Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 FOTO DARI HALAMAN SEKOLAH

Kaluna masih memegang telepon dengan pesan ancaman itu terbuka. Di atasnya terdapat foto Elara yang sedang berdiri di halaman sekolah. Anak itu mengenakan seragam, membawa tas di punggung, dan tampak sedang berbicara dengan seorang guru. Foto itu diambil dari luar pagar. Waktunya tercatat pukul sembilan lewat dua belas menit.

“Seseorang sudah mengawasi Elara saat Kaluna mulai menelusuri foto hotel,” pikirnya.

“Ada apa?” tanya Naren.

Kaluna diam sebentar. Ia menyerahkan teleponnya. Naren membaca pesan tersebut, lalu memperbesar fotonya. Ia tidak tampak panik. Hanya genggamannya pada telepon yang berubah. Salindri ikut mendekat.

“Jangan hapus pesan ini,” katanya.

“Aku tidak berniat menghapusnya.”

“Jangan balas juga.”

Kaluna mengambil kembali teleponnya. “Aku harus menelepon Arsen.”

Naren mengangguk. “Sekarang.”

Kaluna menekan nama Arsen dalam daftar panggilan. Lelaki itu baru menjawab setelah dering keempat.

“Ada apa?”

“Di mana Elara?”

Arsen terdiam sebentar. “Di sekolah.”

“Suruh seseorang memeriksanya.”

“Apa yang terjadi?”

“Periksa dulu.”

Nada Kaluna membuat Arsen tidak membantah. Ia terdengar berbicara dengan seseorang di sebelahnya, kemudian kembali ke telepon.

“Sopir dan petugas keamanan ada di depan sekolah.”

“Pastikan Elara masih berada di dalam kelas.”

“Kaluna, katakan apa yang terjadi.”

Kaluna mengirimkan foto serta ancaman itu melalui pesan. Beberapa detik kemudian, suara Arsen berubah.

“Kapan kamu menerima ini?”

“Baru saja.”

“Siapa pengirimnya?”

“Nomor tidak dikenal.”

“Apa yang sudah kamu lakukan?”

Kaluna menarik napas. “Apa maksudmu?”

“Kamu sedang menyelidiki sesuatu. Sekarang seseorang mengirim foto anak kita.”

“Aku sudah kirim fotonya.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tenang sekali?”

“Aku juga panik. Cuma aku nggak bisa berhenti berpikir.”

Arsen mengembuskan napas kasar. “Aku ke sekolah sekarang.”

“Aku ikut.”

“Tidak.”

Kaluna menatap layar telepon. “Jangan mulai.”

“Kalau orang itu mengawasi Elara karena kamu, kemunculanmu di sekolah justru bisa memperburuk keadaan.”

“Dia anakku juga.”

“Aku juga mau dia aman.”

“Tidak dengan datang tanpa rencana.”

Kaluna mengatupkan bibir. Kata-kata itu terdengar seperti sesuatu yang biasa dikatakan Naren kepadanya, tetapi ketika keluar dari mulut Arsen, rasanya berbeda.

“Aku akan menyusul,” katanya.

“Kaluna...”

Ia menutup telepon. Salindri sudah menghubungi seseorang untuk melacak nomor pengirim. Naren memeriksa kembali metadata foto di telepon Kaluna.

“Foto ini kemungkinan diambil langsung dari perangkat pengirim,” katanya.

“Bisa tahu lokasinya?”

“Datanya sudah dibersihkan.”

“Tentu saja.”

“Tapi waktu pengambilan masih ada. Kita bisa meminta rekaman kamera sekolah pada jam tersebut.”

Mereka meninggalkan kantor media dan langsung menuju sekolah Elara. Sepanjang perjalanan, Kaluna beberapa kali mencoba menghubungi Arsen. Lelaki itu hanya mengirim pesan singkat bahwa Elara masih berada di kelas dan tidak mengalami apa-apa. Kaluna lega Elara masih aman, tetapi foto itu terus terbayang di kepalanya.

Jarak pengambil gambar tidak terlalu jauh. Orang itu berdiri di luar pagar, cukup dekat untuk melihat Elara berbicara dan bergerak.

Kaluna tidak takut pada ancaman terhadap dirinya. Selama tiga tahun, seseorang telah mengambil nama, rumah, dan seluruh hidupnya.

Elara berbeda. Anak itu bahkan belum memahami siapa Kaluna dalam hidupnya. Ia tidak seharusnya ikut membayar harga atas masalah orang dewasa.

“Kita belum tahu apakah pengirim benar-benar berniat menyakiti Elara,” kata Salindri dari kursi belakang.

Kaluna menoleh. “Itu seharusnya membuatku tenang?”

“Tidak. Saya hanya tidak ingin kita bertindak berdasarkan ketakutan.”

“Dia memotret anakku di sekolah.”

