Empat tahun lamanya Arunika mengalah dan hidup sebagai istri pajangan, demi menghormati amanah almarhum ayahnya. Namun, segalanya hancur saat ia mendengar rencana kejam Saka. Pria itu berniat menikah lagi dengan kekasihnya, namun menolak menceraikan Arunika hanya karena butuh statusnya demi warisan keluarga Daniswara. Saka mengira Arunika wanita lemah yang akan pasrah dipoligami.
Kekecewaan mendalam itu justru membangkitkan sisi cerdas yang selama ini Arunika sembunyikan. Tanpa labrakan histeris, Arunika menyusun skenario skakmat dalam senyap. Tepat di hari pernikahan megah Saka, ia melangkah pergi membawa dokumen cerai dan menayangkan video perselingkuhan suaminya di gedung pesta. Sebuah langkah sunyi yang tidak hanya menyelamatkan harga dirinya, tetapi juga menjadi awal runtuhnya seluruh takhta palsu yang Saka banggakan.
Ingin tahu kisah selengkapnya? Yuk ikuti cerita Langkah Sunyi Arunika hanya di NovelToon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pembacaan Wasiat
Suasana di dalam ruang perpustakaan pribadi kediaman utama Daniswara siang itu terasa begitu sunyi. Aroma kayu tua dan lembaran buku kuno berpadu dengan dinginnya udara dari pendingin ruangan yang menembus kulit. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar berbahan jati menjadi saksi bisu berkumpulnya inti keluarga Daniswara.
Tuan Agung Daniswara, sang Kakek, duduk di kursi besarnya dengan raut wajah berwibawa namun menyiratkan kelelahan fisik. Di sisi kanannya, saka duduk tegak dengan setelan jas hitamnya, mencoba mempertahankan keangkuhannya meskipun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. Di sebelah Saka, Lina duduk dengan dagu terangkat, mengenakan gaun sutra terbaiknya. Dan di sudut kursi belakang, Valerie ikut duduk sambil memeluk tas mahalnya dengan erat. Valerie memaksa ikut karena ingin memastikan statusnya sebagai istri Saka aman di bawah naungan harta Daniswara, apalagi kedua orangtuanya sudah tidak peduli dengannya.
Bagi Saka, Lina, dan Valerie, pertemuan siang ini di rumah utama adalah formalitas yang menyenangkan. Mereka meyakini bahwa ketok palu perceraian dengan Arunika satu minggu lalu tidak mengubah fakta bahwa Saka adalah pewaris tunggal. Mereka mengira, setelah cerai, Arunika justru keluar dengan tangan kosong sebagai pihak yang kalah dan kehilangan hak atas nama besar Daniswara.
Di sisi kiri meja, Pak Baskoro duduk dengan tenang. Di samping pengacara senior kepercayaan almarhum Raditya Daniswara, duduk Pak Kevin, pengacara Arunika. Kehadiran perwakilan hukum mantan istri Saka itu langsung memicu ketegangan di wajah Lina.
Pak Baskoro membuka koper kulit hitam bersegel khusus, mengeluarkan selembar dokumen resmi, lalu memecah keheningan ruangan dengan suara bariton yang berat. "Karena status pernikahan Tuan Saka dan Ibu Arunika telah resmi diputus secara mutlak oleh pengadilan satu minggu lalu, maka sesuai perintah tertulis dari almarhum Tuan Raditya Daniswara, hari ini wasiat lanjutan mengenai pembagian seluruh aset pribadi dan saham resmi dibuka."
Pak Baskoro memperbaiki letak kacamatanya, lalu mulai membaca poin pembagian aset tanpa bertele-tele. "Mengenai pembagian seluruh aset pribadi dan saham kendali korporasi: Saya menjatuhkan keputusan bahwa bagian sebesar tiga persen dari total aset likuid perusahaan diberikan kepada Saka. Dan bagian sebesar lima persen diberikan kepada istri saya, Lina. Mengenai rumah utama Daniswara, saya tidak mengubah apa pun, karena properti ini sepenuhnya mutlak milik ayah saya, Tuan Agung Daniswara. Sebagai ayah kandung yang saya hormati, Tuan Agung juga menerima porsi saham korporasi sebesar tujuh persen dari hak pribadi saya."
Pak Baskoro mengambil napas sejenak, lalu menatap tajam ke arah Lina dan Saka sebelum melanjutkan.
"Sementara itu, seluruh sisa aset sebesar delapan puluh lima persen, termasuk saham kendali mayoritas Daniswara Group dan rumah mewah di perumahan elite Jakarta Pusat, yang ditempati Saka dan Arunika, pemiliknya atas nama ARUNIKA WIRANATA."
Brak!
Lina langsung berdiri dari kursinya dengan kasar, memukul meja jati hingga beberapa cangkir di atasnya berdenting. Wajahnya memerah karena amarah yang meledak seketika. "Pak Baskoro! Apa-apaan ini? Dokumen ini pasti palsu! Bagaimana bisa saya dan Saka hanya mendapatkan bagian sekecil itu, sementara rumah mewah di kawasan elite Jakarta Pusat milik Saka malah diberikan kepada perempuan miskin anak asisten itu?! Dengar ya Pak Baskoro! Dari awal, Saka adalah pemilik rumah itu, bukan Arunika!"
Pak Baskoro menarik napas panjang agar tidak terpancing emosi. "Saya belum selesai membaca isi wasiat ini Nyonya Lina."
"Lina, duduk! Hormati Pak Baskoro sebagai orang yang dipercaya Raditya untuk mengurus semua ini. Putraku pasti punya alasan mengapa dia membuat wasiat ini." Kakek Agung yang sejak tadi hanya menyimak dalam diamnya, terpaksa turut bicara agar Lina tidak membuat masalah baru lagi.
