Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sore itu, suasana toko es krim di pinggir jalan utama terasa hangat.
Alisya duduk di kursi kayu dengan kaki kecilnya yang terayun-ayun gembira, menikmati cup es krim cokelat-stroberi ukuran besar pilihan ibunya.
"Enak, Sayang?" tanya Alya sambil mengusap sudut bibir Alisya yang terkena noda cokelat dengan tisu.
"Enak banget, Ma! Makasih ya, Mama!" sahut Alisya dengan mata berbinar-binar.
Ia memeluk buku gambarnya rapat-rapat di paha. "Nanti kalau Alisya dapat bintang sembilan lagi, boleh beli es krim lagi kan, Ma?"
"Tentu saja boleh. Mau bintang sepuluh pun, Mama bakal kabulin semua mau Alisya," balas Alya lembut, menyunggingkan senyum tulus yang hanya ia perlihatkan khusus untuk putri kecilnya.
Namun, tiba-tiba saja ketika suara gemuruh mesin dua sepeda motor besar berhenti mendadak di depan toko es krim.
Tiga pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam dan kacamata gelap melangkah masuk.
Salah satu dari mereka membawa amplop cokelat tebal dan langsung berjalan lurus ke arah meja Alya.
Orang-orang di sekitar toko es krim mulai berbisik panik dan buru-buru menyingkir.
"Madam Alya," sapa pria paling depan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur penghormatan yang membuat pengunjung toko terperangah.
Alya tidak terkejut. Ia menyuapkan satu sendok kecil es krim ke mulutnya dengan tenang sebelum menatap pria itu.
"Ada apa, Rendy? Bukankah sudah kubilang jangan menampakkan diri di tempat umum seperti ini?" tanya Alya datar, suaranya tetap halus namun dipenuhi ketegasan.
"Maafkan kami, Madam," ujar Rendy dengan nada sangat segan.
Ia menyerahkan amplop cokelat tersebut ke atas meja. "Ini laporan mengenai Tuan Andi dan Nyonya Ranti. Setelah aset mereka kami sita sepenuhnya sejam yang lalu, Tuan Andi berusaha menemui pihak Black Cobra untuk meminjam uang jaminan dan berencana menyewa tentara bayaran untuk merebut Putri Alisya dari Anda."
DEG.
Mendengar kata 'merebut Putri Alisya', sendok di tangan Alya mendadak terhenti di udara.
Aura hangat seorang ibu seketika lenyap, berganti menjadi hawa pembunuh.
"Apa alasan mereka ingi merebut Alisya?" tanya Alya dengan nada datar rapi penuh tekanan.
"Agar Anda bisa bekerja keras untuk membayar hutangnya ke pihak black Kobra, Andi tahu Anda sangat menyayangi putri Anda, dengan dia menahan putri Anda, ia akan mendapatkan setor setiap bulannya dari Anda untuk membayar hutang," lapor Randy.
Alisya yang merasakan perubahan atmosfer itu mendadak menghentikan kunyahannya. "Mama... om-om ini siapa?"
Alya mengelus lembut kepala Alisya, seketika menekan aura intimidasi di tubuhnya agar sang anak tidak ketakutan.
"Ini paman-paman teman kerja Mama dulu, Sayang. Alisya habiskan es krimnya ya, Mama mau bicara sebentar," kata Alya lembut.
"Iya, Ma..." Alisya kembali fokus pada es krimnya, merasa aman di bawah perlindungan ibunya.
Alya mengambil amplop cokelat itu dan menatap Rendy dengan mata yang dingin dan tajam.
"Andi benar-benar tidak tahu cara menghargai nyawanya sendiri," bisik Alya pelan namun terasa menyengat. "Di mana dia sekarang?"
"Dia sedang berada di markas tua Black Cobra di pinggiran kota, Madam. Dia memberikan sisa uangnya untuk menyewa lima belas orang bersenjata," jawab Rendy cepat. "Apakah perlu tim utama kami ratakan tempat itu sekarang?"
Alya diam sejenak, memandang wajah polos Alisya yang sedang tersenyum menatap gambarnya.
"Tidak perlu menyia-nyiakan pasukan utama," kata Alya dingin. "Beri tahu Leon, kunci seluruh akses keluar kota. Kirimkan pesan singkat ke ponsel Andi..."
Alya mendinginkan suaranya, memancarkan wibawa pimpinan tertinggi dunia hitam yang sesungguhnya.
"...Katakan padanya, kalau dia ingin mengambil Alisya, aku sendiri yang akan datang menjemput nyawanya malam ini."
Rendy menunduk makin dalam, merinding mendengar perintah sang Ratu. "Laksanakan, Madam!"
Pria berjaket kulit itu berbalik dan segera keluar bersama anak buahnya.
Alya menghela napas panjang, lalu kembali tersenyum manis menghadap putri kecilnya seolah tak terjadi apa-apa.
"Sudah habis es krimnya, Sayang?"
"Sudah, Ma! Bersih!" seru Alisya memamerkan cup es krimnya yang kosong.
"Pintar," Alya menggandeng tangan mungil Alisya. "Ayo kita pulang. Malam ini Mama ada sedikit 'urusan kerjaan', jadi Alisya tidur cepat ya, dan nanti akan di jaga oleh tante cantik yang bernama Lastri."
"Siap, Mama!" sahut Alisya riang tanpa curiga sedikit pun.
Di balik senyuman anggunnya, Alya menatap ke arah kegelapan malam yang mulai turun. "Andi, kau sendiri yang memilih untuk membangunkan monster yang sudah tertidur ini."