menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH, CIUMAN, DAN JANJI
Setelah melewati hari-hari yang begitu padat dan menguras energi, sebuah hari bebas yang dinanti-nanti akhirnya tiba.
Sore itu, Akira dan Yuki berjalan bersisian di sepanjang jalan setapak. Mereka menikmati momen berharga yang belakangan ini terasa seperti kemewahan. Gelak tawa kecil sesekali terdengar saat mereka saling menumpahkan cerita tentang berbagai hal konyol dan melelahkan yang mereka hadapi di sekolah maupun dunia kerja.
Langkah kaki membawa mereka ke tepi sungai yang tenang. Mereka memilih duduk berdampingan di atas rumput hijau, menikmati irama gemercik air yang mengalir jernih. Di bawah permukaan air, ikan-ikan kecil berenang bebas, selaras dengan embusan angin sore yang membelai lembut. Suasana saat itu begitu damai, seolah dunia di luar sana berhenti sejenak khusus untuk mereka.
Rasa rindu yang menumpuk selama berhari-hari membuat Yuki menjadi jauh lebih manja. Tanpa ragu, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Akira, terus mengoceh menceritakan hari-harinya. Sementara Akira hanya diam menyimak, menatap wajah Yuki dari samping dengan ukiran senyum tulus yang tak lepas dari bibirnya.
"Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini, Yuki?" tanya Akira pelan.
"Aaaah... sangat sibuk!" Yuki mengadu panjang lebar, makin mengeratkan sandaran kepalanya. "Belum lagi tugas sekolah, belum lagi urusan kerjaan dari manajer. Hari-hariku rasanya padat sekali."
Gadis itu mendongak sedikit, menatap garis rahang Akira. "Kalau kamu sendiri, bagaimana rencana ke depannya?"
Akira terkekeh pelan, melirik Yuki dengan tatapan jahil. "Untuk ke depannya... masih rahasia."
"Aaaah, tidak adil! Ayo bilang, bilang!" seru Yuki cemberut manis, menggoyang-goyangkan lengan Akira dengan manja. Tawa mereka pecah bersamaan, memenuhi suasana tepi sungai yang damai.
Namun, kedamaian itu tak bertahan lama. Langit sore mendadak berganti abu-abu pekat, dan tak berapa lama kemudian, rintik hujan turun dengan derasnya. Saat mereka memutuskan untuk berjalan pulang, pakaian mereka sudah telanjur basah kuyup.
Melihat hujan yang kian lebat dan petir menyambar di kejauhan, Akira mengambil keputusan cepat. Untuk pertama kalinya, ia ingin membawa Yuki ke tempat tinggalnya.
"Heh, mau mampir ke rumahku dulu? Nanti kalau hujannya sudah berhenti, baru kamu pulang," tawar Akira di balik suara gemuruh hujan.
Pipi Yuki langsung merona, matanya membelalak kaget. "A-apa? Tapi... bagaimana kalau ada mamamu di rumah?"
"Tenang saja, jam segini Beliau belum pulang. Masih di tempat kerja," jawab Akira meyakinkan.
Yuki menggigit bibir bawahnya sejenak, lalu mengangguk pelan dengan senyuman manis. "Ya sudah, deh..."
"Aku pulang..." seru Akira seraya membuka pintu depan rumahnya.
"Selamat datang!" sahut sebuah suara wanita dari arah ruang keluarga.
Langkah Akira dan Yuki seketika membeku. Jantung Akira serasa melompat keluar, sementara Yuki membelalak tak percaya. Ibu Akira ternyata sudah berada di rumah, duduk santai di depan TV.
"Ehh?! Ibu kenapa pulangnya cepat sekali?" tanya Akira gelagapan.
Ibunya menoleh seraya mematikan televisi. "Pekerjaan Ibu sudah selesai lebih awal, jadi langsung pulang."
Mata sang Ibu beralih ke sosok gadis yang berdiri canggung di samping putranya. Senyuman hangat nan jahil perlahan terukir di wajahnya. Sementara itu, Yuki merasa tubuhnya kaku seketika. Berdiri dengan baju setengah basah, berhadapan langsung dengan ibu dari pria yang disukainya, membuat Yuki bingung harus berbuat apa.
"Oho... siapa gadis cantik ini, Akira? Kok tidak pernah cerita sama Ibu?" goda Ibunya.
"I-Ibu! Jangan mulai, deh. Dia Yuki, teman sekolahku," potong Akira cepat dengan wajah memerah.
Yuki membungkuk patah-patah, memberi salam dengan suara mencicit malu. "S-selamat sore, Tante... Saya Yuki."
