Diana melihat suaminya mencium atasannya di mobil, kala hujan deras di depan rumah. Alih-alih minta maaf, Geo malah menceraikan Diana saat istrinya itu minta penjelasan. Bahkan kedua orang tua Geo menghina dan mengusir Diana dari rumah itu.
Tak hanya itu, Sandra wanita selingkuhan suaminya, yang ternyata adalah salah satu putri orang terpandang di kota itu, membayar orang untuk membakar toko orang tua Diana. Memaksa Diana mempercepat perceraian dan menyerahkan hak asuh anak mereka pada Geo.
Saat Diana merasa sangat putus asa dan terpuruk, karena tak punya sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan operasi ayahnya. Seorang pria datang mendekat dan berkata,
"Kamu Diana kan? mau menikah denganku? aku akan bayar semua pengobatan ayah dan ibumu. Juga mengambil kembali hak asuh putrimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sore harinya setelah memastikan kondisi ayah dan ibunya baik-baik saja, Diana pergi ke ruko yang sudah porak-poranda tak tersisa itu.
Diana tertegun diam, menatap rumah yang sudah di tempati ayah dan ibunya selama lebih dari 20 tahun itu. Rumah yang juga menjadi tempat mencari nafkah ayah dan ibunya sampai bisa menguliahkannya.
Rasanya benar-benar sakit sekali. Kenapa ada orang-orang seperti Geo dan Sandra. Sudah menghancurkan perasaan orang lain, masih bisa menyakiti sampai separah ini. Diana sudah bertanya perkembangan kasusnya pada ketua RT di tempat ayahnya tinggal. Tapi pria itu mengatakan, penyelidikan pertama dari petugas yang datang mengatakan kalau kebakaran adalah karena konsleting listrik.
Pak RT juga langsung pergi terburu-buru. Bahkan mengatakan pada Diana,
"Nak, siapapun yang kamu singgung, sudahi saja sampai disini. Orang itu mengancam warga, kasihan para warga, nak!"
Diana mengusap wajahnya, tidak hanya dirinya dan keluarganya, lalu Kinan dan keluarganya. Sekarang juga semua warga yang membantu kedua orang tuanya.
Diana terduduk di salah satu bangku, di dekat rumah orang tuanya yang sudah hangus itu. Bahkan sampai sekarang, dia juga tiga bisa menghubungi bibi Nova. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Anak yang biasanya selalu bersamanya hampir 24 jam dalam sehari.
Diana terdiam, keadilan bagi ayah dan ibunya pun tidak bisa dia perjuangkan. Sandra adalah putri orang yang berkuasa, punya uang, punya relasi, punya latar belakang yang kuat. Memperjuangkan keadilan yang menyangkut wanita itu pasti tidak mudah.
Diana menatap lurus ke arah rumah yang sudah tinggal beberapa rangka dari baja itu. Semua yang terbuat dari kayu sudah habis. Bahkan tembok juga sudah menyatu dengan tanah.
'Menikah lah denganku, tidak ada yang tidak bisa kamu lakukan. Aku akan membantu mengambil kembali hak asuh putrimu!'
Tiba-tiba saja semua ucapan pria bernama Ravindra Wiratama itu terngiang di kepala Diana.
Wajahnya terlihat serius, tatapannya yang tadinya kosong dan hanya fokus ke arah depan, berkedip beberapa kali, seolah sedang mempertimbangkan dengan seksama ucapan Ravi itu.
"Sebenarnya siapa dia?" gumam Diana.
Tadinya Diana berpikir, kalau mungkin saja pria itu adalah bagian dari rencana Sandra dan Geo untuk lebih menghancurkannya. Tapi deposit 300 juta, lalu merawat ayahnya dengan sangat baik. Sampai mendatangkan seorang dokter spesialis dari Singapura yang tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan mungkin lebih dari deposit itu. Rasanya dia tidak bisa percaya kalau orang itu punya niat jahat seperti Sandra. Apalagi semua asetnya bahkan diganti dengan nama Diana.
Meski Diana tidak tahu itu benar atau tidak, maksudnya asli atau tidak. Tapi mustahil juga kalau sampai seperti itu hanya untuk bersandiwara.
Ketika Diana sedang mempertimbangkan semua ucapan Ravi. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dan itu adalah panggilan telepon dari Mela, ibunya Kinan.
"Halo bi..."
[Diana, apa kamu bersama dengan Kinan?]
"Tidak bi, ada apa?"
