Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Setelah berkeliling lama..langkah liam akhirnya membawanya ke halaman belakang sekolah..mereka mulai menyusuri arena belakang sekolah itu..sampai sebuah gudang yang terkunci membuat langkah liam semakin cepat..saat membukanya, cahaya senter langsung menyorot tubuh aruna ya tergeletak di lantai.
“Aruna!!..”
__________________
Liam berlari kencang menghampiri tubuh aruna yang terbaring di lantai..pria itu langsung meraih aruna dalam pangkuanya..tatapan pria itu penuh ke khawatiran.
“Aruna..hey..”panggil liam menepuk pelan pipi aruna..tapi tak ada respon dari aruna.
“Aruna bangun..”panggil liam lagi..tapi lagi-lagi tak ada tanggapan..diana yang berada di samping liam terisak kencang.
“Una bangun una..bangun..”diana menggoncang tubuh aruna.
“Jangan di goncang..kita kerumah sakit..”ucap liam langsung mengendong tubuh aruna keluar dari sana.
.
.
“Bagaimana dok?..”tanya diana cepat saat dokter yang menangani aruna keluar dari ruang perawatan.
“Huh..”dokter itu menghela nafas kasar.
“Pasien pingsan karna kekurangan oksigen..pasien juga terlalu banyak menghirup bau lembab dan debu..kalau semakin lama disana mungkin akibatnya akan lebih fatal..untung kalian cepat membawanya kemari..”jelas dokter itu.
Mendengar penjelasan itu liam menggepalkan tanganya erat, wajahnya berubah semakin datar..sedangkan diana menunduk sedih.. dan empat teman liam hanya diam mendengarkan.
“Sekarang bagaimana kondisinya dok?..”tanya liam.
“Pasien sudah baik-baik saja..hanya perlu istirahat sebentar, dan besok sudah diperbolehkan pulang..”ucap dokter itu..liam mengangguk mengerti..setelah itu sang dokter berpamitan dari sana.
“Apa nyawa orang miskin seperti kami setidak berharga itu..”gumam diana..lima pria itu hanya terdiam tak tau harus menanggapi apa.
.
.
.
“ugh..”aruna melenguh pelan..tangan gadis itu terangkat pelan mengusap kepalanya yang terasa pusing.
Di sudut kiri dan kanan ruangan, liam dan diana sibuk dengan ponsel mereka masing-masing tanpa ada percakapan selama aruna pingsan..sedangkan empat teman liam sudah berpamitan sedari tadi..liam yang sedari tadi melirik aruna sesekali, menjadi orang pertama yang menyadari aruna sudah sadar..dengan capat pria itu bangun dan mendekati aruna.
“Pusing?..”tanya liam..aruna yang masih memijat keningnya menatap liam
“Aku dimana?..”tanya aruna.
“Lo di rumah sakit..”balas liam..diana yang baru menyadari aruna yang sudah siuman bergegas menghampiri gadis itu.
“Una..”ucap diana dramatis..dia langsung memeluk sang sahabat.
“Kamu baik-baik aja kan?..ada yang sakit gak?..atau butuh minum..”tanya diana beruntun..aruna tersenyum kecil.
“Aku baik-baik aja di..kalau minum aku mau..”ucap aruna..belum sempat diana meraih gelas air..gelas air itu sudah berada di tangan liam.
“Minum dulu..”ucap liam..aruna menurut..sedangkan diana menatap pria itu kesal.
Setelah aruna selesai minum, liam menyeka bibir aruna..membuat aruna terdiam, begitu juga diana.
“Habis ini makan ya..tadi perawat sudah nganterin makanan..”ucap liam lembut..aruna diam tak menjawab..lagi-lagi perasaan haru membuncah di hatinya mendapatkan perlakuan lembut dari liam..sedangkan diana terperangah tak percaya..dia tau mereka dekat..tapi tak menyangka liam bisa bersikap selembut itu.
Aruna makan disuapi oleh liam..berkat paksaan dari pria itu..sedangkan diana senyum-senyum sendiri di ujung sana melihat kemesraan mereka berdua..aruna merasa tak nyaman melihat senyuman aneh dari diana..tapi apa boleh buat..liam terus memaksa untuk menyuapinya.
