Indonesia
NovelToon NovelToon
EQUILIBRIUM

EQUILIBRIUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Isekai
Popularitas:79
Nilai: 5
Nama Author: RIKI RIFEL

Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.

Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.

Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.

Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petualangan kami baru saja di mulai

Adu sparing Trio gubuk dengan sang guru, Altur, berlangsung selama berjam-jam. Di tengah kepulan asap yang membubung, Altur terheran saat menyadari serangan dari mereka bertiga tiba-tiba terhenti.

“Ada apa?! Hanya segitu saja kemampuan kalian?!” ucap Altur memprovokasi.

Saat kepulan asap mulai mereda dan menghilang, barulah terlihat bahwa mereka bertiga sudah terkapar lemas. Mereka tertidur pulas karena kelelahan.

“Hah! Wajar saja. Ini pertama kalinya mereka menggunakan kekuatan dari buah magis,” gumam Altur.

Namun, Altur lupa bahwa dirinya sendiri juga sudah beberapa hari menempa senjata baru mereka tanpa istirahat yang layak. Sang guru pun akhirnya ikut tumbang. Mereka berempat kini tertidur pulas di dalam ruang bawah tanah.

Sehari telah berlalu. Perut yang keroncongan kompak menjadi alarm alami bagi mereka. Satu per satu dari ketiga remaja itu mulai mengerang, membuka mata yang masih terasa berat, lalu bangkit berdiri sambil memegangi perut masing-masing.

Di sudut lain, sang guru, Altur, masih mendengkur keras. Beliau benar-benar tumbang setelah berhari-hari menempa senjata baru mereka.

Sambil mengendap-endap agar tidak membangunkan Altur, ketiganya menyelinap keluar dari ruang bawah tanah dan langsung membajak dapur sang guru.

Cheeta langsung mengambil posisi di depan tungku sebagai koki utama, sementara Rheno dan Leo bertindak sebagai asisten yang sibuk memotong bahan seadanya.

Masalahnya, dapur Altur penuh dengan bahan-bahan asing yang jarang mereka temui. Namun, hal itu tidak menghentikan kreativitas mereka. Setengah jam kemudian, ramuan maksudnya masakan Cheeta akhirnya selesai.

Tidak lama setelah mereka menyelesaikan masakan tersebut, Altur terbangun dari tidur pulas nya. Mendapati ruang bawah tanah sudah kosong, sang guru melangkah keluar dengan kondisi yang masih lemas dan berjalan sempoyongan.

Namun, belum sempat Altur mengumpulkan kesadarannya di bengkel kerjanya, tiba-tiba saja dia "diculik" oleh murid-muridnya sendiri! Dengan sisa tenaga yang ada, Altur diseret dan dibawa paksa ke ruang tengah.

Disana, sebuah hidangan misterius yang mereka buat tadi sudah tersaji dengan rapi di atas meja.

“Kami persembahkan!” ucap Leo dan Rheno kompak.

Berdiri di sisi kanan dan kiri meja, kedua pemuda itu merentangkan tangan mereka dengan dramatis ke arah masakan.

Sementara itu, Cheeta berdiri gagah di tengah-tengah sebagai koki utama, lengkap dengan wajah sombongnya yang sangat percaya diri.

“Baiklah! Kami mungkin gelandangan yatim piatu, tapi jika kami sanggup, apa pun akan kami lakukan untuk menunjukkan rasa terima kasih!” seru Leo lantang. Dia memang tipe yang selalu membanggakan setiap jengkal proses dari jalan hidupnya.

Mereka bertiga pun langsung mengambil posisi duduk di kursi masing-masing, lalu dengan cekatan menyendok kan masakan Cheeta ke mangkuk.

Sepanjang waktu itu, Leo terus mengoceh dengan penuh kebanggaan, menjelaskan kepada Altur bahwa Cheeta-lah yang selama ini selalu memasak untuk menghidupi mereka di jalanan.

Saking semangatnya mereka bertiga, Altur sama sekali tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk menyelip atau memotong pembicaraan.

“Selamat makan!”

