Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak melihat...
Ali menghelakan nafas panjang di tengah kebimbangan pilihan yang harus di hadapinya. Apa yang harus dilakukannya?
"Aku mohon kak! Aku juga akan segera bercerai dengan Mas Rangga. Dia sudah menandatangani surat perceraian kami tinggal tanda tanganku yang terbubuhi maka kami akan resmi bercerai." jelas Nisa tenang dan tertata. Ali cukup terperanjat dengan penjelasan adiknya. Jadi, pria itu sudah ingin menceraikan adiknya. Bertambah satu lagi alasan yang membuat Ali semakin membenci pria bernama Rangga itu.
"Baiklah! Lakukan apapun yang kamu suka adikku. Kakak akan meridhoimu. Semoga keputusanmu ini tidak akan membuatmu menyesal di masa depan, dan semoga Allah selalu menyertai setiap langkah yang kamu ambil. Kakak menyayangimu adikku. Jika kamu bahagia dengan keputusanmu maka kakak juga akan bahagia," ujar Ali yang kini memeluk erat adik kesayangannya.
"Terima kasih kak. Terima kasih atas kasih sayang kakak. Semoga kakak selalu diliputi dalam keberkahan dan kebahagiaan." Nisa tersenyum dalam pelukan sang kakak, walau air matanya tetap turun membasahi pipinya yang mulai tirus
🍀🍀🍀
"Selamat, Pak. Alhamdulillah, akhirnya ada orang yang mau mendonorkan matanya untuk bapak dan syukur semuanya cocok. Semoga operasi yang telah kita lakukan ini berjalan lancar dan membuahkan hasil." ujar dokter pada Rangga yang hanya duduk termenung dengan mata yang masih tertutup perban tebal.
Dia baru saja selesai menjalani operasi mata tiga hari yang lalu dan sekarang hari perbannya akan di buka. Tapi, Rangga terlihat sama sekali tidak antusias. Dia tidak peduli apa dia bisa melihat lagi atau tidak, dan juga tidak peduli siapa dermawan yang telah mendonorkan mata untuknya. Satu- satunya yang dia pikirkan sekarang adalah dia ingin segera memeluk istrinya yang sudah dua minggu ini tidak ada kabarnya. Dia begitu merindukan istri yang selalu disakitinya. Rindu itu menyesakkan dan rasa bersalahnya lebih menyakitkan daripada gelap yang ia alami selama ini.
Rangga tidak mau bersikap munafik untuk menampik fakta bahwa dia selalu mendengar istrinya menangis di malam hari saat hatinya terluka gara-gara Rangga yang bahkan tidak mau peduli padanya. Tapi Rangga tidak pernah melihat Nisa menunjukkan kesedihannya secara terang- terangan, kecuali sekali kali saat mungkin istrinya itu sudah lelah dan tidak tahan lagi. Nisa lebih memilih menelan setiap sakitnya sendirian daripada menunjukkannya pada Rangga.
Di ingat oleh Rangga, bagaimana istrinya itu selalu berusaha bersikap tegar saat Rangga dengan terang- terangan berkata ingin berkencan dengan Tiwi. Nisa juga selalu tersenyum walau Rangga selalu menampilkan wajah dinginnya. Itulah sebabnya kenapa Rangga begitu menyesal sekarang, terlebih di saat dia dengan lantang menjawab 'tidak' tepat di hadapan Nisa yang terpaku. Hatinya kini bahkan begitu menyayat saat ingatannya terulang pada kejadian saat itu. Penyesalan itu kini menenggelamkannya.
"Apa Bapak siap? Kami akan segera melepaskan perbannya." kata sang Dokter mulai melepaskan perlahan perban yang membaluti mata Rangga. Tangannya hati- hati mengurai perban lapis demi lapis. Sedangkan pria itu hanya diam masih termenung dengan pikirannya.
"Selesai. Buka mata bapak secara perlahan-lahan ya" suruh dokter setelah berhasil melepaskan semua perban yang membaluti mata Rangga dengan begitu lambat. Rangga mulai perlahan membuka matanya yang dua minggu terakhir itu hanya memandang kegelapan. Begitu matanya terbuka, Rangga hanya menampilkan pandangan kosong seakan tidak melihat apapun. Seakan-akan dia masih buta.
"Aku... Aku tidak melihat..." gumam Rangga pelan. Dokter yang menanganinya mulai saling pandang dengan tim medisnya. Mereka jelas takut operasi yang dilakukan gagal, padahal segalanya sudah sangat cocok dan dilakukan dengan segenap kemampuan.
"Bapak tidak bisa melihat kami?" tanya sang Dokter lagi, khawatir operasinya gagal.
"Aku tidak melihat istriku Annisa disini," lanjut Rangga dengan setitik air turun dari mata yang baru saja kembali memberinya cahaya.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean