Indonesia
NovelToon NovelToon
The Thirteen Fault

The Thirteen Fault

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona

Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Who Is She?

"Gimana, Han? Lancar?" tanya Mex.

"Aman," balas Vahan sambil ikut berjongkok di sebelah Mex yang sedang merokok bersama Afghan. Berani sekali dua orang ini nyebat di lingkungan sekolah.

Saat ini mereka bertiga sedang berada di parkiran. Vahan melirik Mex sekilas. "Kan udah gue bilang, pulang aja duluan."

Mex membalas dengan kerlingan ke arah Afghan. "Dia gak mau. Katanya takut lo kenapa-napa kalau ditinggal sendirian. Gue curiga dia suka sama lo."

*Plak!*

Tanpa belas kasihan sama sekali, Afghan menggeplak kepala Mex yang baru saja memfitnah dirinya. "Lo kali yang gak mau ninggalin dia! Lo sendiri yang bilang kalau kita harus setia kawan!"

"Harus banget ngerokok di sekolah?" Vahan menatap keduanya dengan cemas. Sekolah ini terkenal sangat ketat. Siapa pun yang berani melanggar, hukumannya tidak main-main. Ia hanya takut kedua temannya ini ketahuan lalu berakhir didepak secara tidak terhormat.

"Udah gak ada siapa-siapa lagi," ucap Mex santai.

"Udah gak ada gimana? Lo pikir gue ujian susulan tadi sendirian? Jelas ada guru yang ngawasin di kelas," timpal Vahan.

"Kan parkiran guru gak di sebelah sini," balas Mex, tetap membela diri.

"Bener tuh. Eh btw, katanya si Mex tadi lo ngobrol sama si tukang tidur di kelas lo itu?" Afghan yang awalnya berjongkok di sebelah Mex, kini bangkit lalu bergeser ke depan Vahan.

Vahan menghela napas panjang. Ia pun menceritakan rentetan kejadian aneh di kelas tadi bersama Billby yang sukses membuat emosinya naik sampai ke langit ketujuh.

"Seriusan lo? Terus apa yang lo rasain sekarang?" interogasi Afghan heboh.

"Gue gak ngerasain apa-apa sih. Tapi niatnya habis ini gue mau cek ke rumah sakit," balas Vahan.

"Sialan ya tuh cewek. Gue kasih pelajaran dia besok!" ujar Afghan menggebu-gebu. Cowok itu memang tipe yang meledak-ledak, berbeda dengan Mex yang lebih santai dan selalu mendahulukan logika.

Mex menyela setelah berhasil mencerna cerita Vahan. "Tapi kata lo tadi dia juga ikut makan. Masa beneran ada racunnya?"

Vahan mengembuskan napas berat. "Mungkin dia mau bunuh diri." Ia mengingat kembali ucapan aneh Billby di kelas tadi.

Semua masakan gue ada racunnya. Tapi anehnya, gue gak mati-mati. Ucapan tersebut seolah menyiratkan makna kalau gadis itu memang ingin mengakhiri hidupnya.

"Emang dia punya masalah apa?" tanya Mex, tampak kurang yakin dengan prediksi Vahan.

Afghan melirik Mex. "Ya mana tahu. Tapi dia emang kelihatan problematik gitu. Gak pernah ikut aturan, udah pasti hidupnya berantakan dan banyak masalah."

"Dia emang gak pernah ikut aturan, tapi gak kelihatan kayak orang yang banyak masalah kok. Dia justru kelihatan kayak anak polos yang belum mengerti kejamnya dunia," sahut Mex sambil menjatuhkan puntung rokoknya yang sudah memendek, lalu menginjaknya dengan gesekan ringan.

Vahan terkekeh hambar. "Paham amat lo. Sering merhatiin, ya? Gue yang duduk di sebelahnya aja baru pertama kali lihat mukanya sejelas itu hari ini. Ekspresinya emang polos, tapi kelakuannya... astaga."

