Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Permintaan Tak Terbatas

Sistem Permintaan Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.

Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.

Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.

Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Hari ketiga, kapal berlabuh sejenak di dekat sebuah pulau kecil tak berpenghuni, airnya sebening kristal dengan pasir putih yang membentang sepanjang pantai. Kru kapal menyiapkan perahu kecil untuk mengantar Alex dan Reina turun, membawa keranjang piknik sederhana atas permintaan Alex sendiri.

"Kenapa pilih pulau kosong begini, Pak?" Reina bertanya, melangkah turun dari perahu, kakinya menyentuh pasir lembut yang hangat oleh matahari pagi.

"Biar gak ada yang ganggu," Alex menjawab, meletakkan keranjang piknik di bawah pohon kelapa yang rindang. "Kadang tempat yang paling sepi itu yang paling nyaman."

Setelah perahu kembali ke kapal, meninggalkan mereka berdua sepenuhnya di pulau kecil itu, Reina langsung berlari kecil menuju garis pantai, melepas sandalnya dan membiarkan kakinya tenggelam di pasir basah yang lembut.

"Airnya jernih banget, Pak!" Reina berseru, menunjuk ke arah laguna kecil di sisi pulau yang airnya berwarna hijau kebiruan, cukup dangkal untuk terlihat dasar pasirnya dari permukaan.

Mereka berjalan menyusuri garis pantai menuju laguna itu, dan tanpa banyak berpikir, Reina langsung melompat masuk, tertawa riang merasakan air yang sejuk membasahi kakinya hingga ke lutut.

"Ayo, Pak! Ini enak banget!" Reina memanggil, mengibaskan air ke arah Alex yang masih berdiri di tepi laguna.

Alex menggelengkan kepala sambil tersenyum, akhirnya ikut melepas sepatunya dan melangkah masuk, air dingin menyentuh kulitnya yang biasa terbungkus rapi dalam sepatu kerja.

Mereka menghabiskan waktu di laguna itu, mengejar ikan-ikan kecil yang berenang lincah di antara kaki mereka, sesekali terpeleset karena dasar laguna yang licin, disambut tawa lepas dari keduanya setiap kali salah satu hampir jatuh.

Setelah puas bermain air, mereka berjalan lebih jauh menyusuri pulau, menemukan jalan setapak kecil di antara pepohonan yang mengarah ke sebuah bukit rendah di sisi lain pulau.

"Mau coba naik ke atas?" Alex menawarkan, menatap jalan setapak itu.

"Ayo," Reina menjawab tanpa ragu, semangat petualangan terlihat jelas di matanya.

Perjalanan mendaki tidak terlalu jauh, hanya sekitar sepuluh menit menyusuri jalan setapak berbatu, tapi cukup untuk membuat napas mereka sedikit terengah begitu sampai di puncak. Dari sana, pemandangan seluruh pulau terbentang jelas—pasir putih, laguna hijau kebiruan, dan kapal pesiar yang tampak kecil di kejauhan, mengapung tenang di tengah laut biru yang luas.

"Bagus banget," Reina berbisik, matanya berbinar menatap pemandangan di depannya.

"Aku baru nemu tempat ini semalam, waktu lihat peta pulau dari kapten," Alex berkata, berdiri di samping Reina, ikut menikmati pemandangan yang sama.

Mereka duduk di atas batu besar yang cukup rata untuk dijadikan tempat duduk, menikmati angin sejuk yang bertiup dari arah laut, sebelum akhirnya turun kembali menuju garis pantai tempat keranjang piknik mereka tinggalkan.

Mereka membuka keranjang itu, mengeluarkan beberapa kotak makanan yang sudah disiapkan kru kapal sejak pagi, aroma nasi bakar dan ikan panggang segera memenuhi udara sekitar mereka.

"Kelihatannya kru kapal Bapak ini serba bisa," Reina berkomentar sambil menata makanan di atas tikar kecil yang mereka bawa.

"Aku bayar mahal buat itu," Alex menjawab santai, duduk bersila di tikar sambil mengambil salah satu kotak makanan.

Mereka makan siang dengan santai, sesekali diselingi tawa kecil soal cerita-cerita ringan yang tidak pernah sempat mereka bicarakan di kantor—film favorit, makanan yang paling dirindukan, hingga kebiasaan aneh masing-masing yang baru terungkap di tengah suasana santai seperti ini.

"Bapak ternyata gak suka ketumbar ya?" Reina bertanya sambil menyingkirkan taburan daun ketumbar dari piring Alex tanpa diminta, sudah hafal dari makan siang mereka sebelumnya di kapal.

