Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hormon Hamil
Alina menatap gelang di tangannya dengan tatapan tidak percaya. Rasa frustrasi yang terkumpul sejak bangun tidur kini mulai membuncah di dadanya. "Mas Devan, ini sungguh gila! Kamu memasang alat pelacak pada istrimu sendiri? Kamu memantau detak jantungku setiap detik seolah-olah aku ini seorang buronan atau objek eksperimen laboratorium! Aku ini manusia biasa, Mas. Aku butuh bernapas tanpa merasa diawasi oleh ribuan sensor dan pengawal berjas hitam!"
Suara Alina yang menajam memantul di dinding kamar yang sunyi. Namun, Devan tidak menunjukkan reaksi marah atau terkejut. Pria itu justru melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga tak ada celah tersisa.
Kedua tangan Devan naik melingkari pinggang Alina dengan lembut namun mengunci, sementara matanya menatap tajam ke dalam manik mata wanita itu.
Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan Alina merasakan hembusan napas hangatnya yang teratur di sekitar garis rahang dan leher istrinya. Aura dominasi yang memabukkan sekaligus mengintimidasi melingkupi atmosfer di antara mereka.
"Kamu boleh menyebutku gila, kamu boleh marah, atau bahkan membenciku atas semua aturan ini, Alina," bisik Devan dengan suara parau yang sarat akan proteksi ekstrem. "Tapi ingat satu hal: kamu adalah pusat dari seluruh duniaku.
Duniaku hampir runtuh ketika melihat mobilmu terkepung dan kaca kendaraanmu hancur di perbukitan itu. Aku tidak akan pernah membiarkan rasa takut itu mendominasi hidupku lagi. Sampai anak kita lahir dengan selamat ke dunia ini, seluruh aturan, pergerakan, dan keselamatan di rumah ini berada di bawah kendaliku sepenuhnya."
Alina terdiam, terkunci oleh tatapan mata Devan yang memancarkan kerapuhan mendalam di balik dinding sikap posesifnya. Di dalam ketegasan dan kungkungan yang dibuat oleh suaminya, Alina dapat merasakan betapa besarnya rasa takut yang masih menghantui jiwa Devan, ketakutan seorang pria yang hampir kehilangan segalanya.
****
Memasuki pertengahan minggu keduabelas, pertempuran di antara mereka mulai bergeser ke medan yang tidak pernah diperhitungkan oleh Devan sebelumnya.
Jika pria itu berhasil memegang kendali penuh atas navigasi keamanan, protokol medis, dan pembatasan fisik, kini ia harus berhadapan dengan musuh tak kasatmata yang tidak bisa dilumpuhkan dengan taktik pengawalan militer atau kekuatan finansial: gejolak hormon kehamilan Alina.
Pagi itu, cuaca di luar jendela penthouse tampak cerah dengan sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui kaca-kaca besar ruang makan.
Devan baru saja menyelesaikan panggilan konferensi internasional dengan dewan komisaris dari tiga negara berbeda. Ia merasa situasi mulai terkendali; proyek bisnis berjalan lancar dan kondisi fisik Alina dinyatakan sangat prima oleh tim medis.
Namun, ketika Devan melangkah memasuki area ruang makan yang luas, langkah kakinya mendadak terhenti. Dari arah meja makan bermaterial kayu jati pilihan, terdengar suara isakan kecil yang memilukan.
Devan seketika dalam mode siaga penuh. Rasa panik memuncak di dadanya. Tanpa memikirkan statusnya, pria itu berlari kecil menghampiri meja makan. Di sana, Alina duduk mematung di hadapan piring sarapannya. Wajahnya yang cantik memerah, dan air mata menetes deras membasahi pipinya, jatuh ke atas pangkuannya.
"Alina?!" Devan seketika berlutut di sebelah kursi istrinya. Tangannya bergerak cepat meneliti seluruh tubuh Alina, memeriksa pergelangan tangan, leher, hingga perut wanita itu. "Ada apa, Sayang? Ada yang terasa sakit? Di mana yang nyeri? Perutmu bertambah kram? Katakan padaku!"
Devan siap berteriak memanggil Dokter Hendra dan Pak Bagas detik itu juga, namun suara Alina yang gemetar memotong kepanikannya.
"Kue dadar ini ..." bisik Alina di sela-sela isakannya, menunjuk ke arah piring di meja dengan jari gemetar.
Devan menghentikan gerakannya. Ia menatap piring porselen di meja dengan dahi berkerut rapat. Di atas piring itu teruji dua potong kue dadar gulung isi selai buah organik buatan juru masak pribadi mereka. "Ada apa dengan kue dadarnya, Alina? Terlalu manis? Atau juru masak lupa mensterilkan bahan-bahannya? Biar aku minta mereka membuangnya dan menggantinya sekarang."
