Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GAUN HITAM DAN SOROT MATA LELANG

Interior Alphard hitam yang terbalut kulit mahal terasa sangat dingin akibat hembusan pendingin udara.

Di samping tempat dudukku, sebuah kotak hadiah berukuran besar dengan pita bahan sutra berwarna perak tergeletak anggun.

Kotak itu memuat gaun malam yang dikirimkan langsung atas perintah Raymond dari Kalimantan.

Aku mengulurkan tanganku, meraba kain sutra pita tersebut sebelum perlahan membukanya.

Ketika penutup kotak terangkat, sebuah gaun malam berwarna hitam pekat terhampar indah di dalamnya.

Gaun itu terbuat dari bahan beludru premium yang sangat halus, memiliki potongan strapless tanpa tali bahu yang berani, serta belahan tinggi di bagian paha kiri yang dirancang untuk memamerkan keindahan kaki jenjang.

Di dalam kotak itu juga terselip sebuah kotak perhiasan kecil berbeludru hitam yang berisi sepasang anting-anting berlian berdesain amat simpel namun memancarkan kilau murni yang mahal.

Aku tersenyum tipis.

Pria itu tahu persis bagaimana cara mempertegas kelebihan fisiku tanpa perlu terkesan murahan.

Ia ingin aku tampil anggun, memikat, sekaligus membahayakan di mata semua orang yang hadir di acara lelang malam ini.

Mobil melaju membelah kemacetan sore Jakarta menuju salah satu hotel bintang lima paling eksklusif di kawasan Sudirman.

Setelah berganti pakaian dan merias diri di presidential suite yang sudah dipesan khusus oleh Pak Herman, aku berdiri di depan cermin berukuran penuh untuk memperhatikan penampilanku.

Gaun beludru hitam itu membalut tubuhku dengan sangat presisi, bagai kulit kedua.

Potongan bahunya yang terbuka mengekspos leher jenjang dan tulang selangkaku yang mulus, sementara belahan tingginya memperlihatkan kaki kiriku saat melangkah.

Rambut hitam bergelombangku disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai jatuh di dekat pipi.

Ditambah dengan polesan lipstik berwarna merah anggur pekat di bibirku, penampilan malam ini benar-benar memancarkan aura seorang wanita misterius yang penuh percaya diri.

"Nona Clarissa sudah siap?" suara Pak Herman menginstruksi dari luar pintu suite.

"Sudah, Pak," jawabku pelan, meraih clutch kecil berwarna perak lalu melangkah keluar.

Ballroom hotel bintang lima itu disulap menjadi ruang pameran dan lelang yang teramat mewah.

Lampu-lampu gantung kristal raksasa memancarkan pendar cahaya keemasan yang menimpa ratusan tamu dari kalangan elit para pengusaha papan atas, pejabat tinggi, serta para kolektor barang seni dan perhiasan langka.

Begitu aku melangkah memasuki ruangan bersama Pak Herman, beberapa pandangan mata langsung tertuju padaku.

Bisik-bisik kagum dan penasaran mulai terdengar dari sudut-sudut ruangan.

Seorang gadis muda dengan gaun beludru hitam yang begitu menawan, berjalan dengan langkah anggun di dampingi oleh sekretaris pribadi kepercayaan Raymond Perkasa, jelas langsung menjadi pusat perhatian.

"Tuan Raymond sudah memesan meja paling depan untuk Nona," ujar Pak Herman pelan sambil membimbingku menuju area meja Bundar khusus tamu VIP di depan panggung utama lelang.

Aku mendudukkan diriku di salah satu kursi berbalut kain sutra.

Di atas meja, terdapat sebuah papan penawaran lelang bernomor 07.

*MEJA VIP TANPA IBU*

"Di mana Ibu, Pak Herman?

Apakah beliau tidak diundang ke acara ini?" tanyaku pelan sambil menyesap sedikit champagne dari gelas kristal.

