Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 KEMANA-MANA BERDUA
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳
Matahari pagi yang baru saja merangkak naik di ufuk timur memancarkan sinarnya yang lembut, menembus sela-sela dedaunan pohon mangga di pekarangan rumah Zaki. Udara dingin sisa embun malam berangsur-angsur menghangat, menyisakan kesegaran yang menyejukkan dada.
Namun, kehangatan pagi itu tidak hanya bersumber dari alam, melainkan juga dari debaran di dalam dada Zaki yang kini memiliki ritme yang sama sekali baru.
Semenjak malam di bawah sinar bulan purnama saat ia berhasil mengikat janji suci dengan Wiwi, hari-hari Zaki seolah berubah menjadi sebuah kanvas lukisan yang dipenuhi warna-warna cerah.
Status hubungan mereka kini telah naik tingkat. Mereka bukan lagi sekadar pemuda desa dan gadis pengantar makanan di kebun kopi, melainkan dua insan yang resmi merajut kasih dengan restu penuh dari orang tua.
Dan sejak hari itu pula, warga desa terbiasa melihat sebuah pemandangan baru yang konsisten: Zaki dan Wiwi, ke mana pun mereka pergi, selalu terlihat berdua.
Pagi yang cerah itu, misalnya.
Zaki sudah berdiri di depan rumah Wiwi dengan mengenakan kemeja flanel pudar kesayangannya. Tak berselang lama, pintu rumah bergeser terbuka, menampilkan sosok Wiwi yang mengenakan kerudung kain instan berwarna merah muda pastel, menenteng sebuah keranjang anyaman bambu kecil di tangan kanannya.
"Sampun siyap, Mas?" (Sudah siap, Mas?) sapa Wiwi dengan senyuman paling manis yang sanggup meluluhkan seluruh kepenatan Zaki.
"Udah siap dari tadi, Dek. Yuk, nanti keburu siang di pasarnya," jawab Zaki ramah, meraih keranjang dari tangan Wiwi untuk ia bawa sendiri.
Tujuan mereka pagi itu adalah pasar tradisional desa yang terletak tak jauh dari balai desa. Berjalan kaki menyusuri jalanan setapak yang dikelilingi petak-petak sawah hijau, Zaki dan Wiwi berjalan berdampingan.
Sesekali, bahu mereka bersentuhan pelan ketika menghindari genangan air sisa hujan semalam. Setiap kali sentuhan itu terjadi, Zaki akan melirik sekilas ke arah Wiwi, dan gadis itu akan membalasnya dengan tundukan kepala malu-malu yang diiringi rona merah di pipinya.
.....
.....
Sesampainya di pasar, suasana langsung riuh oleh suara tawar-menawar ibu-ibu rumah tangga dan bau khas rempah-rempah basah. Di sinilah sisi lain kebersamaan mereka terpampang nyata.
Zaki, yang dulu dikenal sebagai pemuda kota yang pendiam dan menyimpan sejuta misteri gaib, kini dengan santai menenteng kantong-kantong belanjaan berisi sayur kol, cabai merah, dan ikan asin teri di tangannya. Ia mengikuti setiap langkah Wiwi dari satu lapak pedagang ke lapak pedagang lainnya, bagaikan seorang suami siaga yang menemani istrinya berbelanja kebutuhan dapur.
Beberapa pedagang pasar yang sudah cukup mengenal mereka tak jarang melemparkan godaan-godaan kecil.
"Wah, calon pengantin anyar iki! Kemana-mana lengket terus koyo prangko karo amplope!" (Wah, calon pengantin baru ini! Kemana-mana lengket terus kayak perangko sama amplopnya!) teriak Mbok Sumi, seorang penjual bumbu dapur, yang langsung disambut gelak tawa renyah dari para pembeli lain di sekitarnya.
Wiwi yang digodain begitu, kontan menyembunyikan wajahnya di balik punggung Zaki, sementara Zaki hanya bisa tertawa lebar sambil mengucapkan terima kasih kepada para tetua pasar yang mendoakan hubungan mereka.
