Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Kekacauan
Farhan berjalan keluar dari rumah. Baju kaos warna putihnya masih rapi. Di tangannya tidak ada apa-apa. Ia keluar tanpa senjata apapun.
Saat tiba di pelataran, udaranya sudah terasa beda.
Udara dingin. Bau amis yang menyengat. Dan rerumputan yang basah, sedangkan malam ini sedang tidak hujan.
WUUUSSH!
Ekor Iblis Kalajengking menyambar dari atas pagar. Targetnya adalah dada Farhan.
BRAAAK!
Farhan yang tersentak kaget langsung melompat ke belakang, dan menghindar dengan cepat.
Melihat targetnya tidak terluka, membuat Kalajengking semakin murka. Ia kembali menyabetkan ekornya.
Wuuuussh!
Buto Ijo menangkis dengan menggunakan pentungan.
Traaang!
Pagar besi mengalami penyok.
"Ooooow... Main serang dari belakang? Pengecut!" bentak Buto Ijo.
Sedangkan Iblis Kalajengking melompat turun. Wujudnya hanya setengah. Badan manusia, tetapi dari pinggang ke bawah ekor kalajengking sebesar tiang listrik. Capitnya ada dua, berwarna hitam dan berlendir. Matanya merah menyala.
"Heeem...ternyata kau adalah titisan dari Eyang Getih! Sang penjaga segel! Menyingkir dari hadapanku!" desisnya.
Farhan maju selangkah. Malam ini, tiba-tiba rasa takutnya hilang begitu saja. Sejak pernikahan itu di sah kan. "Gak. Aku gak akan sentuh Kasih sebelum ruwatan selesai." jawabnya dengan lantang.
Kek kek kek!
Suara tawa yang terdengar bindeng keluar dari mulut Kalajengking.
"Bagus. Dasar degil!. Semakin kau menolaknya, semakin terasa manis darahnya nanti." sosok itu tersenyum seringai.
Tiba-tiba saja, dari atas atap, lima demit langsung turun.
Pocong loncat paling depan. Kain kafannya sudah dilapisin oleh tulisan rajahan (Tulisan kalimat mantra kuno).
Siluman Kera membawa tombak.
Sundel Bolong udah ganti lipstik merah, dan membawa dua buah pan, berbahan stainless yang tebal.
Ia melemparkannya satu ke arah Farhan.
"Bang Ganteng, tangkap ini." ia melemparkan panci itu ke arah Farhan.
Tap!
Farhan berhasil menangkapnya.
"Cuuuiih! Mau demo masak apa mau keroyokan?" cibir Kalajengking dengan meremehkan.
Bibirnya komat-kamit membaca mantra
Siluman Ular membawa centong. Sedangkan Kuntilanak Kuning membawa sapu lidi yang ujungnya sudah dibakar.
"Lingkaran!" teriak Nawang Wulan dari teras. Tiba-tiba saja ia muncul dari arah belakang.
"Hah! Mama?" ucapnya dengan nada bengong.
Sang Mama selalu saja datang dengan tiba-tiba.
Para demit langsung bikin formasi. Melindungi rumah.
Perang pecah seketika.
Iblis Kalajengking menyemburkan lendir hitam.
Byuuuurr!
Pocong menangkis menggunakan kain kafannya.
Sssssh!
Kainnya langsung berlubang dan gosong sebesar piring tepat di bagian pusarnya.
Siluman Kera melompat dari pohon mangga dan mendarat ke pagar, lalu menusuk perut Kalajengking.
CRAAASH!
Darah hitam menyembur.
Tapi ekornya menyabet.
DUAR!
Siluman Kera terpental ke tembok. Ia meringis kesakitan, sebab pinggangnya mengalami retak.
Buto Ijo mendengkus kesal. Ia melompat, dan berhadapan langsung dengan Kalajengking. "Gantian aku!"
Dia menghantam kepala Iblis dengan menggunakan pentungan.
DUG!
Iblis itu terhuyung. Tapi langsung memutar tubuhnya. Capitnya menyakar punggung Buto Ijo.
Farhan yang sedang berdiri di tengah. Ia tidak ikut memukul. Tetapi memilih duduk bersila.
Kedua matanya terpejam. Kemudian ia membaca doa yang diajarkan oleh Nawang Wulan.
"Ya Allah... jaga Kasih. Jaga rumah ini. Kuatkan aku..."
Iblis Kalajengking melihat itu dengan wajah yang murka.
"Berani kau berdoa di depanku?! Dikit-dikit ngadu, dikit-dikit ngadu." omelnya.
Ekornya lurus ke arah Farhan. Gerakannya cukup cepat.
Waktu terasa berhenti.
BUUAAAK!
Seseorang menahannya.
Tak!
Ekor Kalajengking menghantam punggungnya, dan membuat sosok penyelamat terpental.
Tubuhnya terlempar ke atas rerumputan yang terpangkas rapih.
"Errrrrgh!' erangnya kesakitan.
