Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — Jangan Baca Halaman Terakhir

Azam masih berdiri di teras dengan ponsel menempel di telinga, meski sambungan itu sudah mati.

Tut... tut... tut...

Suara itu terus terdengar, tapi yang menggema di kepalanya adalah kalimat terakhir barusan.

"Jangan biarkan Dilla membaca halaman terakhir buku Larasati."

Tangannya gemetar. Kartu nama tebal bertuliskan MAHENDRA HOLDING di tangan kirinya terasa dingin.

Laras yang melihat wajah atasannya yang pucat langsung mendekat. "Pak Azam, siapa?"

Azam tidak langsung menjawab. Ia menatap kartu itu, lalu membaliknya. Tulisan tangan yang masih baru: Aku masih hidup. Jangan percaya Pranoto.

"Mahendra," bisik Azam pelan. "Dia masih hidup."

Di dalam kamar, Dilla masih duduk di lantai, memeluk buku hitam milik ibunya yang halamannya terakhir disobek. Fadil duduk di sampingnya, bahunya yang memar sudah dikompres seadanya, tapi ia tetap memeluk istrinya dengan satu tangan.

Jatmiko masuk dengan tergesa, diikuti Pranoto.

"Dilla," panggil Jatmiko pelan.

Dilla mengangkat wajahnya yang sembab. "Ayah..."

Jatmiko berjongkok di depannya. Ia melihat kertas tua yang ada di pangkuan Dilla — kertas dari dalam dompetnya tadi. Kalimat yang terpotong: Jika suatu hari Dilla mengetahui siapa ayah kandungnya, jangan biarkan dia bertemu Rangga sebelum mengetahui kebenaran terakhir...

"Jangan baca dulu halaman terakhir itu, Nak," kata Jatmiko dengan suara yang hampir memohon.

Dilla mengerutkan kening. "Kenapa? Bukankah Ayah sendiri yang menyimpannya 28 tahun? Bukankah ini tulisan Ibu? Ibu ingin aku tahu?"

"Bukan karena Ayah melarang kamu tahu siapa dirimu," Jatmiko menatap putrinya dengan mata merah. "Tapi karena ibumu sendiri yang menulis... jangan bertemu Rangga sebelum tahu kebenaran terakhir. Ayah takut... kebenaran itu akan lebih menghancurkan kamu daripada tidak tahu sama sekali."

Pranoto yang sejak tadi diam di ambang pintu, akhirnya bersuara. Suaranya berat.

"Jatmiko benar."

Semua orang menoleh ke arahnya.

Pranoto berjalan masuk dan duduk di kursi kayu yang berderit. "Larasati menulis halaman terakhir itu di malam yang sama ia menulis surat untuk Mahendra. Ia tahu, jika Mahendra kembali, Mahendra akan mencari anaknya. Dan ia tahu, jika Wiratama tahu anak itu masih hidup, mereka akan membunuh anak itu juga."

Dilla memeluk buku itu semakin erat. "Jadi Ibu merobek halaman terakhirnya sendiri? Untuk melindungi aku?"

"Ya," angguk Pranoto. "Setengah ia berikan pada Bu Ratih untuk disimpan. Setengah lagi ia selipkan di dompet Jatmiko tanpa Jatmiko tahu isinya. Agar tidak ada satu orang pun yang memegang kebenaran itu secara utuh."

Fadil yang sejak tadi diam, mengusap punggung Dilla pelan. "Jadi sekarang setengah kebenaran ada di tangan kita, dan setengahnya lagi... ada di tangan orang yang menculik Arif?"

Kata Arif membuat Dilla tersentak. Ia baru ingat, anaknya masih belum kembali. Sejak tadi ia terlalu tenggelam dalam luka tentang siapa ayahnya, sampai hampir lupa bahwa darah dagingnya sendiri sedang berada di tangan orang berbahaya.

"Arif..." Dilla langsung berdiri dengan panik. "Arif di mana? Azam bilang kamera rumah sakit mati 11 menit. Siapa yang bawa anakku?"

Azam yang baru masuk dari teras, mendengar nama Arif. Wajahnya menegang.

"Laras sudah lacak nomor mobil penyerang tadi," kata Azam cepat, mencoba mengalihkan fokus Dilla dari buku itu. "Plat palsu, tapi mobilnya terdeteksi masuk ke kawasan industri lama di Karangrejo. Tempat yang sama dengan rumah kosong Suryanto."

"Jadi Suryanto yang bawa Arif?" Fadil berdiri, menahan sakit di bahunya.

