Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Kelopak mata Ganjar bergerak perlahan. Suara monitor yang sejak tadi berdetak teratur terdengar semakin jelas di telinganya. Bau obat memenuhi hidungnya. Tubuhnya terasa berat, seolah seluruh tenaga yang dimilikinya tertinggal di tempat kejadian kecelakaan.

Ia mencoba menggerakkan tangan. Jari-jarinya hanya bergerak sedikit.

"Pak Ganjar?"

Suara seorang perawat membuat alisnya berkerut. Ganjar membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih kabur. Langit-langit putih menjadi hal pertama yang terlihat.

Perawat segera mendekat. "Pak, bisa dengar suara saya?"

Ganjar tidak langsung menjawab. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Jalan raya, mobil dan benturan keras. Setelah itu semuanya gelap.

"Anda berada di rumah sakit," ujar perawat. "Bapak mengalami kecelakaan. Jangan banyak bergerak dulu."

Ganjar memejamkan mata sebentar. Kepalanya terasa berdenyut.

"Ke...luarga..." Suara yang keluar hampir tidak terdengar.

Perawat mendekatkan tubuhnya. "Keluarga Bapak ada di luar."

Ganjar membuka mata lagi. "Ambar..."

"Ibu Ambar ada di rumah sakit."

Ganjar mengembuskan napas pelan. Kemudian, setelah beberapa detik, bibirnya kembali bergerak.

"Alika..."

Perawat tersenyum kecil. "Putri Bapak juga ada."

Ganjar terdiam. Entah kenapa setelah mendengar nama itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Alika. Putri yang selama ini selalu berada di dekatnya. Anak yang ia pikir akan meneruskan nama keluarga Wijaya. Namun sebelum perawat meninggalkan ruangan, Ganjar tiba-tiba teringat satu nama lain.

"Amira..." Suara itu sangat pelan.

Perawat tidak langsung mendengarnya. Ganjar mencoba lagi.

"Amira... datang?"

Perawat menatapnya. "Amira Wijaya?"

Ganjar hanya mengangguk kecil. "Iya."

Perawat melihat catatan di tangannya. "Beliau juga masih ada di sini."

Mata Ganjar terbuka sedikit lebih lebar. "Dia..."

Ganjar berhenti karena napasnya terasa berat.

Perawat segera mengingatkan, "Jangan memaksakan diri berbicara."

Tetapi Ganjar tetap berusaha. "Dia... baik?"

Perawat mengangguk. "Baik. Hanya saja kondisinya sedikit lemas."

Ganjar mengernyit. "Kenapa?"

Perawat ragu sejenak. "Beliau membantu proses transfusi darah untuk Bapak."

Ganjar terdiam, dalam hati berkata, kenapa Amira. Anak yang selama ini selalu ia jaga jaraknya. Anak yang bahkan belum sempat ia perlakukan sebagaimana seorang ayah seharusnya memperlakukan putrinya.

Ternyata datang ketika dirinya berada dalam keadaan paling tidak berdaya. Dan bahkan memberikan darahnya. Ganjar menatap langit-langit, sejak kecelakaan itu, ada sesuatu yang terasa menusuk jauh lebih dalam daripada rasa sakit di kepalanya.

Rasa bersalah.

Namun perasaan itu belum sempat berkembang karena pintu ruang perawatan terbuka.

Ambar masuk. Begitu melihat Ganjar sudah membuka mata, langkahnya terhenti.

"Ganjar..."

Ganjar mengalihkan pandangan. Ambar segera mendekat.

"Kamu sudah sadar."

Ganjar mengangguk kecil. Ambar menggenggam tangannya "Syukurlah."

Matanya langsung berkaca-kaca. "Aku kira..."

Ia tidak sanggup melanjutkan. Ganjar menatap istrinya cukup lama. Kemudian pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya justru membuat Ambar menegang.

"Amira... di mana?"

Ambar membeku. Ia tidak menyangka Ganjar akan langsung menanyakan perempuan itu.

"Dia..." Ambar berusaha tersenyum. "Dia ada di rumah sakit."

Ganjar menghela napas lega. "Dia yang donor darah?"

Ambar mengangguk. "Iya."

Ganjar memejamkan mata. "Kenapa dia melakukan itu?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Ambar merasa sesak. Karena ia tahu jawabannya.

Karena Amira tetap menganggap Ganjar sebagai ayahnya meskipun pria itu selama bertahun-tahun membuatnya merasa tidak diinginkan.

"Karena dia anakmu," jawab Ambar pelan.

Ganjar membuka mata. Kalimat itu membuat keduanya terdiam. Ambar segera mengalihkan pembicaraan.

