Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Trik Licik Sang Calon Mertua
Penolakan tegas Kian ke Sisca sukses bikin malam gue dipenuhi mimpi indah, suatu musibah psikologis karena artinya benteng pertahanan gue udah benar-benar jebol tak tersisa.
Gue resmi berlayar di samudra ke-pede-an.
Namun, seperti biasa, hidup bersama Kian itu ibarat naik roller coaster tanpa sabuk pengaman. Begitu lu merasa udah aman dan bahagia, takdir bakal menyajikan belokan tajam yang bikin jantung melompat keluar.
Hari Sabtu di minggu ketiga masa percobaan, musibah itu datang dalam wujud konspirasi dua ibu-ibu.
Sekitar jam sepuluh pagi, Tante Maya tiba-tiba menelpon Mama. Hasil dari percakapan telepon selama tiga puluh menit itu adalah keputusan sepihak yang tidak bisa diganggu gugat, Gue dan Kian diutus untuk pergi ke rumah peristirahatan keluarga di daerah Puncak selama dua hari satu malam.
"Ngapain, Ma?!" jerit gue panik begitu mendengar pengumuman itu di dapur. "Elora kan belum selesai revisi Bab 3!"
"Hush! Cuma suruh ngecek rumah kok," potong Mama santai sambil memotong wortel. "Penjaga rumahnya lagi pulang kampung, terus Tante Maya mau pakai rumah itu minggu depan buat acara alumni. Kamu sama Kian cuma perlu ngecek pompa air sama mastiin bersih. Sekalian liburan pendek, kan kalian lagi masa PDKT."
Gue menepuk dahi. PDKT sih PDKT, tapi menginap berdua di Puncak sama cowok yang belakangan ini hobi banget bikin jantung gue marathon itu namanya memancing di air keruh!
"Tapi kan bisa Kian sendiri, Ma!"
"Kian gak bisa bawa selimut sama sprei baru sendirian, Elora. Udah, gak ada alasan. Kian udah di depan tuh."
Gue mengintip dari jendela ruang tamu. Sebuah mobil SUV hitam milik Kian sudah terparkir manis. Kian keluar dari mobil, dengan kaca mata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Dia melambaikan tangan ke arah jendela sambil menyeringai lebar.
Cengiran licik yang sangat mencurigakan.
Sepanjang perjalanan ke arah Puncak, gue menyilangkan tangan di dada sambil memelototi Kian dari samping.
"Lu jujur sama gue," tembak gue curiga. "Ini ide lu kan? Lu yang menghasut Tante Maya biar kita dikirim ke Puncak berdua?"
Kian terkekeh, tangannya dengan santai memutar setir mobil menelusuri jalanan berkelok. "Demi Tuhan, Ra, gue aja baru tahu pas Nyokap mendadak bangunin gue jam delapan pagi sambil ngelempar kunci mobil dan tas pakaian."
"Terus kenapa muka lu kelihatan seneng banget?!"
Kian menoleh sekilas ke arah gue, lalu menyeringai goda. "Ya seneng lah. Kapan lagi bisa liburan gratis berdua sama Calon Istri tanpa diganggu?"
"Kian!"
"Bercanda," Kian tertawa renyah, mengacak rambut gue asal sampai berantakan. "Lagian cuma semalam, Ra. Rumahnya juga kamar banyak. Lu takut gue ngapa-ngapain lu?"
"Gue bukan takut lu ngapa-ngapain gue!" seru gue spontan.
"Terus takut apa?" Kian miringkan kepala, menatap gue penuh selidik pas mobil berhenti di lampu merah. "Takut lu yang gak bisa nahan diri buat ngapa-ngapain gue?"
Muka gue seketika panas membara. Gue menyambar bantal leher di jok belakang dan langsung menghantamkannya ke muka Kian tanpa ampun. "KIAN SIALAN! KELUAR GAK LU DARI MOBIL!"
Kian tertawa terbahak-bahak sambil berusaha menghindari serangan bantal gue. Suasana di dalam mobil yang tadinya tegang mendadak penuh dengan canda tawa kami yang berisik, dinamika kasual yang selalu berhasil membuat gue nyaman, sekaligus makin menyukai cowok di sebelah gue ini.
Kami sampai di villa Puncak sekitar jam dua siang. Udara sejuk dan pemandangan hijau langsung menyambut kami. Rumahnya cukup luas, berasitektur kayu hangat, dan dikelilingi kebun teh yang asri.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat kami melangkah masuk ke dalam rumah.
Setelah memeriksa pompa air dan menaruh sprei baru, Kian berjalan ke arah koridor kamar utama. Gue mengekor di belakangnya.
"Nah, gue tidur di kamar ini, lu di kamar sebelah kan?" kata gue sambil menunjuk pintu kamar tamu di sebelahnya.
Kian memutar gagang pintu kamar tamu. Pintu tidak bergeming. Locked.
"Loh?" Kian memutar gagang pintu kamar-kamar lainnya. Kamar utama, kamar atas, kamar belakang... SEMUA TERKUNCI rapat dari luar.
Cuma ada SATU kamar yang pintunya terbuka lebar, kamar utama di lantai dasar yang berisi satu tempat tidur king size yang sangat empuk.
Gue dan Kian mematung di depan pintu kamar itu.
HP Kian di saku celananya mendadak bergetar. Kian mengeluarakan HP-nya dan membuka pesan masuk dari Tante Maya. Pesan gambar berupa foto kunci-kunci kamar lain yang sedang dipegang oleh Tante Maya, disertai pesan suara singkat.
"Kian, Elora... Kunci kamar yang lain Mama bawa ya! Sengaja biar hemat listrik, jadi kalian pakai kamar utama aja. Kan kasurnya gede! Selamat menikmati akhir pekan, Anak-anakku!"
Klek. Pesan suara berakhir.
Gue menatap Kian dengan mata membelalak sempurna. Kian menatap gue dengan raut muka yang campur aduk antara kaget, mau tertawa, dan... salah tingkah yang sangat luar biasa.
Dua puluh dua tahun bersahabat, dan malam ini... kami dipaksa oleh takdir (dan trik licik Tante Maya) untuk tidur di satu kamar yang sama.
Babak pertama perang gengsi ini resmi ditutup dengan jebakan Batman paling mematikan dari calon mertua gue sendiri.