IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Jebakan
Beberapa hari setelahnya, Liam menerima panggilan mendesak dari Nathan, detektif swasta yang telah membantunya mengungkap kebenaran mengerikan tentang rencana licik Helena dan Marcus. Suara Nathan terdengar begitu serius di telepon, jauh berbeda dari nada profesional yang biasa ia tunjukkan.
"Tuan Whitmore, kita perlu bertemu segera," ucap Nathan tanpa basa-basi. "Aku baru saja menemukan informasi baru yang cukup mengkhawatirkan."
Mereka bertemu kembali di kafe tersembunyi yang sama seperti pertemuan sebelumnya, dan kali ini, ekspresi Nathan tampak jauh lebih tegang dari biasanya ketika ia mulai menjelaskan temuan terbarunya.
"Aku berhasil merekam percakapan lain antara Helena dan Marcus tiga hari lalu," jelas Nathan, membuka laptopnya untuk menunjukkan transkrip percakapan yang telah ia rangkum dengan begitu detail. "Mereka membicarakan sebuah rencana yang jauh lebih berbahaya dari sekadar manipulasi emosional biasa."
Liam mengernyitkan dahi, merasakan firasat buruk mulai menjalar dalam dirinya. "Apa maksudmu, Nathan?"
"Berdasarkan percakapan yang berhasil kurekam, Helena dan Marcus berencana untuk mendapatkan salinan dokumen kepemilikan aset keluarga Whitmore," jelas Nathan, menunjukkan beberapa catatan yang telah ia buat. "Mereka menyebutkan sebuah berkas khusus yang berisi rincian lengkap tentang seluruh kepemilikan properti, saham, dan aset keluarga yang tidak tercatat dalam dokumen publik biasa—dokumen yang sepertinya disimpan di brankas pribadi di ruang kerjamu."
Kata-kata itu membuat Liam terdiam sejenak, mengingat kembali dokumen rahasia yang memang selalu ia simpan dengan begitu aman di dalam brankas tersembunyi di ruang kerja pribadinya, sebuah dokumen yang berisi rincian lengkap tentang seluruh warisan keluarga Whitmore yang telah diwariskan turun-temurun, termasuk berbagai aset yang sengaja disembunyikan dari catatan publik demi alasan keamanan dan pajak.
"Bagaimana mereka bisa tahu tentang dokumen itu?" tanya Liam, kekhawatiran mulai jelas terlihat dalam nada suaranya.
"Sepertinya Helena telah lama memperhatikan kebiasaanmu, Tuan Whitmore," jawab Nathan hati-hati. "Dalam rekaman tersebut, dia menyebutkan bahwa dia pernah secara tidak sengaja melihatmu membuka brankas tersebut beberapa waktu lalu, dan sejak saat itu, dia mulai merencanakan cara untuk mendapatkan akses ke dalamnya."
"Apa rencana mereka selanjutnya?" tanya Liam, suaranya mulai terdengar tegang menyadari betapa seriusnya ancaman yang sedang ia hadapi.
"Berdasarkan percakapan tersebut, mereka berencana untuk mencari kesempatan ketika kau sedang tidak berada di rumah dalam waktu yang cukup lama untuk mengakses brankas tersebut," jelas Nathan. "Helena menyebutkan bahwa dia sudah mulai mempelajari kombinasi angka yang mungkin kau gunakan berdasarkan tanggal-tanggal penting yang pernah kau sebutkan kepadanya."
Kesadaran akan betapa dalamnya rencana licik yang telah disusun Helena membuat Liam merasakan campuran antara amarah dan kekhawatiran yang begitu mendalam. Ia menyadari bahwa situasi ini telah berkembang jauh melampaui sekadar pengkhianatan emosional, kini menjadi ancaman nyata terhadap seluruh warisan dan kekayaan keluarganya.
"Aku perlu bertindak sekarang," ucap Liam tegas, pikirannya mulai bekerja dengan cepat merumuskan strategi untuk menghadapi ancaman yang begitu serius ini. "Aku akan memasang sistem pengawasan di ruang kerjaku sendiri."
...***...
Keesokan harinya, Liam menghubungi sebuah perusahaan keamanan swasta yang telah lama menjadi mitra terpercaya keluarga Whitmore untuk berbagai kebutuhan keamanan properti mereka. Ia meminta pemasangan kamera pengawas tersembunyi di beberapa titik strategis dalam ruang kerja pribadinya, termasuk sudut yang memberikan pandangan jelas ke arah brankas tempat dokumen berharga tersebut disimpan.
