Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 11
Sore harinya, badai yang diprediksikan Elian benar-benar datang.
Di ruang tengah yang luas, suara jeritan melengking memecah ketenangan rumah. Elang tersungkur di atas karpet bulu, berguling-guling sembari memukulkan kedua tangan dan kakinya ke lantai. Mainan mobil-mobilan plastik beterbangan, salah satunya hampir saja mengenai vas bunga kaca di sudut meja.
"Gak mau! Elang gak mau makan! Mau Mami! Mau Mami datang!!" teriak Elang histeris, napasnya memburu dengan wajah yang sudah memerah padam dan berpeluh keringat.
Elang kambali trantum, balita itu kembali mengingat ayah dan ibunya yang telah tiada. Tangisnya benar-benar membuat satu rumah di buat bingung. Karena saat Elang menangis seperti itu akan sulit untuk di tenangkan. Dilara meletakkan mangkuk nasi dan sayur hangat di atas meja, lalu perlahan mendekati balita itu. Ia menjejajarkan posisinya, duduk bersimpuh di atas karpet tanpa rasa takut sedikit pun terkena lemparan mainan.
"Elang, Sayang... Kenapa nangis seperti ini, hem?," tutur Dilara sangat lembut, berusaha mengimbangi suara teriakan anak itu dengan nada tenang.
"Lihat Mba Dilara, yuk? Kita makan sedikit saja, ya? Jagoannya Mbak Dilara kenapa? Mami sama Papi Elang kan sudah bersama Allah Subhana hu wataala di surga..."
"GAK MAU! BOGONG! MBAK DILARA BOGONG!" jerit Elang makin kencang. Jemari mungilnya meraih balok kayu keras di dekatnya dan melemparnya tepat ke arah Dilara.
TAK!
Balok kayu itu mendarat cukup keras di bahu kiri Dilara. Rasa nyeri menjalar seketika, namun Dilara bahkan tidak meringis. Ia tetap mengulas senyum, hanya menggeser balok-balok kayu berbahaya lainnya jauh dari jangkauan tangan Elang agar anak itu tidak melukai dirinya sendiri. Walau bahunya sendiri juga berda-rah karena mengenai yepat sudut balok.
Tepat saat situasi sedang memuncak, langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah tangga. Elian turun dengan kemeja kantor yang sudah kusut dan dahi berkerut tajam. Wajahnya dipenuhi kekesalan yang nyata.
"Ada apa ini?! Suaranya kedengaran sampai ke lantai atas!" bentak Elian keras, menatap tajam ke arah Dilara yang masih bersimpuh di lantai.
"Om Elian! Hwaaaa!" Elang justru makin histeris melihat paman kaku itu mendekat.
Elian berkacak pinggang, menatap Dilara dengan pandangan meremehkan yang amat kentara.
"Sudah saya bilang, kan? Kamu cuma bertahan beberapa jam saja di sini. Mengurus anak kecil saja tidak becus sampai bikin rumah ini seperti kapal pecah!"
Dilara menghela napas pendek, lalu berdiri tegak menghadapi Elian. Wajahnya yang diterpa peluh tetap memancarkan ketenangan yang luar biasa.
"Pak Elian, tolong rendahkan suara Bapak," potong Dilara halus namun bernada tegas.
"Anak ini sedang panik dan kewalahan dengan emosinya sendiri. Bentakan Bapak cuma bakal bikin tantrumnya makin parah."
"Kamu mengajari saya cara menghadapi keponakan saya sendiri?!" suara Elian meninggi, tak terima dipotong.
"Dia itu butuh ketegasan, bukan cuma dibiarkan mengamuk begini!"
"Tegas berbeda dengan membentak, Pak," balas Dilara mantap, matanya menatap lurus manik mata Elian tanpa ada rasa gentar sedikit pun.
"Kalau Bapak tidak bisa membantu menenangkan, saya mohon Bapak kembali ke atas dan biarkan saya menyelesaikan tugas saya."
