⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐
Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.
Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 32: Tradisi teh penghormatan
Aula Utama Istana Kedamaian Abadi telah dipenuhi oleh suasana sakral dan megah.
Di atas tiga singgasana utama yang dilapisi karpet beludru emas, duduk tiga penguasa tertinggi Kekaisaran: Kaisar Agung yang bijaksana, Permaisuri yang anggun namun bermata jeli, dan Ibu Suri yang memegang otoritas tradisi tertinggi.
Di barisan bawah, beberapa pangeran dan pejabat senior istana turut hadir untuk menyaksikan prosesi tradisi Peringatan Pagi Pertama, momen di mana pasangan pengantin baru menghadap untuk menyerahkan teh penghormatan dan menerima stempel pengesahan status kekaisaran.
Zhao Xiao sudah berdiri di sisi kiri tangga aula dengan pakaian kebesaran Putra Mahkota. Wajahnya agak pucat dan tegang, terutama saat ia melihat Lin Wanru berjalan mendekat dengan gaun merah muda yang amat menyolok dan senyuman penuh percaya diri.
"Pangeran..." bisik Lin Wanru manis sambil memberikan salam lembut. "Hamba mendengar berita semalam... Hamba tau betapa beratnya beban di hati Pangeran."
Zhao Xiao mengerutkan keningnya karena merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan menyindir dari beberapa pejabat di sekitar aula. "Wanru-er, jaga sikapmu. Ini di hadapan Ayahanda dan Ibu Suri."
Sebelum Lin Wanru sempat membalas, suara kasim pengawal di luar aula menggelegar membelah keheningan.
"YANG MULIA PUTRI MAHKOTA MEMASUKI AULA!"
Pintu gerbang emas aula terdorong terbuka lebar.
Seluruh pandangan mata di dalam aula seketika tertuju ke arah pintu. Shen Yue melangkah masuk dengan tempo yang sangat teratur.
Setiap pakan langkah kakinya memancarkan keagungan, ketenangan, dan ketegasan. Kain jubah merah emasnya bergeser melintasi karpet dengan anggun.
Wajahnya yang cantik sempurna tanpa celah sedikit pun tidak menunjukkan raut wajah sedih, tertekan, atau malu sama sekali.
Zhao Xiao terpaku di tempatnya saat melihat Shen Yue. Jantung sang Putra Mahkota mendadak berdetak lebih cepat tanpa bisa dikendalikannya.
Riasan dan aura Shen Yue pagi itu begitu menekan hingga Lin Wanru yang berdiri di sampingnya seketika tampak bagaikan seorang pelayan kelas bawah jika dibandingkan side by side.
Lin Wanru yang tadinya tersenyum mengejek, seketika membeku. Matanya membelalak lebar melihat betapa memukau dan percaya dirinya Shen Yue.
"Bagaimana mungkin?! Dia harusnya merasa malu dan terhina karena ditinggalkan semalam! Mengapa dia justru terlihat seperti penguasa tempat ini?!" batin Lin Wanru histeris.
Shen Yue tiba di depan tangga singgasana, lalu berlutut dengan gerakan protokol istana yang sangat sempurna, sebuah gerakan yang bahkan membuat Permaisuri menyunggingkan senyuman apresiasi.
"Hamba, Putri Mahkota Shen Yue, menghadap Yang Mulia Kaisar, Permaisuri, dan Ibu Suri yang Agung untuk menyampaikan penghormatan pagi pertama," ucap Shen Yue dengan suara merdu, jernih, dan bergema di seluruh aula
Kaisar tertawa pelan dengan penuh kepuasan. "Bangkitlah, Putri Mahkota! Penampilan dan wibawamu pagi ini sungguh mencerminkan sosok pendamping kekaisaran yang sejati!"
Ibu Suri pun mengangguk-angguk setuju. "Serahkan teh penghormatan!"
Dayang istana membawa nampan berisi tiga cangkir porselen berisi teh terbaik. Shen Yue mengambil cangkir pertama dengan jemari yang sangat stabil, lalu menyodorkannya ke hadapan Kaisar, dilanjutkan kepada Permaisuri dan Ibu Suri. Seluruh prosesi dilakukannya tanpa celah sedikit pun.
