Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19.
Pagi itu, suasana di ruang kerja Luca terasa lebih dingin dari biasanya. Sebuah draf perjanjian bisnis tebal yang berisi skema investasi gabungan sudah tergelar rapi di atas meja mahoni.
Luca berdiri menyamping di dekat jendela besar, mengancingkan manset jas hitamnya dengan gerakan tenang. Di belakangnya, Ruby berdiri kaku memegang nampan berisi cangkir kopi. Keberanian Ruby semalam runtuh digantikan rasa tegang yang mencekam begitu mendengar nama Kavano kembali disebut.
"Kavano sudah mengonfirmasi kehadirannya," ujar Luca datar tanpa menoleh, suaranya terdengar begitu berkuasa. "Hari ini saya memanggilnya ke mansion untuk membahas penyertaan modal dan restrukturisasi saham."
Ruby menahan napasnya, jemarinya yang memegang nampan bergetar halus. "M-mansion ini, Tuan? Kavano mau datang ke sini?"
Luca berbalik pelan, melangkah mendekati Ruby hingga bayangan tubuh tingginya mengurung gadis itu. Iris mata hitamnya yang tajam mengunci tatapan panik di wajah Ruby.
"Tentu saja di sini," sahut Luca dingin. "Tempat paling aman untuk membuat musuh merasa memegang kendali, padahal dia sedang masuk ke dalam kandang singa."
"Tapi Tuan..." suara Ruby bergetar hebat, ketakutan membayangkan pria yang pernah menyiksanya berada di bawah atap yang sama. "Kalau dia melihat saya—"
"Dia tidak akan melihat kamu," potong Luca cepat. Tangannya terangkat pelan, menangkup dagu Ruby dan memaksa gadis itu mendongak menatapnya. Sentuhan ibu jarinya di kulit pipi Ruby terasa hangat, kontras dengan nada suaranya yang tajam. "Kamu akan berada di ruang pemantau, memperhatikan setiap jengkal gerak-geriknya lewat kamera pengawas. Kamu harus melihat sendiri bagaimana pria yang kamu takuti itu berlutut memohon kerja sama di hadapan saya."
Jantung Ruby berdegup kencang, perpaduan antara sensasi asing saat Luca menyentuhnya dan kepanikan atas kedatangan sang mantan suami.
"Kavano mengira pertemuan ini adalah jalur penyelamat bisnis keluarganya yang hampir bangkrut," bisik Luca tepat di depan wajah Ruby, menyunggingkan senyum tipis yang penuh intimidasi mematikan. "Dia tidak tahu kalau hari ini adalah awal dari kehancurannya. Dan kamu, Ruby... kamu yang akan menyaksikan semuanya dari balik layar."
Luca melepaskan cengkeraman halus di dagu Ruby, namun tatapannya masih mengunci gadis itu.
"Bi Ratna sudah menyiapkan ruangan pemantau di lantai atas," lanjut Luca seraya berbalik merapikan kerah jasnya di depan cermin. "Setiap dokumen yang saya minta kamu pelajari semalam ada hubungannya dengan celah hukum yang akan saya bantai di meja perundingan hari ini."
Ruby mengusap dadanya yang masih naik turun. "Tuan yakin... Kavano nggak akan curiga?"
Luca menyunggingkan senyum miring yang terkesan sangat berbahaya. "Kavano terlalu haus akan uang dan kekuasaan untuk menggunakan akal sehatnya. Dia datang ke sini membawa keputusasaan, dan saya akan memberikan harapan palsu sampai dia menandatangani kehancurannya sendiri."
Pria itu berbalik penuh, menatap Ruby dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan aura dominan yang membuat selasar ruangan itu seolah menyempit.
"Masuk ke ruangan pemantau sekarang. Jangan keluar sampai saya sendiri yang menjemput kamu," perintah Luca tegas, nada suaranya tak menerima bantahan sedikit pun.
"B-baik, Tuan," bisik Ruby pelan.
Dengan langkah bergetar, Ruby berjalan meninggalkan ruang kerja Luca menuju tangga rahasia lantai atas. Di dalam dadanya, rasa takut pada sosok Kavano berbenturan hebat dengan rasa percaya yang aneh terhadap Luca Oliver—pria misterius yang kini sedang berdiri di depan pintu neraka masa lalunya, siap membalaskan dendam yang bahkan belum sempat Ruby suarakan.
Beberapa menit kemudian, suara deru mesin mobil mewah terdengar memecah keheningan pelataran mansion. Dari layar monitor beresolusi tinggi di ruang pemantau, Ruby menyaksikan sebuah Mercedes-Benz hitam berhenti tepat di depan pintu utama.
Pintu mobil terbuka, dan sosok Kavano Archelio melangkah keluar.
