“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak mungkin pindah : 08
“Ada yang lagi memasak di dapur, Bu.” Ia tidak berkedip. Sosok yang memakai kebaya kutubaru polos, bawahan rok lebar, hanya terlihat bagian tubuh belakang, bergerak luwes di depan tungku perapian. Rambutnya digelung.
Seketika bulu kuduk Hamima meremang. Langkahnya teramat lambat mendekati putranya, namun dia tidak melihat sosok yang dikatakan oleh Guntur.
Area dapur kosong, sama seperti saat ditinggalkan tadi pagi. Dari sini bisa melihat jelas ke dalam dikarenakan tirai jendela ditarik ke samping, dan kaca jendela transparan.
“Pasti Ibu gak percaya, sama seperti Ayah yang bilang kalau aku bermimpi, mengada-ada,” ucapnya lirih, tadi dia menguping perdebatan kedua orangtuanya.
Guntur menurunkan plastik belanjaan di atas lantai, lalu meminta kunci rumah.
Hamima bingung harus menunjukkan sikap seperti apa. Ketenangannya perlahan terkikis, tergantikan praduga liar mulai tak terkendali.
Anak kunci dimasukkan ke lubang pintu, lalu handle diturunkan sambil di dorong sampai terbuka separuh.
Detak jantung ibu dari dua orang anak mulai berpacu, meski tidak melihat apa yang baru saja diyakini oleh Guntur, namun harum masakan berbumbu rempah dan gurihnya santan tercium tajam.
Ia menatap lekat setiap benda tertangkap oleh indera penglihatan – tak ada yang aneh, masih pada tempatnya.
“Ayo masuk, Bu! Kan, kata Ayah rumah ini gak ada penunggunya, kenapa Ibu terlihat ragu-ragu?” suara Guntur datar, setenang sorot matanya.
“Nak, kamu kenapa?” Hamima merasa tidak mengenali tatapan kosong putra sulungnya itu.
Senyum miring Guntur berhasil mengantarkan getaran takut dari ujung kaki merambat naik sampai puncak ubun-ubun. Hamima menarik kencang lengan putranya sambil mundur, lalu menyeret langkah terseok-seok menuruni teras.
“Guntur, jangan menakuti Ibu, Nak!” Bahu remaja masih diam seribu bahasa, diguncang kuat sampai badannya gemetaran. Mereka berdiri di tengah-tengah halaman.
Tangis Guntur pun pecah. Bentakan sang ibu mengembalikan kesadaran yang sempat terenggut oleh sesuatu tak kasat mata.
“Aku takut, Bu … disini gak aman. Suara tawa yang kudengar langsung semalam, sama persis seperti dalam mimpi!” suaranya terdengar letih, frustasi.
Hamima memeluk putranya sekaligus mendekap Pujiara. ‘Apa yang harus aku lakukan? Gak mungkin Guntur berbohong, dan mengada-ada.’
Bongkar loteng!
Kalimat titah itu terngiang-ngiang di kepala Hamima, membunyikan alarm bahaya dalam otaknya. Ia langsung memperhatikan bangunan berdiri menjulang. Seperti sosok angkuh!
‘Rumah ini terlalu tinggi untuk ukuran satu lantai?’ pikirannya mulai kritis seraya sepasang mata bergerak liar.
Tanpa ia sadari, kakinya melangkah pendek-pendek menuju ke halaman samping.
Guntur masih memeluk pinggang ibunya. Tidak bertanya, tak pula berani mendongak, ia senantiasa menunduk memandangi tanah.
Sembari menggandeng tangan kecil putranya, dan menggendong Pujiara — Hamima mengelilingi hunian.
Dia sampai pada bagian belakang yang sepertinya baru dibersihkan. Terdapat tumpukan rumput liar, pohon kecil-kecil tidak habis terbakar di pojokan dekat sumur tua.
Setiap pijakan kaki pada tanah, kerap kali wanita bergelar ibu itu menahan napas.
‘Halaman belakang ini sangat luas, di ujung sana apa jurang?’ batinnya bertanya-tanya. Ia berhenti di dekat sumur terbuka dikelilingi lantai semen.