"Dari kecil emang gak suka," Alex menjawab, sedikit heran Reina memperhatikan hal sekecil itu. "Kau perhatian juga, ya."

"Kerjaan saya kan riset, Pak," Reina menjawab santai, meski pipinya sedikit merona. "Detail kecil itu penting."

Alex tertawa pelan mendengar alasan itu, menggelengkan kepala sambil melanjutkan makan siangnya.

Setelah makan siang, mereka berjalan menyusuri garis pantai, sesekali berhenti mengamati kerang-kerang kecil yang terdampar, atau sekadar duduk di pasir sambil menatap ombak yang datang dan pergi dengan tenang.

Reina mengambil salah satu kerang, memutarnya di tangan sambil memperhatikan pola garis-garis alami di permukaannya.

"Waktu kecil, saya suka banget kumpulin kerang kayak gini," Reina berkata, senyumnya mengembang mengenang masa lalu. "Ayah saya nelayan, jadi hampir tiap akhir pekan kami ke pantai."

"Sekarang?" Alex bertanya, duduk di sampingnya.

"Ayah saya udah gak melaut lagi. Umurnya udah lumayan," Reina menjawab, suaranya melembut. "Tapi tiap kali lihat laut, saya masih inget rasanya jadi anak kecil yang gak punya beban apa-apa."

Alex mendengarkan cerita itu dengan saksama, sesuatu yang jarang dia lakukan belakangan ini di tengah kesibukan yang selalu menuntut keputusan cepat dan strategi tajam.

"Aku juga kangen rasa itu," Alex akhirnya berkata pelan. "Rasa gak punya beban."

Reina menoleh, menatap Alex yang untuk sesaat terlihat begitu berbeda dari sosok tegas yang biasa memimpin rapat dengan penuh kepercayaan diri—kali ini, dia hanya terlihat seperti seorang pemuda biasa, duduk di pasir pantai, menikmati angin laut tanpa harus memikirkan siapa yang mengancamnya atau berapa banyak keputusan besar yang harus dia ambil hari itu.

"Pak," Reina memanggil pelan.

"Ya?"

"Makasih udah ngajak saya," Reina berkata, senyumnya tulus. "Ini... liburan paling menyenangkan yang pernah saya rasain."

Alex menoleh, menatap Reina yang duduk di sampingnya dengan rambut sedikit berantakan tertiup angin laut, wajahnya yang biasa serius kini terlihat jauh lebih santai dan bebas.

"Sama-sama," Alex menjawab, senyum tipis yang jarang muncul dengan tulus seperti ini kini benar-benar menghiasi wajahnya.

Mereka duduk berdampingan dalam diam, membiarkan suara ombak dan angin laut mengisi kesunyian yang nyaman itu, sementara di kejauhan, kapal pesiar putih megah menunggu tenang di tengah laut biru yang jernih, siap membawa mereka kembali begitu matahari mulai condong ke barat.

Untuk beberapa hari ini, tidak ada panel sistem yang muncul, tidak ada misi yang harus diselesaikan, tidak ada ancaman yang perlu diwaspadai. Hanya dua orang, laut yang tenang, dan waktu yang untuk sekali ini, terasa benar-benar milik mereka berdua sepenuhnya.

...------...

Sore harinya, saat perahu kecil datang menjemput mereka kembali ke kapal, Reina menoleh sekali lagi ke arah pulau kecil yang perlahan menjauh di belakang mereka, seolah ingin menyimpan setiap detail pemandangan itu di dalam ingatannya.

"Kapan-kapan kita ke sini lagi, Pak?" Reina bertanya, suaranya penuh harap yang tidak dia sembunyikan.

Alex menatap pulau yang semakin kecil di kejauhan, lalu menatap Reina yang duduk di sampingnya dengan wajah cerah dipenuhi sinar matahari sore.

"Kapan pun kau mau," Alex menjawab pelan, senyum tipis yang jarang muncul dengan setulus ini kembali menghiasi wajahnya.

1
Israel
alah bct kwontol. tinggal minta semua kebohongan daniel terungksp di public apasusah nya sih. author alay bau kencur pmo otak isekai. halu 100%
Israel
tlol bet kenapa ga minta regenerasi tanpa batas?
Israel
Tlol
Leonardo Akob
Saya suka baca Novelton
Anonim
bodoh mc nya buat aja permintaan uang tidak terbatas unlimited
Israel: Bullshit
total 5 replies
Ria Gazali Dapson
kasian alex , bertubi² cobaan nya
Syahraman [Hiatus]
pergi ke isekai
Israel: bct lu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!