Tubuh Ruby seketika membeku. Napasnya tertahan saat melihat wajah pria yang selama ini menjadi mimpi buruknya. Kavano tampak lebih tirus dengan sorot mata liar yang dipenuhi ambisi dan keputusasaan—persis seperti apa yang dikatakan Luca. Pria itu merapikan jasnya dengan penuh keangkuhan, sama sekali tidak menyadari bahwa dari balik kamera tersembunyi, Ruby sedang mengawasinya dengan dada yang bergemuruh hebat.
Di ruang tamu utama, Luca sudah menunggu. Pria itu duduk santai di sofa tunggal berlapis kulit mahal, menyilangkan kaki dengan aura penguasa yang begitu dominan.
"Senang bisa bertemu denganmu secara langsung, Tuan Oliver," ujar Kavano dengan nada ramah yang dipaksakan saat melangkah masuk. Ia mengulurkan tangan, mencoba membuka percakapan dari posisi yang setara.
Luca hanya menatap tangan Kavano yang terulur tanpa niat sedikit pun untuk membalasnya. Iris matanya yang sehitam malam hanya memandang dingin pria di depannya.
"Duduk, Archelio," panggil Luca pendek, memotong kepalsuan itu tanpa basa-basi. "Waktu saya terlalu berharga untuk formalitas."
Kavano menarik kembali tangannya, rahangnya mengeras sesaat menahan malu dan amarah. Namun, demi menyelamatkan imperium bisnis keluarganya yang di ambang kehancuran, ia menelan kebanggaannya dan duduk di sofa seberang Luca.
"Baiklah, langsung pada intinya," kata Kavano seraya meletakkan sebuah berkas di atas meja. "Keluarga Archelio siap melepas saham pengendali di sektor properti kepada perusahaanmu, asal kamu menyuntikkan dana segar hari ini juga."
Dari ruang pemantau, Ruby memajukan tubuhnya, mencengkeram tepi meja monitor hingga buku-buku jarinya memutih. Itu adalah berkas yang sama dengan silsilah dan surat kepemilikan aset yang diminta Luca untuk dipelajari Ruby semalam.
Luca menyandarkan punggungnya, menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.
"Saham properti?" gertak Luca pelan, suaranya tenang namun sarat intimdasi. "Kamu datang ke rumah saya untuk menawarkan aset yang status hukumnya bahkan belum sah secara penuh, Kavano?"
Kavano mengerutkan dahi, raut wajahnya mendadak tegang. "Apa maksudmu? Aset itu sepenuhnya milik keluarga saya!"
"Milik keluarga kamu?" Luca terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Kavano dan Ruby berdiri secara bersamaan. Luca mengambil berkas yang disiapkan tim hukumnya sendiri dan melemparnya tepat di depan Kavano. "Aset itu berada di bawah hak pakai gabungan yang memerlukan persetujuan hukum dari pihak... istri sah kamu."
Mendengar kata *istri*, ekspresi Kavano berubah drastis dari angkuh menjadi pucat pasi.
"Bagaimana... bagaimana kamu tahu soal itu?" bisik Kavano gagap, matanya membelalak tak percaya.
"Saya tahu segalanya tentang kamu, Archelio," sahut Luca lambat, memiringkan kepalanya dengan tatapan elang yang mengunci lawan bicaranya. "Termasuk kenyataan bahwa kamu kehilangan istri kamu setahun yang lalu, dan tanpa tanda tangannya, seluruh dokumen saham yang kamu bawa hari ini tak lebih dari kertas sampah."
Kavano terduduk kaku. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat menyadari betapa dalam Luca telah menggali rahasianya.
"Itu urusan domestik saya," sela Kavano, mencoba merebut kembali kendali suaranya meski nadanya terdengar ketus dan goyah. "Ruby cuma bagian kecil dari formalitas hukum. Saya bisa mengurusnya!"
Luca terkekeh sinis, menyilangkan jemari di atas pangkuannya. "Mengurusnya? Kamu bahkan tidak tahu wanita itu ada di mana selama hampir satu tahun ini, Kavano. Kamu kelimpungan, memeras keluarganya, dan membanting semua relasi bisnis demi menutupi fakta kalau kamu sudah kehilangan pemegang kunci aset terbesar kamu."
Dari balik layar monitor di ruang pemantau, Ruby menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah tanpa suara. Perasaan tertekan yang selama ini membelenggunya perlahan terangkat saat melihat pria yang dahulu selalu menyiksanya kini tak berdaya, dikuliti habis-habisan oleh Luca.
"Bukan urusanmu dari mana aku mendapatkan tanda tangan itu nanti!" sentak Kavano, berdiri dari duduknya karena emosi yang meluap. "Aku butuh suntikan dana itu sekarang, Tuan Oliver! Jangan mengulur waktu!"
"Duduk," perintah Luca pelan.
