Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Sebuah nama.
Kelopak mata Sea menyipit, ketakutan dan penuh kegelisahan.
"Ada apa, Rintan.. Apa yang kamu rasakan??" Tanya Bang Dante sampai berdiri dari posisi duduknya.
"Kak Cherry, lariiiii..!!!!!" Pekik Sea.
"Lari kemana?? Bilang sama saya..!!" Bang Dante memberi Rintan segelas air minum. "Tarik nafas, bicara pelan-pelan, saya disini..!!" Bujuk Bang Dante.
"Aku... Aku di buang, ibu tiriku ingin tanah warisan leluhur. Aku di asingkan di panti asuhan tanpa boleh menyebutkan asal usulku." Sea menyilangkan kedua tangan saat Bang Dante hendak menyentuhnya. "Kangmas Jaya mencariku?? Aku nggak mauu."
"Mereka memukulmu?? Jaya siapa yang kamu maksud????" Tanya Bang Dante.
Sea masih belum menjawab, gadis itu masih terus terbayang akan ketakutannya. Berkali-kali ia menyebut nama Cherry.
"Jaya siapa, Rintaaaann??"
"Kunta Wijaya." Jawab Sea ketakutan.
'Jaya??? Apa dia??? Nama dia juga Kunta Wijaya. Dia juga cari perempuan. Apa Sea yang dia cari???'
Seketika itu juga Bang Dante mendekap Sea. Nafasnya bergemuruh berat, ia berusaha keras mengatur emosinya, menyeimbangkan logika dan perasaan.
"Okee.. Tarik nafas, kamu cerita. Kamu tidak usah takut, ada saya. Saya sendiri yang akan melindungi kamu." Kata Bang Dante.
"Ibunya Mas Jaya, dia buat Kanjeng Rama melupakan Ibu. Ibu sedih dan memilih minum racun."
"Kamu dari keluarga bangsawan???" Tanya Bang Dante.
Sea mengangguk mantap. "Iya, ibunya Mas Jaya adalah selir kesayangan Rama. Tapi trah meminta Ibunda menjadi Ratu Agung. Lahirlah kami anak dari Ratu Agung. Sayangnya kami ini perempuan, kami tidak di terima menjadi pemimpin. Di sisi lain, sudah ada Kangmas Kunta Wijaya. Maka dari itu Ibunya Mas Kunta menghilangkan jejak kami."
Bang Dante menarik nafas panjang. Hidupnya sudah rumit tapi masih ada saja yang lebih rumit.
Tak lagi banyak kata dari bibir pria itu. Di saat ini, ia hanya ingin Sea tenang dan bisa kembali pada kehidupan normal seperti sedia kala tanpa ketakutan sedikit pun.
"It's oke. Kamu ikut dengan saya. Biar saya tangani si Jay." Kata Bang Dante.
\=\=\=
Dua hari berlalu, Sea sudah di ijinkan pulang. Ia mengedarkan pandangan di sebuah rumah dinas namun seakan tak asing baginya.
'Letnan D. Pascal Wira.'
Sejenak kening Sea berkerut ia pun membuka pintu rumah, namun saat pintu rumah di buka, Sea di kejutkan sesuatu yang sudah duduk atas sofa.
"Hwaaaaaaaaa.."
Jeritan itu membuat Bang Dante refleks memeluk Sea. Dirinya yang tadinya kaget setengah mati kini menatap sosok itu dengan bingung.
"Kenapa Tamara bisa sampai sini??????" Nada keras Bang Dante mengagetkan para anggota yang tadi ikut menjemput Sea di rumah sakit.
"Siap." Seorang anggota berjalan cepat dan masuk, berusaha mengambil Tamara yang sedang duduk santai sambil menikmati buah anggur hijau yang sebenarnya di siapkan khusus untuk Sea.
Sialnya, Tamara melompat menerjang Sea. Tangan Bang Dante sigap menahan bahkan sampai menepis Tamara hingga kera ekor panjang itu terpental menabrak dinding.
Sea yang melihatnya sampai gemetar. Ia masih bersandar di dada bidang Bang Dante, matanya menatap kera tersebut, kera yang kesakitan karena hantaman Bang Dante.
Bang Dante semakin yakin bahwa gadis itu memang 'gadisnya'. Sea nampak polos dan masih saja gemetar. "Jangan takut. Dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi." Bisiknya dengan nada rendah namun tegas. Arah mata Bang Dante beralih menatap anggota yang tadi bergegas maju. "Bawa dia keluar. Kunci di kandang belakang. Jangan biarkan dia masuk ke dalam rumah lagi."
"Siap, Ndan!" Anggota itu segera melangkah mendekat, namun Tamara yang masih mengerang kesakitan itu berusaha mencakar dan menggeram saat hendak diangkat.
"Diam kau..!!!!" Bentak Bang Dante, suaranya menggelegar membuat seluruh ruangan mendadak hening. Tatapan matanya begitu tajam dan dingin, seketika membuat kera itu tunduk dan diam 'seribu bahasa' tanpa pergerakan. "Kalau kau berani sekali lagi menerjang ke arahnya, kau tidak akan sekadar terpental. Kau paham?"
Tamara seakan mengerti, menunduk diam.
"Ayo salaman, tidak saling mengagetkan, damai itu indah..!!" Kata Bang Dante. Ia lalu membimbing tangan Sea agar mau bersalaman.
Awalnya Sea dan Tamara ragu, namun akhirnya mereka saling mau mengulurkan tangan. Tamara lalu membiarkan dirinya dibawa keluar bersama anaknya. Pintu ditutup rapat, menyisakan mereka berdua di ruangan itu.
Barulah suasana menjadi hening kembali. Bang Dante melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap wajah Sea yang masih pucat pasi. Tangan besarnya menyentuh pipi gadis itu dengan lembut, berlawanan sekali dengan sikapnya yang baru saja mengamuk.
"Sudah aman, Dek. Dia sudah pergi. Tidak akan mengganggumu lagi."
Sea masih menatap pintu tempat Tamara dibawa pergi, napasnya terengah-engah. sejenak ia kembali bersandar pada dada bidang Bang Dante yang jujur sangat membuatnya nyaman. "Dia... Bagaimana bisa keluar dari rumahnya?" Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
"Maaf, ya. Seharusnya saya pastikan rumah ini benar-benar aman sebelum membawamu pulang. Saya yang salah." Bang Dante lalu mengarahkan Sea untuk duduk. "Duduk dulu, nanti pusing lagi..!!"
Saat Sea duduk, matanya kembali melirik ke arah meja di sudut ruangan, ada papan nama meja di sana, membuatnya berhenti bernapas sesaat.
'Letnan D. Pascal Wira.'
Keningnya kembali berkerut. Nama itu... Nama itu terasa begitu dekat, begitu akrab, seakan ia pernah mendengarnya berkali-kali di masa lalu, di saat yang lain.
"Om..." Panggilnya pelan.
Bang Dante yang sedang menuangkan air minum berbalik. "Apa? Mau tanya apa?"
"Itu..." Sea menunjuk papan nama itu dengan jari gemetar. "D. Pascal Wira... siapa itu?"
Bang Dante berhenti bergerak sejenak. Ia menatap papan nama itu, lalu menatap gadisnya. Perlahan ia berjalan mendekat, menyerahkan gelas air, lalu duduk di tepi meja, menghadap Sea.
"Itu... nama saya." Jawab Bang Dante memilih jujur perlahan.
Sea mengerjap dengan pikirannya yang berputar di kepala. "Tapi... Kemarin Om bilang, nama Om.. Afrinald Diego Wira."
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara