Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.
Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?
#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Pagi harinya, kondisi Fahri sudah jauh lebih baik. Demamnya turun, meski tubuhnya masih lemas. Tira sedang menyiapkan sarapan ketika ponsel Fahri yang tergeletak di meja berbunyi berkali-kali. Satu pesan masuk, lalu disusul pesan berikutnya. Tira tidak berniat melihatnya, tetapi nama pengirim yang terus muncul membuat matanya tanpa sadar melirik. Keisya. [Bang Fahri sudah mendingan? Kalau masih sakit, jangan masuk dulu. Aku agak kesulitan handle pekerjaan Abang kemarin.]
Tira mengerutkan kening. Ia tahu itu hanya urusan pekerjaan. Sangat mungkin. Tapi entah kenapa, ada rasa tidak nyaman yang muncul begitu saja. Ia kembali ke dapur dengan wajah sedikit masam.
Fahri yang sejak tadi memperhatikannya justru tersenyum. “Kenapa?”
“Enggak apa-apa.” Jawaban Tira terlalu cepat. Fahri melirik ponselnya, kemudian kembali melihat istrinya. “Cemburu?”
Tira langsung menoleh. “Siapa yang cemburu?”
Fahri tertawa kecil. “Enggak ada.”
“Ya sudah.” Tira pura-pura sibuk mengaduk minuman.
Fahri malah semakin senang menggoda. “Keisya itu junior Abang.” Tira tetap diam. “Dia kesulitan meng-handle pekerjaan Abang selama Abang sakit.”
Tira akhirnya menatapnya. “Oh.”
Hanya satu kata, tetapi Fahri tahu istrinya masih gengsi. “Jadi?”
“Jadi apa?”
"Cemburu?”
Tira mendengus. “Aku cuma heran kenapa pesannya banyak sekali.”
Fahri tertawa. “Karena pekerjaan Abang juga banyak.”
Tira ingin membantah, tetapi tidak menemukan alasan yang masuk akal.
Fahri kemudian mengambil ponselnya dan membalas pesan Keisya seperlunya. Setelah itu ia meletakkannya kembali. Entah kenapa, kecemburuan kecil itu justru membuat suasana pagi mereka berbeda. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada prasangka yang dibiarkan tumbuh. Hanya godaan kecil dari seorang suami dan wajah malu seorang istri yang baru menyadari bahwa dirinya ternyata bisa cemburu sebab cinta itu sudah begitu merekahnya.
***
Tira masih berat meninggalkan Fahri. Demamnya memang sudah turun, tetapi tubuh suaminya masih lemas dan wajahnya belum kembali segar. Ia memastikan obat, air minum, makanan, dan termometer berada dalam jangkauan sebelum akhirnya berangkat kerja.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikirannya terus tertinggal di rumah. Tira berusaha berkonsentrasi, tetapi bayangan Fahri yang terbaring sendirian membuat dadanya tidak tenang.
Baru beberapa jam bekerja, ia sudah menghubungi Fahri. Setelah mendapat kabar bahwa suaminya baik-baik saja, ia sedikit lega. Namun rasa lega itu tidak bertahan lama. Satu jam kemudian ia kembali mengecek. Lalu beberapa waktu setelahnya lagi. Setiap kali ponsel Fahri tidak segera menjawab, jantung Tira langsung berdebar. Pikirannya mulai ke mana-mana. Bagaimana kalau demamnya naik lagi? Bagaimana kalau muntah? Bagaimana kalau ia jatuh ketika mengambil air? Hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan kini terasa menakutkan. Tira bahkan beberapa kali membuka ponselnya hanya untuk memastikan tidak ada pesan dari Fahri yang terlewat. Pekerjaan di depannya terbengkalai karena konsentrasinya pecah. Ia tahu suaminya membutuhkan istirahat, tetapi rasa khawatir membuatnya sulit menahan diri.
Akibatnya, Fahri yang seharusnya tidur justru berkali-kali terbangun karena telepon dan pesan dari istrinya. Tira baru sadar setelah melihat balasan Fahri yang singkat dan kemudian tidak muncul lagi. Ia menatap layar ponselnya cukup lama. Ada rasa bersalah, tetapi kecemasannya belum juga hilang. Sejak menikah, Tira baru memahami satu hal yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sedalam ini, ketika seseorang sudah menjadi bagian dari hidup kita, sakitnya terasa seperti ancaman bagi ketenangan kita sendiri.
"Maafkan Bang, kalau aku berlebihan. Kecemasanku malah membuat kamu jadi repot sendiri." Tira bergumam dalam hatinya.
***
Hari itu Tira pulang lebih lambat dari biasanya karena ada masalah pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum meninggalkan kantor. Sejak siang pikirannya sebenarnya sudah tertuju pada rumah, pada Fahri yang masih dalam masa pemulihan setelah sakit, sehingga semakin lama pekerjaan selesai semakin besar keinginannya untuk segera pulang dan melihat suaminya.
Namun, begitu tiba di stasiun, hujan deras justru mengguyur hampir seluruh Jabodetabek. Beberapa titik mengalami banjir ringan yang membuat lalu lintas tersendat dan perjalanan KRL terlambat.
Tira hanya bisa menunggu sambil berkali-kali melihat ponselnya, berharap bisa segera mendapatkan kendaraan setelah turun di Stasiun Depok. Ketika akhirnya sampai, hujan masih turun begitu deras. Penumpang berdesakan di area pintu keluar, sebagian menunggu hujan reda dan sebagian sibuk memesan kendaraan daring.
Tira ikut mencoba memesan Gojek dan taksi online, tetapi tidak ada satu pun pengemudi yang mengambil pesanannya. Ia mencoba lagi beberapa kali, hasilnya tetap sama. Jalanan di depan stasiun terlihat penuh kendaraan yang bergerak perlahan di tengah hujan.
Tira mulai gelisah. Ia ingin cepat pulang karena tahu Fahri pasti menunggunya, tetapi malam semakin larut dan hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Di tengah kebingungan itu, seseorang berdiri di dekatnya. Tira baru menyadarinya setelah suara yang sangat dikenalnya terdengar memanggil namanya. Dimas.
Entah bagaimana lelaki itu bisa berada di stasiun pada waktu yang sama. Dimas berdiri membawa kunci mobil, lalu menawarkan untuk mengantarnya pulang. "Kalau hujan begini, bakalan sudah dapat taksi atau ojek, pulang sama aku saja Tira!"
"Enggak perlu!" Tira langsung menolak tanpa banyak bicara. Ia kembali menatap layar ponsel dan mencoba memesan kendaraan lain, seolah keberadaan Dimas tidak ada di sana. Namun, beberapa menit kemudian pesanannya kembali tidak mendapatkan pengemudi. Tira mengembuskan napas panjang, lalu mencoba sekali lagi. Tetap gagal.
"Tuh kan, masih nggak dapat juga. Ayolah ikut aku!" Dimas masih berdiri tidak jauh darinya. Ia tidak mendesak, hanya menunggu.
Sementara Tira semakin tidak nyaman karena pilihan untuk pulang semakin sedikit. Ia bisa saja menerima tumpangan itu, tetapi ia tahu membawa Dimas kembali masuk ke dalam kehidupannya, meski hanya sebatas perjalanan pulang, adalah sesuatu yang tidak ingin dilakukannya. Apalagi sekarang ia sudah memiliki Fahri, suami yang sedang menunggunya di rumah. Ponselnya kembali bergetar. Nama Fahri muncul di layar. Tira segera mengangkatnya. Suara Fahri terdengar dari seberang, menanyakan apakah ia masih di perjalanan dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Mendengar suara itu, hati Tira sedikit tenang. Ia memandang hujan deras di luar stasiun, kemudian melirik Dimas yang masih menunggu di belakangnya. Untuk sesaat Tira sadar, persoalannya malam itu bukan sekadar bagaimana caranya pulang di tengah hujan, melainkan bagaimana caranya tetap menjaga batas antara kehidupan yang sudah ia pilih dan masa lalu yang terus saja mencari jalan untuk mendekatinya.
Dimas akhirnya tidak tahan melihat Tira terus menghindarinya. “Jangan hindari aku lagi, Tir. Aku memang salah karena pernah mengabaikan kamu, tapi aku menyesal. Setelah kamu pergi, baru aku tahu betapa berartinya kamu.”
Tira yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya menoleh dengan tatapan tajam. “Diam, ya! Aku sudah menikah! Nggak malu kamu bicara seperti itu kepada istri orang?” Suaranya cukup keras hingga beberapa orang di sekitar mereka sempat menoleh.