Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Anindya menggeleng pelan, tersenyum tipis namun matanya tak dapat menyembunyikan kegelisahan.
"Tidak, Bu... tidak ada siapa-siapa," ucapnya lembut, berusaha terdengar meyakinkan. "Jangan pikirkan hal seperti itu ya. Fokus saja sembuh, itu yang paling aku inginkan."
Ratna menatapnya lekat sejenak, seakan ingin memastikan kebenaran di balik tatapan putrinya. Namun akhirnya ia hanya mengusap punggung tangan Anindya perlahan.
"Baiklah, kalau begitu..." bisiknya pelan, meski masih tampak sedikit ragu. "Ibu percaya. Tapi ingat, Nak... apa pun yang terjadi, jangan simpan sendirian. Ibu ingin melihatmu bahagia, dengan siapa pun itu."
Anindya mengangguk, memaksakan senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia kemudian menuangkan air putih dan menyuapi ibunya perlahan, sedikit demi sedikit. Percakapan mereka mengalir tenang — membahas pekerjaan, perawat yang baik hati, hingga keadaan cuaca sore itu.
Hingga akhirnya jarum jam menunjuk pukul sembilan belas lewat tiga puluh menit.
"Ibu, aku pamit pulang dulu..." Anindya merapikan barang-barangnya ke dalam tas. "Besok pagi aku datang lagi sebelum berangkat kerja."
Ratna mengangguk pelan. "Hati-hati di perjalanan, Nak. Jangan tidur terlalu larut."
"Baik, Ibu."
Anindya mengecup kening ibunya dengan penuh kasih sayang, lalu melangkah keluar dari ruangan. Lorong rumah sakit telah mulai sepi. Lampu-lampu berwarna kuning berpendar lembut, memantulkan bayangannya yang memanjang di lantai keramik.
Klik.
Langkahnya terhenti seketika.
Di depan pintu lift, Dokter Rangga sedang bersandar sambil menatap layar ponselnya. Jas putihnya telah dilepas, menyisakan kemeja berwarna kelabu dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Begitu melihat Anindya, ia tersenyum seketika.
"Sudah mau pulang, Nindya?" sapanya santai, seolah-olah telah menunggu kehadirannya.
Anindya terkejut sejenak. "Eh... iya, Dokter. Baru saja selesai menjenguk Ibu."
Dokter Rangga memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Sendirian?"
"Benar," jawabnya sambil mengangguk dengan canggung.
Suasana hening sejenak, hanya terdengar bunyi roda kursi dorong perawat yang lewat di kejauhan.
"Kalau begitu... izinkan aku mengantarmu pulang," ajaknya pelan, senyumnya tulus tanpa paksaan. "Kebetulan aku juga mau pulang. Tidak baik wanita berjalan sendirian malam-malam. Kurang aman."
Wajah Anindya seketika terasa memanas. Ia buru-buru menolak.
"Ah... tidak perlu, Dokter. Sungguh merepotkan. Saya bisa naik kendaraan umum."
Dokter Rangga tertawa kecil, lembut. "Tidak merepotkan sama sekali. Tujuan kita searah, bukan? Anggap saja kebetulan yang menyenangkan." Ia menatapnya lekat. "Mau ya?"
Anindya semakin gugup. Di satu sisi ia merasa tidak enak menolak kebaikan yang tulus, namun di sisi lain ia menyadari bahwa angkutan umum pun semakin sulit didapatkan pada jam ini.
"Ehm... baiklah. Jika Dokter tidak keberatan..." jawabnya akhirnya, suaranya terdengar lirih. "Terima kasih, Dokter."
Dokter Rangga tersenyum tampak lega dan puas. "Itu baru benar. Ayo kita berangkat."
Mereka melangkah beriringan menuju area parkir. Angin malam berhembus pelan, menyapa wajah mereka dengan sejuk. Keduanya masuk ke dalam mobil dengan Anindya yang duduk di kursi samping kemudi.
Mobil melaju perlahan membelah jalanan yang mulai sepi di bawah cahaya lampu jalan yang berpendar. Suasana di dalam kabin terasa nyaman, diiringi alunan musik lembut yang mengalun pelan dari pengeras suara.
Dokter Rangga memandang ke depan sejenak, lalu menoleh sekilas ke arah penumpang di sampingnya.
"Ngomong-ngomong, Nindya..." suaranya terdengar santai. "Tadi kamu bilang sudah mulai bekerja. Kerja dimana sekarang?"
Anindya meremas ujung tas di pangkuannya pelan, lalu menjawab dengan sopan.
"Saya bekerja di Reynand Group, Dokter."
Rangga mengangkat alis sejenak, menoleh lebih lekat.
"Reynand Group?"
"Benar, Dokter." Anindya mengangguk. "Sebagai sekretaris pribadi Pak Reynand sendiri."
Pria itu tersenyum sekilas, kembali menatap jalan di hadapannya.
"Wah, prestasi yang membanggakan. Perusahaan itu memiliki reputasi yang sangat tinggi. Pasti lingkungan kerjanya pun menuntut ketelatenan dan kesungguhan besar." Ia menoleh lagi, tatapannya ramah sekaligus menyelidik. "Bagaimana? Apakah atasanmu bersikap baik kepadamu?"