[Diana, ponsel Kinan tidak bisa dihubungi. Tadi pagi dia keluar cari kerja, terus temannya bilang, dia bertengkar dengan seorang wanita bernama Sandra di perusahaan baru tempat dia melamar. Wanita itu katanya bilang padanya, kalau percuma saja dia melamar kerja dimanapun. Dia tidak akan diterima. Kata teman Kinan itu, Kinan marah dan menamparnya! setelah itu temannya tidak melihat Kinan di mana-mana, bibi juga sudah telepon tidak bisa. Bibi sudah pergi ke perusahaan itu, tapi semua security-nya bilang tidak tahu apa-apa. Diana, bibi takut...]
Terdengar isak tangis dari ujung telepon. Mela terdengar begitu ketakutan. Tangan Diana terkepal kuat, lagi-lagi Sandra. Bahkan wanita itu tidak berhenti menganggu Kinan.
"Bibi, Diana akan cari Kinan!"
[Sebenarnya bibi merasa sangat tidak enak. Kamu sendiri mengalami banyak musibah dan masalah. Tapi, Bibi sungguh tidak tahu harus bicara pada siapa lagi, tadi Bibi sudah pergi ke kantor polisi tapi katanya kalau belum dua hari, belum bisa dilaporkan sebagai orang hilang. Bibi bingung Diana, ayah Kinan masih sakit...]
"I... iya Bi, Diana akan cari Kinan" kata Diana dengan wajah yang terlihat panik.
Kinan adalah sahabatnya, dan Diana pikir pasti Kinan bertengkar dengan Sandra demi membelanya. Kinan orangnya emosian dan tidak takut siapapun.
Diana benar-benar tak punya pilihan lain. Bukankah ada orang yang mengatakan padanya, kalau tak ada yang tak bisa Diana lakukan kalau minta padanya.
Diana segera pergi ke rumah sakit, dia tidak punya kontak Ravi. Sebenarnya Ravi sudah minta kontaknya, mungkin juga sudah menyimpannya. Tak Diana belum menyimpan kontak Ravi.
Diana menemui anak buah Ravi yang tengah berjaga di depan ruangan observasi ayahnya.
"Maaf, bisa aku minta nomor tuan Ravi?" tanya Diana pada penjaga itu.
Penjaga itu tentu saja menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Nomor tuan, kami tidak punya. Tapi nomor tuan John, kami ada. Dia adalah asisten pribadi tuan Ravi!"
"Baiklah!"
Diana pun menyimpan nomor John, lalu mencoba menghubungi pria itu.
Dan tak sampai satu notifikasi berdering selesai, panggilan itu sudah langsung diterima.
[Nyonya Diana, ada yang terjadi?]
Terdengar suara seorang pria sangat panik.
"Tuan John, bisa aku minta nomor tuan Ravi..."
[Nyonya, aku akan katakan pada tuan langsung...]
Diana mendengar, John bicara dengan seseorang. Dan tak lama dia langsung mendengar suara Ravi.
[Diana, ada apa? apa ada masalah di rumah sakit? apa ada yang mengganggu mu?]
"Tuan Ravi, aku butuh bantuan..."
[Kamu dimana?]
"Di rumah sakit..."
[Tidak sampai 20 menit aku sampai disana!]
Dan panggilan itu langsung berakhir. Diana kembali terdiam.
Dari respon yang di tunjukkan oleh Ravi. Seolah pria itu akan meninggalkan semua urusannya untuk segera bertemu dengan Diana. Padahal, mereka baru saling bertemu, baru kenal ibaratnya.
Diana merasa terharu, bahkan saat dia menghubungi Geo dulu. Dia harus menjelaskan, kalau urusannya benar-benar lebih penting dari pekerjaan Geo. Baru pria itu akan pulang.
'Ternyata selama ini aku yang tidak peka, aku yang tidak sadar kalau aku bukan prioritas untuk mas Geo!' lirihnya merasa hatinya pilu sekali.
Bagaimana pun juga, dia sudah mencintai dengan tulus pria itu selama 7 tahun lebih. Bukan waktu yang singkat. Untuknya bisa melupakan semua yang terjadi tentang mereka.
***
Bersambung...
mana pemilik nya lagi🤣
karyawan aja pada sok ngehina pemilik 🫣
ni orang kepalanya kepentok kali ya
Trus amnesia
eh liat kita sangkanya kita orang yg paling dicintainya 🤣🤣
lah kalau tetibaan dia inget lagi,gimana donk😔
pasti bingung..
ini orang ,mesti gimana ya balesnya?
pandai ny cuma mengeluh aj dy
hitung2 pembalasan dari diana
dia aja bisa seenaknya ngerebut ank lu dengan ga tau malu nya
bisa ngapain lagi ntar nya..
tebak aja
seruu kan hidup lo🤣🤣
marah?
lah emang fakta,gimana donk
udah mokondo ga tau malu lagi🫣🤣
apa yg kau harapkan ketika dia harus Jadi pemimpin banyak orang
ya...ga bakalan mampu lah