Tak hanya di pasar, kebersamaan mereka juga berlanjut ke dapur rumah Wiwi pada siang harinya.
Simbok—ibu kandung Wiwi—tengah sibuk menyiapkan adonan tepung beras dan gula merah untuk membuat jajanan pasar tradisional berupa kue cenil dan klepon. Menyadari bahwa Zaki kini sudah menjadi bagian dari keluarga, Simbok sengaja meminta pemuda itu untuk ikut nimbrung di dapur.
Zaki, yang awalnya canggung memegang parutan kelapa tradisional di atas bangku kecil, lambat laun mulai terbiasa. Ia duduk bersila di samping Wiwi yang sedang sibuk membentuk bulatan-bulatan kecil adonan klepon dari tepung ketan, lalu memasukkan isian gula merah di tengahnya.
"Gini ya Dek, caranya?" tanya Zaki, menunjukkan hasil parutan kelapanya yang agak tidak beraturan kepada Wiwi.
Wiwi menghentikan gerakannya sesaat. Ia menoleh, melihat hasil kerja calon suaminya, lalu tersenyum geli.
"Nggih leres, Mas... Tapi ampun terlalu atos martenah parutane, mangke tangan njenengan lecet," (Iya betul, Mas... Tapi jangan terlalu keras menekan parutannya, nanti tanganmu lecet) ujar Wiwi lembut.
Dengan inisiatif sendiri, tangan lentik Wiwi yang masih berlumuran tepung ketan terulur, merapikan sedikit helai rambut Zaki yang hampir menutupi mata pemuda itu, meninggalkan jejak putih tipis dari tepung di dahi Zaki.
Zaki tertegun sejenak, menatap mata Wiwi yang berbinar jarak dekat.
Suasana dapur yang dipenuhi uap panas dari panci rebusan air gula merah itu mendadak terasa begitu sakral dan penuh keintiman domestik.
Simbok yang melihat interaksi anak dan calon menantunya dari sudut dapur hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar, merasa bersyukur melihat putri bungsunya menemukan pendamping yang begitu sabar dan tulus.
Selesai membantu di dapur dan menikmati jajanan pasar buatan mereka sendiri, rutinitas Zaki dan Wiwi berlanjut ke tempat yang menjadi saksi bisu awal mula kisah cinta mereka: perkebunan kopi di kaki bukit.
Meskipun status mereka telah berubah menjadi pasangan yang akan menikah, profesionalisme di kebun tetap terjaga.
Di bawah naungan pohon asam jawa yang rindang, Zaki tetap mengayunkan sabitnya membersihkan gulma, sementara Wiwi membantu memilah biji kopi yang sudah disortir ke dalam karung goni kecil.
Pak Doyo, yang melihat dari kejauhan bagaimana Zaki dan putrinya bekerja berdampingan dengan penuh senyum, sering kali menghentikan pekerjaannya sejenak.
Pria paruh baya itu menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil, lalu bergumam dalam hati mensyukuri jalan takdir yang diberikan Tuhan kepada keluarganya. Tidak ada lagi beban kekhawatiran tentang masa depan putrinya; Pak Doyo tahu betul bahwa Zaki adalah pelindung yang tangguh dan setia.
Bagi Zaki, tidak ada sedetik pun dari hari-hari tersebut yang terasa membosankan.
Ke mana-mana berdua, berbagi peluh di kebun, tawa di pasar, hingga kesederhanaan di dapur rumah Wiwi, semuanya merajut sebuah mozaik kebahagiaan yang sempurna.
Ia telah melupakan sepenuhnya bagaimana rasanya hidup di tengah teror gaib ibu kota.
Dunia Zaki kini telah menyempit, berpusat sepenuhnya pada hamparan hijau desa dan senyuman tulus seorang perempuan bernama Dek Wiwi.
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya