Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad
Bel pulang sekolah berdentang nyaring, disusul suara riuh anak-anak yang berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Haruna melangkah tertatih menuju gerbang, tempat Kirana sudah menunggu sambil melambaikan tangan riang.
"Haruna! Sini, kita pulang bareng!" seru Kirana, menghampiri sahabatnya lalu menggenggam tangannya erat.
Mereka berjalan beriringan menyusuri jalan setapak di depan sekolah, sesekali berhenti sejenak agar Haruna bisa mengatur langkahnya yang tak secepat anak-anak lain. Namun Kirana tak pernah sekali pun terlihat terburu-buru atau kesal, selalu menyesuaikan kecepatan jalannya dengan sahabat kecilnya itu.
Belum jauh mereka melangkah, sebuah mobil hitam mengilap tiba-tiba berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Menarik perhatian hampir semua orang yang masih berada di sekitar halaman. Bentuknya jauh berbeda dari mobil-mobil biasa yang biasa Haruna lihat lalu lalang di desa... kacanya gelap berkilau, catnya mulus tanpa cela, dan lambang kecil di bagian depan mobil itu tampak berkilauan diterpa sinar matahari.
"Wah, mobil siapa itu, Kak? Bagus banget," Haruna berhenti melangkah, matanya membelalak kagum.
Seorang pria berseragam rapi bergegas turun dari kursi kemudi, berjalan cepat mengelilingi mobil untuk membukakan pintu belakang dengan sikap penuh hormat. Dari dalam mobil, perlahan muncul seorang wanita paruh baya mengenakan pakaian elegan. Namun yang membuat Haruna semakin terpaku adalah kondisi kedua kaki wanita itu tak ada sama sekali. Tertutup rapi oleh ujung roknya yang panjang, sementara sang supir dengan sigap membantunya berpindah ke kursi roda yang sudah disiapkan di samping mobil.
Tak lama berselang, Kepala Sekolah bersama beberapa guru bergegas keluar dari dalam gedung. Wajah mereka sumringah penuh rasa hormat, menyambut kedatangan wanita itu dengan sikap yang sangat berbeda dari biasanya.
"Selamat sore, Bu Anita. Terima kasih sudah berkenan berkunjung," ucap Kepala Sekolah dengan nada penuh takzim, membungkukkan badannya sedikit sambil menjabat tangan wanita itu.
"Kak, siapa sih wanita itu? Kenapa Ibu Kepala Sekolah sampai segitu hormatnya?" bisik Haruna penasaran, menarik-narik ujung baju Kirana.
Kirana mengamati sejenak sebelum menjawab. "Itu Bu Anita, Haruna. Beliau itu orang kaya banget, punya banyak usaha di kota. Katanya sih, beliau juga yang bangun sekolah kita ini, biar anak-anak yang nggak mampu tetep bisa sekolah gratis. Bukan cuma sekolah kita aja, katanya ada banyak sekolah lain juga yang beliau bangun di desa-desa lain."
Mata Haruna berbinar kagum, menatap lekat-lekat sosok wanita itu yang kini sedang berbincang ramah dengan Kepala Sekolah. Meski duduk di kursi roda, auranya begitu berwibawa hingga membuat semua orang di sekitarnya bersikap sangat hormat.
"Jadi... kalau orang kaya, pasti dihormatin kayak gitu, ya, Kak?" tanya Haruna polos, matanya masih tak lepas memandangi wanita itu.
Kirana mengangguk mantap. "Iya, biasanya sih gitu. Apalagi kalau orang kaya itu baik hati kayak Bu Anita, suka bantu orang susah. Makin banyak yang hormat dan sayang sama dia."
Haruna terdiam sejenak, memandangi wanita itu dengan tatapan penuh kekaguman yang sulit ia gambarkan. Sesuatu di dalam dadanya bergejolak, sebuah perasaan baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kak," ucap Haruna pelan, suaranya penuh keyakinan yang tak biasa untuk anak seusianya, "kalau Haruna udah besar nanti, Haruna mau jadi orang kaya kayak Bu Anita."
Kirana menoleh, tersenyum mendengar tekad polos sahabatnya. "Emang kenapa mau jadi orang kaya, Haruna?"
