Indonesia
NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:151.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak mungkin pindah : 08

“Ada yang lagi memasak di dapur, Bu.” Ia tidak berkedip. Sosok yang memakai kebaya kutubaru polos, bawahan rok lebar, hanya terlihat bagian tubuh belakang, bergerak luwes di depan tungku perapian. Rambutnya digelung.

Seketika bulu kuduk Hamima meremang. Langkahnya teramat lambat mendekati putranya, namun dia tidak melihat sosok yang dikatakan oleh Guntur.

Area dapur kosong, sama seperti saat ditinggalkan tadi pagi. Dari sini bisa melihat jelas ke dalam dikarenakan tirai jendela ditarik ke samping, dan kaca jendela transparan.

“Pasti Ibu gak percaya, sama seperti Ayah yang bilang kalau aku bermimpi, mengada-ada,” ucapnya lirih, tadi dia menguping perdebatan kedua orangtuanya.

Guntur menurunkan plastik belanjaan di atas lantai, lalu meminta kunci rumah.

Hamima bingung harus menunjukkan sikap seperti apa. Ketenangannya perlahan terkikis, tergantikan praduga liar mulai tak terkendali.

Anak kunci dimasukkan ke lubang pintu, lalu handle diturunkan sambil di dorong sampai terbuka separuh.

Detak jantung ibu dari dua orang anak mulai berpacu, meski tidak melihat apa yang baru saja diyakini oleh Guntur, namun harum masakan berbumbu rempah dan gurihnya santan tercium tajam.

Ia menatap lekat setiap benda tertangkap oleh indera penglihatan – tak ada yang aneh, masih pada tempatnya.

“Ayo masuk, Bu! Kan, kata Ayah rumah ini gak ada penunggunya, kenapa Ibu terlihat ragu-ragu?” suara Guntur datar, setenang sorot matanya.

“Nak, kamu kenapa?” Hamima merasa tidak mengenali tatapan kosong putra sulungnya itu.

Senyum miring Guntur berhasil mengantarkan getaran takut dari ujung kaki merambat naik sampai puncak ubun-ubun. Hamima menarik kencang lengan putranya sambil mundur, lalu menyeret langkah terseok-seok menuruni teras.

“Guntur, jangan menakuti Ibu, Nak!” Bahu remaja masih diam seribu bahasa, diguncang kuat sampai badannya gemetaran. Mereka berdiri di tengah-tengah halaman.

Tangis Guntur pun pecah. Bentakan sang ibu mengembalikan kesadaran yang sempat terenggut oleh sesuatu tak kasat mata.

“Aku takut, Bu … disini gak aman. Suara tawa yang kudengar langsung semalam, sama persis seperti dalam mimpi!” suaranya terdengar letih, frustasi.

Hamima memeluk putranya sekaligus mendekap Pujiara. ‘Apa yang harus aku lakukan? Gak mungkin Guntur berbohong, dan mengada-ada.’

Bongkar loteng!

Kalimat titah itu terngiang-ngiang di kepala Hamima, membunyikan alarm bahaya dalam otaknya. Ia langsung memperhatikan bangunan berdiri menjulang. Seperti sosok angkuh!

‘Rumah ini terlalu tinggi untuk ukuran satu lantai?’ pikirannya mulai kritis seraya sepasang mata bergerak liar.

Tanpa ia sadari, kakinya melangkah pendek-pendek menuju ke halaman samping.

Guntur masih memeluk pinggang ibunya. Tidak bertanya, tak pula berani mendongak, ia senantiasa menunduk memandangi tanah.

Sembari menggandeng tangan kecil putranya, dan menggendong Pujiara — Hamima mengelilingi hunian.

Dia sampai pada bagian belakang yang sepertinya baru dibersihkan. Terdapat tumpukan rumput liar, pohon kecil-kecil tidak habis terbakar di pojokan dekat sumur tua.

