Punya nama Samson Perkasa Putra dan postur gagah setinggi 178 cm ternyata jadi beban berat buat Samson. Dituntut Papi jadi cowok macho penerus bengkel, Samson malah lebih paham urusan skincare dan bakat histeris tiap liat kecoa. Kehidupan Samson makin riweh saat dia harus bertahan di antara harapan keluarga yang manly abis, godaan gosip tetangga, hingga urusan asmara yang serba salah. Bisakah Samson membuktikan kalau pria "otot kawat, tulang lunak" juga punya caranya sendiri buat jadi pahlawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaGabut_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pahlawan
"Muka lu jangan dekat-dekat, nanti jerawatan gue!" teriak Samson panik setengah mati sambil mengayunkan kantong plastik cumi asinnya ke depan.
PLAK!
Cairan cumi asin yang amis dan penuh bumbu garam melayang kencang di udara, menghantam tepat di tengah-tengah wajah pria berbadan tegap yang mengacungkan balok kayu tadi. Pria itu sempoyongan sambil memegangi mukanya yang basah dan belepotan cumi.
"A...aaduh! Maaf, Mas! Samson enggak sengaja! Itu refleks karena panik!" tambah Samson histeris sambil memegangi kedua pipinya sendiri dengan wajah pucat.
Ternyata, saat pria sangar itu menodongkan balok kayu hingga hampir menyentuh hidung, ketakutan Samson akan rusaknya estetika wajah, jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada geng preman. Jari jemari Samson yang lentik refleks mengayunkan belanjaan Mami seperti raket bulu tangkis!
Empat anak buah preman lainnya melotot tidak percaya melihat bos mereka kejang-kejang mengusap bau amis di mukanya, "kurang ajar ini cowok centil! Sikat!" teriak salah satu preman sambil mengayunkan balok kayu ke arah Samson.
"Gila lu ya, malah bengong! Lari, bego!" teriak wanita tomboi dari balik punggung Samson.
Tanpa aba-aba, wanita itu menarik paksa lengan baju Samson, menyeret tubuh bongsor 178 sentimeter itu berlari menerobos kerumunan pedagang pasar.
Samson yang paniknya sudah mencapai level maksimal hanya bisa pasrah diseret, melompat-lompat anggun menghindari kubangan air becek agar sepatu sneakers putihnya tidak ternoda, "aduh, Mbak! Pelan-pelan larinya! Ini sneakers aku baru di-cleaner kemarin! Jangan lewat jalan yang becek itu, aduh... nanti kotor!" omel Samson sambil terus berlari meliuk-liuk bagai penari latar.
"Bisa diam enggak sih lu?! Mau muka lu digeprek balok kayu?!" bentak wanita tomboi itu sambil terus menarik Samson masuk ke gang sempit di samping pasar.
Di belakang mereka, lima preman berkayu balok terus mengejar sambil memaki-maki. Samson menoleh ke belakang sekilas dan makin panik saat melihat jarak preman-preman itu makin dekat.
Sesampainya di ujung gang yang ternyata jalan buntu, wanita tomboi itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik, memasang kuda-kuda yang sangat solid. Matanya tajam, sama sekali tidak ada rasa takut di wajahnya.
"Sial! Jalan buntu, yaudah, mau enggak mau kita hajar mereka di sini," ujar wanita itu dingin sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Hah?! Hajar?! Mbak, aku ini tipe cowok damai dan menghindari resolusi konflik lewat kekerasan fisik! Nanti kalau kuku aku patah gimana?!" Samson merengek sambil bersembunyi di balik bahu wanita tomboi yang ukurannya jauh lebih kecil dari badannya.
"Badan doang gede kayak beton gedung DPR, tapi mental cacing pita! Lu berdiri di belakang gue!" gertak cewek itu.
Lima preman akhirnya mengepung gang sempit itu. Pria yang tadi terkena sabetan cumi asin maju paling depan dengan muka merah padam dipenuhi amarah, "lu berdua kagak bakal bisa kabur lagi! Serahin dompet bos gue, cewek tengil! Dan lu, cowok melambai, muka lu bakal gue bikin rata sama tembok!" ancam si ketua preman.
Dua preman maju bersamaan melayangkan pukulan kayu. Dengan gerakan sangat cepat dan lincah, cewek tomboi itu mengelak ke bawah, lalu melepaskan tendangan memutar yang mengenai dagu salah satu preman sampai tumbang seketika.