"Bukan!" tangis Alina pecah semakin kencang. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya naik turun akibat benturan emosi yang meluap. "Kue dadar ini terlalu simetris, Mas Devan! Bikinnya terlalu rapi! Kelihatan begitu kasihan karena bentuknya sangat sempurna tapi harus dipotong dan dimakan olehku! Aku tidak tega melihatnya hancur di dalam piring!"
Devan membeku di tempatnya berlutut.
Pria yang memenangkan puluhan perselisihan akuisisi perusahaan bernilai triliunan rupiah, pria yang sanggup melumpuhkan penjahat bertopeng di perbukitan Bogor tanpa berkedip, kini berdiri mematung di lantai ruang makan. Otaknya yang sangat analitis dan rasional mendadak mengalami kebuntuan total. Ia menatap kue dadar gulung di meja, lalu berganti menatap istrinya yang menangis sesenggukan hanya karena bentuk makanan yang terlalu sempurna.
"Alina ..." suara Devan terhenti di tenggorokan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Devan Dirgantara benar-benar kehilangan kata-kata, menyadari bahwa barikade istana dan pengawalan bersenjata paling canggih sekalipun tidak akan pernah sanggup melindungi dirinya dari keajaiban, sekaligus kekacauan, hormon seorang wanita yang sedang mengandung buah hatinya.
Devan akhirnya menarik napas panjang. Ia mengambil satu potong kue dadar gulung itu, lalu memandangnya sejenak dengan ekspresi serius, seolah sedang menghadapi keputusan bisnis paling penting dalam hidupnya.“Baik,” katanya akhirnya.
Alina perlahan menurunkan kedua tangannya. Matanya yang masih berkaca-kaca menatap Devan penuh tanda tanya.“Baik bagaimana?”
“Kalau kamu tidak tega memakannya, jangan dimakan.”
“Tapi aku lapar.”
Devan terdiam lagi.“Kalau begitu ...” Ia mengambil piring tersebut dengan hati-hati. “Kita minta dibuatkan yang bentuknya berantakan.”
Alina mengerjapkan mata.“Berantakan?”
“Iya. Tidak simetris. Tidak terlalu rapi. Kalau perlu bagian ujungnya gosong sedikit.”
Tangis Alina mendadak berhenti.“Mas Devan ...”
“Hm?”
“Kamu serius?”
“Sangat serius.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi, sudut bibir Alina terangkat. Namun, belum sempat Devan merasa lega, istrinya tiba-tiba menunjuk ke arah meja.“Aku mau bubur ayam.”
Devan mengangguk cepat. “Baik.”
“Pakai suwiran ayam yang banyak.”
“Baik.”
“Jangan pakai daun bawang.”
“Baik.”
“Telurnya harus setengah matang.”
Devan langsung menggeleng. “Tidak. Untuk yang itu, kita ikuti aturan dokter.”
Alina kembali cemberut.“Mas Devan pelit.”
“Aku bukan pelit. Aku ingin anak kita lahir sehat.”
“Anak kita belum lahir saja sudah dikekang ayahnya.”
Devan menghela napas, lalu duduk di kursi sebelah Alina.“Kalau anak kita nanti lahir dan sudah bisa bicara, aku yakin dia akan membelaku.”
Alina mendengus. “Belum tentu.”
“Kenapa?”
“Karena aku akan mengajarinya bahwa ibunya selalu benar.”
Devan menatap istrinya beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh kecil.
Tawa itu begitu jarang terdengar dari pria yang biasanya dingin dan serius. Alina ikut tersenyum. Ketegangan yang sejak tadi memenuhi ruangan perlahan mencair.
Namun, dari ambang pintu, Pak Bagas yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu hanya bisa menahan senyum.“Pak Devan,” panggilnya hati-hati.
Devan menoleh.“Dokter Hendra sudah menghubungi saya. Katanya ada satu hal yang harus diperhatikan.”
“Apa?”
Pak Bagas melirik Alina.
“Ngidam Ibu Alina kemungkinan akan semakin aneh beberapa minggu ke depan.”
Wajah Devan seketika berubah serius.“Seberapa aneh?”
Pak Bagas menelan ludah.“Dokter bilang ... bisa saja tengah malam Ibu Alina tiba-tiba ingin sesuatu yang tidak masuk akal.”
Alina langsung mengangkat tangan.“Aku sudah tahu.”
Devan menatapnya waspada.“Apa?”
Alina tersenyum polos.“Malam ini aku ingin makan bakso di pinggir jalan.”
Devan membeku.
Pak Bagas menunduk, berusaha keras menyembunyikan tawanya.
Sementara itu, Devan hanya bisa memijat pelipisnya.
Rupanya, perang sesungguhnya baru saja dimulai.