Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Penculikan di Rumah Sakit
Tiga hari setelah Isabella pergi dengan cek 100 ribu dollar itu, mansion De Luca kembali tenang.
Elena sudah hamil 8 minggu. Perutnya yang dulu rata sekarang sudah mulai terlihat buncit kecil seperti ada bola kecil di dalamnya. Kalau memakai dress ketat, sudah kelihatan jelas kalau dia hamil. Elena jadi semakin cantik, wajahnya berseri-seri, kulitnya glowing karena hormon hamil kembar.
Lorenzo semakin posesif dan bucin. Dia sekarang melarang Elena keluar mansion sendirian. Kalau Elena mau ke taman saja, harus ditemani 4 penjaga dan Thomas. Kalau Elena mau ke supermarket, Lorenzo yang antar sendiri dengan mobil lapis baja.
Tapi hari ini, Elena harus ke rumah sakit. Jadwal USG bulanan untuk cek bayi kembar Leon dan Luna.
Jam 9 pagi, di rumah sakit swasta termewah di New York, Rumah Sakit St. Mary, Elena duduk di ruang tunggu VIP bersama Lorenzo. Elena memakai dress hamil putih cantik, Lorenzo memakai jas hitam rapi, tangannya tidak pernah lepas dari perut Elena yang buncit kecil itu.
Di luar ruang tunggu VIP, ada 10 penjaga De Luca bersenjata lengkap yang menjaga pintu.
Dr. Emily, dokter kandungan cantik yang sudah langganan keluarga De Luca, memanggil Elena.
"Nyonya Elena De Luca, silakan masuk ke ruang USG," kata suster.
Lorenzo dan Elena masuk ke ruang USG yang dingin dan ber-AC. Ruang USG itu luas, ada tempat tidur untuk pasien, ada layar besar untuk melihat bayi, dan ada tirai putih.
Dr. Emily tersenyum melihat mereka.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya De Luca! Bagaimana kabar Leon dan Luna hari ini? Apakah Nyonya masih mual dan ngidam aneh?" tanya Dr. Emily.
Elena tersenyum malu. "Masih, Dok... kemarin saya ngidam rujak sama es krim durian lagi jam 2 pagi... Lorenzo sampai keliling New York cari durian..."
Lorenzo yang mendengar itu langsung bangga. "Tidak apa-apa, Dok, asal istri dan anak-anak saya bahagia, saya akan keliling dunia juga saya lakukan!"
Dr. Emily tertawa. "Tuan De Luca memang suami siaga paling bucin yang pernah saya lihat!"
Elena berbaring di tempat tidur USG. Dr. Emily mengoleskan gel dingin di perut buncit kecil Elena.
Lorenzo berdiri di sebelah Elena, memegang tangan Elena dengan erat. Matanya menatap layar USG dengan penuh harap.
Di layar USG, terlihat dua bayi kecil yang sudah mulai berbentuk. Satu sedikit lebih besar, satu sedikit lebih kecil. Jantung mereka berdetak dengan cepat.
_Dug... dug... dug... dug..._
Suara detak jantung bayi kembar itu terdengar di ruangan.
Air mata Lorenzo langsung mengalir. Tuan Muda Mafia yang tidak pernah menangis, sekarang menangis melihat detak jantung anak-anaknya.
"Elena... itu anak-anak kita... itu Leon dan Luna... mereka hidup... jantung mereka berdetak..." bisik Lorenzo dengan suara bergetar.
Elena juga menangis bahagia. "Iya, Lorenzo... mereka hidup... mereka sehat..."
Dr. Emily tersenyum haru. "Selamat, Tuan dan Nyonya! Bayi kembar kalian sehat! Detak jantungnya kuat! Bayi yang satu laki-laki, yang satu perempuan! Leon dan Luna sehat!"
Tepat saat suasana haru dan bahagia itu terjadi, tiba-tiba lampu di ruang USG mati.
_JEGLEK!_
Seluruh rumah sakit gelap gulita.
"Eh? Mati lampu?" kata Dr. Emily.
Lorenzo langsung siaga. Tato naga di lehernya menegang. Insting Mafianya langsung aktif. Mati lampu di rumah sakit mewah seperti ini tidak pernah terjadi, apalagi di ruang VIP.
"Thomas! Thomas! Ada apa? Kenapa lampu mati?" teriak Lorenzo ke luar ruangan.
Tidak ada jawaban dari Thomas. Di luar ruang USG, 10 penjaga De Luca juga tidak menjawab.
Suasana jadi sangat hening dan mencekam.
Tiba-tiba, pintu ruang USG terbuka dengan keras.
_BRAK!_
Masuk 3 orang pria bertopeng hitam dengan jas dokter palsu, membawa pistol dengan peredam suara.
"Jangan bergerak! Ini penculikan! Kami disuruh Nona Isabella Moretti!" kata salah satu penculik.
Dr. Emily langsung berteriak. "TOLONG! PENCULIK!"
_DOR!_ Penculik itu menembak Dr. Emily di kaki dengan pistol berperedam, suaranya pelan tapi Dr. Emily jatuh dan pingsan karena kesakitan.
"AAAAKH!"
Elena yang masih berbaring di tempat tidur USG dengan perut terbuka penuh gel, langsung menjerit ketakutan.
"Lorenzo! Lorenzo! Tolong!"
Lorenzo langsung berdiri di depan Elena, melindungi Elena dan perut buncitnya dengan tubuhnya yang besar.