"Aduhh, manis sekali! Sudah, kalian masuk dulu, bajunya basah begitu," ujar Ibunya ramah.
Setelah meminta Yuki duduk di ruang tamu, Akira bergegas ke kamar mandi. Saat ia melangkah kembali ke area dapur, ia terhenti. Aroma harum tumisan sayur dan sup hangat memenuhi ruangan. Di depan kompor, Yuki yang mengenakan salah satu kaus kebesaran milik Akira tampak sedang mengaduk kuah sup dengan telaten. Di sampingnya, sang Ibu tertawa renyah.
"Lho, Akira? Sudah selesai mandinya?" tegur Ibunya. "Lihat ini, Yuki pintar sekali memasak. Ibu jadi punya asisten hebat sore ini."
Akira menatap Yuki sejenak, terpesona melihat tampilan sederhana gadis itu dengan kaus rumahannya. Ia berdehem canggung. "Ibu jangan merepotkan Yuki, dong. Dia kan tamu."
"Sudah, ayo duduk. Makanannya sudah siap," balas Ibunya.
Makan malam itu berlangsung hangat. Ibu Akira terus menggoda mereka, namun Yuki justru merasa makin nyaman. Ia bisa melihat dari mana sifat jujur dan perhatian yang dimiliki Akira berasal.
Seusai makan malam, hujan di luar akhirnya sepenuhnya mereda. Akira berjalan mengantar Yuki menuju jalan depan komplek.
"Ibumu... ramah dan baik banget, ya," buka Yuki pelan.
"Maaf ya kalau Ibu tadi banyak menggoda kamu," sahut Akira terkekeh.
Yuki menggeleng, senyum manis terukir jelas. "Sama sekali tidak. Aku justru senang sekali sore ini."
Yuki menghentikan langkahnya, menatap Akira dengan binar mata yang tulus di bawah pendar lampu jalan. "Terima kasih untuk hari ini ya, Akira... dan terima kasih sudah berjuang keras selama ini."
Akira tersenyum, mengangguk pelan. "Iya. Kamu juga, jangan terlalu memaksakan diri, ya."
Yuki melambaikan tangannya dengan rona merah tipis di pipi sebelum melangkah pergi. Akira berdiri di sana cukup lama, menatap punggung Yuki yang menjauh dengan perasaan lega.
Keesokan harinya di sekolah, Najime mendatangi meja Yuki untuk membahas persiapan ujian yang semakin dekat. Najime mengajak Yuki belajar bersama, namun Yuki menolak karena harus pergi bekerja sepulang sekolah.
Jam pulang sekolah pun tiba, namun Najime masih mendekati Yuki, mencoba mengobrol lebih lama. Tiba-tiba, Akira muncul untuk menjemput Yuki.
Saat mata Akira tertuju pada Najime yang berdiri terlalu dekat, tatapan Akira berubah sinis. Najime terdiam, merasakan intimidasi yang tak terucapkan, dan mulai berpikir keras tentang hubungan sebenarnya antara Akira dan Yuki.
Di perjalanan pulang, Akira masih terlihat cemburu, wajahnya tampak kesal. Yuki yang menyadari itu segera berhenti.
"Ayo duduk sebentar di bangku itu," kata Yuki sambil menunjuk sebuah kursi taman.
Setelah mereka duduk, Yuki menjelaskan semuanya tentang pembicaraan dengan Najime tadi. Namun, Akira masih enggan menatap Yuki, mempertahankan ekspresi kesalnya.
Melihat tingkah kekanak-kanakan Akira, Yuki tertawa kecil lalu mulai menggoda.
Akira tak tahan dengan godaan itu dan akhirnya menoleh. Namun saat pandangan mereka bertemu, Yuki mencondongkan tubuh dan mendaratkan ciuman manja di bibir Akira.
Akira terbelalak kaget, namun sedetik kemudian, ia membalas ciuman itu dengan lembut.
"Sekarang kamu paham kan, dan tidak usah khawatir tentang aku," bisik Yuki setelah tautan bibir mereka terlepas.
Akira merasa wajahnya memanas karena malu, namun hatinya merasa lega luar biasa. Ia sadar, biarpun mereka belum resmi berpacaran, posisi Yuki di hatinya dan posisinya di hati Yuki begitu nyata.
"Yaudah, ayo! Aku harus photoshoot hari ini, takut telat nanti dimarahi manajer galak," seru Yuki panik.
"Yaudah, hati-hati! Semangat kerjanya," ucap Akira memberikan dukungan.
Yuki berlari ke arah halte bus dan melambaikan tangan. Akira membalas lambaian itu, senyum lebar menghiasi wajahnya. "Sampai jumpa besok di sekolah!"
— TBC —