Setiap pijakan kaki pada tanah, kerap kali wanita bergelar ibu itu menahan napas.

‘Halaman belakang ini sangat luas, di ujung sana apa jurang?’ batinnya bertanya-tanya. Ia berhenti di dekat sumur terbuka dikelilingi lantai semen.

“Kata Ayah, ada sungai di sana, Bu.” Jari telunjuknya teracung ke ujung halaman belakang menjorok ke samping.

“Kamu jangan coba-coba main maupun mandi di sungai, Guntur! Apalagi sendirian!” ada rasa takut dalam hati, takut putranya kenapa-kenapa.

Hamima bergerak lagi sampai ke samping bagian kanan. Dari sini, terlihat tanah menurun, dan tampak atap rumah tetangga berjarak sekitar empat ratus meter jauhnya.

‘Semisal ada apa-apa, atau terjadi sesuatu, kemungkinan mendapatkan pertolongan cepat tanggap, sangat kecil,’ rasa cemas membuat pikirannya entah kemana-mana.

Dari tertunduk, perlahan mendongak sampai matanya terkunci pada lubang ventilasi dari bahan kayu mirip jendela kaca susun.

‘Gunanya lubang angin itu apa benar untuk sirkulasi udara, tetapi mengapa di pasangi plafon?’

Ternyata tidak cuma satu ventilasi besar setinggi ukuran jendela pada umumnya, ada empat terpasang pada bagian belakang dan lima di tembok samping kanan.

“Bu ….” Pujiara merengek, badannya menggeliat dalam bopongan ibunya.

“Sebaiknya kita masuk, Nak. Adekmu mungkin gerah, gak nyaman tidur dalam gendongan.” Langkahnya tertahan, tangan tertarik kala Guntur enggan bergerak.

“Ada Ibu, Guntur, jangan takut!” ia mencoba menanamkan keyakinan pada hati putranya, bahwa dirinya sanggup melindungi mereka.

Hamima memutari rumah dari arah belum pernah dilewati sebelumnya. Halaman sekeliling hunian, bersih, hanya dedaunan kering yang gugur dari pohon buah musiman berserak di tanah keras.

Ketika sampai di teras, ibu dan anak itu sama-sama tersentak. Belanjaan yang tadi diletakkan pada lantai, raib.

Ritme jantung Hamima berlomba-lomba dengan detak jantung putranya. Bahkan Guntur bersembunyi di balik belakang tubuh sang ibu.

“Belanjaan kita kemana, Bu? Bukannya tadi disitu?” Dagunya terangkat sedikit, terarah pada lantai batas pintu utama.

“Sewaktu kamu terdiam, ibu bawa masuk ke dalam,” ia berbohong dengan perasaan cemas, dan suara terdengar berayun.

Guntur menaruh curiga, tidak bisa langsung percaya, pun enggan mengayunkan kaki.

Hamima mendorong pintu yang seingatnya tadi terbuka separuh, sekarang tertutup rapat namun tidak terkunci.

‘Syukurlah,’ batinnya lega, tiga kantong plastik tergeletak di lantai dekat satu set kursi kayu jati ukir.

Perasaan takut ditekan sedemikian dalam. Mima tidak ingin jika Guntur bertambah tak nyaman di sini. ‘Kami baru saja pindah, dan Guntur juga baru daftar sekolah. Tidak mungkin tiba-tiba memutuskan untuk pergi begitu saja.’

“Nak, tolong ambilkan bantal dan selimut tebal di dalam kamar Ibu, biar dek Ara dibaringkan di lantai selagi kita memindahkan barang dalam kardus ke lemari pakaian,” pintanya lembut.

Sejenak tampak keraguan dalam sorot mata, dan gesture gelisah. Pada akhirnya Guntur berjalan tergesa-gesa ke kamar sang ibu tanpa berani memperhatikan setiap ruang terbuka.

