"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 24
"Nggak, dia nggak mendapatkan hal yang lebih dari aku. Nyatanya Oza ada di sisiku."
Trisna mengepalkan tangannya dengan erat, dia juga semakin mengeratkan tangannya yang menggamit lengan Oza saat berjalan dari tempat parkir menuju ke gedung LT. Lagi, semua orang memuji betapa harmonisnya pasangan tersebut.
Trisna semakin tersenyum lebar, begitu pula dengan Oza. Pria itu bersikap biasa saja. Saat sarapan dan juga di mobil, Oza tak bicara apapun. Malah terkesan semakin dingin. Raut wajahnya berubah ketika keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung.
"Aku harap kamu nggak ngomong sembarangan atau sengaja menebar rumor," bisik Oza tepat di telinga Trisna sebelum masuk ke ruangannya sendiri.
"Entahlah," jawab Trisna sambil tersenyum tipis.
Oza membuang nafasnya kasar, di masuk ke ruangan begitu saja tanpa menengok kembali ke arah istrinya.
Klak!
Pintu di tutup, Trisna duduk di kursinya dan menyandarkan tubuhnya. Ia yakin bahwa Oza juga tertarik merengkuh tubuhnya, tapi pria tersebut seolah membentengi dirinya dengan sikap dinginnya.
"Apa bener karena Rhea dia bersikap kayak gitu?" gumamnya lirih.
"Eh tau nggak, Bu Rhea karyawan baru itu, aku beneran iri deh. Dia bisa jalan-jalan ke luar negeri bahkan di hari pertamanya bekerja."
Trisna memicingkan matanya ketika ada yang menyebut nama Rhea. Namun dia tidak berniat untuk mendengarkannya lebih lanjut lagi. Akan tetapi, nama Rhea menjadi sangat sering disebut dan mendapat pujian.
Trisna memejamkan matanya sejenak, ada rasa panas dalam dadanya. Ia pun akhirnya berdiri dan menghampiri rekan kerjanya yang tengah membicarakan Rhea.
"Ngobrolin apa sih? Seru amat deh kayaknya."
Trisna tersenyum, dia menyandarkan tubuhnya pada meja milik rekan kerjanya itu.
"Ah itu lho, Bu Rhea," jawab si rekan kerja.
"Oh soal dia yang udah ke Eropa itu ya. Yaah wajar aja dia ke sana, kan dia dibawa sama Pak Bos. Kalau bukan karena Pak Bos kan nggak mungkin dia langsung ke sana," ujar Trisna. Dia berkata seperti itu sambil tersenyum.
"Bener juga ya, tapi Bu Rhea bisa begitu kan karena kemampuannya juga. Kalau nggak punya kemampuan, ya nggak mungkin lah diminta ikut. Karena setahuku Pak Nayaka itu bukan orang yang meletakkan seseorang di sisinya tanpa kemampuan. Lihat aja Pak Tono, betapa kompetennya dia. Jadi Bu Rhea pastilah orang yang mampu dan kompeten."
Tangan Trisna langsung mengepal erat mendengar Rhea mendapat pembelaan. Rahangnya juga mengeras. Tak ingin ekspresi wajahnya dilihat oleh rekan kerjanya, ia pun bergegas kembali ke kursinya tanpa berkata apapun.
Sesampainya Trisna di meja kerjanya sendiri, ia lalu menyalakan layar komputer dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Akan tetapi setiap tulisan yang di ketiknya selalu salah.
"Sialan, kenapa dia harus selalu muncul buat jadi pengganggu. Nggak dulu, nggak sekarang, dia selalu ganggu ketenangan hidupku. Huft!"
Trisna mengusap wajahnya kasar, dia kembali teringat saat masa SMA dulu. Rhea memang cantik dan berprestasi. Dia kerap mendapat ditunjuk untuk mengikuti olimpiade. Rhea juga mendapatkan beasiswa selama sekolah. Semua orang menyukai Rhea baik laki-laki atau perempuan.
Awalnya Trisna tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun saat kelas dua, sebuah hal membuat Trisna mulai merasa benci dan iri kepada Rhea. Pria yang disukainya ternyata mengutarakan cinta kepada Rhea. Sejak saat itu, Trisna merasa kesal setiap kali Rhea mendapat pujian. Padahal waktu itu Rhea menolak pria tersebut.
Rasa inferioritas Trisna bergulir dan berkembang hingga mereka kuliah.