Suara itu tidak keras, namun mengandung tekanan dominan yang begitu kuat hingga Kavano refleks terhenti dan perlahan kembali duduk dengan napas memburu.
"Saya yang menentukan aturan di sini," ujar Luca dingin, menatap Kavano bagai seekor predator yang sedang memain-mainkan mangsanya. "Saya akan tetap mengambil alih saham itu dengan draf perjanjian yang baru. Tapi syaratnya, seluruh kendali operasional keluarga Archelio jatuh ke tangan saya mulai hari ini. Tanpa syarat. Tanpa negosiasi."
"Tuan... Anda mau memeras saya?!" bentak Kavano tak percaya.
"Saya tidak memeras," sahut Luca datar, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan. "Saya memberi kamu pilihan: tanda tangani draf baru ini dan biarkan perusahaan kamu bernapas sedikit lebih lama, atau keluar dari pintu itu sekarang dan biarkan bank menyita seluruh kekayaan keluarga Archelio besok pagi."
Kavano mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja, rahangnya mengeras hingga memerah. Pilihan yang diberikan Luca tak ubahnya hukuman mati yang ditunda. Ia terjebak sepenuhnya dalam perangkap yang dibuat pria di depannya.
Sementara di ruang pemantau, Ruby menatap layar dengan jantung berdebar kencang. Di balik rasa kagumnya atas kehebatan Luca meruntuhkan Kavano, ada sensasi hangat dan berdesir yang kian kuat di dadanya—menyadari betapa Luca tidak hanya sedang melakukan ekspansi bisnis, melainkan sedang membalaskan dendam dan membebaskan Ruby dari cengkeraman masa lalunya secara perlahan.
Dengan jemari yang bergetar hebat dan napas memburu, Kavano akhirnya meraih pulpen di atas meja. Rasa cemas dan kehancuran harga diri terpancar jelas dari raut wajahnya saat ia menandatangani draf perjanjian baru tersebut.
*Srek... srek...*
Setiap goresan tinta itu menandai akhir dari kekuasaan penuh keluarga Archelio atas bisnis mereka sendiri. Kavano melempar pulpen itu ke meja dengan napas kasar, lalu berdiri.
"Kamu akan menyesali ini, Tuan Oliver," ancam Kavano penuh dendam, meski suaranya terdengar hampa dan tak bertenaga.
Luca bahkan tidak sudi berdiri dari duduknya. Pria itu hanya melirik berkas yang sudah ditandatangani dengan tatapan dingin, lalu memberi isyarat pelan pada dua pengawal berbadan tegap yang berjaga di pintu.
"Antar Tuan Archelio keluar," perintah Luca datar. "Dan pastikan dia tidak mengotori area rumah saya lebih lama lagi."
Kavano mengepalkan tangan, menatap Luca dengan kemarahan membara sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi di bawah pengawalan ketat.
Begitu pintu utama tertutup rapat dan deru mobil Kavano menjauh dari pelataran, suasana mansion kembali hening. Luca mengambil berkas di atas meja, mengamatinya sejenak, lalu melangkah santai menuju lantai atas tempat ruang pemantau berada.
*Klek.*
Pintu ruang pemantau terbuka. Ruby yang masih berdiri kaku di depan layar monitor langsung berbalik. Air mata sisa kepanikan dan rasa lega masih mengenang di sudut matanya, membendung emosi yang campur aduk di dalam dada.
Luca berjalan mendekat, menghentikan langkahnya tepat di depan Ruby. Ia menatap lekat-lekat wajah gadis yang kini tampak begitu rapuh namun lega di saat yang bersamaan.
"Kamu lihat sendiri, kan?" suara Luca mengalun rendah, mengikis sisa-sisa ketegangan di udara. "Pria yang selama ini kamu takuti... baru saja menyerahkan lehernya sendiri di depan saya."
Ruby menundukkan kepala, berusaha menahan isolasi tangis yang hampir pecah. "T-terima kasih, Tuan... Terima kasih banyak..."
"Saya tidak melakukan ini untuk menerima ucapan terima kasih kamu, Ruby," potong Luca pelan. Tangannya terangkat, jemarinya yang kokoh menyapu lembut jejak air mata di pipi gadis itu. Sentuhan hangat itu seketika mengirimkan sengatan listrik yang membuat jantung Ruby berdebar kencang tak beraturan.
Luca memiringkan kepalanya, merendahkan bisikannya tepat di depan wajah Ruby yang merona. "Saya melakukan ini untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menyentuh barang milik saya."
Ruby mendongak, matanya terkunci pada iris pekat Luca yang dipenuhi proteksi mutlak. Di antara bayang-bayang ancaman halus dan kehangatan yang tak terucapkan, Ruby tahu... hatinya kini telah sepenuhnya jatuh ke dalam dekapan pria misterius di depannya.