Indonesia
NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Seseorang di Depan Pintu

Tiga jam kemudian, seluruh revisi akhirnya selesai. Satu per satu laporan kembali diperiksa sebelum diserahkan kepada Ares.

Setelah membaca hasil akhirnya, Ares menutup berkas di tangannya. “Sudah sesuai.”

Para staf yang sejak tadi menunggu dengan tegang langsung mengembuskan napas lega.

Ares berdiri. “Kirimkan versi finalnya ke saya sebelum sore.”

“Baik, Tuan.”

Ares meninggalkan ruang meeting bersama Reki.

Begitu pintu tertutup, beberapa staf langsung bersandar di kursi masing-masing.

“Gila...” salah satu dari mereka mengusap wajah. “Akhir-akhir ini Tuan Ares beda, ya?”

“Lebih tenang?” sahut yang lain.

“Iya. Biasanya tiap rapat selalu ada berkas terbang atau bentakan. Hari ini gak ada sama sekali.”

“Meski tetep tegas.”

“Bukan cuma itu.” Staf lain ikut menyela. “Auranya juga beda.”

“Beda gimana?”

“Wajahnya kelihatan lebih seger.”

Beberapa orang saling pandang.

Salah seorang staf perempuan menahan tawa sebelum akhirnya bercelatuk, “Kayak aura suami yang baru dapet jatah.”

Ruangan langsung dipenuhi tatapan kaget.

“Ah, mana mungkin!” bisik rekannya cepat. “Tuan Ares 'kan alergi perempuan.”

“Iya juga, ya.”

“Lagipula emangnya siapa yang berani deket sama dia?”

Staf perempuan tadi hendak menjawab, tetapi ingatannya kembali pada tangan Ares yang tadi mengambil berkas sebelum keluar ruangan.

“Eh, kalian tadi lihat gak?”

“Lihat apa?”

“Jari manisnya. Kayak ada cincin.”

“Cincin?” Salah seorang staf mengernyit. “Jangan-jangan cincin kawin?”

Mereka kembali saling pandang.

“Gak mungkin, 'kan?”

“Kalo bukan cincin kawin, kenapa dipakai di jari manis?”

“Bisa aja cuma aksesori.”

“Tapi Tuan Ares bukan tipe orang yang suka pakai aksesori.”

Mereka terdiam.

Beberapa detik kemudian, salah seorang staf mengangkat bahu. “Apa pun alasannya, yang penting akhir-akhir ini dia lebih baik. Semoga ke depannya makin baik.”

“Setuju.”

“Yang penting kita juga gak kena lempar berkas lagi.”

Mereka tertawa kecil.

Staf perempuan tadi kembali menahan senyum. “Jangan-jangan emang benar.”

“Benar apanya?”

“Kalo Tuan Ares sudah punya seseorang.”

“Mustahil.”

“Kenapa?”

“Karena kalo bener, kita semua pasti bakal tau.”

Mereka kembali terdiam.

Tidak ada yang menyadari bahwa justru karena Ares menyembunyikannya, tidak seorang pun di ruangan itu tahu bahwa dugaan mereka mungkin tidak sepenuhnya salah.

 

Di ruang kerjanya, Ares baru saja meletakkan berkas ketika ia meraih ponselnya.

Ia menghubungi pengurus rumahnya. “Pak Darto.”

“Iya, Tuan.” Suara Pak Darto terdengar dari seberang.

“Alisha masih di rumah?” tanya Ares.

“Masih, Tuan. Nyonya belum keluar.”

Ares mengangguk kecil meski lawan bicaranya tidak bisa melihat. “Baik.”

Sambungan berakhir. Ares membuka percakapan dengan Alisha.

Ares:

> Tetap di rumah. Jangan ke mana-mana.

Beberapa saat kemudian, balasan masuk.

Alisha:

> Iya.

Hanya satu kata. Namun entah kenapa, Ares mengembuskan napas lega. Setidaknya Alisha masih berada di rumah dan tidak pergi ke mana-mana setelah kejadian dengan Arga tadi malam.

Tok. Tok.

Ketukan terdengar dari pintu.

“Masuk.”

Reki membuka pintu sambil membawa beberapa berkas. “Tuan, ini revisi yang Anda minta.”