Kompak, Leo, Cheeta, dan Rheno langsung menyantap makanan itu dengan sangat lahap.

Di sisi lain meja, fokus Altur sepenuhnya terganggu. Matanya terus menatap curiga ke arah penampilan masakan Cheeta yang tampak sangat mencurigakan dan tidak meyakinkan.

Namun, melihat bagaimana ketiga muridnya itu makan dengan begitu lahap seolah-olah sedang menyantap hidangan bintang lima, Altur mulai ragu dengan instingnya sendiri. Ia mengira bahwa keanehan hidangan ini mungkin hanya soal penampilan luarnya saja.

“Jangan menilai buku dari sampulnya,” ucap Altur meyakinkan diri sendiri, lalu menyuapkan satu sendok penuh masakan ajaib itu ke dalam mulutnya.

Detik pertama masakan itu mendarat di lidah Altur, seluruh sistem saraf di tubuhnya langsung mengirimkan sinyal bahaya.

Rasanya seperti ledakan belerang dicampur karat besi yang asam, pahit, dan menyengat di saat yang bersamaan. Matanya langsung melotot lebar, urat-urat di lehernya menegang, dan wajahnya perlahan berubah menjadi merah keunguan menahan syok yang luar biasa.

Masakan ini benar-benar racun mematikan bagi manusia normal!

Altur ingin sekali memuntahkannya, tapi tepat saat itu, dia melihat wajah Cheeta yang menatapnya dengan penuh harap, lengkap dengan senyum bangga yang tulus. Di sebelah kiri dan kanannya, Leo dan Rheno masih asyik mengunyah dengan sangat bahagia, seolah-olah sup di hadapan mereka adalah makanan terlezat di bumi.

‘Sial... Sampul pasti mewakili semua isinya! Anak-anak malang ini menganggap benda mematikan ini sebagai makanan mewah karena masa lalu mereka...’ batin Altur menjerit.

Rasa ibanya mendadak mengalahkan rasa sakit di lidahnya. Dia tidak boleh merusak momen kebahagiaan mereka.

Dengan perjuangan hidup dan mati, Altur memaksa otot kerongkongannya untuk menelan gumpalan "racun" tersebut.

Glek.

Rasanya seperti menelan paku panas. Air mata Altur otomatis menetes saking perihnya, dan tubuhnya sedikit bergetar hebat.

Melihat air mata yang mengalir di pipi sang pandai besi, mata Leo langsung berbinar haru.

"Lihat, kan! Sampai menangis saking enaknya! Masakan Cheeta memang punya sihir yang bisa menyentuh jiwa!"

"Benar! Tidak perlu sungkan, habiskan saja semuanya!" timpal Rheno tumben sekali dia sampai ikut bicara sambil dengan semangat menyendok kan dua centong penuh sup hijau keunguan itu ke mangkuk Altur yang baru saja kosong setengah.

Altur menatap tumpukan makanan baru di mangkuknya dengan pandangan kosong. Wajahnya yang pucat pasi terpaksa memaksakan sebuah senyuman kaku yang terlihat seperti orang sedang menahan sembelit akut.

Dia hanya bisa mengangguk pelan dalam diam, sementara di dalam hatinya, dia sedang berdoa agar lambungnya sanggup bertahan hidup sampai besok pagi.

Setengah jam berlalu dalam siksaan yang terasa seperti keabadian bagi Altur.

Setelah menghabiskan suapan terakhir dengan perjuangan hidup dan mati, tubuhnya akhirnya mencapai batas. Pandangannya mulai buram, kepalanya berputar, dan perutnya bergejolak hebat.

Bruk!

Kepala Altur jatuh terhempas ke atas meja makan, tepat di samping mangkuknya yang kosong bersih. Ia langsung pingsan tak sadarkan diri dengan mata mendelik dan busa tipis samar di sudut bibirnya.

Leo, Rheno, dan Cheeta yang sedang mencuci piring kompak menoleh. Mereka menatap Altur yang kembali tak bergerak.

