Indonesia
NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Senin Pagi yang Menggemparkan dan Pengumuman Kemah Bakti

Senin pagi di SMA Dirgantara pasca-acara Pensi biasanya diwarnai dengan hawa malas yang luar biasa. Para siswa berjalan gontai menyeret kaki, masih terjebak dalam euforia sisa-sisa konser malam Sabtu kemarin.

Topik pembicaraan di sepanjang koridor, kantin, hingga toilet sekolah tak jauh-jauh dari betapa pecahnya penampilan kolaborasi band OSIS, terutama pesona mematikan si kembar Fino dan Alfian.

Rasa kantuk satu sekolah pagi itu mendadak menguap tanpa sisa. Tepat pukul setengah tujuh pagi, sebuah pemandangan langka nan menggemparkan terjadi di area parkir utama.

Suara deru mesin motor sport hitam metalik yang sangat familier memecah keheningan gerbang depan. Motor itu berbelok mulus dan parkir di tempat khusus deretan petinggi OSIS.

Seluruh pasang mata yang sedang berada di sekitar area parkir otomatis menoleh.

Alfian turun lebih dulu, melepaskan helm full-face-nya, lalu menyugar rambut hitamnya yang sedikit berantakan.

Namun, bukan ketampanan sang kapten yang membuat rahang anak-anak Dirgantara seolah mau copot, melainkan apa yang cowok itu lakukan sedetik kemudian.

Alih-alih langsung berjalan cuek ke gedung utama seperti rutinitasnya selama dua tahun terakhir, Alfian justru menoleh ke arah jok belakang.

Tangannya terulur santai, menangkup pinggang gadis mungil di belakangnya, dan membantu gadis itu turun dari motor dengan kelembutan yang membuat siapa pun yang melihatnya nyaris terkena serangan jantung.

Gadis itu adalah Amira.

"Al, diliatin orang-orang tuh! Udah ih, aku bisa turun sendiri!" bisik Amira panik dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus. Ia buru-buru melepas helm bogonya dan menyerahkannya pada Alfian dengan gerakan canggung.

Alfian menerima helm itu, meletakkannya di atas tangki motor, lalu menatap Amira dengan sebelah alis terangkat. Senyum miring yang luar biasa menyebalkan—namun luar biasa tampan—terbit di sudut bibirnya.

"Biarin aja. Mata, mata mereka. Yang penting lo selamat sampai bawah," jawab Alfian lempeng tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Amira merapikan rok seragamnya dengan tergesa, berniat langsung mengambil langkah seribu menuju kelasnya sebelum ia mati berdiri karena ditatap oleh belasan pasang mata.

Baru saja kaki Amira melangkah satu tindak...

Grep.

Tangan besar Alfian langsung menangkap pergelangan tangannya. Dengan satu tarikan halus, jemari panjang cowok itu menyusup di sela-sela jari Amira, mengunci genggaman mereka erat-erat tanpa memberikan celah sedikit pun untuk kabur.

Deg!

"Alfian! Lepasin!" cicit Amira, berusaha menarik tangannya namun tenaga cowok itu terlalu dominan.

"Ini di sekolah! Nanti kena tegur guru tatib gimana?!" ujar Amira cemas

"Gue koordinator OSIS, ingat? Tatib nggak akan negur gue cuma karena gue gandeng tangan pacar gue sendiri," balas Alfian tenang.

Cowok itu menarik tangan Amira agar gadis itu berjalan tepat di sampingnya.

"Sesuai janji gue semalam. Sejengkal pun lo nggak bakal jalan sendirian di sekolah ini. Ayo."

Dan detik itu juga, chaos di SMA Dirgantara resmi dimulai.

Saat Alfian dan Amira melangkah beriringan memasuki koridor utama gedung sekolah, suasana yang awalnya ramai seketika mendadak senyap.

Para siswa dan siswi yang sedang mengobrol di depan kelas menghentikan aktivitas mereka secara otomatis. Mulut mereka sedikit terbuka, menatap tak percaya pada tautan tangan di antara sang kapten basket paling ditakuti se-antero sekolah dengan siswi kelas sebelas yang dulu sering ia marahi habis-habisan.

