Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Masa Lalu

"Kenapa?" tanya Aurora.

"Karena aku sudah membuat keputusan."

Suara Rozen terdengar rendah dan tegas dengan sorot mata tajamnya menghunus tanpa keraguan, seolah menyadarkan Aurora untuk kembali pada kenyataan. Menegaskan pas wanita itu bahwa harapannya berandai-andai mendengar jawaban lain dari sang suami hanya akan berakhir sia-sia.

"Dan keputusanku tidak memerlukan persetujuan mereka."

Aurora memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, membalas hunusan setajam belati itu dengan tatapannya yang sendu beberapa detik.

"Aku mengerti, Rozen. Dan, terima kasih."

Setelah mengucapkan kalimatnya, Aurora segera melempar pandang menjadi menatap lantai marmer yang bersih. Merutuki kebodohannya sendiri.

"Aku akan kembali ke kamar." Aurora kembali mengangkat wajahnya, melanjutkan perkataan yang sempat terhenti dengan senyum terpaksa.

Rozen mengangguk walau Aurora tidak menyaksikannya karena sudah lebih dulu memutar tubuhnya, hendak meninggalkan ruang kerja.

Rozen tidak berkata apa-apa bahkan setelah Aurora sepenuhnya meninggalkan ruangan. Dan selama beberapa saat, pewaris Salvadore itu masih berdiri di tempatnya. Ia merasakan kembali suasana di ruang kerjanya menjadi sunyi. Hanya tercemar bunyi detik jam dari sudut ruangan, bunyi khas yang bekerja sendiri, berdetak pelan di tengah keheningan.

Di tengah keheningan itu pula, kilasan wajah Aurora kembali muncul di benak Rozen tanpa diijinkan. Raut indah yang kerap memperlihatkan kelembutannya. Rozen membeku. tidak menyangka dirinya akan memikirkan Aurora. Lucunya, Rozen tidak buru-buru menghapus bayangan Aurora yang muncul mengusik pikirannya itu.

"Damn it."

...***...

Pada ruangan sebelah, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Aurora mulai kesulitan mengontrol diri. Sebuah kekeliruan yang Aurora sadari dapat memberi dampak besar di hidupnya kelak. Di mana kehadiran Rozen beserta perhatian-perhatian kecil yang mulai sering Aurora terima menjadi penyebab utamanya kesulitan membedakan antara perhatian yang lahir dari tanggung jawab dan perhatian yang mungkin datang dari perasaan.

Aurora berdiri di depan cermin dengan tangan yang sibuk merapikan rambutnya. Pantulan dirinya pada cermin tampak seperti orang bingung. Tubuhnya di sini sementara pikiran berkelana kembali pada perkataan suaminya beberapa saat yang lalu.

"Kau tidak perlu membuktikan bahwa kau pantas menjadi istriku."

Kalimat itu masih sangat berbekas di ingatan. Layaknya sebuah titah yang seakan menegaskan pengakuan untuk Aurora. Bahwa Aurora memang pantas memiliki nama belakang suaminya. Bukan hanya sekadar sesuatu yang ia pinjam.

Tanpa tahu diri, Aurora mulai berpikir. Mungkin suatu hari nanti ia benar-benar bisa disayangi Rozen Salvadore.

Aurora duduk di depan cermin sambil memeluk lututnya. Kedua pipinya tiba-tiba terasa hangat.

"Rozen mulai menyukaiku?"

Pikiran itu muncul perlahan, kemudian tumbuh tanpa izin walau Aurora tahu Rozen tidak pernah mengatakan bahwa pria itu mencintainya.

Pertanyaan itu membuat jantung Aurora berdebar tidak karuan. Ia tersenyum kecil, lalu buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa terlalu larut dalam pikirannya sendiri. Sementara ia tahu dirinya hanya terlalu mudah terbawa perasaan.

Pada akhirnya untuk yang pertama kalinya Aurora membiarkan dirinya berharap. Harapan kecil yang terasa begitu indah sekaligus menakutkan.

Bukan karena Rozen memberinya harapan. Melainkan karena Aurora yang mulai menciptakan harapan itu sendiri.

...***...

Baik Rozen maupun Aurora, mereka tidak tahu bahwa di waktu yang sama namun di lokasi berbeda, jauh dari Mansion Salvadore yang berdiri megah, nama yang selama beberapa hari tidak pernah disebut mulai muncul ke permukaan.

Di antara gedung-gedung tinggi pencakar langit, bangunan tua berdiri terpencil. Tanpa lambang keluarga, tanpa satupun identitas yang menerangkan siapa sosok bersembunyi tersebut. Hanya ada satu jendela sempit yang memancarkan cahaya minim. Menerangi satu-satunya manusia yang duduk sendirian di balik meja kayu gelap.

Wajahnya tidak terlihat jelas. Cahaya lampu hanya menerangi sebagian tangannya yang mengenakan sarung tangan hitam ketika hendak membuka sebuah map tebal di atas meja. Sosok yang dengan sengaja menyembunyikan identitasnya itu akhirnya membuka berkas yang tersedia, menyajikan informasi tentang nama yang sempat diabaikan.

Isabella Valencia.

Jari yang terbungkus sarung tangan hitam menyusuri foto Isabella yang terlampir di dalam berkas. Ada beberapa lembar dokumen lain di bawahnya. Seperti catatan perjalanan, laporan transaksi, foto-foto lama hingga potongan informasi yang dikumpulkan dari berbagai tempat.

