Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 015: Pertemuan di Hutan
Di dalam ruang pengobatan yang hangat dan tertutup rapat, hanya tersisa tiga orang: Alaric yang terbaring, Lira yang berdiri di sampingnya, dan Seraphina yang menatap cemas dari samping. Lira pun mulai melafalkan mantra kuno sambil menyalurkan kekuatan cahayanya perlahan masuk ke dalam tubuh Alaric, menyisir setiap jengkal luka dalam yang ditimbulkan oleh sihir pengisap tenaga.
Saat cahaya putih itu menyapu bersih racun sihir, Alaric tiba-tiba terbatuk hebat dan memuntahkan darah berwarna hitam pekat ke lantai.
"Ayah! Ayah tidak apa-apa?" Seraphina seketika berlutut di sampingnya penuh kekhawatiran.
Alaric mengatur napas pelan, lalu tersenyum lemah. "Ayah baik-baik saja, Nak."
Lira meletakkan tangannya di bahu Seraphina menenangkan. "Tenanglah, Nak. Itu adalah racun sihir yang tersisa dan baru saja keluar. Ayahmu sudah tidak apa-apa. Sekarang beliau hanya butuh istirahat yang cukup agar tenaganya kembali seperti sediakala. Mari kita keluar, biarkan beliau beristirahat dengan tenang."
"Baik, Ibu." Seraphina mencium kening ayahnya sejenak, lalu keduanya melangkah keluar menutup pintu ruangan.
Di dalam gua yang gelap dan berbau belerang, Elara mengamuk sekuat tenaga memukul dinding batu. Suaranya menggema penuh kebencian. "Aaaaah! Seraphina! Tunggu saja pembalasanku! Aku pastikan kau akan membayar kekalahanku ini berkali-kali lipat!"
Drakar yang berdiri tak jauh darinya mendekat perlahan. "Lalu, apa rencana kita selanjutnya?"
Elara menoleh dengan seringai licik yang menyeringai lebar. "Tenang saja. Aku akan menyusup masuk ke dalam hutan terlarang untuk mencari sumber kehidupan Srigala Liar yang legendaris. Dengan mengambil sumber kekuatan dari mereka, kekuatanku akan bertambah berkali-kali lipat." Ia menatap tajam kepada Drakar. "Dan tugasmu adalah melatih pasukan dengan lebih giat lagi. Kau harus mampu mengimbangi kekuatan Klan De Luna."
Gorah menyela dengan wajah cemas. "Aku mendengar kabar, kekuatan Srigala Putih milik Ratu Lira telah bangkit kembali. Semakin berat rasanya untuk mengalahkan mereka sekarang."
Elara tertawa sinis tak tergoyahkan. "Kalian jangan gentar. Aku punya cara yang jauh lebih dahsyat untuk menghancurkan mereka semua, sampai tak mampu bangkit lagi."
Sementara itu di perbatasan wilayah, Boras berpatroli dengan sangat teliti. Matanya tak lepas memantau setiap sudut hutan dan jalan masuk. Ia tak ingin kejadian penipuan menyamar seperti yang pernah terjadi terulang kembali.
"Apakah keadaan aman di sepanjang perbatasan?" tanya Boras kepada salah satu prajurit yang berjaga.
"Semua aman," jawab prajurit itu tegas.
Di halaman istana, Seraphina berpapasan dengan Kaelan. "Kaelan."
"Ada perintah apa, Tuan Putri?"
"Aku ingin berjalan-jalan sebentar masuk ke dalam hutan. Selama aku belum kembali, kerajaan Bulan Perak dan Ibu titipkan kepadamu. Jaga mereka dengan sebaik-baiknya," pesan Seraphina.
"Siap, Tuan Putri. Akan kujaga sepenuh hati," jawab Kaelan sambil menunduk hormat.
Seraphina pun melangkah sendirian masuk menyusuri jalan setapak di dalam hutan. Udara segar menenangkan hatinya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Di bawah bayangan pohon raksasa, tampak sesosok pria bersandar lemah sambil menekan dadanya yang berdarah. Seraphina segera mendekat.
"Hei.. apa yang terjadi pada Anda?" tanyanya lembut dan sopan.
Rian membuka mata perlahan, napasnya tersengal. "Pergilah, Nona... Tempat ini berbahaya. Penyihir gelap ingin mengambil nyawa dan kekuatan kami. Aku baru saja berhasil melarikan diri."
Seraphina menatapnya lekat, lalu berbalik seolah hendak pergi. "Kalau begitu, aku pamit. Biarkan saja Anda di sini mati sendirian dimakan Binatang Buas."
Rian terdiam terpaku. "Benar juga... Kalau dia pergi, aku pasti mati di sini. Apalagi luka pertarunganku beberapa hari lalu belum sembuh," batinnya penuh kepasrahan. Ia pun menatap Seraphina dengan pandangan memelas. "Lalu... apa yang harus kulakukan, Nona?"
Seraphina tersenyum lemah lalu berbalik kembali menghulurkan tangannya. "Ikutlah bersamaku. Aku tahu seseorang yang mampu menyembuhkan lukamu sepenuhnya."
Mata Rian berbinar penuh harap. "Baiklah... Aku ikut denganmu."