Hamima duduk di atas lantai pada jalur tengah arah ke dapur. Hembusan napasnya terdengar berat. Dikecupnya kening terasa hangat sang putri.

“Ini, Nyonya ….”

.

.

Bersambung.

1
Y.S Meliana
uek... pengen bgt hajar si Galih sumpil 🤨🤨🤨
myPuspa
hajarrrrrr mima si kupretttt
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
memberikan contoh yang baik 🙄 contoh yang baik macam mana? kamu saja selengki dan kamu selalu membentak mima di depan anak2nya. kamu melontarkan kata2 yang nyakitin hati mima. kamu tuduh mima selengki, padahal kamu sendiri yang selengki. terus...contoh baik macam mana yang sudah kamu ajarkan?
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hahhh siapa ini yang ngomong? kamu yang ngomong gini Galih...coba dehh, Coba tengok lagi kalau perlu berkaca dulu siapa tahu kamu lupaa dengan apa yang sudah kamu lakukan di belakang mima. mana ada seorang Guru selengki? mana ada seorang Guru memperlakukan istrinya seperti seorang pembantu, masih enak jadi pembantu masih dapat gaji. sedang mima, kamu gahulii mima, kamu suruh masakin kamu, kamu suruh hamill, melahirkann dan menjaga anak2 kamu, tapi uang nafkah saja tak pernah kau kasih. kalaupun kamu kasih cukup buat makan. Dan gitu kamu masih nuntut mima tampil cantik, sedang buat Gaya saja tak ada Dana nya. gitu kamu mau memberikan contoh yang baik buat murid2 kamu, sedang jadi kepala keluarga, jadi ayah saja kamu tak bisa memberikan contoh yang baik.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ: uneg2 sudah keluar semua kak 🤭 sekarang saatnya nonjokk mulut Galih 😆 muakkkk kali aku sama nih laki....
total 2 replies
Nining Nurjanah
jadi ikut sedih gara gara Galih gelo
Shee_👚
hayo jawab, dia sendiri yang ngelarang dia juga yang minta bantuan😏
emang laki plin-plan kaya kamu mah pantesnya di buang😂
Kaka Shanum
lawan mima terus lawan omongannya galih,balikin kata2 galih yang udah keterlaluan sama kamu...suami kok spek kayak gitu mau minta dihormati,janji aja bisa diingkari.
Shee_👚
heh galih kamu seharusnya menjadi kepala keluarga yang tegas, jangan hanya mengandalkan bantuan istrimu. kalau kamu salah yang aku ngapain minta di bela, toh semua yang di katanya Bu Yasmin kenyataan yang ada. harusnya kamu malu dah salah minta di bela😏
Shee_👚
semangat mima, selesai dan brantas para hama itu biar mereka mati semua
Shee_👚
sabar guntur, kamu anak dan abang yang kuat. nanti kumpul kembali bareng bapak baru🤭
Shee_👚
bener, pakaian mag gampang beli lagi. yang penting surat² penting dah di bawa
Shee_👚
bentar lagi bakalan di coret dari kaka🤣
siap2 galih kamu jadi dudah, eh tapi kan punya istri muda ya, pa dong panggilannya🤔
Shee_👚
orang diem juga kalau dah muak mah pasti merepet kaya petasan galih, kamu dah membangunkan singa lagi tidur jadi siap2 dia terkam🤭
ismi
lawan saja mima suami luknutmu itu
Shee_👚
terus buka janji² palsu galih. hanya omdo doang kagak da bukti buat apa.
Muhammad Arifin
ckckck...suami plin plan....
patut diganti 😆😆😆😆
Shee_👚
ogah mima juga belain laki kaya lu galih. makan ja tu ocehan mertua😂
Shee_👚
telak banget omongan ibu mertua🤣
Nann
sore ini ada updatran lg gk kak??
Y.S Meliana
alah bisa apa kamu, orang ga jelas asal usul'y tp punya sikap yg njelei bgt 🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!