Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15- sedikit curiga

Indah sedang menunggu di halte depan rumah sakit saat Daffa berhenti tepat di depannya dengan motornya.

"Ikut pulang bareng yuk," ajaknya santai.

Indah mengangkat alis, sedikit curiga. "Bukan biasanya... tadi kan lu sama Mawar?"

Daffa menggeleng cepat. "Gue sama dia gak ada apa-apa, dah."

"Oh gitu?"

"Iya, Indah. Udah cepet naik, udah malam nih."

"Ya iya, iya... bawel banget sih," gumam Indah sambil naik ke belakang motor, tangannya ragu sejenak sebelum mencengkeram bagian belakang kursi.

Motor mulai melaju membelah jalanan malam. Angin berhembus pelan, suasana terasa tenang sampai Daffa tiba-tiba bersuara.

"Indah... tadi yang di rumah sakit itu siapa? Kok akrab banget sama lu?"

Indah tersenyum tipis di belakang punggungnya. "Oh, yang tadi itu Rizki. Teman lama kita, dulu satu perumahan juga."

"Oh... kirain..." gumam Daffa pelan, nadanya tak bisa ia sembunyikan — ada rasa cemburu yang terselip di sana.

"Kok tumben nanya gini?" tanya Indah heran.

"Ya nggak, cuma nanya aja. Soalnya kalian deket banget tadi," jawab Daffa berusaha terdengar biasa saja, padahal hatinya sedikit teriris melihat keakraban mereka tadi.

"Tumben Daffa nanya-nanya hal kayak gini... aneh banget sih," batin Indah semakin bingung.

"Oh ya... lu mau makan dulu nggak?" tawarnya tiba-tiba, ingin mengalihkan pembicaraan.

"Terus terserah... mau makan apa emang?" jawab Indah santai.

"Dasar cewek... mau makan apa juga terserah," keluhnya sambil tersenyum tipis.

"Yeh... padahal lu yang ngajakin makan, gue bilang terserah malah gitu," protes Indah sambil tertawa kecil.

"Ya udah, biar gue pilihin tempatnya deh."

"Oke, Daf."

Motor melaju perlahan menuju arah yang berbeda dari biasanya — bukan ke rumah Indah, melainkan ke sebuah tempat makan kecil yang tenang, seakan Daffa sengaja ingin memperpanjang waktu berdua bersama Indah.

Sesampainya di dalam restoran, Indah dan Daffa berjalan menuju meja yang tersedia. Namun langkah Indah terhenti seketika. Di sudut ruangan, di meja tak jauh dari sana, ia melihat sosok yang begitu ia kenal — Rizki.

Duduk di hadapan Rizki ada seorang wanita berambut pendek sebahu, cukup cantik, dan mereka terlihat begitu dekat. Indah terpaku di tempat, matanya tak bisa berpaling. Bukankah itu Rizki? Tapi kenapa dia makan bersama wanita lain? Apakah itu pacarnya? Atau temannya? Tapi kenapa mereka terlihat begitu akrab...

Daffa menyadari Indah yang terdiam. "Indah? Mau pesan apa? Kok bengong sih?"

Indah tersentak, buru-buru mengalihkan pandangannya dan duduk di kursi. "Eh... nggak, Daff. Kayaknya samain aja deh, apa yang kamu pesan."

"Ya sudah, gue pesen ya," ucap Daffa lalu menoleh ke pelayan yang datang. "Mba, dua es caffe latte dan dua stik barbeque ya."

"Baik, Pak. Segera kami siapkan," jawab pelayan itu lalu pergi.

Indah menunduk menatap meja, berusaha menenangkan jantungnya yang tiba-tiba terasa sesak. Walau ia tahu ia tidak punya hak untuk cemburu, tapi melihat Rizki begitu dekat dengan wanita lain... rasanya seperti ada yang mencengkeram hatinya. Ia tidak tahu bahwa wanita itu adalah Hana — wanita yang selama ini mengaku sebagai penyelamat Rizki, namun sebenarnya penuh dengan kebohongan.