“Dan itu cukup untuk dilaporkan. Tapi jangan langsung menyimpulkan bahwa mereka akan menculiknya.”

Kaluna memandang keluar jendela. “Aku tidak akan menunggu sampai sesuatu terjadi.”

Naren tidak mengatakan apa pun sampai mobil berhenti di depan sekolah. Sebuah mobil milik keluarga Mahardika sudah terparkir dekat pintu masuk. Dua petugas keamanan berdiri di samping pagar. Arsen menunggu di dalam ruang kepala sekolah bersama Veyra. Ketika Kaluna masuk, Arsen langsung berdiri.

“Aku sudah bilang jangan datang.”

“Dan aku sudah bilang Elara anakku.”

Veyra duduk di kursi dekat dinding. Wajahnya pucat. Sebuah tas kecil milik Elara berada di pangkuannya, tetapi Elara sendiri tidak tampak.

“Di mana dia?” tanya Kaluna.

“Di kelas,” jawab Veyra. “Kami tidak ingin membuatnya panik.”

Kaluna mengangguk. Keputusan itu masuk akal.

Kepala sekolah, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun, mempersilakan mereka duduk. Di atas meja terdapat salinan foto yang dikirim kepada Kaluna.

“Kami sudah meminta petugas keamanan memeriksa seluruh pintu,” katanya. “Tidak ada orang asing di dalam lingkungan sekolah.”

“Foto ini diambil dari luar pagar,” ujar Naren.

Kepala sekolah melihat kembali gambar tersebut. “Kemungkinan dari sisi timur. Ada jalan kecil di sana.”

“Apakah ada kamera?”

“Ada, tapi tidak mengarah langsung ke jalan.”

“Kamera gerbang?” tanya Salindri.

“Kami sedang menyiapkan rekamannya.”

Arsen menatap Kaluna. “Siapa saja yang tahu kamu pergi ke hotel dan kantor media hari ini?”

“Tidak banyak.”

“Siapa?”

“Naren, Salindri, orang hotel, dan pegawai media.”

“Keluarga kita juga tahu kamu sedang menyelidiki masa lalu.”

Kaluna menangkap penekanan pada kata keluarga.

“Kalau kamu ingin menuduh seseorang, katakan jelas.”

“Aku tidak menuduh. Aku mencoba memahami kenapa setelah kamu kembali, ancaman mulai muncul.”

Kaluna menatapnya dingin. “Ancaman itu muncul karena aku menemukan kebohongan yang selama ini kalian biarkan.”

“Kami bahkan belum tahu apakah semua bukti itu palsu.”

“Foto hotelnya jelas dipotong.”

“Dan itu cukup untuk membuat seseorang mengawasi Elara?”

“Jangan tanya aku. Tanya orang yang selama tiga tahun merasa semuanya aman karena aku sudah dianggap mati.”

Percakapan berhenti.

Veyra memeluk tas Elara lebih erat. “Apa kita harus membahas ini sekarang?”

Arsen menoleh kepadanya. “Kita harus tahu siapa yang membawa bahaya ke dekat Elara.”

Kaluna berdiri. “Kamu pikir aku yang membawa bahaya?”

“Aku pikir penyelidikan ini membuat seseorang terdesak.”

“Jadi aku harus berhenti?”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi kamu ingin aku diam agar rumahmu kembali tenang.”

“Jangan memutar perkataanku.”

“Kaluna,” potong Salindri. “Sekarang bukan waktunya.”

Kaluna menahan diri. Ia duduk kembali, meskipun dadanya masih terasa panas.

Veyra mengangkat wajah. “Aku tidak meminta kamu berhenti mencari kebenaran.”

Kaluna menoleh kepadanya.

“Tapi untuk sementara,” lanjut Veyra, “jangan datang ke sekolah Elara tanpa memberi tahu kami.”

“Aku tidak pernah datang diam-diam.”

“Aku tahu. Aku cuma ingin siapa pun yang dekat dengan Elara bisa diperiksa.”

“Termasuk aku?”

Veyra sempat diam. “Termasuk siapa pun.”

Kaluna paham maksud Veyra. Ia tidak melarang Kaluna bertemu Elara, hanya ingin mengatur semua pertemuan. Tetap saja aneh mendengar perempuan lain menentukan kapan Kaluna boleh mendekati anak kandungnya. Pesan ancaman itu masih ada di teleponnya. Kaluna tidak bisa menjadikan harga dirinya lebih penting daripada keselamatan Elara.

“Baik,” katanya. “Untuk sekolah, aku akan memberi tahu lebih dulu.”

Veyra terlihat sedikit lega.

“Tapi aku tidak akan menjauh dari Elara.”

“Aku tidak meminta itu.”

Arsen berdiri dekat jendela. “Mulai hari ini, sopir tidak boleh datang sendirian. Dua petugas menjaga Elara sampai situasi jelas.”

“Jangan membuat Elara merasa dikurung,” kata Kaluna.