Semua informasi berbentuk kertas tersusun dengan sangat rapi. Bahkan terlalu rapi untuk sebuah penyelidikan biasa.

Sosok tanpa identitas kembali bergerak, membuka halaman terakhir yang menyuguhkan selembar kertas dengan potret terbaru sosok Rozen dan istrinya Aurora bergaun biru langit. Keduanya berdiri berdampingan dalam sebuah acara keluarga.

Tatapan dingin dari sipemilik identitas rahasia itu berhenti lebih lama pada potret Aurora daripada Rozen. Hingga kemudian tangan tertutup itu mengambil sebuah foto lain.

Foto Isabella.

Kedua foto diletakkan berdampingan beberapa saat dengan keheningan yang memburu sebelum sosok penuh rahasia itu tertawa pelan. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan potongan terakhir dari sebuah teka-teki panjang.

"Dia benar-benar menikahinya."

...***...

Aurora telah bersiap dengan rencana acara keluarga yang kemarin dibicarakan suaminya, disambut dengan cahaya lembut yang menyusup melalui sela-sela tirai kamarnya. Udara sejuk pagi hari berembus membawa aroma bunga dari taman. Menyentuh penciuman Aurora dengan lembut.

Dan pagi itu Aurora berdiri di depan lemari pakaian dengan beberapa pilihan gaun terbentang di atas tempat tidur. Tangannya menyentuh satu per satu gaun yang tersusun rapi, tetapi pikirannya justru dipenuhi acara yang akan dihadirinya bersama Rozen.

Ingatannya tiba-tiba kembali pada perkataan Rozen semalam di tengah kesibukannya memandang pada gaun-gaun indah di atas ranjang.

"Besok kita menghadiri sebuah acara."

Aurora menghela napas. Ternyata perasaan gelisah itu masih belum sepenuhnya menghilang.

"Jamuan keluarga lagi," keluhnya dalam diam. Karena semakin dekat waktunya, semakin cemas perasaannya.

Walau sudah pernah bertemu keluarga Salvadore, tapi kali ini terasa seperti ujian yang tidak pernah benar-benar selesai. Tatapan mereka, pertanyaan tentang Isabella, dan kenyataan bahwa dirinya menempati posisi yang seharusnya menjadi milik saudari kembarnya membuat Aurora selalu merasa tidak tenang.

"Aku harus memakai yang mana?" Ditambah lagi dengan pilihan gaun yang menurutnya indah semua semakin membuat Aurora tersiksa kebingungannya sendiri. Bibi Rosa yang sedang membantu merapikan rambut panjang Aurora menjadi tersenyum.

"Pilih yang menurut Nona Aurora nyaman," ucap Bibi Rosa memberi masukan.

"Tapi, semuanya terlihat begitu nyaman dan mewah, Bibi. Aku bingung.

Bibi Rosa terkekeh. Terkadang memilih di antara yang terbagus memang sesulit itu.

"Tidak perlu bingung. Apapun yang Nona pakai tidak akan mengecewakan." Itu adalah pujian tulus yang Bibi Rosa tuturkan untuk menenangkan sang majikan.

Nyatanya, cara itu berhasil. Aurora langsung tersenyum seolah baru saja menerima percikan kekuatan dari Bibi Rosa.

"Bibi selalu berhasil membuatku tenang," ungkap Aurora.

Bibi Rosa tertawa sambil terus memberi sentuhan pada rambut Aurora.

Akhirnya Aurora memilih gaun sederhana berwarna putih gading dengan potongan elegan. Tidak terlalu mencolok, tetapi tetap pantas untuk menghadiri acara keluarga suaminya.

"Aku hanya perlu bertahan malam ini," ungkapnya berusaha memberi kekuatan pada dirinya sendiri.

Aurora kemudian beranjak setelah rambut panjangnya selesai ditata sedemikian rupa oleh Bibi Rosa.

"Aku pergi, Bibi."

Aurora meninggalkan Bibi Rosa ketika wanita paruh baya itu tengah sibuk membereskan segala yang berantakan di kamar Aurora. Ketika membuka pintu kamar, ia mencoba memasang ekspresi tenang, meski jantungnya masih berdebar. Langkahnya mulai bergerak menuju anak tangga pertama. Ketika Aurora sudah menuruni setengah anak tangga, Rozen sudah menunggunya di bawah.

Pria berekspresi datar itu mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih. Rambutnya ditata rapi, membuat wajah dinginnya terlihat semakin tegas.

Begitu menyadari kehadiran Aurora, Rozen menatap wanita di tangga itu beberapa detik. "Kita berangkat," ucapnya kemudian.

Aurora mengangguk sambil melanjutkan langkahnya dengan anggun. Hingga ketika mereka telah berjalan bersama menuju pintu utama, Rozen tiba-tiba berhenti. Aurora yang berjalan di sebelahnya turut berhenti kemudian menoleh kepada Rozen. Di saat bersamaan, Rozen juga menoleh kepada Aurora hingga kejadian tidak disengaja itu mempertemukan tatapan keduanya.

"Jangan terlalu memikirkan apapun di sana." Rozen kembali mengingatkan Aurora.

Aurora menanggapinya dengan tersenyum kecil. "Aku akan mencobanya."

Dalam keheningan yang kembali hadir, mereka memilih untuk tidak lagi bersuara hingga mobil melaju membawa mereka meninggalkan mansion.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!