Pak Herman membungkuk sedikit, berbisik sopan.

"Nyonya Siska tidak diikutsertakan atas instruksi langsung dari Tuan Raymond.

Beliau menyampaikan bahwa acara lelang perhiasan langka ini membutuhkan keputusan investasi yang cepat dan efisien, sehingga Tuan Raymond hanya memercayakan papan penawaran ini kepada Nona."

Jawaban Pak Herman membuat sudut bibirku terangkat membentuk senyuman dingin.

Raymond sengaja menyampingkan Ibu dalam acara bernilai tinggi seperti ini dan justru memercayakannya padaku.

Ibu yang selalu membanggakan statusnya sebagai istri sang konglomerat pasti akan meledak jika mengetahui bahwa ia bahkan tidak dilibatkan dalam acara yang menjadi impian para wanita sosialita Jakarta ini.

Acara lelang pun dimulai.

Seorang juru lelang pria bersetelan jas rapi berdiri di panggung utama, memandu jalannya penawaran untuk barang-barang koleksi bernilai fantastis—mulai dari jam tangan langka, lukisan klasik, hingga batu permata berukuran besar.

Di tengah-tengah acara, ponsel di dalam clutch-ku bergetar.

Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang terikat nama Raymond.

_"Posisikan dirimu untuk memenangkan item nomor 12. Jangan biarkan orang lain mengambilnya."_

Aku membaca pesan singkat itu dengan kerutan halus di dahi.

Item nomor 12?

Aku segera membuka katalog lelang tebal bersepuh emas yang berada di atas meja.

Aku membalik lembar demi lembar hingga menemukan halaman yang menampilkan foto item nomor 12.

Mata terkunci pada gambar yang tertera di sana.

Sebuah kalung rantai platina dengan liontin batu blue sapphire berukuran 15 karat berbentuk tetesan air mata.

Kilau biru pekatnya sangat memukau, memancarkan kesan dingin sekaligus memikat.

Di bawah gambar tersebut, tertera deskripsi singkat mengenai sejarah kalung bernilai puluhan miliar rupiah itu.

Tiba-tiba, juru lelang di panggung utama mengumumkan item berikutnya.

"Hadirin sekalian, kita memasuki salah satu mahakarya paling ditunggu malam ini.

Item nomor 12: The Tear of Serpent, sebuah kalung platina dengan batu safir biru murni 15 karat dari Sri Lanka.

Harga pembukaan dimulai dari angka sepuluh miliar rupiah!"

Suasana di ballroom mendadak riuh rendah.

Beberapa pengusaha kaya dan kolektor perhiasan mulai mengangkat papan penawaran mereka.

"Sebelas miliar dari meja nomor 15!" panggil juru lelang.

"Dua belas miliar dari meja nomor 22!"

Aku memegang papan penawaran nomor 07 di tanganku, menanti momen yang tepat.

Di seberang ruangan, aku menyadari seorang pengusaha paruh baya berwajah klimis salah satu saingan bisnis Raymond yang pernah kulihat di majalah finansial terus menatap ke arah mejaku dengan senyuman meremehkan sebelum mengangkat papannya.

"Lima belas miliar dari meja nomor 03!" teriak juru lelang.

Ponselku bergetar lagi di atas pangkuanku.

_"Naikkan dua kali lipat."_

Pesan singkat dari Raymond itu begitu tegas dan membakar.

Pria itu tidak peduli berapa banyak uang yang harus terbuang malam ini; ia menginginkan batu safir biru itu jatuh ke tangannya.

Aku tersenyum tipis, berdiri perlahan dari kursiku.

Langkahku yang berdiri tegak membuat seluruh pasang mata di dalam ballroom tertuju pada sosok gadis bergaun beludru hitam ini.

Dengan gerakan yang sangat anggun dan percaya diri, aku mengangkat tinggi papan penawaran nomor 07.

"Tiga puluh miliar rupiah!" suaraku keluar begitu jernih, lantang, dan tenang memecah keriuhan ruangan.