“Aku tahu cara menjaga Elara.”

Kaluna hampir membalas, tetapi menahannya. Pintu ruangan terbuka. Seorang petugas keamanan sekolah masuk sambil membawa laptop.

“Rekamannya sudah siap.”

Laptop diletakkan di atas meja. Kamera gerbang memperlihatkan suasana pagi hari. Mobil orang tua murid datang dan pergi. Anak-anak berjalan masuk bersama pengantar. Waktu dipercepat sampai mendekati pukul sembilan.

Pada pukul sembilan lewat empat menit, sebuah sepeda motor berhenti di seberang sekolah. Pengendaranya mengenakan jaket gelap dan helm tertutup. Orang itu tidak turun.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berwarna abu-abu melewati gerbang dengan kecepatan rendah. Kacanya gelap. Kendaraan itu berhenti di bagian jalan yang tidak tertangkap kamera dengan jelas.

“Foto mungkin diambil dari mobil itu,” kata Naren.

Petugas keamanan mengangguk. “Kendaraannya berhenti hampir sepuluh menit.”

“Nomor pelatnya tampak?”

“Bagian depan tertutup kendaraan lain. Bagian belakang hanya tampak sebentar.”

Ia memutar rekaman. Mobil abu-abu mulai bergerak. Beberapa angka pada pelat terlihat, tetapi tidak seluruhnya. Salindri mencatat angka yang bisa dibaca.

“Periksa kamera toko atau rumah di jalan itu,” katanya.

“Kami akan meminta izin,” jawab kepala sekolah.

Veyra berdiri. “Aku ingin membawa Elara pulang.”

“Kelasnya belum selesai,” kata kepala sekolah.

“Aku tidak peduli.”

Kaluna memandang Veyra. Saat itu, Veyra tidak lagi bisa menyembunyikan ketakutannya. Tangannya masih memegang tas Elara erat.

“Aku setuju,” kata Kaluna. “Bawa Elara pulang.”

Arsen mengangguk kepada salah satu petugas. Veyra keluar bersama petugas keamanan untuk menjemput Elara. Kaluna tetap berada di ruang kepala sekolah. Ia ingin melihat putrinya, tetapi tidak ingin membuat keadaan semakin membingungkan. Elara mungkin akan bertanya kenapa semua orang datang menjemputnya lebih awal.

Tidak lama kemudian, suara anak-anak terdengar dari lorong. Elara muncul sambil menggandeng tangan Veyra. Ketika melihat Kaluna, langkahnya melambat.

“Kamu juga di sini?”

Kaluna berdiri. “Iya.”

“Kenapa?”

Kaluna memandang Arsen dan Veyra. Tak satu pun segera menjawab.

“Ada sedikit masalah di luar sekolah,” kata Kaluna akhirnya. “Jadi kamu pulang lebih cepat.”

“Masalah apa?”

“Orang dewasa sedang memeriksanya.”

Elara mendesah kecil. “Urusan orang dewasa lagi.”

Dalam keadaan lain, Kaluna mungkin tersenyum.

“Kali ini memang begitu.”

Elara memperhatikan wajah semua orang. “Aku bikin salah?”

“Tidak,” jawab Kaluna cepat. “Kamu tidak melakukan apa pun.”

Elara tampak sedikit tenang. Veyra menggandengnya menuju pintu. Kaluna mengikuti sampai halaman sekolah. Dua petugas keamanan berdiri di sisi mobil sebelum Elara masuk. Saat pintu hampir ditutup, Elara menoleh.

“Kamu ikut pulang?”

Kaluna sempat diam. Veyra ikut memandangnya, begitu juga Arsen.

“Tidak sekarang,” jawab Kaluna. “Aku masih harus urus sesuatu.”

Elara mengangguk, lalu duduk di samping Veyra. Mobil meninggalkan halaman dengan pengawalan kendaraan lain. Kaluna memperhatikan sampai mobil itu menghilang di ujung jalan. Kepala sekolah kembali menghampiri mereka. Ia membawa sebuah buku catatan dan tampak ragu.

“Ada hal lain yang mungkin perlu kalian ketahui.”

Arsen menoleh. “Apa?”

“Pagi tadi, sebelum foto itu diambil, seseorang sempat berbicara dengan petugas di gerbang.”

“Siapa?”

“Kami belum tahu. Orang itu tidak masuk.”

Kaluna mendekat. “Apa yang dia katakan?”

Kepala sekolah membuka buku kunjungan.

“Dia bertanya jadwal pulang Elara.”

Arsen langsung menegang. “Petugas memberi tahu?”

“Tidak. Petugas meminta identitasnya.”

“Lalu?”

“Orang itu bilang dia diutus oleh keluarga.”

“Keluarga siapa?” tanya Kaluna.

Kepala sekolah terdiam sejenak.

“Dia mengaku sebagai utusan keluarga Mahardika.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!