Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34 ; Arga Panik
Suasana di jalan desa masih dipenuhi ketegangan. Beberapa warga belum beranjak. Mereka masih memandangi arah mobil hitam yang telah menghilang di ujung jalan.
Salah seorang warga menggeleng pelan. "Kalau melihat kejadian tadi, sepertinya ini bukan kejadian biasa."
Warga lain mengangguk. "Benar. Mereka jelas sudah merencanakannya."
Seorang pria yang berdiri di samping Rudi tiba-tiba berkata, "Jangan-jangan..."
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Jangan-jangan ini ulah Bu Sulastri."
Mendengar nama itu, beberapa warga mulai berbisik.
"Bu Sulastri?"
"Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Kita semua tahu dia tidak pernah menyukai Winarsih."
Seorang warga perempuan mengangguk. "Bahkan dia pernah bilang kepada beberapa orang bahwa Winarsih tidak pantas tinggal di desa ini."
Rudi yang sejak tadi menahan sakit di bahunya ikut menatap warga.
"Tapi jangan langsung menuduh," ujar seorang warga yang lebih tua. "Kita tidak punya bukti."
"Iya. Tapi siapa lagi yang tidak suka dengan Winarsih."
Suasana kembali hening.
Winarsih yang sejak tadi berdiri di samping Rudi perlahan mengangkat wajah. Winarsih menarik napas panjang. "Jangan menuduh Bu Sulastri hanya karena dia membenci saya."
"Tapi, Nak..." seorang warga mencoba menyela.
"Saya memang tahu Bu Sulastri tidak menyukai saya." Suara Winarsih bergetar. "Saya juga tahu dia ingin saya pergi dari Desa Sekar Sari." Ia menundukkan kepala. "Tapi... apakah mungkin dia sampai menyuruh orang untuk mencelakai saya?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rudi menatap Winarsih dengan prihatin. Namun dalam hati, ia sendiri merasa curiga. Sulastri memang memiliki alasan untuk membenci Winarsih. Bahkan beberapa hari terakhir wanita itu terus berusaha membuat Winarsih meninggalkan desa. Tetapi apakah kebenciannya sudah sejauh itu?
"Yang penting sekarang, Mbak harus pergi dari sini dulu," kata Rudi akhirnya.
Winarsih menatapnya. "Ke mana Mas?"
"Kita harus ke pabrik."
"Ke pabrik?"
"Iya. Di sana ada banyak pekerja. Ada Juragan Warso juga. Mbak akan lebih aman di sana daripada Mbak harus kembali ke kontrakan."
Winarsih akhirnya mengangguk. "Baik, Mas."
Rudi kemudian mengambil motornya yang sempat terjatuh. Bahunya masih terasa sakit, tetapi ia tidak mempedulikannya.
"Naik, Mbak."
Winarsih kembali duduk di belakang motor. Sebelum berangkat, salah seorang warga menghampiri mereka.
"Hati-hati, Nak."
Winarsih mengangguk. "Terima kasih, Pak."
Motor pun kembali melaju.
Kali ini Rudi tidak mengambil jalan yang terlalu sepi. Ia memilih jalur yang lebih ramai dan sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada kendaraan yang mengikuti.
Winarsih masih memeluk tasnya erat. Wajahnya pucat, pikirannya tidak berhenti memutar kejadian tadi.
"Mas Rudi..."
"Iya, Mbak?"
"Kalau tadi warga tidak datang..." Winarsih tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Rudi terdiam sejenak. "Jangan pikirkan itu dulu."
"Tapi saya takut."
"Saya mengerti." Rudi mempererat genggamannya pada setang motor. "Yang penting sekarang Mbak sudah aman."
Beberapa menit kemudian...
Motor Rudi akhirnya memasuki halaman Pabrik Roti milik Juragan Warso.
Brum...
Rudi mematikan mesin, winarsih segera turun.
Begitu melihat wajah Winarsih yang pucat dan Rudi yang memegangi bahunya, beberapa pekerja langsung menghampiri.
"Kenapa, Mbak Winarsih?"
"Terjadi sesuatu?"
Winarsih belum sempat menjawab, Juragan Warso keluar dari dalam pabrik. "Winarsih?" Tatapannya langsung berubah ketika melihat keadaan mereka. "Ada apa?"
Rudi menarik napas panjang. "Juragan, tadi di jalan kami dihadang beberapa orang."
Juragan Warso mengerutkan kening. "Di hadang?"
"Iya."
Rudi kemudian menceritakan semuanya.
Mulai dari tiga pria bertutup wajah yang menghadang mereka, usaha membawa Winarsih ke mobil hitam, sampai warga datang dan membuat para pelaku melarikan diri.
Wajah Juragan Warso berubah serius. "Jadi mereka benar-benar ingin membawa Winarsih?"
Rudi mengangguk. "Kalau warga tidak datang, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Mbak Winarsih."
