Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24.
Di dalam ruangannya, Pak Anton masih berdiri diam menatap pintu, di mana Kahiyang baru saja keluar. Wajahnya merah padam karena marah sekaligus malu. Ucapan wanita itu barusan terus terngiang-ngiang di telinganya. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang terlihat pendiam dan sederhana itu ternyata telah bersuami, apalagi dia bilang suaminya orang penting di perusahaan induk.
Kini pria itu terduduk di kursinya dengan tangannya mengepal kuat di atas meja, sementara layar ponselnya masih menyala menampilkan rekaman percakapan barusan. Dia memang sengaja merekam semuanya, berniat mengancam Kahiyang nanti agar wanita itu diam dan menuruti kemauannya.
Sebenarnya sudah lama dia mengincar Kahiyang demi kesenangannya, sejak dirinya dipindahkan menjadi kepala divisi audit keuangan. Akan tetapi, tak pernah ada kesempatan mendekatinya karena Rafa yang selalu berada di sekitarnya. Dan sekarang setelah pemuda culun itu dimutasi kesempatan itu datang. Namun, dia tak berhasil meluluhkan wanita itu membuat rencananya gagal total.
"Dasar perempuan tak tahu diuntung... berani-beraninya dia menolakku!" geramnya pelan, lalu segera menyembunyikan ponselnya ke dalam saku. Tidak boleh ada orang yang tahu tentang rekaman itu, apalagi sampai tersebar ke seluruh kantor. Dan jika benar suami Kahiyang orang berkuasa, posisinya sendiri bisa terancam hancur.
"Tidak, ini tidak benar. Ia pasti cuma mengarang cerita untuk mengancamku. Mana mungkin ada pemuda yang mau sama perawan tua seperti dia?"
Pak Anton menyeringai tipis, isi kepala yang kotor mulai menyusun rencana licik.
....
Sementara itu, waktu berlalu terasa sangat lambat bagi Kahiyang. Ia berusaha fokus dengan pekerjaannya, sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangannya, berharap jam pulang kerja segera tiba. Jantungnya masih berdegup kencang, jika mengingat apa yang terjadi barusan. Ingin sekali ia lekas menceritakan kejadian barusan pada Sultan, tetapi di sisi lain ia juga takut suaminya akan marah dan bertindak nekat. Ia sadar betapa berkuasanya Sultan dan betapa laki-laki itu sangat melindunginya.
"Ya Tuhan, aku tak bermaksud mengambil keuntungan dari pernikahanku dengan Rafa. Tapi, hanya itu satu-satunya cara untuk membuat laki-laki b4j!ng4n seperti dia berhenti bertindak semena-mena padaku," gumamnya dalam hati, sembari menepuk-nepuk dadanya pelan.
Di sampingnya Selbi yang masih memendam rasa penasaran, sesekali menatap Kahiyang dengan raut khawatir. Ia sempat mendengar suara pintu tertutup keras tadi, dan melihat wajah Pak Anton yang terlihat sangat marah dari celah pintu yang sempat terbuka sedikit.
"Kamu yakin nggak apa-apa, Ay?" tanyanya sambil menyodorkan segelas air mineral yang masih utuh.
"Aku sempat lihat tadi Pak Anton kayak marah gitu. Emang kamu bilang apa sama dia?" tanyanya lagi tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Kahiyang menerima air mineral tersebut. Ia menancapkan sedotan kecil lalu meminumnya seteguk guna membasahi kerongkongannya. Setelahnya wanita itu tersenyum tipis berusaha menenangkan rekannya. "Cuma salah paham sedikit, kok. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayo, kita lanjut kerja saja, ya."
Selbi mengangguk pelan meski rasa penasarannya masih mengganjal, tetapi ia tak bisa memaksa lalu kembali ke pekerjaannya.
Hingga akhirnya jam kerja selesai. Semua karyawan mulai berkemas. Kahiyang segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Ia berjalan cepat keluar dari ruangannya tidak ingin bertemu lagi dengan Pak Anton.
Sesampainya di luar, ia melihat mobil hitam mewah terparkir di pinggir jalan, agak menjauh sedikit dari gerbang kantor. Kahiyang langsung berjalan menuju ke sana dan masuk ke dalam mobil dengan lega.