Farhan membuka matanya. Ia melihat sang istri yang sudah berusaha menyelamatkannya.
"KASIH!!" Farhan langsung menghampirinya.
Kasih terbatuk.cairan pekat darah mengalir dari sudut mulutnya.
Di bagian intimnya mulai berdenyut. Kutukan itu mulai meminta tumbal.
"Farhan... aku gak kuat... dia menarik aku..." bisik Kasih. "Pergilah... Jangan dekati aku. Semakin kau dekat, maka rasa ingin tidur denganmu semakin kuat," wajahnya memelas.
Iblis Kalajengking tertawa lebar. "Nah. Itu dia. Tumbal keempat. Tinggal kau sentuh dia malam ini, segel akan terbuka! Darahnya sangat manis, aku suka itu..."
Rayyan yang melihatnya langsung berteriak. "FARHAN! JANGAN!"
Nawang Wulan lempar air kembang.
BYUUR!
Air terkena wajah Iblis.
Iblis Kalajengking mengaung.
AAARGH!
Ia melangkah mundur ke arah pagar. "Ingat! Jumat Kliwon depan! Kalau kalian gak menuntaskan malam pertama... maka aku yang akan ambil paksa. Dan yang mati bukan cuma Kasih. Tapi satu kelurahan!" ancamnya dengan suara yang menggeram.
WUUUSH!
Asap hitam mengepul, lalu menghilang di kegelapan malam. Dan yang teringgal hanya lendir dan genteng yang pecah.
Suasana mendadak hening.
Farhan masih berdiri terpaku. Sedangkan Nawang Wulan menghampiri Kasih.
Ia mengulurkan tangannya, membantu sang menantu untuk bangkit, lalu memapahnya.
"Kamu gak apa-apa?!"
Kasih menggelengkan kepalanya. Lalu menangis terisak.. "Tangan aku sakit... Denyutannya semakin bertambah..."
Nawang Wulan menghela nafasnya dengan berat. "Ini tandanya. Ruwatan ketiga tidak lagi bisa kita tunda. Kita harus pergi ke danau cermin. Kalian harus berendam di sana, dan bertujuan untuk melepaskan sengkolo," ucap Nawang Wulan.
Sedangkan Rayyan menepuk punggung Farhan yang masih terbengong.
Saat sang Mama dan Kasih melintas di hadapannya ia mengendus aroma kembang melati yang cukup kuat.
Sementara itu, Buto Ijo duduk wajah memerah. Punggungnya berdarah karena terkena sabetan ekor Kalajengking. "Buset. Capek gue. Tapi untungnya menang kita."
Pocong mengangguk. "Menang pertempuran. Belum menang perang." balasnya, sembari membenahi kafannya yang bolong.
Malam ini, mereka akan berangkat menuju Danau Cermin dan melakukan ritual ruwatan ketiga, untuk membuang sengkolo.
"Farhan, kita harus pergi," Rayyan membawa puteranya yang masih bengong untuk menuju ke dalam mobil.
Nawang Wulan menyetir mobil. Mereka menuju Danau Cermin, tempat dimana akan melakukan ruwatan.
Mobil melaju cukup kencang, dan kali ini, Nawang Wulan yang mengemudi.
Ia melaju cukup kencang, dan mereka harus tiba sebelum fajar menyingsing.
Saat pukul sepuluh malam, mereka melintasi hutan yang cukup gelap. Kabut turun dengan tebal, dan kondisi cukup sepi.
Saat bersamaan, suara burung hantu bernyanyi dengan nada yang menyayat hati.
Di balik pepohonan, sekelebat bayangan melintas cukup cepat,
Wuuuussh!
Kedua mata Nawang Wulan mendadak menghitam legam.
Farhan dan Kasih berada di jok tengah, dan tidak menyadari apa yang terjadi.
Sedangkan Rayyan merasakan telapak kakinya menghangat.
"Aku merasakan sesuatu sedang mengincar dari balik kegelapan," bisiknya.
Nawang Wulan tak menjawab. Ia hanya menajamkan indera pendengarannya, dan merasa jika sosok lain sedang berusaha menggagalkan ruwatan mereka.
Wuuuussh!
Sesuatu melesat dengan cukup cepat, dan menghujam roda bagian depan.
Srrrrttt!
Roda mobil mengalami robek.
Jalanan berada di tepi jurang. Mobil mengalami oleng, dan dengan cepat, para demit mepesat menahan mobil, dan berusaha mencegahnya untuk tidak meluncur ke dalam dasar jurang
Tubuhnya sebesar rumah pihak pengembang? 🤭
Ohya Kak.. si Gita dan suaminya, orang yang pertama kali bawa Kasih ke panti asuhan ketika Kasih masih bayi, kok nggak di munculin sih..
Apa dia mereka beda kota dengan tempat tinggal Kasih.. 😌
dn benar kah JK Wulan kalah dr si iblis ❓😱
Roro Penguk alias Kun Hit mmg benar-benar iblis jahat 🤬😡