Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Apel Pagi
Pagi Sisil di sambut dengan suara yel-yel dari anggota TNI yang sedang lari pagi sembari meneriakkan yel-yel.
Masih pukul setengah tujuh pagi, namun, para Prajurit itu begitu semangat meneriakkan yel-yel yang juga menularkan semangat pada orang-orang di sekitarnya.
"Lah! Kok udahan? Baru juga semangat mau mulai nyapu rumah." Ujar Sisil yang bermonolog saat tak lagi mendengar suara yel-yel yang tadi di teriakkan dengan lantang dan kompak.
Silvana pun tetap melanjutkan kegiatannya menyapu rumah yang sebenarnya tak kotor. Setelah kegiatannya selesai, Sisil kemudian duduk di ruang tamu yang hanya memiliki dua kursi plastik sembari menikmati roti dan teh hangat untuk sarapan.
"Widih! Mantep banget badannya Komandan. Definisi cuci mata tiap hari." Ujar Sisil saat melihat Komandan Kaivan yang mengenakan kaos oblong dan celana setinggi lutut lewat di depan rumahnya yang bersebrangan dengan rumah tinggal Komandan.
"Kenapa Istri Komandan gak ikut ke sini, ya? Emang gak takut, jauh dari suami yang body nya mantep gitu? Kalo aku punya suami yang body nya mantep gitu, udah pasti aku ikutin kemanapun tugasnya, termasuk di pedalaman kayak gini." Ujar Sisil lagi. Ia sama sekali belum tau mengenai status Komandan Kaivan yang masih lajang di usianya yang ke tiga puluh empat tahun itu.
"Aih! Ngapain juga sih? Lagian urusan Komandan sama Istrinya." Kata Sisil sembari menggelengkan kepalanya sendiri.
Setelah selesai sarapan, Silvana kemudian bersiap menuju ke Klinik. Dengan mengenakan jas kebanggaannya, ia masuk ke Klinik melalui pintu belakang Klinik yang berada di sebelah rumahnya.
"Assalamualaikum." Lirih Dokter Sisil ketika masuk ke dalam Klinik.
Klinik itu masih sepi dan tertutup rapat. Sepertinya, Perawat yang bekerja di sini, masih belum datang. Meski begitu, Sisil tak lantas berdiam diri. Ia melihat-lihat isi Klinik yang tak memiliki peralatan yang memadai. Beberapa peralatan yang ada di sana pun sudah tak bisa lagi di gunakan.
"Hm! Gimana mau memberikan pelayanan kesehatan kalau peralatannya aja gak memadai kayak gini." Lirih Silvana. Tentu ia merasa sedih karena tak bisa membawa serta bantuan alat medis yang harusnya bisa ia bawa.
"Gara-gara Wira sialan!" Ujar Sisil yang masih saja geram dengan Atasannya di Rumah Sakit.
Sisil kemudian mencatat alat-alat yang ia perlukan untuk Klinik, juga obat-obatan agar bisa memberikan pelayanan kesehatan yang memadai untuk para Anggota di Batalyon juga warga di desa-desa yang terpelosok.
Setelah mencatat apa yang ia butuhkan, Silvana kemudian menelfon Ayahnya dan meminta tolong pada Ayahnya untuk mengirimkan peralatan yang ia perlukan untuk Klinik.
Tentu saja semuanya tak gratis. Sisil akan mencicil biaya yang di keluarkan oleh Ayahnya untuk membeli peralatan medis dan obat-obat dari kantong pribadinya.
"Niatin aja untuk sodakoh." Ujar Silvana.
"Ya Allah, berikanlah kepada hambamu ini suami yang kaya raya dan baik hati hingga mau membantu menanggung hutang istrinya yang banyak ini." Doa Silvana yang ia aminkan sendiri.
"Eh! Dokter udah di sini?" Tanya seorang wanita yang membuat Silvana sedikit terperanjat karena tak mendengar kedatangan dua wanita yang baru masuk itu.
"Astaghfirullah." Lirih Silvana sambil mengusap dadanya karena kaget.
"Kamu ini, Mar, bikin Bu Dokter kaget saja." Ujar wanita lain yang berada di belakangnya.
"Aku gak tau kalau bakal bikin Bu Dokter kaget. Habisnya Bu Dokter serius sekali melototi hapenya. Maaf ya, Bu Dokter." Ucap Maria yang membuat Silvana terkekeh.
"Gak apa-apa." Jawab Silvana.
