Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Umpan pertama
Suasana pagi itu terasa cukup menyengat karena musim kemarau yang panjang. Di salah satu lantai atas gedung pencakar langit PT Arunika Jaya, Fajar berdiri di balik meja kerjanya. Tangan kanannya menggenggam gagang telepon vintage berdesain klasik yang tersambung langsung ke jalur internal. Ia menekan beberapa tombol, memanggil Kepala Divisi Keuangan dan Kepala Divisi R&D untuk segera menghadap ke ruang rapat internal.
Tak berapa lama kemudian, para pejabat divisi tersebut melangkah masuk ke dalam ruang rapat berpendingin udara itu dengan memasang raut wajah meremehkan.
Fajar yang sudah berdiri di ujung meja konferensi langsung memotong suasana kaku. "Oke... karena kalian semua sudah berkumpul di sini, saya akan langsung mulai rapatnya."
Kepala Divisi R&D terkekeh sinis sambil melipat tangan di dada. "Ey, ey... siapa sih anak muda ini? Apa dia ini penggantinya? Kelihatan nggak becus banget."
Fajar menatapnya datar, tidak tersulut sedikit pun. "Kenapa, Pak? Mau saya pecat sekarang juga?"
"Tsk... mainnya pecat mulu," desis Manajer Keuangan berbisik pelan pada rekannya.
"Sudahlah, kalian berdua duduk saja ke tempat masing-masing!" tegur Fajar dengan nada dingin dan penuh penekanan.
Setelah mereka duduk dengan enggan, Fajar menopang kedua tangannya di atas meja. "Jadi, hari ini kita akan membahas alokasi keuangan. Kenapa dana raksasa perusahaan dipakai habis untuk menyokong proyek bodong ini, hah?"
Manajer Keuangan justru menyandarkan punggungnya santai sambil tersenyum meledak-ledak. "Hehe... Bapak nggak akan bisa atur atau tindak saya, karena saya hanya mematuhi perintah atasan tertinggi. Jadi Bapak nggak bakal bisa melawan, hahaha!"
Fajar mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke manik mata orang itu. "APA?! Bapak kira saya tidak bisa bikin apa-apa? Proyek Chip ini cuma kedok, Pak!"
"Adduh, aduh, Pak Fajar... Bapak ini buzzer atau gimana ya?" potong Kepala Divisi R&D sambil tertawa meremehkan. "Jelas-jelas ini penemuan revolusioner! Tidak ada yang bisa menciptakan chip baru sekeren ini tanpa arahan dari CEO kita!"
"Ahh... sialan," umpat Fajar pelan. Ia menghempaskan selembar berkas cetak biru ke meja. "Nih, lihat spesifikasi chip—"
Belum sempat Fajar merampungkan kalimatnya, Manajer Keuangan mengibaskan tangan dengan kasar hingga lembaran berkas itu terlempar dan berserakan di atas lantai marmer yang dingin.
"Apalah Pak Fajar ini, nggak usah sok peduli sama spesifikasi teknisnya! Yang penting... chip ini bisa bikin kita kaya raya. Dengan proyek ini, gaji kita semua juga bakal naik pesat! Gimana sih pola pikir Bapak ini? Hah?" cecar Manajer Keuangan penuh nada merendahkan.
Bukannya marah, Fajar justru menghentikan gerakan tangannya. Sebuah senyum tipis yang berbahaya terukir di sudut bibirnya. Umpan yang ia lempar ternyata ditangkap dengan sangat mudah oleh tikus-tikus kantor ini.
"Ouhhhh... begitu ya?" gumam Fajar santai, melangkah keluar dari balik mejanya. "Kalau begitu... bagaimana kalau kita taruhan saja, Pak?"
Manajer Keuangan mengangkat sebelah alisnya. "Ya... boleh. Mau taruhan apa, hah?"
Fajar berhenti tepat di depan kursi Manajer Keuangan, menunduk menatapnya tajam. "Jika ada kesalahan di spesifikasi chip ini—meski hanya sekecil apa pun—Bapak dan seluruh kroni Bapak harus angkat kaki dan pergi dari perusahaan ini detik itu juga."
Kepala Divisi R&D dan Manajer Keuangan saling pandang lalu tertawa keras. "Boleh! Siapa takut? Mana buktinya?!"
