Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.
Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.
Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.
Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATA DI BALIK JERUJI
Setelah menatap lama ke arah Alesya dan memastikan gadis itu sudah duduk dengan aman di samping Reana, Kael akhirnya bergegas pergi.
Kakinya menelusuri koridor yang sepi. Langkahnya tenang, tetapi pikirannya masih tertinggal pada kejadian beberapa saat lalu. Namun, di tengah perjalanan, Kael tiba-tiba berbelok ke arah lain, Sebuah lorong tua yang hampir tidak pernah dilewati para napi. Tak ada siapa pun di sana.
Kael berhenti di depan sebuah pintu gudang tua yang tampak sudah lama tidak digunakan. Tangannya membuka pintu tersebut, lalu ia masuk dan menutupnya kembali. Di dalamnya hanya ada ruangan kosong dan berdebu. Kael berjalan menuju bagian belakang gudang. Kemudian menuruni beberapa anak tangga sempit yang tersembunyi di balik dinding.
Satu pintu besi kembali menghadang langkahnya.
Klek.
Pintu itu terbuka.
Ruangan bawah tanah yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan terbentang di hadapannya. Tempat itu gelap, dingin, dan jauh dari jalur utama penjara. Namun bagi Kael, tempat tersebut adalah sesuatu yang berbeda.
Markas mereka.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja tua dengan beberapa kursi usang. Tidak ada kamera, Tidak ada sipir, Tidak ada napi lain, Hanya mereka bertiga.
Darren dan Dante sudah berada di sana. Kael berjalan mendekati meja lalu mendudukkan dirinya di kursi paling ujung, tepat di kepala meja,Darren dan Dante duduk berhadapan dengannya.
Selama jam makan dan waktu istirahat, pengawasan di dalam penjara memang jauh lebih longgar. Para sipir lebih sibuk dengan urusan mereka sendiri. Itulah celah yang selama ini mereka manfaatkan. Kael menyandarkan tubuhnya, Tatapannya berpindah kepada kedua pria di depannya.
"Kalian sudah menemukan mata-matanya?"
Darren dan Dante saling pandang.
Kemudian keduanya menggeleng.
"Belum."
Dante mengembuskan napas panjang.
"Aku yakin orangnya justru seseorang yang paling tidak bisa ditebak."
Wajahnya mulai menunjukkan kekesalan.
"Pamanmu memang brengsek, Belum puas melempar kita ke penjara, bajingan tua itu juga mengirim mata-mata untuk mengawasi kita."
Dante mengepalkan tangannya di atas meja, Sementara Darren hanya menghela napas pelan.
"Saya akan menemukannya, semampu saya."
Nada suara Darren tetap tenang dan sopan.
Berbeda dengan Dante yang selalu berbicara tanpa menyaring kata-katanya terlebih dahulu.
Darren memang memiliki alasan tersendiri untuk begitu setia kepada Kael.
Dulu, Kael pernah menyelamatkan hidupnya. Sejak saat itu, Darren telah bersumpah bahwa kesetiaannya hanya akan diberikan kepada kael seorang.
Dante kembali menyandarkan tubuhnya.
"Ya, memangnya menurutmu orang-orang di sini nggak ada yang mencurigakan?"
Darren menatapnya datar.
"Semuanya normal."
Dante mengangkat alis.
"Normal?"
Tak ada jawaban, Kael tetap diam. Darren juga tidak menanggapi lagi, Dante mengembuskan napas kasar.
"Huff... memang susah berbicara dengan kalian berdua."
Darren kemudian kembali berbicara.
"Sepertinya paman Anda memiliki mata-mata yang sangat ahli. Kalau dilihat dari para napi di sini, semuanya terlihat sama. Tidak ada yang benar-benar menunjukkan sesuatu yang mencurigakan."
Kael mengetuk-ngetukkan jarinya perlahan di atas meja.
Tok. Tok. Tok.
Wajahnya tetap datar.
Namun pikirannya bergerak ke berbagai arah, Ada terlalu banyak hal yang harus dipikirkannya.