“Kata Ayah, ada sungai di sana, Bu.” Jari telunjuknya teracung ke ujung halaman belakang menjorok ke samping.
“Kamu jangan coba-coba main maupun mandi di sungai, Guntur! Apalagi sendirian!” ada rasa takut dalam hati, takut putranya kenapa-kenapa.
Hamima bergerak lagi sampai ke samping bagian kanan. Dari sini, terlihat tanah menurun, dan tampak atap rumah tetangga berjarak sekitar empat ratus meter jauhnya.
‘Semisal ada apa-apa, atau terjadi sesuatu, kemungkinan mendapatkan pertolongan cepat tanggap, sangat kecil,’ rasa cemas membuat pikirannya entah kemana-mana.
Dari tertunduk, perlahan mendongak sampai matanya terkunci pada lubang ventilasi dari bahan kayu mirip jendela kaca susun.
‘Gunanya lubang angin itu apa benar untuk sirkulasi udara, tetapi mengapa di pasangi plafon?’
Ternyata tidak cuma satu ventilasi besar setinggi ukuran jendela pada umumnya, ada empat terpasang pada bagian belakang dan lima di tembok samping kanan.
“Bu ….” Pujiara merengek, badannya menggeliat dalam bopongan ibunya.
“Sebaiknya kita masuk, Nak. Adekmu mungkin gerah, gak nyaman tidur dalam gendongan.” Langkahnya tertahan, tangan tertarik kala Guntur enggan bergerak.
“Ada Ibu, Guntur, jangan takut!” ia mencoba menanamkan keyakinan pada hati putranya, bahwa dirinya sanggup melindungi mereka.
Hamima memutari rumah dari arah belum pernah dilewati sebelumnya. Halaman sekeliling hunian, bersih, hanya dedaunan kering yang gugur dari pohon buah musiman berserak di tanah keras.
Ketika sampai di teras, ibu dan anak itu sama-sama tersentak. Belanjaan yang tadi diletakkan pada lantai, raib.
Ritme jantung Hamima berlomba-lomba dengan detak jantung putranya. Bahkan Guntur bersembunyi di balik belakang tubuh sang ibu.
“Belanjaan kita kemana, Bu? Bukannya tadi disitu?” Dagunya terangkat sedikit, terarah pada lantai batas pintu utama.
“Sewaktu kamu terdiam, ibu bawa masuk ke dalam,” ia berbohong dengan perasaan cemas, dan suara terdengar berayun.
Guntur menaruh curiga, tidak bisa langsung percaya, pun enggan mengayunkan kaki.
Hamima mendorong pintu yang seingatnya tadi terbuka separuh, sekarang tertutup rapat namun tidak terkunci.
‘Syukurlah,’ batinnya lega, tiga kantong plastik tergeletak di lantai dekat satu set kursi kayu jati ukir.
Perasaan takut ditekan sedemikian dalam. Mima tidak ingin jika Guntur bertambah tak nyaman di sini. ‘Kami baru saja pindah, dan Guntur juga baru daftar sekolah. Tidak mungkin tiba-tiba memutuskan untuk pergi begitu saja.’
“Nak, tolong ambilkan bantal dan selimut tebal di dalam kamar Ibu, biar dek Ara dibaringkan di lantai selagi kita memindahkan barang dalam kardus ke lemari pakaian,” pintanya lembut.
Sejenak tampak keraguan dalam sorot mata, dan gesture gelisah. Pada akhirnya Guntur berjalan tergesa-gesa ke kamar sang ibu tanpa berani memperhatikan setiap ruang terbuka.
Hamima duduk di atas lantai pada jalur tengah arah ke dapur. Hembusan napasnya terdengar berat. Dikecupnya kening terasa hangat sang putri.
“Ini, Nyonya ….”
.
.
Bersambung.
👻👻👻👻👻
🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
aku yakin Ara mau dijdikan tumbal tu
Krang ajar skli bapak nya
itu pasti tu kumpulan juragan sarkam yg mengamuk karna gagal
nth apa yg ada di otak Sigalih itu