Jantung Anindya berdebar tak menentu. Bayangan sosok itu seketika melintas di benaknya, pandangan yang tak dapat ia lupakan begitu saja. Ia menunduk sedikit, menyembunyikan gejolak di dadanya.
"Ya... atasan saya sangat baik, Dokter," jawabnya pelan, berusaha menjaga nada bicaranya tetap tenang.
Rangga mengangguk pelan, seakan menerima jawaban itu. Namun sudut pandangnya tak sepenuhnya beralih.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya."
Mobil terus melaju membelah jalanan yang semakin sepi, diiringi hanya oleh deru mesin pelan dan cahaya lampu jalan yang silih berganti. Dua puluh menit berlalu, hingga akhirnya kendaraan itu melambat dan berhenti tepat di depan pagar rumah kontrakan tempat Anindya tinggal.
"Sudah sampai," ucap Dokter Rangga pelan, mematikan mesin.
Anindya membuka pintu, turun perlahan, lalu menoleh kembali ke arah pria itu yang ikut turun menyusulnya.
"Terima kasih banyak, Dokter, sudah berkenan mengantar saya pulang," ucapnya tulus sambil membungkuk sopan. "Kalau begitu saya masuk dulu. Permisi."
Baru saja ia hendak berbalik melangkah menuju pintu pagar, tangan Rangga terulur menahan lengan tangannya dengan lembut, namun cukup menahan langkahnya.
"Nindya..." panggilnya pelan, senyumnya tetap ramah namun kini terdengar lebih akrab. "Tidak perlu terlalu bersikap resmi denganku. Cukup panggil aku Rangga saja."
Wajah Anindya memerah seketika. Ia menatapnya dengan terkejut, tak tahu harus menjawab apa.
Namun sebelum kata-kata itu sempat terucap, seberkas cahaya lampu mobil hitam itu menyinari mereka berdua tepat di tempat berdiri, menampakkan siluet Dokter Rangga dan Anindya dengan jelas di depan pagar rumah kontrakan itu.
Pintu pengemudi terbuka. Sosok pria tinggi berjalan keluar.
Udara malam mendadak terasa membeku.
Reynand berdiri di sana. Tatapannya tertuju tepat ke arah tangan Rangga yang masih menyentuh lengan Anindya. Wajahnya tampak datar, namun rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tak terucap.
Anindya tersentak seketika. Ia menarik tangannya dengan cepat dari genggaman pria itu, jantungnya berpacu hingga terasa menekan tenggorokan.
"P-Pak...Pak Reynand?" suaranya tercekat di kerongkongan. Matanya membelalak tak percaya melihat bosnya tiba-tiba datang berkunjung.
Rangga pun berbalik, alisnya bertaut bingung menatap sosok yang tiba-tiba hadir di hadapan mereka.
Reynand tidak menyahut. Ia menutup pintu mobil perlahan, bunyi yang terdengar berat bagaikan ketukan palu di kepala Anindya.
Langkahnya mendekat, sepatunya menghentak pelan di permukaan aspal yang masih lembap.
Ia berhenti tepat di depan mereka, jaraknya hanya selebar lengan.
Hening. Hanya terdengar suara jangkrik dari kejauhan, dan napas Anindya yang berdesir tak menentu.
Pandangan Reynand turun, tertuju pada tangan Rangga yang baru saja melepaskan pergelangan tangan Anindya. Lalu naik kembali, menatap wajah wanita itu cukup lama — tajam, menyelidik, dan menyiratkan kekecewaan yang mendalam.
Anindya seakan lupa cara bernapas.
"Jam pulang kerja adalah pukul lima sore. Mengapa baru tiba di rumah pada jam begini, Anindya?" suaranya rendah, datar, namun dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Anindya menggigit bibir bawahnya. "S—Saya mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Ibu terlebih dahulu, Pak. Tadi... Dokter Rangga berbaik hati mengantar saya pulang, karena kendaraan umum sudah sulit didapatkan." Penjelasannya terucap cepat, penuh kegelisahan, kedua tangannya saling meremas di belakang punggung.
Rangga yang sedari tadi berdiam akhirnya angkat bicara. Ia melangkah maju setengah langkah, seolah tanpa sadar menempatkan diri sedikit melindungi Anindya.
"Selamat malam. Saya Rangga, dokter yang merawat Ibu Anindya di rumah sakit." Suaranya tenang, sopan, namun tegas. "Saya hanya mengantar Nindya pulang dengan selamat. Tidak ada maksud lain."
Nindya.
Satu panggilan yang begitu akrab itu membuat mata Reynand menyipit tajam sejenak. Ia mengangguk pelan, senyum tipis yang tersungging di bibirnya tak menyentuh pandangannya.
"Tampaknya kalian sudah cukup akrab," ucapnya singkat. Nadanya tetap sopan, namun terasa jauh dan dingin. "Sampai-sampai Anda bersusah payah mengantar pulang kerabat pasien yang sudah selesai berkunjung."
-
-
-
Bersambung...