Indonesia
NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

MARCO D'AMATO

Juliano menutup pintu kantor dengan hati-hati.

Detail sekecil itu saja sudah membuatku waspada.

Ia tak melempar candaan. Tak tersenyum. Tak berkomentar apa-apa lagi selain "ini yang kau sebut jangan berlebihan" soal apa yang baru saja ia lihat.

Ia hanya melipat kedua tangannya dan terus menatapku selama beberapa detik yang terlalu panjang.

"Ini tidak baik, Marco," ucapnya akhirnya.

"Kalau kau datang untuk menceramahi, lakukan itu pada Irina dulu... Dia yang pantas menerimanya," jawabku sambil mengusap wajah.

"Ini bukan ceramah. Ini kekhawatiran yang sungguhan."

Aku mengangkat pandangan ke arahnya. "Khawatir soal apa?"

Juliano mengembuskan napas, menarik sebuah kursi dan duduk menghadapku, seolah percakapan ini menuntut strategi.

"Soal dia," ucapnya, lugas. "Soal Pietra."

Rahangku mengeras.

"Jangan berani-berani—"

"Dengarkan aku," ia memotong, serius. "Kau sedang lengah. Dan bukan main-main."

Aku terdiam.

"Kau tahu bagaimana dunia ini bekerja," lanjutnya. "Mafia saingan tidak cuma menyerang bisnis. Mereka menyerang hal yang penting bagimu. Yang mengalihkan perhatianmu. Yang melemahkanmu."

"Pietra tidak ada urusannya dengan itu," ucapku, ketus.

"Belum..." Juliano diam sejenak. "Tapi sekarang ada dirimu."

Aku bangkit lagi dari kursi, berjalan mondar-mandir di kantor seperti hewan yang terkurung.

"Dia bukan bagian dari duniaku."

Juliano melepaskan tawa pendek, tanpa humor.

"Marco, kau baru saja melewati sebuah batas di dalam kantormu sendiri. Kalau aku bisa menyadarinya, orang lain pun akan menyadarinya."

Berhenti.

Kata itu menggema di kepalaku.

"Kalau mafia saingan sampai tahu ada seseorang yang bisa melucuti pertahananmu," ia melanjutkan, "seseorang yang kaupandang berbeda, yang membuatmu goyah... dia akan jadi sasaran."

Dadaku terasa sesak.

"Tidak," ucapku, tegas. "Itu tidak akan terjadi."

"Akan terjadi, kalau kau tidak berbuat apa-apa sekarang," ia membantah. "Kau sungguh mengira mereka tak akan menyadarinya? Bahwa mereka tak akan mengamati setiap gerakanmu?"

Juliano melanjutkan, "Mereka bermain kotor. Selalu begitu. Kalau mereka mencurigai Pietra penting bagimu, mereka bisa memakainya. Entah untuk menekanmu... atau untuk memicu perang."

Aku memejamkan mata sesaat.

Bayangan Pietra langsung muncul. Sikapnya yang tegas. Tatapannya yang lugas. Caranya tak pernah menundukkan kepala.

Ia tak akan bertahan di dunia itu.

"Lalu apa yang kau ingin aku lakukan?" tanyaku, lirih.

Juliano menatapku dengan serius.

"Menjauhlah."

Aku melepaskan tawa getir.

"Sudah terlambat untuk itu."

"Kalau begitu, lindungi dia," jawabnya. "Tapi perlindungan di dunia ini mahal harganya. Dan biasanya menyangkut keputusan-keputusan yang tak akan kau sukai."

Aku kembali duduk, menumpukan siku di meja.

"Kalau ada yang berani menyentuhnya..." aku memulai, merasakan amarah naik.

"Justru itulah yang membuatku khawatir," Juliano memotong. "Karena kau tak akan berpikir dua kali sebelum membunuh atau memulai perang."

Kami terdiam.

"Marco." Ia berkata lebih pelan. "Kau adalah pria yang paling ditakuti di negeri ini. Tapi bahkan pria paling berbahaya pun tumbang ketika seseorang menemukan di mana letak titik lemahnya."

Aku memandang meja Pietra, yang saat itu kosong.

Ia sudah berada di titik butaku.

Dan aku menyadarinya.

"Tak akan ada seorang pun yang memakai Pietra untuk melawanku," ucapku, akhirnya. "Tak seorang pun."

Juliano mengamatiku beberapa detik, lalu mengangguk perlahan.

"Kalau begitu, pastikan itu. Karena, kalau permainan ini sampai dimulai... dia tak akan memahami aturannya. Dan kau tak akan pernah bisa memaafkan dirimu sendiri."

Ia keluar dari kantor, meninggalkanku sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!