Malam semakin larut..kini hanya tinggal mereka berdua..diana sedari tadi sudah pulang..dia merasa hanya menjadi nyamuk di ruangan itu..dia juga tak merasa khawatir lagi setelah melihat perhatian liam pada aruna..diana juga tak bertanya apapun pada aruna soal kejadian tadi.
“Sudah..sekarang tidur..”ucap liam setelah selesai mengoles salep di luka aruna..dia juga menganti plaster di luka goresan aruna..pria itu terus menghela nafas saat melihat tubuh aruna yang dipenihi luka.
“Kamu ga mau nanya?..”tanya aruna.
“Soal?..”tanya balik liam.
“Soal di gudang tadi..”jawab aruna.
“Ga perlu..gue udah tau pelakunya..”jawab liam.
“Siapa?..”tanya aruna..jujur gadis itu tak tau siapa yang menguncinya di gudang..tapi yang di curigainya sudah ada..tapi aruna tak mau berprasangka buruk pada orang lain.
“Olla..”ucap liam..satu kata itu membuat aruna menghela nafas pelan..tepat seperti apa yang di pikirkanya.
Melihat aruna yang terdiam, liam mengususap kepala gadis itu pelan.
“Sudah tidurlah..”ucap liam membaringkan tubuh aruna.
“Tunggu..”ucap aruna..dia kembali duduk dan hendak membuka kapangan rambutnya..tapi kegiatan itu lagi-lagi diambil alih oleh liam..liam membuka kepanganya dengan pelan..pria itu membelai rambut sehat aruna..lama pria itu bermain disana..membuat aruna merasa merinding.
“Kenapa harus dikepang..rambut lo bagus kalau di gerai..”ucap liam yang masih asik dengan kegiatanya.
“Aku oranganya mudah gerahan..jadi lebih nyaman kalau di kepang..ga menganggu gerak juga..”jawab aruna.
“Kalau kacamata?..”tanya liam lagi.
“Itu cuma kaca mata baca saja..kalau terlalu sering baca baku mataku bia merah..jadi aku selalu pakai kacamata, lama-kelamaan nyaman deh..begitu..bukan karna mataku minus..”jawab aruna..liam mengangguk mengerti..tapi tangan pria itu masih membelai rambutnya, padahal kepangan itu sudah terbuka sepenuhnya.
Melihat liam yang tak selesai-selesai dengan rambutnya membuat aruna merasa canggung.
“Aku ngantuk..”ucap aruna..liam langsung menghentikan aksinya.
“Tidurlah..”ucap liam..dia membaringkan tubuh aruna dan menyelimuti gadis itu.
Setelah itu liam berjalan ke sofa yang panjanganya tak sepanjang tubuhnya itu..liam merebahkan tubuhnya disana dan kembali memainkan ponselnya..aruna menatap lama tubuh liam..aruna merasa terharu dengan perhatian pria itu..tapi juga takut kembali dikecewakan kalau kehangatan dan perhatian ini cuma sesaat.
“Gimana aku ga jatuh cinta liam..aku cukup tau diri, memiliki kamu itu rasanya sungguh sangat mustahil..kamu adalah bintang bersinar yang tak akan mungkin bisa ku gapai..”batin aruna menatap tubuh liam.
Saat asik memandangi liam, tiba-tiba pria itu menoleh kearahnya..dengan cepat aruna memejamkan matanya berpura-pura tertidur.
Sedangkan di sisi liam, liam terus memandangi wajah terlelap aruna..senyum kecil terbit di bibir pria itu..entah kenapa saat bersama aruna dia selalu mudah tersenyum.
“Kenapa saat bersamanya rasanya sangat nyaman..rasanya aku terus ingin di sisinya dan melindunginya..”batin liam.
Liam lagi-lagi memotret aruna diam-diam..dan kemudian tersenyum tipis saat mendapatkan bidikan menggemaskan itu..setelah itu liam menyimpan ponselnya dan mulai memejamkan matanya.
.
.
.
TO BE CONTINUE…….