"Salam kenal. Saya Silvana dan biasa di panggil Sisil, Dokter Sisil, atau Dosil, biar lebih ringkas. Mulai hari ini, saya yang akan membantu kalian di Klinik ini." Ujar Silvana yang memperkenalkan dirinya.
"Eh! Kebalik, toh. Harusnya kami yang bantu Dokter, bukannya Dokter yang bantu kami." Kata Maria yang nampak humoris hingga membuat Silvana kembali terkekeh.
"Kenalkan, nama saya Maria, Dokter. Saya perawat yang bekerja di sini." Ujar Maria.
"Kalau nama saya Jopi, Bu Dokter. Saya juga perawat seperti Maria." Ujar Jopi.
"Kalian hanya berdua bekerja di sini?" Tanya Silvana.
"Biasanya kami bertiga, Bu Dokter. Tapi, satu teman kami yang bernama Dominik, sedang cuti melahirkan." Jawab Jopi. Silvana pun mengangguk mengerti.
Mereka kemudian mengobrol dan membahas seluk-beluk Klinik yang tentu belum di ketahui oleh Silvana. Jopi dan Maria pun menjelaskan dengan gamblang semuanya pada Silvana.
Meski baru tiga puluh menit, namun Silvana sudah merasa akrab dengan dua rekannya di Klinik itu. Tak berselang lama, terdengar suara bel yang membuat Jopi dan Maria segera beranjak.
"Ayo, Bu Dokter." Ajak Jopi.
"Mau kemana?" Tanya Silvana.
"Kita cuci mata dulu, Bu Dokter. Lihat yang segar-segar." Jawab Maria sambil terkekeh. Sementara Silvana hanya bisa mengerutkan dahi karena tak mengerti dengan maksud Maria.
"Maksudnya, kita Apel dulu, bersama yang lain, Bu Dokter." Kata Jopi yang memperjelas.
"Memang kita harus Apel juga?" Tanya Silvana.
"Iya, Bu Dokter. Kita juga di wajibkan oleh Komandan Kaivan untuk ikut Apel setiap pagi. Kata Komandan, biar dia tau kalau kita ini masih hidup." Jawab Maria yang justru membuat Silvana terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
Silvana segera melepas Jas Dokternya, kemudian mengikuti dua rekannya menuju ke sebuah lapangan yang berada di bagian depan Batalyon.
Silvana, Maria dan Jopi kemudian berbaris bersama Prajurit lain. Tentu mereka memiliki barisan sendiri di bagian sudut sebelah kiri.
"Benar kan, Bu Dokter. Kita sedang cuci mata saat ini." Bisik Maria yang berdiri di belakang Silvana. Silvana sendiri hanya bisa terkekeh saat mendengar ucapan Maria.
Keberadaan Silvana di sana, menjadi perhatian tersendiri bagi para Prajurit yang Apel di Batalyon itu. Mereka menatap ke arah Silvana yang tampak sangat cantik dengan blouse, rok span dan juga jilbab segi empat yang terpasang rapi.
Apel pun dimulai. Kedatangan Komandan Kaivan, terasa seperti magnet yang menarik semua energi dari para peserta Apel. Sosoknya sangat berkilau di bawah sinar matahari yang terasa dua kali lipat lebih panas ketimbang di Kota tempat Sisil tinggal. Kulitnya yang bersih, terlihat cukup kontras dengan orang-orang di sekitarnya.
"Ah! Pangeran kebanggaan kita. Orang yang bisa menyedot perhatian para wanita hingga jiwanya pun ikut tersedot." Lirih Maria yang sempat-sempatnya berkomentar ketika Komandan Kaivan datang.
Silvana yang tampak tertegun beberapa saat karena pesona Komandan Kaivan pun langsung tersadar karena celetukan dari Maria. Ia pun segera menundukkan wajah setelah cukup lama memandangi ketampanan Komandan Kaivan.
Sementara itu, dari tempatnya berdiri, Komandan Kaivan memandang satu persatu peserta Apel dengan teliti. Ia adalah orang yang sangat teliti dan cukup perfeksionis. Ia akan tau, anggota mana yang tidak hadir pada Apel yang rutin di lakukan setiap pagi.
Perhatiannya kemudian teralih pada sosok baru yang berada pada barisan paling depan, di bagian paling sudut. Tentu keberadaan Silvana sangatlah berbeda, karena hanya ia yang mengenakan hijab di antara semua peserta Apel.
"Cantik." Batin Komandan Kaivan yang beberapa kali mencuri pandang ke arah Silvana.
duh penasaran bin penisirin ini
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰
semangat Thor