"Soalnya kalau Haruna kaya, Haruna bisa bangun banyak sekolah gratis juga, biar anak-anak yang nggak punya uang kayak Haruna dulu tetep bisa sekolah," jawab Haruna bersemangat, matanya berbinar penuh mimpi. "Terus Haruna juga pasti dihormatin semua orang, nggak akan ada lagi yang berani hina Haruna kayak dulu. Tapi yang paling penting..." Haruna berhenti sejenak, wajahnya melembut, "Haruna mau bikin Nenek bahagia. Nenek udah capek kerja keras buat Haruna, giliran Haruna udah besar, Haruna yang mau jaga Nenek."
Mendengar tekad tulus itu, Kirana tersenyum haru, mengusap lembut puncak kepala Haruna dengan penuh kasih sayang. "Aamiin, semoga cita-cita Haruna terkabul, ya. Kakak yakin, Haruna pasti bisa jadi orang kaya yang baik hati kayak Bu Anita nanti."
"Beneran, Kak?" tanya Haruna, matanya berbinar penuh harap.
"Beneran! Haruna kan pintar banget, pasti bisa gapai apa aja yang Haruna mau," jawab Kirana meyakinkan, merangkul bahu sahabatnya erat.
Haruna tersenyum lebar, menatap sekali lagi ke arah wanita itu yang masih berbincang ramah dengan para guru. Sebelum akhirnya bergerak menaiki tangga menuju gedung sekolah dengan bantuan sang supir. Dalam hati kecilnya, Haruna menanamkan sebuah tekad yang begitu kuat... suatu hari nanti, ia akan menjadi seperti wanita itu, dihormati bukan karena kasihan, melainkan karena kerja keras dan kebaikan hati yang ia miliki.
"Ayo, Haruna, kita lanjut jalan. Nanti keburu sore," ajak Kirana, kembali menggandeng tangan sahabatnya, membimbingnya melanjutkan perjalanan pulang.
Sepanjang jalan, Haruna terus bersenandung riang, pikirannya masih dipenuhi bayangan tentang mobil mewah, kursi roda elegan, dan sikap hormat yang diterima wanita kaya itu.
Sesampainya di gubuk sederhana mereka, Haruna langsung berlari kecil menghambur masuk, mendapati Nek Lasmi sedang duduk di dipan sambil menganyam tikar bambu.
"Nek! Nek! Tadi Haruna lihat orang kaya banget, naik mobil bagus, terus semua guru hormat banget sama dia!" Haruna bercerita dengan menggebu-gebu, duduk di samping neneknya sambil menceritakan detail kejadian yang baru saja ia saksikan.
Nek Lasmi mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk sambil tersenyum melihat semangat cucunya yang meluap-luap. "Wah, hebat sekali, ya, orang itu. Baik hati juga, mau bangun sekolah buat anak-anak kayak Haruna."
"Iya, Nek! Makanya Haruna jadi pengen banget kayak dia," ucap Haruna, matanya berbinar penuh impian. "Kalau Haruna udah besar nanti, Haruna mau jadi orang kaya, Nek. Biar kita bisa tinggal di rumah gede kayak istana, nggak usah tinggal di gubuk lagi. Nenek juga nggak usah capek-capek jualan peyek lagi."
Mendengar tekad polos itu, hati Nek Lasmi terenyuh, matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia mengusap lembut kepala cucunya, tersenyum penuh kasih sayang. "Aamiin, Nak. Semoga Allah kabulkan cita-cita Haruna. Nenek doain yang terbaik buat Haruna, biar kelak jadi orang sukses, tapi tetap rendah hati dan baik sama sesama."
Haruna tersenyum lebar, mendekap neneknya erat-erat sejenak sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu.
"Sekarang, ayo ganti baju dulu, terus makan siang, ya, Nak. Sebentar lagi Nenek mau berangkat jualan," ucap Nek Lasmi, menepuk pelan punggung Haruna, mengarahkannya untuk segera bersiap.
"Iya, Nek!" jawab Haruna riang, bergegas menuju kamar kecilnya untuk berganti pakaian. Sementara di dalam hatinya, tekad untuk menjadi orang kaya dan sukses semakin tertanam kuat.bukan sekadar demi kekayaan semata, melainkan demi senyum bahagia sang nenek yang telah mengorbankan segalanya untuk membesarkannya dengan penuh cinta.
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,
semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,