"Kalau emang polos, mana mungkin dia kenal racun? Oh ya, jadi kapan lo mau cek ke dokter?" Afghan kembali mengingatkan topik utama mengenai dugaan keracunan itu.

"Entaran."

Mex menggelengkan kepalanya. "Gue tetep gak yakin dia beneran masukin racun di pizza itu."

"Terserah lo lah. Pokoknya gue kesel. Besok gue habisin dia!" ujar Afghan dengan dendam membara.

"Habisin, habisin. Lo gak lihat dia bisa ngelakuin apa aja di sekolah ini? Gak ada satu pun guru yang pernah negur, apalagi ngehukum dia. Siapa tahu dia anak orang penting," ujar Mex memperingati Afghan agar tidak gegabah.

Vahan mengangguk setuju. "Itu juga yang gue pikirin."

"Gue juga anak orang penting kali. Anak pejabat!" tukas Afghan kesal.

"Anak pejabat sih iya. Tapi sayangnya bukan pejabat di sini, Ghan. Di negara ini kita cuma numpang. Makanya jangan macam-macam," nasihat Mex lagi.

Afghan menunduk lesu. "Padahal tangan gue udah gatel banget sama tuh cewek. Btw, gue masih heran kenapa dia bisa dispesialin banget sama guru-guru ya? Kenapa gak pernah dihukum?"

Mex mengangguk. "Gue juga penasaran."

"Jangan-jangan..." Afghan menatap kedua temannya dengan ekspresi horor. "Dia... dia jual diri?"

Entah kenapa, Vahan langsung merasa tidak suka dengan dugaan asal Afghan tersebut. Walaupun Billby sudah membuatnya kesal setengah mati, menurutnya gadis itu bukan tipe cewek seperti itu.

"Sembarangan lo! Masa iya sih? Enggaklah. Paling juga karena sogokan uang," komentar Mex membantah pikiran kotor Afghan yang agaknya sudah kelewatan.

"Mungkin dia anak kepala sekolah," tutur Vahan, mencoba memberikan pemikiran yang lebih normal.

"Enggak kok. Kepsek cuma punya dua anak. Pak Jack sama adiknya yang cewek," bantah Afghan cepat.

"Billby kan cewek," balas Mex.

"Bukan! Anak ceweknya kepsek tuh udah gede!" sewot Afghan.

Vahan kemudian bangkit berdiri dan menghampiri motornya, membuat atensi kedua temannya langsung teralih.

"Pulang?" tanya Afghan.

Vahan menggeleng. "Gak. Mau ke rumah sakit. Gak usah ikut, lo berdua pulang aja."

Namun, tanggapan kompak langsung terdengar, "Ikut!" balas Afghan dan Mex serempak.

"Terserah."

***

"Kita makan dulu ya, Om. Billby pengen makan di luar," pinta Billby seraya melepas tas sekolahnya lalu melemparkannya ke jok belakang mobil.

Saat ini Billby sedang bersama Jack—omnya sendiri yang juga berprofesi sebagai guru di sekolah tempatnya belajar.

"Mau makan apa?" tanya Jack seraya mengatur suhu AC di dalam mobil.

Billby menggumam cukup panjang, menimbang-nimbang menunya. "Billby mau makan di Solaria deh."

"Oke, boleh. Gimana hari ini?" tanya Jack yang sudah mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan.

"Hmmm, kayak biasa."

Jack menoleh sekilas ke arah keponakannya. "Tidur seharian?" tebaknya.

Billby menganggukkan kepala, lalu sedetik kemudian menggeleng. "Tadi aku sempat ngasih bekal pizza-ku ke teman semejaku. Perutnya keroncongan, berisik banget. Jadi aku kasih makan aja biar dia diam dan aku bisa tidur lagi."