Namun, preman kedua memanfaatkan celah dan mengayunkan kayunya tepat ke arah kepala si cewek dari samping.
"Mbaak! Awas ada kayu mampir!" jerit Samson refleks.
Tanpa berpikir panjang, Samson yang panik melihat bahaya melambaikan tangannya yang memegang kantong plastik berisi bawang merah dan cabe keriting, lalu melemparkannya tepat ke muka preman kedua!
Plastik itu pecah tepat di mata si preman. Cabe keriting segar langsung mengenai matanya, "ARGGHHH! MATAKU! PERIH! PERIH BANGET!" preman itu meraung-raung sambil bergulingan di tanah memegangi matanya yang panas terbakar racun cabe keriting.
Cewek tomboi itu menyeringai. Ia menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan pukulan kombinasinya pada dua preman tersisa hingga mereka tersungkur tidak berdaya. Dalam hitungan detik, empat dari lima preman sudah tergeletak di gang sempit, Tinggal si ketua preman yang tersisa.
Melihat anak buahnya tumbang oleh gabungan ilmu silat si cewek dan racun cabe dari si cowok centil, si ketua preman gemetaran. Ia melemparkan kayunya, lalu berbalik dan berlari kencang keluar dari gang sambil berteriak panik.
Suasana gang mendadak hening. Cewek tomboi itu menghela napas panjang, merapikan topi capingnya, lalu menatap Samson dari atas sampai bawah dengan pandangan takjub sekaligus heran, "lumayan juga jurus cabe lu," ucap cewek itu datar.
Samson malah terduduk lemas di atas tanah kering. Wajahnya meratapi nasib, "aduh... cabe keriting Mami pecah, cumi asin Kak Ros melayang, mana lip balm aku jatuh entah ke mana... hilang sudah jatah facial aku bulan ini!"
Cewek tomboi itu terkekeh pelan. Ia mengulurkan tangannya ke arah Samson, "gue Kenanga, panggil aja Ken. Makasih udah bantu gue tadi, walaupun gaya lu... agak lain."
Samson menatap tangan Kenanga yang penuh bekas luka memar, lalu perlahan menjabatnya dengan dua jari, "saya Samson Perkasa Putra... Tapi tolong ya Mbak Kenanga, jangan panggil saya dengan nada kasar gitu. Jiwa halus saya trauma berat ini."
Kenanga menarik Samson hingga berdiri, "yaudah, sebagai gantinya, gue ganti belanjaan lu yang rusak tadi, yuk."
Namun, baru saja Samson mau bernapas lega dan tersenyum, HP di kantong celana Samson berdering nyaring. Layar HP menampilkan nama yang paling ditakuti Samson di muka bumi MAMI QUEEN.
Dengan jari bergetar, Samson menggeser tombol hijau dan menempelkan HP ke telinganya, "SAMSON PERKASA PUTRA! KAMU BELANJA CABE SAMA CUMI DI LAUTAN ATLANTIK YA?! INI SUDAH JAM DELAPAN LEWAT, ARISAN MAMI SEBENTAR LAGI MULAI! KALAU DUA PULUH MENIT KAMU BELUM SAMPAI RUMAH, SEMUA KOLEKSI SKINCARE KAMU MAMI BUANG KE TONG SAMPAH!"
TUT... TUT... TUT...
Panggilan terputus. Wajah Samson seketika menjadi pucat pasi, lebih putih dari efek krim pemutih racikan dokter kulit mana pun.
"M...mmbak Kenanga..." ucap Samson dengan mata berkaca-kaca, "bisa tolong antar aku pulang sekarang? Nyawa skincare aku dalam bahaya kritis!"
Kenanga yang melihat reaksi berlebihan Samson hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Tanpa membuang banyak waktu, cewek tomboi itu langsung menarik kerah jaket Samson dan menyeretnya menuju parkiran motor. Samson berlari kelabakan, berusaha menyamai langkah cepat Kenanga sambil terus berdoa agar serum dan toner kesayangannya di rumah masih selamat dari amukan sang Ratu Arisan.
***
Samson merogoh saku celananya dan mengambil kunci motor, ia segera menekan tombol remote untuk membunyikan alarm.
Tiitt... Tiitt....
"Itu motor lu? Pink...? ucap Kenanga kaget.
"Lucu... kan? jawab Samson dengan mengedipkan mata.
Dengan wajah datar, Kenangan menepuk jidatnya pelan, "yaudah... ayo kita bergegas, jangan sampai moisturizer lu jadi korban tong sampah.