“Gila... itu Kak Alfian beneran gandengan sama Amira?!”

“Seriusan?! Bukannya mereka musuh bebuyutan gara-gara Masalah d kantin waktu itu?!”

“Anjir, plot twist macam apa ini?! Terus nasib Kak Fino gimana dong?!”

Bisik-bisik heboh mulai terdengar menyapu sepanjang koridor bak ombak.

Amira menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap lantai keramik di bawahnya tiba-tiba terbelah dan menelannya hidup-hidup. Jantungnya berdetak brutal menahan malu.

Anehnya, genggaman tangan Alfian yang hangat dan kokoh memberikan rasa aman yang membuat kakinya tetap kuat melangkah.

Di persimpangan koridor kelas dua belas, mereka berpapasan dengan rombongan Sisca—kakak kelas yang dulu pernah menyiram seragam Amira dan mengaku-ngaku sebagai pacar Alfian.

Sisca dan teman-temannya membeku di tempat. Wajah Sisca seketika memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak melihat jari-jari Alfian bertaut erat dengan jari Amira.

"Alfian! Lo... lo beneran jadian sama bocah ini?!" sembur Sisca tak bisa menahan diri, memblokir jalan mereka.

Langkah Alfian terhenti. Ia tidak melepaskan tangan Amira, justru menarik gadis itu sedikit ke belakang punggung tegapnya, melindunginya secara refleks. Mata elang Alfian menatap Sisca dengan sorot dingin dan meremehkan.

"Punya masalah sama urusan pribadi gue, Sisca?" balas Alfian dengan nada bariton yang sangat rendah dan tajam, tanpa basa-basi.

"Ta-tapi Yan, lo kan tahu dari dulu gue—"

"Minggir. Gue mau nganterin pacar gue ke kelasnya. Jangan halangin jalan," potong Alfian mutlak, tak memberikan ruang sedikit pun untuk drama.

Dengan bahu tegak dan wajah datar, Alfian berjalan menerobos rombongan Sisca begitu saja, membawa Amira pergi meninggalkan kakak kelas itu yang kini mendengus marah sambil menahan tangis malu karena ditonton banyak orang.

Sesampainya di depan pintu kelas XI IPS 2, Maya dan Rara yang sedang piket menyapu kelas langsung menjatuhkan sapu mereka ke lantai dengan bunyi 'klotak' yang keras. Rahang kedua sahabat Amira itu anjlok menyentuh lantai.

Alfian akhirnya menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya menghadap Amira, lalu melepaskan genggaman tangannya dengan sangat enggan.

"Belajar yang bener," pesan Alfian, tangannya naik untuk mengacak pelan ujung rambut Amira yang sudah rapi.

Amira mengerucutkan bibirnya, meski pipinya masih merona parah.

"Bisa nggak sih gausah bikin heboh satu sekolah di hari Senin?! Aku berasa kayak buronan yang lagi diarak tahu!" omel Amira berbisik.

Alfian hanya terkekeh pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menatap lurus melewati bahu Amira, mengedarkan pandangan tajamnya ke arah anak-anak laki-laki kelas XI IPS 2 yang sedang asyik bermain game di barisan belakang.

"Woi,"

Panggil Alfian dengan suara berat yang menggelegar ke seluruh penjuru kelas.

Seluruh anak laki-laki di kelas itu langsung menghentikan game mereka dan duduk tegap seperti sedang wajib militer.

"Mulai hari ini, Amira resmi jadi cewek gue. Kalau ada yang berani gangguin dia, nyontek PR-nya maksa, atau modusin dia pas kerja kelompok... berhadapan sama gue di lapangan basket pulang sekolah. Paham?" deklarasi Alfian dengan aura mengintimidasi level dewa.

Anak-anak cowok itu menelan ludah serempak.

"P-paham, Kapten!" sahut mereka kompak bagai paduan suara.

Amira nyaris memukul dada Alfian saking malunya.