Awalnya Jack hanya mengangguk santai. Namun pada detik berikutnya, ia langsung menatap Billby dengan pandangan mengintimidasi. "Cowok, kan? Teman semeja kamu cowok? Apa aja yang kamu omongin? Kalian temenan? Tukeran nomor HP?" interogasinya beruntun bak wartawan.

Billby menghela napas panjang. Sepertinya ia salah bicara. Tidak seharusnya ia menceritakan hal tersebut kepada omnya yang posesif setengah mati ini. Sikap protektifnya terkadang sudah seperti pacar yang obsesif.

"Om tuh lagi nyetir, jangan malah lihatin Billby terus. Ntar kalau sampai ada apa-apa di jalan, Billby gak mau diurus Om lagi, ya," ujarnya, sengaja mengabaikan seluruh pertanyaan beruntun dari Jack.

"Terus kalau bukan Om yang ngurus kamu, siapa lagi?"

Billby hanya mengendikkan bahunya acuh tak acuh. "Tuhan, mungkin."

Jack menjulurkan tangan lalu mencubit gemas pipi Billby. "Sembarangan kamu. Ceritain ke Om apa aja yang kamu omongin sama cowok itu. Se-de-tail mungkin!" titah Jack tak terbantahkan.

Mau tidak mau, akhirnya Billby menceritakan aksi jahilnya soal pizza beracun tadi.

"Astaga, Billby... kamu gak boleh bercanda kayak gitu. Bercanda itu ada batasnya," ujar Jack sambil melirik keponakannya yang selalu penuh kejutan dan meresahkan itu.

Tetapi Billby menanggapinya dengan teramat santai. Ia justru memberikan jawaban yang ia yakini akan memancing kekesalan omnya. "Jadi, kalau bercandanya gak berlebihan, boleh dong?"

Jack seketika mencengkeram setir mobilnya lebih erat. "Billby," panggilnya dengan nada rendah yang terdengar menuntut, "jangan pernah coba-coba ngelakuin hal yang udah Om larang. Kamu gak boleh temenan sama siapa pun di sana. Kalau kamu berani temenan apalagi sampai bercanda lagi sama cowok itu, Om bakal keluarin dia dari sekolah. Atau... Om bakal kunci kamu di dalam kamar setiap kali Om lagi gak ada di rumah. Gak cuma sama cowok itu, ya. Semuanya. Kamu gak boleh berteman dengan siapa pun."

"Iya deh..." balas Billby lesu, menyerah.

"Apa kamu udah sering bercanda sama dia?" tanya Jack memastikan.

Billby menggeleng cepat. "Enggak, Om. Itu tadi murni karena dia kelaparan aja."

"Terus kenapa dia gak pergi ke kantin?"

"Katanya sih lagi belajar, soalnya mau ngerjain ulangan susulan yang sempat kelewat kemarin," balas Billby seadanya.

1
@Biru791
kali kali dobel up napa author
chill: nanti aku usahain ya.. gak cuman nulis satu ini soalnya. jadi agak susah.
total 1 replies
pineapple
Kaka aku kasi bunga, semangat yaa
chill: makasih banget yang mampir dan ninggalin jejak.. love youu🩷🩷🩷🐾🐾😭😭
total 1 replies
@Biru791
gemesss
@Biru791
pliss deh up yg banyak gemesa deh
chill: kamu setia banget.. makasih ya😍 love you..
total 1 replies
Dini
sama sama
tp jangan lupa mimpir di karya ku juga
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan.

good story
@Biru791
dobel up dong tur
chill: okeh deh.. besok ya.. makasih banget sudah ngikutin terus
total 1 replies
@Biru791
thour ayoo upp di tunggu
chill: aku up setiap hari jam 15📝⌛
total 1 replies
@Biru791
semangatt upp
chill: makasih 😍😍 seneng banget ada yang komen🩷🩷
total 1 replies
chill
tinggalin jejak dong 😍
chill
jangan lupa di like ya..🙏
chill
komentar ya say.. buat motivasi penulis baru💪🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!