"Kamu jangan terlalu banyak bicara. Dokter bilang kondisimu belum benar-benar stabil."

Ganjar tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju kepada istrinya. "Alika?"

"Dia juga ada."

"Dia baik?"

"Iya."

Ganjar mengangguk. Setelah itu matanya kembali terpejam. Ambar berdiri di samping ranjang dengan tangan yang masih menggenggam ujung selimut. Ada satu hal yang baru saja ia sadari.

Ganjar sudah sadar. Tetapi pria itu belum mengetahui apa pun. Belum tahu hasil DNA.

Belum tahu bahwa Alika bukan anak biologisnya dan juga tidak tahu bahwa selama ini Amira yang ia anggap sebagai kesalahan justru satu-satunya anak yang benar-benar memiliki darahnya. Dan Ambar belum siap melihat apa yang akan terjadi ketika semuanya terbuka.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara di taman rumah sakit Ambar sudah menemui putrinya itu. Alika masih berdiri di hadapan Ambar.

Pertanyaan tentang siapa ayah kandungnya sebenarnya masih menggantung di antara mereka. Namun semakin lama memikirkan hal itu, semakin Alika menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

Jika semua orang mengetahui hasil pemeriksaan tadi, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Ia bukan lagi Alika Wijaya. Bukan putri Ganjar Wijaya. Bukan pewaris keluarga yang selama ini dikenal orang. Dan yang paling mengerikan, kabar itu bisa sampai kepada keluarga Ricki.

Alika menatap ibunya. "Mami."

Ambar mengangkat wajah. "Aku tidak mau tahu siapa ayah kandungku."

Ambar terdiam. "Tadi Mami bilang aku tetap anak Mami." Alika menarik napas panjang. "Aku percaya itu."

"Alika..."

"Tapi aku tidak mau orang lain tahu tentang hasil pemeriksaan tadi."

Ambar menatap putrinya cukup lama, sejak hasil DNA keluar, wajah Alika tidak lagi hanya menunjukkan kesedihan. Ada sesuatu yang berbeda di sana.

Ketakutan. Namun di balik ketakutan itu terdapat perhitungan yang mulai tersusun.

"Maksudmu?"

Alika mendekat. "Jangan sampai siapa pun tahu bahwa aku bukan anak Papi."

Ambar membeku."Kau sadar apa yang kau katakan?"

"Aku sadar."

Alika menatap ibunya dengan mata yang masih sembap. "Kalau keluarga besar tahu, semuanya akan berubah."

Ia berhenti sejenak. "Nama keluarga kita akan dipertanyakan. Kedudukan Mami akan dipertanyakan. Dan aku..."

Alika menundukkan kepala. "Aku akan menjadi bahan pembicaraan semua orang."

Ambar menggenggam kedua tangannya. "Bagaimana dengan Ricki?"

Pertanyaan itu membuat Alika terdiam. Nama tersebut seperti mengingatkannya pada kehidupan yang sebentar lagi akan ia jalani.

Ricki. Lelaki yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Pernikahan mereka sudah semakin dekat. Jika keluarga Ricki mengetahui bahwa dirinya bukan putri kandung Ganjar Wijaya, apakah semuanya akan tetap berjalan seperti rencana?

Alika menggeleng pelan. "Aku tidak mau dia tahu."

"Alika..."

"Aku tidak peduli siapa ayah kandungku. "Suara Alika semakin tegas. "Yang penting sekarang, aku tetap Alika Wijaya."

Ambar menatap putrinya. "Kau ingin menyembunyikan hasil DNA?"

"Iya."

"Tapi bagaimana caranya?"

Alika terdiam sejenak. Kemudian pandangannya beralih ke pintu ruang perawatan.

"Papi belum tahu."

Ambar mengangguk perlahan.

"Dan dokter mengatakan hasil pemeriksaan itu hanya diketahui keluarga."

"Kita bisa meminta dokter menjaga kerahasiaannya."

Ambar mengerutkan kening. "Dokter tidak mungkin mau berbohong."

"Aku tidak meminta dokter berbohong." Alika menatap ibunya. "Kita hanya perlu mengatakan bahwa pemeriksaan itu belum bisa dijadikan kesimpulan."

Ambar mulai memahami arah pembicaraan putrinya. "Kalau keluarga bertanya?"

"Katakan hasilnya belum final."

"Dan kalau mereka meminta melihat hasilnya?"

Alika diam beberapa saat. "Kita bilang rumah sakit masih melakukan pemeriksaan lanjutan."

Ambar menatap putrinya dengan perasaan campur aduk. Ada bagian dalam dirinya yang merasa bersalah. Tetapi ada pula rasa lega.