"Alfian! Udah ih sana balik ke kelas kamu! Lebay banget sih!" usir Amira sambil mendorong punggung cowok itu menjauh dari pintu kelasnya.

"Istirahat pertama tunggu gue di kantin. Jangan pesen makanan sebelum gue dateng," final Alfian sebelum akhirnya benar-benar berbalik dan berjalan menuju kelasnya di lantai atas, meninggalkan Amira yang langsung diserbu oleh Maya dan Rara dengan histeris.

...***...

Seperti titah sang kapten, Amira duduk di meja kantin bersama Rara dan Maya. Belum sempat ia memesan es teh manis, suara dentingan mic dari speaker sentral sekolah berbunyi, disusul oleh suara dehem dari Kepala Sekolah.

"Tes, tes. Pengumuman untuk seluruh siswa kelas XI dan XII. Menindaklanjuti program kerja tahunan sekolah, minggu depan kita akan melaksanakan kegiatan Kemah Bakti dan Study Tour Gabungan di kawasan Konservasi Alam Gunung Gede..."

Suasana kantin yang tadinya bising langsung berubah hening, lalu sedetik kemudian meledak menjadi sorakan kegirangan massal. Kemah Bakti! Acara menginap tiga hari dua malam yang paling ditunggu-tunggu karena bebas dari pelajaran!

"...Pengaturan kelompok akan dicampur antara kelas XI dan kelas XII untuk melatih kerja sama lintas angkatan. Pembagian kelompok dan teknis acara akan sepenuhnya diatur oleh pihak OSIS. Sekian, terima kasih."

Sorakan di kantin makin tak terkendali.

Tepat di saat itu, Alfian melangkah masuk ke dalam kantin bersama Fino dan Rio. Alfian langsung menemukan meja Amira, berjalan lurus ke sana, dan duduk tepat di sebelah gadis itu tanpa permisi. Fino dan Rio menyusul duduk di seberangnya.

Fino tersenyum hangat menatap Amira, lalu melirik tangan Alfian yang secara posesif langsung bersandar di belakang kursi Amira.

"Santai, Bos. Nggak ada yang mau nyulik pacar lo di siang bolong gini," ledek Fino geli melihat protektifnya kembarannya itu.

Alfian mendengus, mengabaikan ledekan Fino. Ia menoleh ke arah Amira.

"Lo dengar pengumumannya tadi?"

Amira mengangguk semangat.

"Dengar! Wah, seru banget kemah di gunung! Kira-kira aku bakal sekelompok sama Rara dan Maya nggak ya?"

"Lo sekelompok sama gue," potong Alfian cepat, mutlak tanpa keraguan.

Amira mengerutkan keningnya.

"Mana bisa gitu?! Kan diacak sama panitia dan guru. Lagian kita beda angkatan, beda kelas!"

Alfian menyunggingkan senyum miring yang luar biasa arogan. Ia bersandar di kursinya sambil melipat tangan di depan dada.

"Lo lupa pacar lo ini jabatannya apa?" ucap Alfian santai namun penuh kelicikan.

"Pengumuman tadi bilang pembagian kelompok diatur sama OSIS. Dan tebak siapa koordinator lapangan yang megang wewenang buat ngatur daftar nama kelompok?"

Amira, Maya, Rara, dan Rio serempak melongo menatap cowok itu.

Fino tertawa terbahak-bahak sambil menggelengkan kepalanya.

"Parah lo, Yan. Nyalah gunain wewenang demi bucin!"

"Bodo amat. Pokoknya lo harus ada di pengawasan gue dua puluh empat jam selama di gunung nanti. Titik," putus Alfian sambil mencubit pelan hidung Amira,

Tak mempedulikan teriakan protes dari Rio dan cibiran gemas dari teman-teman Amira.

Babak baru telah dimulai. Kemah Bakti di depan mata, dan dengan Alfian yang sedang dalam mode bucin posesif ugal-ugalan, Amira tahu persis liburan sekolah kali ini akan jauh dari kata tenang!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!