Elian tersentak. Untuk kedua kalinya, kata-kata santun dari wanita berhijab krem ini berhasil membungkamnya. Pria itu mengepalkan tangan di samping tubuh, merutuki keberanian pengasuh baru ini yang berani mengusirnya di rumahnya sendiri.
"Bagaimana kamu mau menenangkan dia?" cibir Elian, menunjuk Elang yang masih menangis terisak-isak.
"Kamu bahkan kena lempar mainan tadi! Jangan sok jagoan kalau ujung-ujungnya cuma bikin kepala orang satu rumah pusing!"
Dilara tidak melayani perdebatan itu lebih lanjut. Ia berbalik, kembali berlutut di depan Elang yang tangisnya mulai berubah menjadi isakan panjang yang melelahkan. Dilara merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan dadanya terbuka tanpa ada paksaan.
Ia tidak membujuk dengan mainan, tidak juga menyodorkan makanan. Ia hanya diam, memberikan ruang aman. Dan menunggu sampai Elang sedikit tenang.
"Elang cape, ya?" bisik Dilara lembut, matanya menatap hangat anak itu.
"Sini... Dekat sama Mbak Dilara. Kalau Elang butuh peluk, Mba Dilara ada di sini. Jangan nangis seperti ini, sayang... Nanti Elang malah sakit..."
Elang menghentikan tangisannya sejenak. Matanya yang basah oleh air mata menatap Dilara yang masih tersenyum dengan tangan terentang. Kehangatan yang dipancarkan Dilara terpantul begitu nyata, sebuah ketulusan dari seorang wanita yang pernah merasakan betapa sakitnya diabaikan dan kesepian.
Perlahan, tubuh mungil Elang merangkak mendekat. Anak itu menubrukan tubuhnya ke dekapan Dilara, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dilara dan menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh emosi dan rasa rindu pada kedua orang tuanya.
"Nangis saja, Sayang... Tidak apa-apa," bisik Dilara pelan, mengusap punggung Elang dengan pola berulang yang menenangkan, menimang tubuh kecil itu dengan penuh kasih sayang.
Di belakang mereka, Elian berdiri mematung. Kata-kata pedas yang sudah siap ia semburkan mendadak tersangkut di tenggorokan. Matanya menatap tak percaya pada pemandangan di depannya. Belasan pengasuh sebelumnya selalu berteriak balik, panik, atau menangis saat Elang melempar barang. Namun wanita ini... ia justru memeluk sumber badai itu dengan kelembutan yang teramat dalam.
Isakan Elang perlahan mulai mereda, berganti dengan napas teratur yang berat. Anak itu ketiduran di pelukan Dilara karena kelelahan. Dilara mengangkat tubuh Elang perlahan ke dalam gendongannya, lalu bangkit berdiri. Ia menoleh ke arah Elian yang masih berdiri kaku seperti patung di tengah ruangan.
"Maaf atas kegaduhannya, Pak Elian," tutur Dilara pelan agar tidak membangunkan anak di pangkuannya.
"Saya permisi membawa Elang ke kamarnya dulu."
Elian menatap Dilara yang melangkah melewatinya dengan anggun. Udara di sekitarnya mendadak terasa hangat oleh aroma samar minyak telon dan kelembutan wanita itu.
"Bahu kamu..." bisik Elian refleks, matanya tertuju pada bekas hantaman balok kayu di bahu kemeja Dilara yang sedikit kotor.
Dilara menghentikan langkahnya sejenak tanpa memutar tubuh. "Hanya memar dan terluka kecil, Pak. Tidak sebanding dengan rasa tenang yang baru saja Elang dapatkan."
Tanpa menunggu tanggapan lagi, Dilara berjalan menuju kamar anak di ujung lorong, meninggalkan Elian yang tetap bergeming di ruang tengah, menatap lantai dengan perasaan aneh yang mulai mengusik sudut hatinya yang dingin.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