Seluruh ruangan mendadak hening seketika.

Angka lonjakan yang sangat drastis itu membuat beberapa pengusaha menahan napas.

Saingan bisnis Raymond di meja nomor 03 tampak membelalakkan matanya, tidak menyangka seorang gadis muda mewakili nama Perkasa Group akan melontarkan tawaran yang begitu agresif.

Juru lelang sampai tertahan beberapa detik sebelum memukul palu pertamanya.

"Tiga puluh miliar rupiah dari meja nomor 07!

Apakah ada penawaran lebih tinggi?"

Keheningan melingkupi ruangan.

Tidak ada satu pun kolektor yang berani menaikkan harga di atas angka gila tersebut untuk sebuah kalung safir.

"Tiga puluh miliar satu kali... dua kali... tiga kali!

Terjual kepada meja nomor 07 mewakili Perkasa Group!"

PLAK!

Suara palu ketukan juru lelang berbunyi nyaring, disusul tepuk tangan riuh dari seluruh tamu undangan.

Pak Herman yang berdiri di sampingku membungkuk hormat dengan senyuman puas di wajahnya.

Aku mendudukkan diriku kembali dengan helaan napas lega.

Namun, belum sempat rasa haru memenanginya mereda, ponselku kembali bergetar.

Kali ini bukan pesan singkat, melainkan panggilan suara langsung dari Raymond.

Aku menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga.

"Selamat atas kemenangannya, Clarissa," suara bass Raymond yang berat dan parau bergema jernih di telingaku, mengalahkan keriuhan suara tepuk tangan di sekelilingku.

Suaranya terdengar sangat dekat, seolah ia berada di ruangan yang sama.

"Terima kasih, Raymond," jawabku pelan sambil menyunggingkan senyuman tipis.

"Aku berhasil mendapatkan kalung The Tear of Serpent sesuai perintahmu.

Ibu pasti akan sangat senang saat kamu mengalungkannya di lehernya nanti."

Aku sengaja memancingnya dengan menyebut nama Ibu untuk melihat reaksinya.

Terjadi jeda keheningan yang cukup panjang di seberang telepon.

Hembusan napas halus dan berat dari Raymond terdengar sangat jelas di telingaku.

"Kalung itu bukan untuk ibumu, Clarissa," sahut Raymond lambat dan dingin, suaranya mengandung intensitas pekat yang membuat detak jantungku berdesir hebat seketika.

"Warna biru pekat dari batu safir itu... hanya cocok melingkar di leher mulus milikmu saat kamu mengenakan gaun hitam itu."

Pernyataan dari Raymond memaku tubuhku di kursi.

Tatapanku terkunci lurus ke arah panggung lelang yang dipenuhi lampu terang.

Pria 35 tahun itu memesan gaun malam ini, menyuruhku memenangkan kalung bernilai tiga puluh miliar rupiah, dan menegaskan bahwa perhiasan termahal malam ini dikhususkan secara pribadi untukku bukan untuk istrinya.

"Kamu... membelikannya untukku?" bisikku sangat pelan, memastikan pendengaranku tidak salah.

"Pak Herman akan membawamu ke ruang penyimpanan khusus untuk memeriksa barangnya," lanjut Raymond datar, mengabaikan pertanyaanku namun menegaskan keputusannya.

"Dan Clarissa... aku sudah berada di jet pribadi menuju Jakarta.

Sampai jumpa di mansion dua jam lagi."

Sambungan telepon terputus secara sepihak sebelum aku sempat membalas ucapan tersebut.

Aku menurunkan ponsel dari telingaku dengan tangan yang sedikit gemetar.

Permainan pembalasan dendam ini telah melompati batas yang kubayangkan.

Raymond tidak hanya terpancing oleh godaanku; pria konglomerat itu kini mulai melingkarkan jerat kepemilikannya padaku dengan cara yang teramat mewah dan berbahaya.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!