Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di tengah pembekuan waktu kausalitas sistem, Gu Ran menatap jendela notifikasi merah darah yang menyala di depan retina matanya.
Kunci.
Satu kata deklarasi bergema di dalam benak Gu Ran.
TINGGG!
[Pengikatan Sukses: Slot Sandera 2 Terkunci Permanen pada Tetua Mo Yan.]
[Matriks Transfer Kerusakan Kausalitas Asimetris 1:10: AKTIF.]
Seutas benang takdir merah darah yang tak kasat mata melesat dari tengkuk Gu Ran, menembus keremangan aula melintasi jarak sepuluh depa, lalu menancap telak di tengah rongga dada Tetua Mo Yan di meja tamu kehormatan.
Pada detik yang sama, aliran waktu kembali bergerak normal.
CLEB!
Ujung runcing Jarum Pembakar Jiwa menekan lapisan kulit terluar leher belakang Gu Ran sedalam setengah milimeter. Rasa dingin yang tajam dan sedikit perih menusuk pori-pori kulitnya saat setetes racun pemusnah sukma menyentuh pembuluh darah fana.
Pelayan penyaji arak di belakang kursi Gu Ran menarik sudut bibirnya dalam senyuman keji, bersiap menyaksikan sukma pemuda itu meleleh menjadi abu.
Di seberang ruangan, Tetua Mo Yan masih memegang cawan gioknya dengan senyuman puas yang belum pudar dari wajah keriputnya.
Namun sebelum seringai sang tetua racun sempat mengembang sempurna, sebuah ledakan internal meledak liar di dalam rongga dadanya.
DUAAARRR!
Rasa sakit yang seribu kali lebih membakar daripada lahar gunung berapi seketika mencabik-cabik sembilan jalur meridian dan dinding Inti Emas Tetua Mo Yan!
Amplifikasi kerusakan racun sepuluh kali lipat meledak tanpa ampun di dalam organ vital sang dalang.
“HUUUEEKKK!”
Tetua Mo Yan menjerit melengking, suara jeritannya melengking tinggi menenggelamkan tabuhan gendang para penari.
CRAAAK!
Dada jubah hitam bersulam kalajengking perak itu robek terkoyak dari dalam. Semburan cairan merah keunguan yang berbusa pekat memancar deras dari mulut dan lubang hidung Tetua Mo Yan, menghantam meja pernis di depannya dengan semburan dahsyat.
Darah beracun itu mendidih dan mendesis panas, membakar taplak sutra dan melubangi meja kayu hingga mengeluarkan asap hijau pekat berbau bangkai belerang.
“Dadaku… Racunku sendiri… Jantungku meledak…!” raung Tetua Mo Yan sebelum tubuhnya tersungkur menabrak cawan-cawan arak yang berhamburan.
Seluruh Balai Perjamuan Agung seketika tenggelam dalam kepanikan massal.
Petikan kecapi terhenti mendadak. Belasan penari wanita menjerit histeris sambil berlarian menyelamatkan diri dari cipratan darah beracun. Para utusan dari Paviliun Giok Ilahi dan Sekte Petir melompat mundur dari kursi masing-masing dengan wajah pias.
Pelayan penyaji arak yang berdiri di belakang Gu Ran seketika mematung kaku.
Mata si pembunuh bayaran membelalak lebar menatap tuannya sendiri yang terkapar kejang di lantai bersimbah racun buatannya sendiri. Pegas jarum di cincin peraknya terlepas, dan teko tembaga di tangannya jatuh berdentang ke lantai.
“B-bagaimana mungkin… Kenapa Tetua yang meledak…?!” bisik si pembunuh dengan suara tercekat ketakutan.
Belum sempat si pembunuh melangkah mundur, sesosok bayangan ungu melesat turun dari panggung utama.
BUK!
Patriark Song Tianhe menghantam tengkuk si pembunuh dengan satu tebasan telapak tangan, meremukkan persendian bahunya dan menguncinya ke lantai karpet.
Tetua Penegak Disiplin Tie Gang melompat maju bersama puluhan murid Balai Hukum, menghunus pedang petir mereka dan mengepung seluruh rombongan Sekte Racun Lembah Hitam.
“Kunci seluruh pintu aula!” bentak Tie Gang dengan suara menggelegar. “Sekte Racun berani melepaskan racun di dalam perjamuan sekte!”
Di sudut meja tamu kehormatan, Tetua Mo Yan mengejang dua kali di genangan darah beracunnya sendiri sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri dengan rongga dada yang hancur terbakar.
Di tengah jeritan, dentang senjata, dan kepulan asap hijau beracun, Gu Ran tetap duduk bersila tenang di atas bantal sutranya.
Tangan kanannya terangkat perlahan, meraba leher belakangnya sendiri. Bekas tusukan jarum tipis itu hanya menyisakan titik merah kecil seukuran gigitan nyamuk yang sudah berhenti berdenyut.
Gu Ran meraih kembali cawan arak buah persiknya yang masih utuh di atas meja.
Ia menyesap tegukan arak terakhir dengan tempo lambat, lalu melirik ke arah cincin master Paviliun Harta di jari manisnya yang berpendar hijau tenang.
“Perjamuannya sudah bubar,” gumam Gu Ran datar sambil meletakkan cawan kosong ke atas meja. “Xiao Zhu, bawa karungmu. Malam ini kita kosongkan seluruh lantai sembilan gudang farmasi.”