Keselamatan Alesya.
Keselamatan Darren dan Dante.
Cara mereka keluar dari penjara ini.
Dan yang paling penting—
bagaimana melakukannya tanpa diketahui oleh pamannya.
Karena jika pria tua itu sampai mengetahui hubungannya dengan Alesya...
Alesya juga akan menjadi sasaran.
Kael menghentikan ketukan jarinya.
"Untuk sekarang, biarkan semuanya terlihat normal."
Tatapannya berpindah kepada Darren dan Dante.
"Jangan menarik perhatian. Kalau berada di luar ruangan ini, jangan terlihat seperti kita saling mengenal."
Darren langsung mengangguk.
"Baik"
Namun Dante masih terlihat manyun.
Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka suara.
"Tapi karena kau sudah membuat Alesya mengetahui yang sebenarnya..."
Dante menatap Kael lekat-lekat.
"Apa nggak masalah kalau pak tua itu sampai tahu?"
Ruangan mendadak sunyi.
Kael tidak menjawab, Tangannya masuk ke dalam saku celana. Kemudian pria itu perlahan menegakkan tubuhnya dari kursi, Tatapannya berubah dingin, Sangat dingin.
"Kalau dia berani menyentuh sedikit saja..."
Kael berhenti sejenak, Rahangnya mengeras.
"...bahkan sehelai rambut Alesya."
Tatapan Kael menjadi tajam.
"Akan kubuat dia tidak pernah hidup tenang sampai masuk ke peti matinya."
Dante terdiam,Bahkan Darren tidak mengatakan apa-apa. Mereka berdua tahu satu hal, Kael bisa memaafkan banyak hal. Tapi jika seseorang menyentuh orang yang ingin dilindunginya, Kael tidak akan pernah memaafkannya.
***
“Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau dan Kael berteman"
Reana mengatakannya pelan. Matanya sesekali melirik ke sekitar, takut percakapan mereka terdengar oleh napi lain.
Alesya belum menjawab. Gadis itu masih sibuk mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
“Aku juga tidak menyangka kalau dia juga berada di sini,” jawab Alesya setelah menelan makanannya.
Reana langsung manyun, lalu kembali menyendok makanannya.
“Selain teman...” Reana berhenti sebentar, kemudian menatap Alesya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Memangnya tidak ada hubungan lain di antara kalian?”
Alesya langsung tersedak.
“Uhuk!”
Reana buru-buru memberikan air kemasan kepadanya. Alesya menerimanya dan langsung meneguk beberapa kali.
“Kenapa kau bertanya begitu...?”
Reana menaik-turunkan alisnya dengan senyum menggoda.
“Ya... bisa saja, kan?”
Alesya hanya memutar bola matanya malas.
“Kami cuma berteman. Just friends.”
“Tapi sepertinya ada—”
Brak!
Ucapan Reana terpotong ketika sebuah nampan makanan diletakkan keras di atas meja mereka. Belum sempat keduanya bereaksi, tiga orang wanita sudah duduk di sekitar mereka. Jessica mengambil tempat tepat di samping Alesya. Sementara Clara dan Violeta duduk di sisi Reana, membuat gadis itu terpojok di tengah-tengah mereka.
Wajah Reana langsung berubah pucat, Dia tahu siapa mereka, Jessica and the geng. Tiga wanita yang terkenal suka membully bahkan memancing keributan dengan para napi lain yang tidak memiliki pelindung.
Jessica menyandarkan tubuhnya dengan santai, Tatapannya menyapu Alesya dari atas sampai bawah.
“hemm...Bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian, Nona?”
Nada suaranya penuh sindiran.
Alesya hanya melirik malas.
“Kau siapa?”
Dia bahkan kembali mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam mulut, Senyum Jessica langsung menghilang.
“Me?” Jessica menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum sinis.
Violeta merangkul pundak Reana, Tubuh Reana langsung menegang.
“Temanmu tidak pernah memberi tahu tentangku?”
Alesya menatap Jessica tanpa ekspresi. Dari beberapa meja di sekitar mereka, beberapa napi mulai melirik. Namun tidak ada yang berani ikut campur.