Fajar berjongkok tenang, memungut lembaran kertas spesifikasi yang berserakan di lantai marmer. Ia berdiri, melangkah mendekati papan tulis putih di depan ruangan, lalu menempelkan kertas-kertas analisis tersebut menggunakan magnet.
"Lihat... semuanya..." ucap Fajar dengan suara tenang namun sarat ancaman, menunjuk barisan kode dan komponen cacat di papan tulis.
"Lihat ini baik-baik," Fajar mengetukkan spidolnya keras-keras ke permukaan papan tulis, tepat di samping diagram skema sirkuit yang tercetak lebar. "Komponen mikrokontroler yang diklaim sebagai 'teknologi mutakhir buatan sendiri' ini cuma rancangan usang berbasis arsitektur 8-bit biasa yang harganya tidak sampai ratusan ribu rupiah. Tapi di laporan anggaran kalian, satu unitnya ditulis seharga lima puluh juta rupiah!"
Muka Kepala Divisi R&D yang tadinya merah padam karena percaya diri mendadak berubah pucat pasi. Ia memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat barisan kode seri komponen yang ditunjuk Fajar. "I-itu... itu cuma spesifikasi awal! Nanti pas produksi massal bakal di-upgrade!"
"Di-upgrade?" Fajar menyunggingkan senyum sinis. Ia mengetuk baris source code di lembaran berikutnya. "Bahkan bahasa pemrograman logika sirkuitnya ini hasil copy-paste kasar dari forum pustaka terbuka internet! Ada cacat alokasi memori fatal di baris 104. Kalau chip ini dipasang di sistem utama perusahaan, dalam sepuluh menit chip ini bakal overheat dan meledak memutus aliran listrik!"
Manajer Keuangan mulai gemetar, dahinya dilapisi keringat dingin yang menetes deras. Ia berniat menyela, tapi Fajar melangkah mendekatinya dengan aura intimidasi yang begitu menekan.
"Kalian tidak pernah berniat memproduksi chip revolusioner," bisik Fajar dengan nada dingin menembus tulang. "Kalian sengaja beli komponen sampah yang dimodifikasi asal-asalan, lalu menyedot sisa dana ratusan miliar ke rekening perusahaan cangkang di luar negeri dengan dalih 'biaya riset rahasia'. Benar, kan?"
"B-bohong! Jangan asal tuduh kamu! Mana buktinya kalau dana itu dialirkan ke rekening bodong?!" serak Manajer Keuangan mencoba menggertak meski suaranya sudah bergetar hebat.
Fajar merogoh saku jasnya, meraba flashdisk hitam berisi rekaman transaksi dan bukti pengalihan aset yang tersimpan rapi. Namun, ia tidak mengeluarkannya sekarang. Melengkapi seluruh jebakan hari ini secara langsung akan terlalu cepat—ia butuh para tikus ini berlari panik ke majikannya.
Fajar menatap kedua pejabat itu dengan tatapan mematikan. "Buktinya? Taruhan kita sudah sah, kan? Laporan teknis palsu ini saja sudah cukup buat melempar kalian keluar dari PT Arunika Jaya."
Ia menepuk bahu Manajer Keuangan dua kali, pelan tapi penuh ancaman. "Saya kasih kalian waktu sampai besok pagi. Lengkapi laporan audit sebenarnya, atau dokumen kejahatan keuangan ini akan langsung saya serahkan ke jajaran komisaris dan pihak berwajib."
Kepala Divisi R&D dan Manajer Keuangan tidak bisa berkutik lagi. Wajah meremehkan yang mereka pajang di awal rapat kini runtuh total, digantikan ketakutan luar biasa. Tanpa sanggup mengucap sepatah kata pun, mereka buru-buru mengemas kertas-kertas mereka dan hampir berlari keluar dari ruang rapat.
Fajar berdiri diam memperhatikan pintu yang tertutup rapat, lalu menyandarkan tubuhnya ke meja rapat sambil mengembuskan napas panjang. Pancingannya berhasil. Dalam beberapa jam ke depan, kedua pejabat panik itu dipastikan akan menghubungi sang bos rahasia—Aditya alias Pak Ardi—untuk melaporkan bahwa rahasia mereka telah tercium.
Fajar tersenyum tipis. Langkah catur pertamanya telah berhasil mengacak-acak pertahanan musuh.
[Bersambung]