Teknisi keamanan yang dikirim bekerja dengan begitu hati-hati dan diam-diam, memastikan setiap kamera tersembunyi dengan sempurna di antara berbagai perabotan dan dekorasi ruang kerja tersebut, tidak meninggalkan jejak sedikit pun yang bisa menimbulkan kecurigaan bagi siapa pun yang memasuki ruangan tersebut, termasuk Helena sekalipun.
"Sistem ini akan merekam secara terus-menerus dan mengirimkan feed langsung ke ponsel Anda, Tuan Whitmore," jelas kepala teknisi tersebut setelah menyelesaikan pemasangan. "Anda juga bisa mengakses rekaman tersebut kapan saja melalui aplikasi khusus yang telah kami instal."
Liam mengangguk puas, memeriksa setiap sudut ruang kerjanya untuk memastikan tidak ada satu pun kamera yang terlihat mencurigakan. Kepuasan itu bercampur dengan kepedihan yang mendalam, menyadari betapa jauh situasi telah berkembang hingga ia harus memasang sistem pengawasan di rumahnya sendiri hanya untuk melindungi diri dari wanita yang pernah ia percayai sepenuhnya dengan seluruh hatinya.
Selain kamera pengawas, Liam juga memutuskan untuk mengganti kombinasi brankas tersebut dengan kode yang jauh lebih rumit, sesuatu yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tanggal-tanggal penting yang mungkin pernah ia sebutkan secara tidak sengaja kepada Helena selama beberapa bulan terakhir mereka bersama.
Namun ia sengaja tidak mengubah kebiasaannya secara drastis di depan Helena, tetap membiarkan wanita itu percaya bahwa ia belum menyadari apa pun tentang rencana liciknya. Liam bahkan sesekali dengan sengaja menyebutkan beberapa detail palsu tentang jadwal perjalanan bisnisnya yang akan datang, memberikan Helena kesan bahwa akan ada waktu yang tepat baginya untuk melancarkan rencananya mengakses brankas tersebut.
"Aku akan pergi ke Chicago untuk pertemuan bisnis penting minggu depan," ucap Liam suatu malam sambil makan malam bersama Helena, sengaja menyebutkan informasi yang telah ia rancang dengan begitu cermat. "Aku mungkin akan menginap di sana selama tiga hari."
Mata Helena berkilat sejenak mendengar informasi tersebut, sebuah reaksi kecil yang tidak luput dari pengamatan tajam Liam, meski wanita itu segera berusaha menyembunyikannya di balik ekspresi biasa. "Oh, benarkah? Kapan tepatnya kau akan berangkat?"
"Hari Senin depan," jawab Liam santai, meski di dalam hatinya, ia menyadari bahwa umpan yang telah ia berikan sepertinya telah berhasil menarik perhatian Helena dengan sempurna. "Aku akan kembali hari Kamis malam."
"Aku akan merindukanmu," ucap Helena dengan senyum manis yang begitu meyakinkan, meski Liam kini bisa melihat dengan jelas kepalsuan yang tersembunyi di balik setiap kata dan ekspresi yang ia tunjukkan.
Malam itu, setelah Helena tertidur, Liam duduk di ruang kerjanya, memeriksa sekali lagi seluruh sistem pengawasan yang telah terpasang dengan begitu sempurna. Ia membuka aplikasi di ponselnya, memastikan bahwa setiap sudut ruangan tersebut telah tercakup dengan baik oleh kamera-kamera tersembunyi tersebut.
"Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat," gumamnya pelan, menatap layar ponselnya yang menampilkan tampilan langsung dari berbagai sudut ruang kerjanya. "Ketika kau akhirnya mencoba mengambil apa yang bukan hakmu, Helena, aku akan memiliki bukti yang tidak terbantahkan tentang seluruh rencana liciknya."
Liam menyadari bahwa langkah yang telah ia ambil ini bukan hanya untuk melindungi kekayaan dan warisan keluarganya semata, melainkan juga sebuah langkah penting dalam mengumpulkan bukti yang cukup kuat untuk menghadapi Helena secara hukum, memastikan bahwa wanita yang telah menghancurkan begitu banyak hal dalam hidupnya, termasuk pernikahannya dengan Brooklyn yang seharusnya tidak pernah berakhir, akan menerima konsekuensi yang setimpal atas seluruh kebohongan dan manipulasi yang telah ia lakukan selama ini.
Dengan tekad yang semakin menguat, Liam menutup aplikasi tersebut dan bersiap untuk melanjutkan sandiwaranya sebagai kekasih yang penuh perhatian di hadapan Helena, sambil diam-diam menunggu momen ketika seluruh topeng kepalsuan wanita tersebut akan runtuh sepenuhnya di hadapan bukti yang tidak akan pernah bisa ia sangkal lagi.