Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Cahaya matahari siang masuk begitu saja melalui celah gorden melalu jendela kamar hotel bintang lima, langsung menyinari wajah pria yang terbaring di atas ranjang.

Pria itu mengerang keras, secara alami matanya terbuka dengan mengedipkan menyesuaikan cahaya matahari yang masuk.

Sebelah tangannya berusaha menghalau silau yang mengenai area matanya, kepalanya berdenyut nyeri dengan sangat hebat.

Angga Pratama.

Pria itu bangun seolah-olah ada godam tak kasat mata yang menghantam bagian belakang kepalanya, pengaruh alkoholnya semalam membuatnya tak ingat soal apapun.

Termasuk apa yang di lakukannya semalam dengan seorang wanita.

"Aduh...kepala aku sakit banget," erang Angga dengan suara serak seperti baru bangun tidur.

Angga merasa tenggorokannya terasa kering, seperti padang pasir.

Jari jemarinya memegang kepalanya yang berdenyut dengan kencang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang masih hilang.

Perlahan Angga terduduk di atas ranjang, meja nakas di samping tempat tidur ada sebotol air putih yang sengaja di siapkan kamar hotel.

Tanpa berpikir panjang Angga langsung meraih botol air itu untuk di minum, setelah lebih baik---matanya berusaha berkedip menyesuaikan pandangan sekitar.

Kepalanya menoleh ke samping, sebuah kursi santai berbahan beludru tampak berantakan dengan pakaian yang di kenakannya semalam.

Pakaian itu tergeletak begitu saja, dan Angga sadar tubuhnya tanpa mengenakan busana---lalu dirinya yang kesadarannya terkumpul langsung menetralkan diri.

Suasana kamar itu sangat sunyi, dengan udara dingin dari AC yang menyala semalaman----tidak ada siapapun di sana selain dirinya.

Angga lalu meraba-raba kasur hanya untuk mencari ponselnya, setelah berhasil mendapatkan ponselnya---matanya langsung menyipit membaca banyak notifikasi yang masuk.

Di antara beberapa pesan grup, ada pesan singkat dari Bima yang membuatnya sedikit panik.

"Aduhh, Kolonel Baskara nyuruh kumpul nanti jam empat sore lagi," ungkapnya sambil menggerutu.

Titah dari Kolonel Baskara yang memerintahkan seluruh anggota kesatuan, termasuk perwira pimpinan untuk berkumpul nanti sore di markas besar guna membahas evaluasi taktis darurat.

"Aduh... kepalaku masih sakit lagi," gumam Angga gusar sembari melemparkan ponselnya kembali ke atas seprai putih yang kusut.

"Semalam aku ngapain ya, kok bisa di kamar hotel tanpa pakai baju," lanjut Angga berpikir mencoba mengingat apa yang di lakukannya semalam.

Tekanan pekerjaan yang menderanya, membuat tubuh dan pikirannya mencari tempat pelarian di club malam semalam.

Angga hanya menghela napas panjang, bersiap kakinya turun dari ranjang membasuh wajahnya di kamar mandi hotel ini.

Namun, dirinya saat menyingkap selimut selain tanpa busana gerakannya menjadi terhenti saat menyadari sesuatu.

Reaksi biologis tubuhnya yang membuat alat vitalnya menegang keras, hal yang di sadarinya secara langsung air benih miliknya tercecer di kasur.

Pandangan mata Angga melihat sebuah bercak darah di selimut yang menutupi pangkuannya, sedetik kemudian tenggorokannya terhenti.

"Dih kok ada darah! lah semalam aku----" ucapan Angga terhenti dengan tenggorokan yang tercekat.

Matanya melihat ada bercak-bercak noda darah berwarna merah pekat yang telah mengering, menyebar dalam pola cipratan tak beraturan.

Angga sadar ini akan mengirimkan sinyal bahaya padanya, jika wanita ini melapor ke kesatuannya.

Kedua tangannya perlahan mencengkram erat rambut hitam cepaknya yang berantakan, matanya menatap nanar ke arah noda darah itu.

Rasa syok, kebingungan, dan ketakutan yang teramat sangat bercampur menjadi satu.

"Aduh kacau sih ini...noda darah!! Lah siapa yang semalam aku perawanin?!" ungkap Angga dengan suara bergetar, napasnya memburu.

Pikirannya Angga langsung berusaha keras memikirkan siapa yang semalam dirinya nodai, namun pikirannya hanya teringat jika dirinya menarik seorang bidadari.

Menarik seorang bidadari mengenakan baju putih, aromanya juga sangat di kenalinya---aroma bunga sakura handbody hanasui.

Ingatannya hanya ingat saat sadar dirinya di club malam bersama Bima, namun kenapa dirinya bisa terpisah dari Bima.

"Lah Bima kemana? wedus!" ungkap Angga yang bicara dengan logat Jawanya.

"Auhhh...nggak inget apapun lagi!" rintih Angga lagi.

Tangan Angga menekan pelipisnya kuat-kuat demi menahan sakit dan nyeri di kepalanya, di tengah rasa sakit itu----satu per satu potongan memori semalam mulai kembali.

Memori itu kembali seperti kepingan film rusak yang terdistori, kembali memejamkan matanya dengan erat.

Suara wanita yang berteriak di taman, lalu di pelukannya---berusaha melepaskan diri.

Hingga wanita itu di lepaskan Angga secara kasar hingga kepalanya terbentur bangku taman, dan Angga hanya ingat itu---wajah wanita itu juga tak jelas.

Dirinya hanya ingat berjalan sempoyongan di bawah temaram lampu kamar hotel, mengingat akan parfum wanita yang mengenakan kemeja putih itu.

"Siapa ya tuh cewek," pikirnya, tangannya meremas kembali rambut cepaknya.

Adegan berikutnya terlintas saat dirinya menindih tubuh wanita itu, dan Angga sadar---jika dirinya sempat memukul wajah wanita itu saat----wanita yang di tindihnya sadar dan berusaha berontak.

"Lepasin! Lepasin gua!!" jeritnya di saat sadar, berusaha melepaskan diri.

Bugh!

Pukul Angga yang tentu dari segi tenaga, Angga lebih unggul dari Asri---karena Angga selain perwira yang cerdas, dirinya juga di latih fisik.

Ingatan Angga beralih dengan adegan intim yang panas dan liar di atas ranjang ini, wanita yang di pukul wajahnya itu kembali pingsan.

Setelah kembali pingsan, Angga secara tak manusiawi malah kembali menodainya dengan cara kasar.

Angga ingat samar-samar bahwa wajah wanita itu memang sangat cantik, kecantikan yang polos---sampai Angga mengira jika wanita itu adalah bidadari.

"Ya allah apa yang udah hamba lakuin," ucapnya dengan panik.

Kenyataan bahwa ada noda darah di selimutnya membuktikan satu hal mutlak, bahwa semalam dirinya telah merenggut paksa kesucian seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui namanya.

"Siapa wanita yang memakai kemeja putih itu?" ujarnya.

Seorang perwira TNI yang dididik untuk melindungi masyarakat, apa yang baru saja ia lakukan adalah sebuah kejahatan berat yang tak terampuni.

Jika kasus ini sampai tercium oleh publik atau dilaporkan ke pihak berwajib, karier militer yang ia bangun dengan darah dan air mata akan hancur lebur seketika.

"Mampus...jangan sampai ke kesatuan aku, kalo sampai hal itu terjadi! Matilah akuuu!" ungkap Angga dengan bibir bergetar.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!