Daffa memperhatikan wajah Indah yang tampak tak tenang sejak tadi.

"Indah? Kok lu bengong gitu lagi? Lagi mikirin sesuatu kah?" tanyanya lembut, menyadari ada yang berubah pada diri gadis itu.

Indah tersentak pelan, buru-buru tersenyum tipis berusaha menutupi kegelisahannya. "Enggak, Daff. Gue kayaknya cuma kecapean aja habis kerja seharian," jawabnya berusaha terdengar tenang, walau hatinya masih terasa sesak melihat pemandangan di meja seberang.

"Oh gitu... kirain banyak pikiran," ucap Daffa pelan, namun matanya tak lepas dari wajah Indah. Ia tahu itu bukan sekadar kelelahan — tatapan Indah tadi tertuju tepat ke arah Rizki dan wanita itu.

Indah segera mengalihkan topik, berusaha mengusir bayangan itu dari kepalanya. "Oh iya... besok kan minggu, kita jadi kan ke pameran?"

"Besok ya? Jadi lah, kok ragu gitu," jawab Daffa sedikit tersenyum.

"Nanti besok gue jemput langsung ke rumah ya."

"Iya, Daff. Awas ya jangan telat lu! Kebiasaan datangnya suka ngaret, sebel gue kalau begitu," ucap Indah sedikit bercanda, berusaha kembali ceria.

Daffa tertawa kecil, hatinya merasa lega melihat Indah sedikit tersenyum. "Gue janji gak telat, kali ini serius!"

Dari sudut meja mereka, Rizki tanpa sadar terus melirik ke arah meja di seberang. Matanya membelalak saat mengenali wajah wanita itu — Indah. Dan di hadapannya, duduk seorang laki-laki yang terlihat begitu dekat dengannya.

"Itu bukan Indah...?! Dia bersama laki-laki itu. Mungkin benar dia pacarnya. Kok mereka terlihat begitu dekat ya..." batin Rizki teriris perih, dadanya tiba-tiba terasa sesak.

Namun lamunannya terputus saat suara Hana terdengar merajuk di depannya.

"Sayang... sayang? Kok kamu diam saja sih? Gak liatin aku," protes Hana manja, melambaikan tangan di depan wajah Rizki.

Rizki tersentak, buru-buru menoleh. "Eh... apa, sayang?"

"Kok kamu malah lihat-lihat yang lain? Aku di sini lho," cemberut Hana, jelas tidak suka diabaikan.

"Enggak kok, sayang... Jangan ngambek dong," jawab Rizki berusaha menenangkan, walau pikirannya masih tertinggal di meja seberang.

Hana memperhatikan Rizki dengan curiga. Dari tadi mata pria itu terus tertuju pada pasangan di meja depan. "Kenapa sih dia liatin terus? Ada apa dengan mereka?" batinnya bertanya-tanya, mulai merasa tidak nyaman.

Indah tanpa sadar terus melirik ke arah meja Rizki. Saat tatapan mereka bertemu, jantungnya berdegup kencang — ketahuan! Wajahnya memerah seketika, buru-buru memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menyembunyikan rasa salahnya.

Daffa yang menyadari perubahan sikap Indah tersenyum lembut. "Dah... gimana? Udah gak kepikiran sama masalah tadi di rumah sakit kan?"

Indah mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri. "Udah enggak kok. Cuma... gue heran aja ya, ada orang yang tega ngelakuin itu ke gue. Padahal gue gak pernah ngapa-ngapain sama dia."

"Udah tenang aja. Semuanya udah beres kok. Lu jangan khawatir," ucap Daffa lembut, menatap Indah dengan penuh perhatian. "Gue pastikan lu bakal baik-baik saja."

"Iya, Daff... makasih banget loh," jawab Indah tulus, merasa sangat beruntung punya sahabat seperti Daffa yang selalu ada untuknya.

Daffa tersenyum dalam hati. "Selama aku ada di sini, gue bakal pastikan Indah selalu aman dan bahagia. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mendahulukan kebahagiaannya." Baginya, melihat Indah tersenyum adalah hal yang paling berharga di dunia.

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!