Ares menerima berkas itu. Ia langsung membacanya, memeriksa beberapa bagian sebelum akhirnya mengangguk. “Sudah benar.”

Reki meletakkan satu berkas lain di atas meja. “Ini juga.”

Ares mengangkat pandangan.

“Informasi tentang Yudhis," jelas Reki.

Tatapan Ares langsung berpindah ke berkas tersebut. Ia membukanya dan membaca beberapa halaman.

“Dia masih deketin Alisha?”

“Nggak ada indikasi seperti itu, Tuan.” Reki menjawab setelah memastikan catatannya. “Sejauh ini interaksi mereka biasa aja. Yudhis lebih banyak berhubungan dengan Nyonya karena menangani Raka.”

Ares kembali membaca.

“Selain itu, Nyonya juga gak terlalu lama di rumah sakit. Jadi kemungkinan interaksi mereka di luar urusan Raka cukup kecil.”

Ares menutup berkas. “Bagus.”

Reki hendak mengambil kembali berkas tadi ketika tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh, ya, Tuan.”

Ares menatapnya.

“Orang yang saya minta mengawasi Nyonya juga sudah melapor soal Arga.”

Sorot mata Ares langsung berubah. “Dia deketin Alisha?”

“Iya," jawab Reki. "Sejauh yang dilaporkan, Arga sengaja nyari kesempatan untuk ketemu Nyonya.”

Ares bersandar di kursinya. “Awasi saja.”

“Baik.” Reki mengangguk, tetapi tidak langsung pergi.

Ares memerhatikannya. “Ada lagi?”

Reki menarik napas pelan. “Kemarin saat anak buah saya melapor langsung ke Tuan, karena saya sedang bersama Tuan Rendra. Tuan ingat 'kan?”

“Iya," sahut Ares. "Aku ingat."

“Beliau sempat nanya sesuatu soal Tuan.”

Ares mengangkat alis. “Apa?”

“Beliau nanya kenapa kondisi Tuan sejak kuliah semakin parah.”

Ares terdiam.

Reki melanjutkan dengan hati-hati, “Beliau juga bilang, menurutnya masalah Tuan bukan cuma soal ibu dan bibi Anda.”

Ares menyandarkan punggungnya lebih dalam. “Terus?”

“Saya dipaksa cerita.”

Ares menatap Reki beberapa detik. Ia tahu pamannya akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan informasi yang diinginkannya.

“Kamu bilang apa aja?”

“Cuma soal Rania dan Arga.”

Ares terdiam. Rahangnya mengeras sesaat sebelum kembali tenang. “Bagus.”

Reki masih terlihat ragu. Ia menarik napas sebelum akhirnya berkata, “Tuan...”

Ares mengangkat wajah.

“Gimana kalo suatu saat beliau tau soal Nyonya?”

Jari Ares yang sejak tadi berada di atas meja berhenti bergerak. Pertanyaan itu sebenarnya sudah beberapa kali muncul di kepalanya.

Rendra bukan orang yang mudah dibohongi. Terlebih lagi, pria itu mengenal Ares sejak kecil dan tahu hampir semua kebiasaannya.

“Dia belum perlu tau.”

“Tapi Tuan Rendra mulai curiga.”

Ares menghela napas pelan. “Aku tau.”

“Kalau beliau nyari tau sendiri?”

Ares terdiam cukup lama. Tatapannya turun pada cincin di jarinya. Dulu benda itu hanya bagian dari kesepakatan yang tidak perlu diketahui siapa pun. Sekarang cincin yang sama justru menjadi sesuatu yang semakin sulit ia sembunyikan.

“Aku akan mengurusnya.”

Reki mengangguk, tetapi sebelum berbalik, Ares kembali memanggil.

“Reki.”

“Ya, Tuan?”

“Mulai sekarang, kalo Om Rendra nanya sesuatu soal aku...” Ares berhenti sebentar. “Jangan bohong terlalu banyak.”

Reki mengerutkan kening.

“Jawab seperlunya. Jangan kasih alasan yang bikin dia makin curiga.”

“Baik.” Reki hendak keluar.

