengah embun beku subuh!”
“Ini pasti… latihan pemurnian batin tingkat tinggi!” timpal murid luar lainnya dengan mata berbinar kagum. “Untuk menembus Alam Pembentukan Pondasi, seseorang harus mengikis habis keangkuhan egonya. Tuan Muda sengaja merendahkan dirinya menjadi pembersih debu demi menyatu dengan Dao Kerendahan Hati!”
“Luar biasa… wawasan spiritual Tuan Muda benar-benar berada di tingkat yang tak terjangkau nalar kita!”
Tanpa dikomando, beberapa murid luar di barisan belakang segera menjatuhkan lutut mereka ke tanah. Mereka mulai menyeka lantai batu di sekitar mereka menggunakan lengan baju masing-masing, berharap mendapat secercah pencerahan spiritual dari teladan sang Tuan Muda.
Song Ming yang sedang sibuk memunguti kerikil hanya melirik sekilas ke arah kerumunan murid yang ikut berlutut itu.
Anjing-anjing gila ini sedang melakukan apa? batin Song Ming dengan napas tersengal penuh kebingungan. Namun karena tenaganya sudah terkuras habis oleh insomnia sepuluh hari, ia memilih mengabaikan mereka dan kembali menggosok ubin dengan sapu tangannya.
Matahari pagi mulai menyingsing, memancarkan kehangatan emas yang mengusir sisa kabut tebing.
Pintu geser sutra di balkon lantai dua Paviliun Awan Mengambang terbuka perlahan.
Gu Ran melangkah keluar ke serambi dengan jubah sutra putih longgar yang berkibar santai. Di tangannya, tersaji secawan teh hangat yang baru saja dicicipi dan diantarkan oleh Xiao Zhu.
Gu Ran menyandarkan sikunya di pagar balkon, memandang ke bawah ke arah jalan setapak yang kini mengkilap bersih bagai cermin raksasa.
Di kejauhan, Song Ming masih duduk bersimpuh kelelahan dengan sapu tangan compang-camping di tangannya, dikelilingi belasan murid yang sedang menggosok batu jalanan dengan penuh semangat pencerahan.
Gu Ran menyesap teh hangatnya perlahan, merasakan sirkulasi energinya yang berada di Puncak Pemurnian Qi mengalir tenang tanpa beban.
“Jalanannya sudah sangat mengkilap,” gumam Gu Ran santai.
Ia mengangkat pandangannya ke arah puncak tebing tertinggi di sebelah barat—sebuah tebing curam menjulang seribu tombak tempat pusaran badai angin dingin melolong liar siang dan malam.
Gu Ran menunjuk puncak tebing itu dengan ujung cawan tehnya.
“Xiao Zhu,” panggil Gu Ran dengan nada mengantuk. “Beri tahu Patriark dan dewan tetua. Siang ini cuacanya lumayan cerah, aku mau tidur siang dan berjemur di Tebing Angin Puyuh.”