Setidaknya Alika tidak akan kehilangan semuanya hari ini.

"Bagaimana dengan Amira?" Pertanyaan itu membuat wajah Alika berubah.

Amira. Nama yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari luka keluarga mereka.

Alika menggigit bibir. "Amira sudah tahu terlalu banyak."

"Dia tidak tahu tentang hasilmu secara lengkap."

"Tapi dia tahu ada pemeriksaan."

Ambar mengangguk. "Kita harus membuatnya tidak curiga."

Alika terdiam. Kemudian sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

"Bukan sulit membuat Amira percaya."

Ambar menatap putrinya. "Jangan lakukan sesuatu yang bisa menyakitinya."

"Aku tidak ingin menyakitinya."

Alika menatap ibunya. "Aku hanya ingin mempertahankan hidupku."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun Ambar tahu, sejak hari itu Alika mulai berubah.

Bukan lagi gadis yang hanya menangis setelah mengetahui dirinya bukan anak Ganjar. Kini ia mulai memikirkan cara untuk mempertahankan nama Wijaya yang selama ini melekat pada dirinya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa meter dari mereka, Amira berdiri bersama Kaizar. Amira baru saja keluar dari ruang pemeriksaan setelah tubuhnya dinyatakan cukup stabil untuk pulang sementara.

Namun ia tidak langsung pergi. Tatapannya tertuju kepada pintu tempat Ganjar dirawat.

"Dia sudah sadar," ujar Kaizar.

Amira mengangguk. "Aku ingin melihat Papi."

"Kau yakin?"

Amira terdiam lalu berkata. "Entah kenapa..." Ia menatap pintu itu. "Setelah semua yang terjadi hari ini, aku ingin melihatnya."

Kaizar menggenggam tangannya."Kita bisa masuk setelah dokter mengizinkan."

Amira mengangguk tapi sebelum mereka bergerak, pintu ruang perawatan kembali terbuka.

Seorang perawat keluar. "Bu Ambar."

Ambar menoleh."Ya?"

"Dokter meminta keluarga tidak terlalu lama berada di dalam. Kondisi Pak Ganjar memang membaik, tetapi beliau masih membutuhkan banyak istirahat."

Ambar mengangguk.

Perawat kemudian kembali masuk.

Ambar memandang Alika. "Jangan katakan apa pun kepada Papi dulu."

Alika menatap ibunya."Iya?"

"Karena dia baru sadar."

"Baik." Ia mengangguk perlahan.

Ambar menatap putrinya. Alika kemudian berjalan menjauh sementara di sisi lain, Amira masih berdiri bersama Kaizar.

Tanpa mereka sadari, pintu ruang perawatan kembali terbuka. Ganjar yang masih terbaring di atas ranjang perlahan menoleh ke arah pintu.

Pandangan matanya belum sepenuhnya jelas.

Namun ia melihat seseorang berdiri di sana.

Seorang perempuan yang wajahnya sudah sangat lama tidak ia perhatikan dengan benar.

Amira.

Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Ganjar terdiam. Amira pun tidak bergerak.

Tidak ada kata-kata ataupun sapaan. Hanya dua pasang mata yang saling berhadapan, membawa masa lalu yang berbeda.

Dan sejak Amira kembali hadir dalam hidupnya, Ganjar melihat putrinya bukan sebagai bayangan masa lalu yang ingin ia hindari. Melainkan sebagai seseorang yang baru saja menyelamatkan hidupnya.

"Amira..." Suara Ganjar terdengar lemah.

Amira menahan napas. Kaizar melepaskan genggaman tangannya perlahan, memberi ruang kepada istrinya.

Amira melangkah masuk tapi sebelum ia sempat mendekat, Ganjar kembali berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Terima kasih."

Amira berhenti. Matanya mulai berkaca-kaca.

Satu kata sederhana itu mungkin tidak cukup untuk menebus bertahun-tahun luka. Tetapi bagi seorang anak yang sejak kecil menunggu pengakuan dari ayahnya, dua kata itu tetap memiliki arti.

Amira menundukkan kepala. "Sama-sama, Pi."

Ganjar memejamkan mata. Sementara di luar ruangan, Ambar berdiri dalam diam. Ia mendengar percakapan itu mungkin ia menyadari bahwa rahasia yang selama ini ia sembunyikan bukan lagi hanya miliknya. Karena kini, sedikit demi sedikit, kebenaran mulai menemukan jalannya sendiri.

Bersambung ....

1
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
Oma Gavin
semoga pernikahan kalian bahagia dan aku sumpahin pernikahan alika dan ricki bagaikan neraka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!