Namun Ares kembali berkata, “Dan jangan sampai dia tau soal Alisha dari orang lain.”

Reki menoleh.

“Kalo beliau sampai tau,” lanjut Ares dengan suara rendah, “aku yang bakal jelasin.”

Reki mengangguk. “Mengerti, Tuan.”

Pintu kembali tertutup. Ares bersandar di kursinya. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar.

Pesan dari Alisha masuk.

Alisha:

> Aku bosan.

Sudut bibir Ares terangkat tipis. Ketegangan yang tadi memenuhi pikirannya sedikit mencair.

Ia mengetik balasan.

Ares:

> Pengen aku temenin?

Di tempat lain, tanpa diketahui Ares, Arga berdiri di depan sebuah rumah sederhana.

Rumah Alisha.

Tatapannya tertuju pada pintu di hadapannya. Tangannya terangkat, lalu mengetuk.

 

...✨“Jangan mengira rahasia akan selalu aman hanya karena tak pernah diucapkan. Sikap, perubahan, bahkan sebuah cincin bisa berbicara lebih banyak daripada kata-kata.”✨...

.

To be continued

1
Dek Sri
lanjut
Cicih Sophiana
lumayan bagus dan masuk akal alasan Aisha kerja...biar ada bohong nya lumayan🫢 😂
Cicih Sophiana
Alisha seperti nya tdk seperti cewek lain yg mendekati Ares... yg matre, celamitan minta ini minta itu... bukti nya Alisha anteng anteng aja tuh gak macam...
Ass Yfa
rencana Arga berhasil menyakiti Ares
Cicih Sophiana
klo semua orang takut menikah Res dunia sepi dong... gak ada anak untuk penerus manusia... orang jg mungkin malas kerja dan beraktifitas untuk apa?
abimasta
puas yaa kamu arga
Cicih Sophiana
klo udah cemburu berarti udah ada rasa ya Res... jujur aja napa Res gapapa kok klo jujur jg Alisha seperti nya jg suka kamu deh...
Puji Hastuti
kamu selamat alisha
Cicih Sophiana
cie cie ada yg cemburu nih yeh... tp gak berani bilang cemburu... padahal jujur aja gak usah malu mas Ares 🫢
Cicih Sophiana
betul kak Nana bukan tempat yg membuat tenang tp seseorang yg tulus...
Cicih Sophiana
Ares kamu sdh ketergantung aroma tubuh Alisha...klo Alisha pergi meninggalkan kamu gimana coba..
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
kasian yah Alisha masa mata dan kuping nya harus di tutup... itu maksud nya Alisha gak boleh liat Ares takut Alisha jatuh cinta gitu yah 🫢
Fadillah Ahmad
Hoooh, sekarang aku tau kenapa Ares tidak ingin terlalu drkat dengan Alisha atau sampai mencintai Alisha. Karena Ares tau, bahwa itu bisa menjadi kelemahan terbesarnya uang bisa di manfaatkan oleh Pesaing bisnis seperti Arga... 😂😂😂 Karena, tidak di dunia ataus ataupun dunia bawah sekalipun, kelemahan terhadap Wanita itulah yang paling di cari oleh lawan... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
Ares nyaman yah memeluk Alisha... sape di lepas aja gak mau
Fadillah Ahmad
Hahaha, itulah bodohnya kau Arga! 😂😂😂 mungkin selama ini, Ares sudah terlalu baik padamu. Membuatmu berada di atas angin. 😁😁😁 Tapi sekarang? Lihatlah langkah yang di ambil Ares? 😂😂😂 Kau sendiri pun lengah kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Itu adalah langkah yang bagus Alisha... 😂😂😂 Maka, untuk selanjutnya berhati-hatilah... 😂😂😂 Karena, sesungguhnya dunia bisnis itu amatlah kejam. Tidak sesederhana seperti yang terlihat di permukaan... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benar sekali Alisha... 😂😂😂 maka, berhati-hatilah pada setiap Pertanyaan Arga yaaa 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Arga itu, terlalu lihai dalam menyusun kalimay Alisha... 😂😂😂 Hingga kamu sendiri pun nggk nyadar, bahwa jawaban kamu itu membawa lerugian bagi perusahaan suamimu sendiri... 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!