Saat dirinya berhasil masuk LT, Trisna sangat bangga dan membanggakan pencapaiannya tersebut kepada Rhea.
Terlebih dia tahu betul bahwa Rhea sangat ingin bekerja di LT.
"Akhirnya ada hal yang nggak bisa kamu raih, tapi aku meraihnya."
Itulah yang ada dalam hati Trisna. Dan setelah Rhea lulus lalu menanyakan pekerjaan di LT, dengan lantang dan tegas Trisna berkata bahwa tak ada pekerjaan yang sesuai dengan lulusan Rhea.
Sekarang, melihat Rhea ada di perusahaan yang sama dengannya bahkan posisinya lebih tinggi darinya, Trisna kembali merasa kesal.
"Kenapa, kenapa kamu selalu mendapat apa yang kamu inginkan. Aaah tidak, kamu nggak bisa mendapatkan Oza karena Oza sekarang adalah milikku."
Trisna tersenyum, ia menegakkan tubuhnya dan mulai kembali lagi bekerja.
Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda, Rhea tengah menatap layar laptopnya. Ia mengerutkan kedua alisnya membaca sebuah laporan.
Pemasaran, pada file tersebut tertulis judul yang memuat segala isi di dalamnya.
"Pak Ton," panggil Rhea. Dia lalu beranjak dari tempatnya dan menuju ke meja Tono sambil membawa laptop.
"Apa ini adalah rencana pemasaran yang akan digunakan untuk membuat memasarkan perusahaan kita dengan pasar luar negeri?"
"Ah ya bener, kenapa Mbak Rhea? Apa menurut kamu ada yang kurang?"
Tono melihat ke arah Rhea, ia bisa melihat wajah Rhea tengah menatap lurus ke arah layar laptop. Wanita itu terdiam sejenak.
"Jika untuk pasar Asia memang bagus, Pak. Tapi untuk pasar Eropa, kita hanya akan mendapatkan keuntungan yang sedikit. Setelah kemarin saya bertemu dengan Tuan Raphael dan mendengar perundingan serta ikut juga di dalamnya, saya sedikit mengerti tentang keinginan pengguna jasa pada perusahaan Eropa. Dan dengan susunan ini, sepertinya tidak akan masuk Pak Ton."
Bibir Tono langsung membentuk sebuah lengkungan. Dia menganggukkan kepala.
"Jadi, enaknya gimana Mbak Rhea?" tanyanya.
"Kayaknya harus di susun ulang. Kita juga harus sesuaikan dengan bagian keuangan, karena hal itu yang akan memengaruhi lancarnya proses negosiasi. Dan tentunya promosi juga harus dilakukan dengan tepat."
"Setuju, ayo kita temui Pak Bos."
Tono berdiri, dia mengajak Rhea untuk menemui Nayaka. Tono juga langsung menyampaikan apa yang tadi dikatakan oleh Rhea.
"Jadi maksudmu, ini salah?" tanya Nayaka. Matanya mengarah ke Rhea.
"B-bukan salah Pak, tapi perlu dikaji ulang," jawab Rhea.
"Sama aja. Itu namanya salah. Panggil Kabag Pemasaran ke sini."
Tono merogoh ponselnya dari saku celana. Dia lantas menghubungi penanggungjawab pemasaran LT.
Tak butuh waktu lama orang tersebut datang. Suara ketukan pada pintu menunjukkan kedatangannya.
"Permisi Pak, saya Oza dari Kabag Pemasaran," ucapnya dari depan pintu.
"Masuk," sahut Nayaka.
Oza membuka pintu secara perlahan. Matanya yang langsung mengarah ke Nayaka seketika membelalak saat melihat Rhea yang berdiri persisi di samping kiri Nayaka. Dadanya berdegup kencang. Oza kemudian memfokuskan tatapannya kembali kepada Nayaka.
"Apa ada yang Anda butuhkan, Pak?" tanya Oza. Jantungnya masih berdegup kencang tapi dia berusaha bersikap tenang.
"Rhe, jelaskan!" ucap Nayaka
"Baik Pak. Pak Oza ya, Anda dari Kabag Pemasaran kan? Untuk bagian ini Anda harus mengkaji ulang." Rhea bicara dengan sangat tenang. Tak ada kegugupan di sana.
Degh!
Sedangkan Oza tidak demikian. Nafas pria itu berhenti sejenak, dadanya semakin bergemuruh. Ia lalu melayangkan tatapan tajamnya kepada Rhea.
"Anda tahu apa tentang pekerjaan saya."
Jeeeeng
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