Pak Baskoro berterima kasih pada kakek Agung, setelah pria sepuh itu mempersilakan dia untuk kembali membaca wasiat Raditya.
"Untuk istri saya, Lina. Saya tahu kamu tidak suka dengan keputusan saya menikahkan Saka dengan Arunika. Karena itu, saya menggunakan uang pribadi saya untuk membeli rumah mewah kawasan elite tersebut, sebagai hadiah pernikahan Saka dan Arunika, agar mereka tinggal terpisah dan Arunika tidak berada di bawah tekanan kamu."
Wajah Lina memerah menahan kesal. Dia tidak suka dengan pemikiran Raditya yang mendukung Saka dan Arunika tidak tinggal satu atap dengannya.
"Properti tersebut sejak awal terdaftar secara hukum atas nama Arunika Wiranata. Dan sertifikat asli rumah tersebut telah saya titipkan kepada Pak Baskoro. Maka, per hari ini, rumah mewah di perumahan elite Jakarta Pusat jatuh sepenuhnya ke tangan Arunika. Bagi yang menempati rumah tersebut selain Arunika, diberikan waktu paling lambat dua kali dua puluh empat jam untuk mengosongkan tempat tersebut."
Valerie yang duduk di belakang langsung terkesiap, wajahnya mendadak pucat pasi. Mengosongkan rumah mewah itu? Tempat yang baru dia tempati setelah menikah dengan Saka, ternyata harus diserahkan kepada wanita yang paling dia benci. Dalam dua bulan ini, Valerie berpikir dia sudah berhasil membuat Arunika keluar dari rumah itu. Sekarang, impiannya untuk menikmati kemewahan rumah itu sebagai nyonya baru hancur lebur dalam hitungan detik.
Saka ikut berdiri dengan rahang mengeras dan napas memburu. Selama ini dia mengira rumah itu atas namanya, karena dibelikan oleh ayahnya. "Pak Baskoro, jelaskan alasannya! Di dalam wasiat pertama, Papa menyatakan aku adalah pewaris utama selama aku menikahi Arunika! Kenapa Papa justru memberikan rumah dan saham mayoritas pada mantan istriku?"
Pak Baskoro menatap Lina dan Saka dengan pandangan yang sangat dingin. Beliau menekan tombol laptopnya, lalu mengaktifkan layar proyektor yang ada di dinding perpustakaan. Layar itu menampilkan selembar surat nikah usang dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah, bertanggal puluhan tahun lalu. Di bawahnya terlampir akta kelahiran seorang anak laki-laki.
"Pembagian ini dilakukan Tuan Raditya sebagai permintaan maafnya kepada Bagus Wiranata dan Arunika," ujar Pak Baskoro tegas.
"Sebelum melangsungkan pernikahan di Jakarta, Tuan Besar Agung Daniswara pernah melangsungkan pernikahan yang sah di masa mudanya di Jawa Tengah. Dari pernikahan itu lahir seorang anak laki-laki bernama Bagus Wiranata. Dan Arunika... adalah putri kandung dari Bagus Wiranata."
Brak!
Kakek Agung berdiri dari kursi kebesarannya dengan tubuh yang gemetar hebat. Pria tua itu menatap layar proyektor dengan mata membelalak dan air mata yang langsung luruh membasahi pipinya yang berkerut. Rasa syok yang luar biasa langsung menghantam jantungnya. Dia baru mengetahui kenyataan pahit ini siang ini. Pria yang selama ini dia anggap asisten biasa , ternyata adalah putra kandung pertamanya. Seorang anak yang sengaja menyembunyikan identitasnya dengan menggunakan nama belakang Wiranata, tidak menuntut untuk diakui.
Lina yang sudah dibutakan oleh keserakahan, menolak untuk kalah. Dia berteriak histeris, mengabaikan air mata Kakek Agung yang sedang terpukul dengan sebuah kenyataan yang terlambat dia ketahui. "Lalu kenapa kalau Arunika itu ternyata cucu Papi?! Saka tetap jauh lebih berhak atas seluruh takhta Daniswara Group dan aset keluarga ini! Di dalam hukum apa pun, Saka adalah CUCU LAKI-LAKI DARI ANAK LAKI-LAKI KANDUNG Papi! Kedudukan Saka secara silsilah jauh lebih tinggi daripada cucu perempuan seperti Arunika!"
Saka mengepalkan tangannya, membenarkan argumen ibunya dengan tatapan menantang ke arah Pak Baskoro. Di sudut belakang, Valerie mulai menarik napas lega, berharap celah hukum silsilah yang baru saja ibu mertuanya sampaikan, bisa menyelamatkan masa depan mereka dari ancaman mengosongkan rumah mewah yang ada di Jakarta Pusat. Saka dan Valerie merasa berada di atas angin, yakin bahwa status Saka sebagai cucu laki-laki dari anak laki-laki adalah perisai hukum yang tidak tertandingi.
Mereka tidak menyadari, bahwa di halaman berikutnya dari berkas bersampul hitam yang dipegang Pak Baskoro, terdapat sebuah bom atom yang akan menghancurkan mereka.
yang pastinya mau balikan agar bisa jadi orang kaya lagi 🤣🤣🤣🤣
d kira gmpng gt buat ktmu sm nika.....🙄🙄🙄
stlh mnyesal krna udh mnykti arunika,sbntr lg bkln d ksih kjutan yg lain dr istri trcnta.....🙄🙄🙄
senengnya kalo arunika tetap di kelilingi org2 baik ,,
gx perlu km ketemu lgi dg saka ,, biar laa dy hdup yg telah di pilih ny ,,
slain kluarga,ada jg mas mahen yg diam2 prhtian....mnimal yg onoh ga bkln brani ngusik lg....
Lanjut thor👍👍