Sultan yang duduk di kursi pengemudi langsung menoleh. Bisa dia lihat wajah istrinya tampak lelah dan tegang seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa wajahmu pucat begitu? Ada masalah di kantor?" tanya Sultan lembut, lalu mulai menjalankan mobilnya.
Kahiyang menghela napas panjang, lalu menoleh menatap laki-laki di sampingnya itu. Ada sedikit keraguan, tetapi rasanya ia tidak sanggup menyembunyikan hal ini sendirian.
"Tadi aku terlambat sampai di kantor, trus dipanggil Pak Anton," jawabnya pelan.
Tangan Sultan yang memegang setir sedikit mengencang. "Terus apa yang dia lakukan atau katakan padamu? Apa dia memarahimu?"
Kahiyang menggeleng, lalu menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutup-tutupi termasuk pelecehan verbal yang atasannya itu lakukan padanya. Ia juga bercerita terpaksa bilang bahwa suaminya adalah orang penting di perusahaan induk demi membuat laki-laki itu mundur.
Sepanjang Kahiyang bercerita, wajah Sultan berubah drastis. Awalnya tenang, kini tatapannya berganti tajam dan dingin. Rahangnya mengeras menahan amarah yang siap meledak. Di benaknya sudah terbayang apa yang akan dia lakukan pada orang bernama Anton itu.
"Apa dia berani menyentuhmu?" tanyanya dengan suara rendah yang terdengar mengerikan, meski nada suaranya tenang.
"Belum sempat, sih. Karena aku langsung menggeser tubuhku tepat waktu. Lalu aku segera pergi," jawab Kahiyang cepat, takut Sultan salah paham. "Tapi, aku takut... dia akan membalasku karena tadi sudah menolaknya dan membentaknya."
Sultan menepuk pelan tangan Kahiyang yang ada di atas pangkuan, berusaha menenangkan, tapi sorot matanya masih penuh amarah.
"Kamu sudah melakukan hal yang sangat berani dan benar, Ayang. Kamu nggak perlu takut apa pun. Ingat apa yang selalu aku katakan? Selama kamu bersamaku, nggak ada seorang pun yang boleh menyakitimu atau berbuat kasar padamu," ucap Sultan tegas.
"Terus bagaimana sekarang, Raf? Nanti kalau dia makin jahat sama aku, gimana?" Ada raut cemas tampak pada wajah wanita tersebut.
Sultan tersenyum miring, senyum yang biasa muncul pada saat dirinya sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan musuhnya. Ia menoleh sebentar menatap Kahiyang.
"Dia nggak akan punya kesempatan untuk berbuat jahat lagi. Mulai besok, kamu tak perlu pusing memikirkan Pak Anton atau pekerjaanmu di sana. Biarkan aku yang mengurus semuanya."
"Orang macam dia nggak boleh terlalu lama bersembunyi di balik jabatan dan sekarang saatnya dia mendapatkan apa yang pantas dia terima."
Kahiyang menatap Sultan bingung, tetapi ia percaya sepenuhnya pada suaminya. Ia hanya berharap masalah ini selesai tanpa menimbulkan keributan besar.
...
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah mewah Pak Anton, laki-laki itu sedang duduk santai di ruang kerjanya. Dia kembali memutar rekaman suara dari ponselnya. Ia tersenyum licik. Meskipun tadi ia kalah mulut, ia punya senjata lain.
"Kamu pikir dengan bilang suamimu orang besar, aku akan takut? Kita lihat saja, Kahiyang. Kalau aku tidak bisa memilikimu, aku akan pastikan kamu juga tidak bisa bekerja tenang di sana. Rekaman ini akan berguna sekali untuk menjatuhkanmu kalau kamu berani lapor ke siapa pun," gumamnya sendiri sambil tertawa kecil.
Dia belum tahu, bahwa di saat yang sama, namanya sudah masuk ke dalam daftar hitam Sultan Rafsanjani. Dan bagi Sultan, menjatuhkan seseorang yang posisinya jauh di bawahnya hanyalah hal yang sangat mudah, seperti membalikkan telapak tangan saja.
Besok pagi, sesuatu yang besar pasti akan terjadi di kantor cabang itu. Dan takdir Pak Anton sudah ditentukan sejak pria berani bersikap tidak sopan pada wanita milik Sultan.
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan
ayang baru sadar kalo Rafa itu CEO, kamu aja shock apalagi nanti keluarga besar mu,🤭