Namun, saat prosesi penyampaian teh selesai, Permaisuri yang terkenal jeli memiringkan kepalanya dan menatap ke arah cawan perak kecil di nampan tradisi, cawan yang seharusnya berisi kain pengesahan tanda malam pertama, namun cawan itu kosong.
Kaisar dan Ibu Suri tentu saja langsung menyadari hal tersebut. Suasana aula yang tadinya hangat pun seketika berubah menjadi agak tegang.
Zhao Xiao menundukkan kepalanya dengan cemas, ia khawatir jika Kaisar akan murka padanya karena mengabaikan Putri Mahkota pada malam pertama.
Sementara Lin Wanru yang ada di belakangnya mulai menyunggingkan senyum licik kembali, dan menantikan momen Shen Yue ditegur dan dipermalukan di hadapan publik istana.
"Zhao Xiao," tegur Kaisar dengan suara yang berat dan dingin. "Mengapa tradisi malam pertama tidak diselesaikan dengan benar?"
Zhao Xiao mengepalkan tangannya di balik lengan baju, ia bingung harus menjawab apa tanpa memperkeruh suasana.
Namun, sebelum Zhao Xiao sempat gagap menjawab, Shen Yue membungkuk hormat dan berbicara dengan ketenangan dan kecerdasan analisis yang tajam.
"Yang Mulia Kaisar dan Ibu Suri yang Agung, izinkan hamba menjelaskan," ujar Shen Yue. "Semalam, Putra Mahkota menghabiskan waktu hingga larut malam di ruang kerja Paviliun Phoenix Agung untuk memeriksa kembali laporan stabilitas logistik perbatasan utara yang baru tiba dari Kementerian Perang. Sebagai calon pemimpin kekaisaran, Putra Mahkota mendahulukan urusan keselamatan rakyat dan stabilitas negara di atas kenikmatan pribadi. Hamba sendiri yang meminta Yang Mulia Putra Mahkota untuk beristirahat di ruang depan agar tidak terganggu, demi kesiapan tugas negara pagi ini."
Deg!
Seluruh orang di aula terhenyak!
Zhao Xiao pun mendongak dan menatap Shen Yue dengan rasa syok yang tak tertandingi. Shen Yue tidak hanya menyelamatkan wajahnya dari kemurkaan Kaisar, tetapi juga mengubah tindakan pengabaian semalam menjadi sebuah narasi dedikasi mulia Putra Mahkota terhadap negara!
Kaisar yang mendengar penjelasan cerdas tersebut seketika mengangguk-angguk bangga. Raut wajah dinginnya mencair sepenuhnya.
"Luar biasa!" puji Kaisar lantang. "Seorang Putri Mahkota yang tidak egois, memahami prioritas negara, dan mampu menjaga nama baik suaminya di hadapan publik! Zhao Xiao, kau sangat beruntung memiliki istri secerdas Shen Yue!"
Ibu Suri tersenyum lebar, lalu memberi isyarat kepada kasim agung. "Bawa Segel Keuangan dan Stempel Perak Pengelola Istana Timur kemari!"
Kasim Agung membawa nampan berlapis kain sutra emas yang berisi dua stempel kekuasaan tertinggi untuk mengontrol seluruh anggaran, pelayan, dan hukum internal Istana Timur.
"Putri Mahkota," tegas Ibu Suri. "Atas kebijaksanaan, kecerdasan, dan ketenangan sikapmu, dengan ini Istana Kekaisaran menyerahkan kekuasaan penuh pengelolaan Istana Timur kepadamu secara mutlak! Tidak ada seorang pun, termasuk para selir, yang boleh mempertanyakan atau menentang keputusanmu dalam mengurus rumah tangga kekaisaran!"
Lin Wanru yang mendengar hal itu mendadak pucat pasi bagai mayat. Matanya melotot tidak percaya! Rencananya untuk melihat Shen Yue dipermalukan justru berbalik menjadi penyerahan kekuasaan mutlak yang mengukuhkan posisi Shen Yue di puncak tertinggi Istana Timur!
Shen Yue menerima segel emas itu dengan kedua tangannya, lalu membungkuk anggun di hadapan para penguasa kekaisaran.
"Hamba menerima amanah ini dan akan memastikan Hukum Istana Timur ditegakkan tanpa kompromi," ucap Shen Yue dengan senyuman memikat di bibirnya.
Bersambung...