"Wah, Altur rupanya masih sangat kelelahan setelah menempa senjata kita," ucap Leo sambil menggelengkan kepala penuh simpati.

“Tapi setidaknya, dia tidur dalam keadaan perut kenyang dan bahagia berkat masakan Cheeta," lanjut Leo dengan senyum bangga yang tulus.

Cheeta hanya melipat tangan di dada sambil tersenyum puas, merasa tugasnya sebagai koki terbaik mereka telah sukses besar.

Tanpa menyadari bahwa pria itu sedang bertaruh nyawa dalam pingsannya, ketiga remaja itu menyelimuti punggung Altur dengan kain, lalu melangkah keluar membiarkan sang penempa beristirahat.

Sore hari pun tiba, menandakan waktunya mereka untuk pergi. Menurut Altur, harusnya mereka bertiga tinggal lebih lama lagi untuk beradaptasi dengan senjata baru mereka.

Namun, ketiga remaja itu di luar dugaan. Mereka bahkan sudah bisa mengaktifkan mode tingkat lanjut hanya dalam waktu beberapa jam sejak menerima senjata tersebut. Mereka benar-benar sangat berbakat.

Saat mereka bersiap untuk melangkah pergi, Leo menghentikan langkahnya. Ia menengok ke arah Altur untuk terakhir kalinya.

"Mengenai pertanyaanmu waktu kami pertama kali ke sini... apakah elf dan iblis sebaiknya terus berperang?" ucap Leo tiba-tiba.

Pertanyaan itu seketika membuat Altur tertegun dan memandangnya lekat-lekat.

"Aku ingin manusia, iblis, dan elf bisa duduk dan makan bersama nanti," lanjut Leo dengan senyum tulus yang sangat hangat.

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan berjalan pergi sambil melambaikan tangan.

Altur terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Asalkan yang dimakan bukan masakan Cheeta, aku rasa impianmu itu bisa terwujud," gumamnya pelan.

Ia pun balas melambaikan tangan, menatap punggung ketiga murid ugal-ugalan nya yang mulai menjauh di bawah langit senja.

Baru beberapa ratus meter mereka melangkah meninggalkan bengkel Altur.

“Menyenangkan bertemu dengan Altur!” ucap Leo dibarengi anggukan kepala dari Rheno yang berjalan di sisinya.

“Apakah iblis juga sama seperti dia, ya?” tanya Cheeta penasaran.

“Entahlah,” terang Leo sambil menatap langit sore. “Sudah ku putuskan, untuk mengetahuinya kita harus berpetualang,” terusnya.

“Cheeta, Rheno! Petualangan kita resmi dimulai!” ucap Leo dengan nada tinggi penuh semangat.

Tiba-tiba, suasana sunyi sore hari mendadak pecah.

"Itu dia!"

"Tangkap mereka!"

"Seluruh tim mereka di sini! Diulangi, mereka bertiga ada di sini!"

BRAKKGG!!

Suara derap langkah kaki berbaju besi mengepung mereka dengan kecepatan tinggi. Sebelum Leo, Rheno, dan Cheeta sempat mencerna apa yang terjadi, atau bahkan sempat mencabut senjata baru mereka, puluhan prajurit bertopeng sudah meringkus mereka ke tanah.

Pandangan mereka menggelap saat kantong kain hitam dipaksa menutup kepala mereka.

Petualangan baru saja dimulai, dan mereka bertiga justru resmi menjadi tahanan.

Saat kantong hitam itu dibuka kembali, mereka sudah berada di balik jeruji besi penjara yang dingin.

“Woy! Lepaskan aku! Kembalikan semangatku!” ucap Leo histeris, kesal karena momentum kerennya dihancurkan begitu saja.

Di sampingnya, Rheno yang berwajah kesal langsung menggoyang-goyangkan jeruji besi dengan kuat.

“Kembalikan senjataku!” Cheeta pun tak bisa diam, ikut berteriak penuh amarah.

Di dalam sel tahanan yang sempit itu, mereka bertiga kompak menjerit bersamaan:

“PETUALANGAN KAMI BARU SAJA DIMULAI!”

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!