Juragan Warso menatap Winarsih. "Kamu tidak terluka?"
Winarsih menggeleng. "Tidak, Juragan."
Namun Juragan Warso melihat tangan Winarsih yang masih gemetar. Ia langsung menghela napas. "Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati lagi.."
Winarsih mengangguk pelan.
"Untuk sementara kamu tetap di sini dulu."
"Tapi saya harus bekerja juragan..."
"Pekerjaan bisa menunggu." Nada Juragan Warso tegas. "Keselamatanmu lebih penting."
Winarsih tidak bisa membantah. "Iya, Juragan."
Juragan Warso kemudian menoleh kepada Rudi. "Kamu juga harus memeriksakan bahumu."
Rudi tersenyum kecil. "Nanti saja, Juragan."
"Jangan keras kepala."
Rudi akhirnya mengangguk. "Baik."
Juragan Warso kembali memandang Winarsih. "Kamu duduk dulu di ruang kantor. Jangan keluar sebelum keadaan benar-benar aman."
"Iya Juragan."
Winarsih mengikuti seorang pekerja menuju ruang kantor. Setelah Winarsih pergi, wajah Juragan Warso berubah semakin serius. Ia mengeluarkan ponselnya, ada satu orang yang harus segera mengetahui kejadian ini.
Dokter Arga, Juragan Warso membuka kontak Arga dan mulai mengetik pesan.
Dokter, saya harus memberi tahu sesuatu. Pagi tadi Winarsih dihadang beberapa orang tak dikenal saat menuju pabrik. Mereka berusaha membawa Winarsih menggunakan mobil. Untungnya warga datang dan menggagalkan mereka. Winarsih sekarang berada di pabrik dan dalam keadaan aman, tetapi masih sangat ketakutan.
Juragan Warso membaca pesan itu sekali lagi sebelum menekan tombol kirim.
Terkirim.
Ia kemudian menatap layar ponselnya dengan wajah cemas. "Semoga Dokter Arga segera membaca pesan ini."
Di dalam ruang kantor, Winarsih duduk diam sambil memeluk tasnya. Tatapannya kosong, ia masih belum bisa menghilangkan bayangan mobil hitam tadi dari pikirannya.
Sementara itu, jauh di kota...
Ponsel Arga yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.
Drrrttt...
Arga yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung mengambilnya. Begitu membaca nama Juragan Warso, ia membuka pesan tersebut.
Namun baru beberapa baris membaca...
Wajah Arga langsung berubah. "Apa?" Ia membaca pesan itu sekali lagi, kemudian berdiri dari kursinya. "Winarsih hampir diculik?" Tangannya mengepal.
Rasa khawatir yang sejak semalam memenuhi pikirannya kini berubah menjadi kepanikan. Arga masih berdiri di tengah ruang kerjanya. Pesan dari Juragan Warso terus terpampang di layar ponselnya.
Winarsih hampir diculik.
Kalimat itu membuat pikirannya tidak tenang. Bahkan kedua tangannya masih mengepal erat. Tanpa membuang waktu, Arga langsung mengambil ponselnya dan menghubungi asistennya.
Tut... tut...
Panggilan tersambung.
"Raka, apa kamu masih di kantor?"
"Masih, Dok. Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong urus surat tugas saya secepat mungkin."
Raka terdengar sedikit terkejut. "Surat tugas? Bukankah Dokter baru akan mengurusnya siang ini?"
"Tidak bisa Raka." Nada suara Arga terdengar tegas. "Saya harus kembali ke Desa Sekar Sari sekarang."
"Apakah ada masalah, Dok?"
"Ada keadaan darurat, jadi saya tidak bisa menunggu sampai besok."
"Baik, Dok."
"Tolong urus surat tugasnya sekarang. Kalau proses administrasinya belum selesai, minta bagian administrasi mengirimkan dokumennya melalui email. Saya akan menyelesaikan sisanya dari Desa Sekar Sari."
"Baik, Dok. Akan segera saya urus."
"Oh ya Raka... jangan beri tahu siapa pun selain orang tua saya kalau saya harus pergi mendadak."
Raka mengangguk meski Arga tidak dapat melihatnya. "Baik. Saya mengerti."
Panggilan pun berakhir.
Arga masih berdiri beberapa saat. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya hanya tertuju pada satu orang... Winarsih.
Arga mengembuskan napas panjang. "Kenapa kamu harus mengalami semua ini, Mbak?"
Ia segera meraih kunci mobil yang terletak di atas meja.
Beberapa jam kemudian...
Arga tiba di apartemennya. Begitu pintu terbuka, ia langsung masuk tanpa membuang waktu. Ia membuka lemari dan mulai mengambil beberapa pakaian dan beberapa perlengkapan pribadi. Semuanya dimasukkan ke dalam koper dengan cepat.