"JANGAN SENTUH ISTRI SAYA! KALAU KALIAN SENTUH ISTRI SAYA YANG SEDANG HAMIL, SAYA AKAN CINCANG KALIAN!" teriak Lorenzo.
Tapi 3 penculik itu sudah menodongkan pistol ke arah Lorenzo.
Salah satu penculik menekan tombol di dinding dan tirai putih di ruang USG terbuka. Di balik tirai itu ternyata ada jendela besar yang langsung terhubung ke tangga darurat rumah sakit.
"Ikut kami, Nyonya De Luca! Nona Isabella mau bertemu dengan kamu dan bayi kembar kamu!" kata penculik itu sambil menarik tangan Elena yang masih berbaring.
Elena meronta-ronta sambil memegang perutnya.
"Lepaskan! Jangan tarik saya! Bayi saya! Leon! Luna! Lorenzo! Tolong!"
Lorenzo berkelahi dengan 2 penculik sekaligus. Dia memukul satu penculik sampai jatuh, tapi satu penculik lain memukul kepala Lorenzo dari belakang dengan gagang pistol.
_BUK!_
Lorenzo terjatuh ke lantai, kepalanya berdarah lagi seperti kejadian di pulau Miami dulu.
"Lorenzo!" Elena berteriak histeris melihat suaminya berdarah.
Para penculik itu berhasil menarik Elena yang hamil 8 minggu itu keluar dari tempat tidur USG dan menyeretnya lewat jendela tangga darurat. Perut buncit kecil Elena terbentur pinggiran jendela.
"AAAAKH! Perut saya! Bayi saya!" Elena berteriak kesakitan.
Di luar rumah sakit, di tangga darurat, sudah ada mobil van hitam tanpa plat nomor yang menunggu dengan pintu terbuka.
Elena diseret masuk ke dalam van itu. Pintu van ditutup dengan keras.
_BRAK!_
Van hitam itu melaju kencang meninggalkan rumah sakit.
Di dalam ruang USG, Lorenzo mencoba berdiri dengan kepala berdarah. Dia melihat Elena sudah tidak ada di tempat tidur. Gel USG masih ada di perut tempat tidur yang kosong.
"ELENA! LEON! LUNA!" teriak Lorenzo dengan suara paling hancur yang pernah dia keluarkan.
Lorenzo mengambil ponselnya dengan tangan berdarah dan menelepon Thomas.
"Thomas! Elena diculik! Di rumah sakit St. Mary! Nyonya diculik oleh suruhan Isabella! Cari mobil van hitam tanpa plat! Kepung semua jalan di New York! Saya mau istri dan anak-anak saya kembali dalam 30 menit! Kalau tidak, saya bakar rumah sakit ini dan saya bunuh semua dokter di sini!" teriak Lorenzo dengan amarah yang tidak pernah ada sebelumnya.
Thomas yang ternyata pingsan di luar karena dipukul penculik, terbangun dan langsung berlari dengan 10 penjaga yang juga baru sadar.
Di dalam van hitam yang melaju kencang di jalan tol New York, Elena duduk dengan tangan terikat, perutnya yang buncit kecil sakit karena terbentur jendela tadi. Dia menangis tanpa henti.
"Leon... Luna... maafkan Mama... Mama tidak bisa jaga kalian... Mama sakit..." bisik Elena sambil mengelus perutnya yang sakit.
Salah satu penculik menelepon Isabella.
"Nona Isabella, kami sudah dapat Nyonya De Luca yang hamil itu. Kami bawa dia ke gudang tua di pelabuhan seperti perintah Nona. Nyonya De Luca perutnya terbentur jendela, dia kesakitan," kata penculik itu.
Dari seberang telepon, suara Isabella terdengar puas dan jahat.
"Bagus! Bagus sekali! Buat dia keguguran! Saya mau bayi kembar itu mati! Saya mau Elena merasakan sakitnya keguguran! Biar Lorenzo tahu rasa! Setelah bayi kembarnya mati, baru kalian bawa Elena ke saya, saya mau lihat wajahnya yang menderita!"
Elena yang mendengar itu dari telepon penculik, semakin histeris.
"Tidak! Jangan! Jangan bunuh bayi saya! Leon! Luna! Jangan! Isabella! Kamu jahat! Kamu jahat!" teriak Elena.
Penculik itu menutup telepon dan menatap Elena dengan senyum jahat.
"Nyonya De Luca, maaf ya, kami hanya menjalankan perintah Nona Isabella. Nona Isabella bilang, bayi kembar itu tidak boleh lahir..."
Van hitam itu semakin kencang menuju gudang tua di pelabuhan New York yang sepi dan gelap.
Sementara itu, di rumah sakit, Lorenzo dengan kepala berdarah dan jas hitamnya yang robek, berlari keluar rumah sakit dan masuk ke mobil Rolls Royce-nya.
Dia mengemudi sendiri dengan kecepatan 200 kilometer per jam, menerobos semua lampu merah di New York.
Di dalam mobil, Lorenzo menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai Mafia, Lorenzo De Luca menangis dengan sangat keras sambil memukul setir mobil.
"Elena! Leon! Luna! Tunggu Papa! Papa datang! Papa janji tidak akan biarkan kalian mati! Papa janji!" teriak Lorenzo sambil menangis dan ngebut.
Apakah Lorenzo berhasil menyelamatkan Elena dan bayi kembar Leon dan Luna yang perutnya terbentur? Apakah bayi kembar itu selamat?