Siapa yang tidak mengenal Jessica?
Pembuat onar di penjara ini.
“Anak baru, Jess,” ujar Clara.
Violeta terkekeh.
“Seharusnya kau memberi tahu temanmu tentang kami.”
Tangannya mencubit pipi Reana, Reana hanya menundukkan kepala. Dia tidak berani melawan, Alesya memperhatikan itu semua, Lalu dengan santainya berkata,
“Kurasa tidak sepenting itu"
Senyum Jessica lenyap.
“Sial...”
Brak!
Jessica berdiri dan menendang kursi Alesya, Tubuh gadis itu langsung terhempas hingga jatuh ke lantai.
“Agh!”
Reana tersentak.
“Alesya!”
Beberapa napi mulai berbisik. Dari salah satu meja terdengar suara seorang pria yang malah tertawa.
“Huuuu... pemandangan yang bagus.”
Alesya yang tersungkur tidak jauh darinya hanya diam.
“Yah... aku sangat suka cewek-cewek kasar.”
Pria itu tertawa bersama teman-temannya. Tidak ada satu pun napi wanita yang berani membantu, Mereka semua tahu. Jika ikut campur, mereka bisa menjadi sasaran berikutnya, Jessica mengambil nampan makanan Alesya. Tanpa ragu, dia membaliknya.
Brak!
Sisa makanan yang hampir habis berhamburan ke lantai.
“Abisin aja tuh jalang, Jess,” ujar Violeta.
“Biar tahu tempat, dia kira lingkungan nya, mau caper sana sini”
Jessica kemudian berjalan mendekati Alesya. Dia berjongkok di hadapan gadis itu.
Namun anehnya...
Alesya justru tersenyum, Senyum tipis yang hanya Jessica lihat. Senyum yang membuat Jessica semakin emosi. Jessica mengangkat nampan di tangannya. Reana langsung menutup matanya rapat-rapat, takut melihat adegan mengerikan di hadapannya.
“Jangan!”gumamnya pelan
Nampan itu mulai diayunkan.
Namun—
Ceklek!
Sebuah tangan tiba-tiba menangkap pergelangan Jessica, Gerakannya berhenti seketika, Jessica membeku, Perlahan, dia menoleh.
Wajahnya langsung pucat.
“Dan... Dante...”
Suasana ruang makan mendadak hening, Semua kepala menoleh ke arah mereka. Dante berdiri tepat di belakang Jessica, Tatapannya dingin. Tanpa mengatakan apa-apa, dia merampas nampan dari tangan Jessica dan melemparkannya ke lantai.
Brak!
“Kau gila...”
Suara Dante rendah.
Jessica membuka mulut.
“A-aku hanya—”
“Ikut aku.”
Dante langsung menarik tangan Jessica.
“Eh?! Tunggu!”
Jessica terseret, tubuhnya sampai beberapa kali terhuyung mengikuti langkah lebar Dante. Tidak ada yang berani menghentikan mereka. Tidak ada yang berani bahkan sekadar berkomentar, Karena Dante adalah salah satu pria yang paling ditakuti di tempat itu. Bahkan para sipir pun memilih tidak mencari masalah dengannya.
Namun setelah kepergian Dante dan Jessica, Suasana kembali berubah. Beberapa napi menelan ludah, Tatapan mereka perlahan bergeser ke pintu masuk.
Di sana...
Kael baru saja memasuki area makan, Tatapan datarnya menyapu seluruh ruangan. Clara dan Violeta langsung panik.
Tanpa menunggu lebih lama, keduanya segera bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. Reana akhirnya bisa bernapas sedikit lega, Dia segera bangkit dan membantu Alesya berdiri.
“Kamu nggak apa-apa, Al?”
Alesya berdiri sambil membersihkan pakaiannya.
Namun sebelum menjawab, matanya justru bertemu dengan sepasang mata dingin dari kejauhan.
Kael.
Pria itu berdiri diam.
Menatap tepat ke arahnya.
***