Pranoto menggeleng pelan. "Bukan Suryanto. Suryanto hanya pesuruh. Dia tidak akan berani menculik anak kecil tanpa perintah. Orang yang memerintah Suryanto... adalah orang yang sama yang memerintah ayahmu dulu, Jatmiko."

Jatmiko mengepalkan tangannya. "Ayahku."

"Dan sekarang," lanjut Pranoto sambil menatap kartu nama di tangan Azam, "orang itu mungkin sudah bukan ayahmu lagi. Karena Mahendra Holding seharusnya sudah bangkrut 28 tahun lalu. Kalau kartunya masih beredar... berarti ada yang membangunnya kembali diam-diam. Dan orang itu... baru saja menelepon Azam."

Dilla menatap Azam. "Mahendra meneleponmu, Zam? Ayah kandungku meneleponmu? Apa katanya?"

Azam terdiam. Ia menatap Dilla yang matanya penuh harap, penuh takut, penuh bingung. Ia ingat pesan terakhir di telepon: Jangan biarkan Dilla membaca halaman terakhir.

Jika ia ceritakan sekarang, Dilla pasti akan memaksa membaca halaman itu malam ini juga.

"Tidak ada," Azam akhirnya berbohong untuk pertama kalinya pada Dilla. Suaranya pelan. "Sambungannya terputus. Hanya terdengar namaku."

Dilla menatap Azam lama, seolah tahu Azam menyembunyikan sesuatu. Tapi ia terlalu lelah untuk mendesak.

Ia kembali duduk di lantai, membuka buku hitam itu lagi. Halaman yang tersisa, halaman yang belum disobek, ada satu paragraf terakhir yang masih utuh, yang tadi belum sempat ia baca karena kedatangan Suryanto.

Tangannya gemetar saat ia membaca dengan suara lirih:

Mahendra, jika kamu membaca ini, maafkan aku. Aku tidak pernah membencimu. Aku menikah dengan Jatmiko bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi karena ayahnya, Ayahanda Wiratama, bilang kamu sudah meninggal dalam kecelakaan di Jakarta. Aku baru tahu kamu masih hidup setelah Dilla lahir. Tapi saat itu Dilla sudah...

Tulisan itu terpotong oleh sobekan kasar.

Dilla menutup buku itu dengan keras dan memeluknya. Air matanya kembali tumpah, tapi kali ini bukan karena marah. Karena kasihan pada ibunya.

"Ibu berbohong bukan karena Ibu jahat..." bisiknya di antara isak. "Ibu berbohong karena Ibu ditipu semua orang... Kakekku bilang Mahendra meninggal... Kakekku bilang Jatmiko akan jaga kami..."

Jatmiko berjongkok dan memeluk putrinya dari samping. Untuk pertama kalinya malam itu, Dilla tidak menolak pelukan Jatmiko.

"Ayah tahu rasanya dibohongi oleh ayah sendiri, Nak. Ayah tahu rasanya," bisik Jatmiko dengan suara hancur.

Fadil menatap pemandangan itu — istri dan ayah yang membesarkannya berpelukan dalam duka yang sama — lalu menatap Azam di pintu. Azam hanya menunduk, tidak berani masuk. Di matanya ada cemburu, ada rasa bersalah, dan ada ketakutan yang ia sembunyikan dari Dilla.

Di luar rumah, jauh di seberang sawah yang gelap, sebuah mobil sedan hitam terparkir dengan lampu mati.

Di dalamnya, seorang pria tua berusia akhir 60-an duduk sendirian. Di pangkuannya ada dua foto: foto Larasati yang masih muda, dan foto Dilla yang sedang menggendong Arif di pasar — foto yang diambil diam-diam oleh anak buahnya.

Pria itu adalah Mahendra.

Ia menatap cahaya temaram dari rumah aman itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya yang keriput meremas foto Dilla.

Ia mengambil ponselnya dan menatap satu nomor yang belum ia berani telepon lagi.

"Jangan baca halaman terakhir itu dulu ya, Nak..." bisiknya pelan ke arah rumah itu, seolah Dilla bisa mendengarnya. "Ayah takut... kalau kamu baca sekarang, kamu akan membenci Ayah selamanya. Tunggu Ayah datang. Ayah pulang."

Ia mematikan lampu mobil dan tetap duduk di sana, menjaga rumah itu dari kejauhan, menjaga anak yang selama 28 tahun ia kira sudah meninggal.

Di dalam rumah, Dilla yang masih memeluk buku ibunya tiba-tiba merasa merinding. Ia menoleh ke arah jendela yang gelap.

Entah kenapa, malam itu ia merasa... diperhatikan. Bukan oleh musuh. Tapi oleh seseorang yang merindukannya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!