Mati karena diabaikan oleh keluarganya, mati karena diabaikan bahkan dikhianati oleh sang suami, lelaki yang paling dicintai, mati akibat fitnah, kebusukan dan kelicikan saudara tiri dan ibu tirinya.
Mati sebagai orang hukuman yang benar-benar hina, mati di ujung pedang tajam sang algojo.
Tapi...
Dia punya kesempatan kedua untuk hidup, punya kesempatan untuk mengubah takdir buruknya di masa lalu.
Maka kesempatan kedua itu dia manfaatkan sebaik-baiknya untuk membalas dendam terhadap semua orang yang telah membuatnya hancur dan sakit hati....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikri Sa'ati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Kebodohan di Masa Lalu
"Da Jiang jun, Zheng Liang Huang Tai zi telah tiba di kediaman," lapornya begitu sampai di hadapan Jenderal Ling.
Seketika ruang makan itu langsung terkejut tegang.
Namun....
Jenderal Ling Guojin berserta istri putra putrinya; Su Yinfei, Ling Yaofei, Ling Yujian dan Ling Yuchen, segera bangkit dari kursi masing-masing, berdiri dengan penuh sikap hormat dan takzim.
Sementara semua pelayan, termasuk pelayan yang tadi segera mempersiapkan diri menyambut kedatangan Putra Mahkota Zheng dengan sikap dan ketundukan yang tinggi.
Tidak lama berselang, terdengar langkah kaki yang ringan namun tegas memasuki ruang jamuan. Itulah sang Putra Mahkota, Pangeran Zheng Liang.
Pangeran berwajah tampan rupawan itu memasuki ruang jamuan dengan wibawa dan aura yang agung. Jubahnya berwarna merah cerah begitu mewah dan indah, dengan bordiran sulaman naga emas, menggambarkan karakter seorang putra kaisar dan pemimpin masa depan.
Ketika sepasang matanya yang tajam mengedar ke sekeliling ruangan, seolah tanpa sengaja dia dan Ling Yaofei sempat saling bertatapan.
Ling Yaofei segera melepaskan senyum lembutnya yang menawan, lalu sedikit tertunduk penuh hormat sekaligus malu-malu, seolah-olah.
Sedangkan Pangeran Zheng Liang menanggapinya dengan anggukan pelan dan senyum kecil, nyaris tak terlihat.
Sementara Jenderal Ling Guojin, tanpa menunggu lama, segera maju ke depan, lalu memberikan penghormatan yang dalam, terus berkata.
"Huang Tai zi, adalah kehormatan besar bagi kami mendapat kunjungan dari Anda di hari yang masih pagi ini. Mohon maaf jika penyambutan kami kurang berkenan."
"Tidak perlu terlalu formal begitu, Ling Jiang jun," tanggap Pangeran Zheng Liang seraya mengibas tangannya santai.
"Aku sebenarnya yang salah, datang tanpa membari tahu terlebih dahulu," lanjutnya bernada santun dan bijaksana. "Mohon maaf jika merepotkanmu sekeluarga, Ling Jian jun."
""Tidak, Huang Tai zi, sama sekali tidak," Jenderal Ling Guojin segera menepis kekhawatiran Pangeran Zheng Liang. "Justru kunjungan Anda membuat kami amat senang."
"Silahkan duduk, Huang Tai zi!" Jenderal Ling Guojin mempersilahkan Pangeran Zheng Liang duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi kepala.
Pangeran Zheng Liang segera duduk di kursi yang ditunjuk untuknya. Dan lagi-lagi seolah tanpa sengaja melirik Ling Yaofei sebentar.
Sedangkan Ling Yaofei yang selalu berdiri di sisi ibunya, masih tertunduk hormat seraya tersenyum lembut. Tapi dibalik senyum ramah itu tersembunyi ambisi untuk menundukkan Pangeran Zheng Liang.
★☆★☆
Sementara itu di tempat lain, tampak Ling Qingxue berjalan ringan dan tenang saat melangkah menuju ruang jamuan. Auranya yang agung tersembunyi dalam balutan sederhana, berjubah dari kain biasa berwarna biru langit. Wajah bidadarinya tetap tersembunyi di balik cadar yang sewarna dengan jubahnya.
"Shao jie, apa Anda yakin ikut sarapan bersama dengan mereka?" Liu Xui yang selalu berada di sisinya sekali lagi mengingatkan. "Aku takut.... Anda akan dipermainkan dan dipermalukan lagi."
"Tenanglah, Liu Xui, kamu tidak usah khawatir," kata Ling Qingxue kalem dan tenang. "Percayalah padaku, kalau aku akan baik-baik saja."
Liu Xui terus berjalan bersisian di samping Ling Qingxue. Sekali-kali dia melirik saja nona muda yang begitu tenang. Akan tetapi, di balik sikap tenang itu, Ling Qingxue telah memikirkan sebuah kejadian.
Hari ini Putra Mahkota, Pangeran Zheng Liang mengunjungi kediaman Jenderal Ling Guojin.
Segera saja ingatan tentang kehidupan pertamanya langsung terekam di dalam benaknya.
Pada kehidupannya yang dulu, hari ini merupakan hari yang dinanti-nanti oleh Ling Qingxue.
Pangeran Zheng Liang, pria tampan yang amat dicintainya datang ke kediaman Jenderal Ling Guojin untuk sarapan bersama mereka.
Ketika itu di ruang jamuan keluarga Jenderal Ling Guojin, semua orang telah duduk di kursi masing-masing. Jenderal Ling Guojin duduk di kursi kepala. Ling Yaofei dan Su Yinfei duduk bersisian di sebelah kanan, sedangkan Ling Yujian dan Ling Yuchen duduk di sebelah kiri.
Ketika Putra Mahkota Zheng Liang telah tiba di ruang jamuan, semua orang menyambut kedatangannya dengan tunduk penuh hormat.
Pemuda tampan itu mengenakan jubah merah cerah bersulamkan benang emas, membuat aura dan kewibawaannya semakin agung. Wajahnya yang tampan tampak dingin dan tenang, sorot matanya tajam namun santun.
Ling Qingxue yang waktu itu duduk di dekat Jenderal Ling Guojin, ketika melihat sang pangeran, tampak agak gugup, jantungnya sedikit berdebar-debar.
Sungguh, dia sudah lama mengagumi dan mengidolakan pria tampan itu. Timbul keinginan dalam dirinya agar Pangeran Zheng Liang dapat melihatnya, terus itu menyukainya.
Tak lama kemudian, Pangeran Zheng Liang langsung dipersilahkan duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi kepala. Setelah itu Jenderal Ling Guojin dan yang lainnya segera duduk di tempat mereka tadi, termasuk Ling Qingxue yang duduk seakan tak mau jauh dari ayahnya.
Belum lama Pangeran Zheng Liang duduk di kursinya, seorang pelayan membawa nampan berisi sup khusus untuk sang Putra Mahkota.
Ketika itu, seakan tanpa sadar, Ling Qingxue melirik ke arah Pangeran Zheng Liang. Saat memandang, sepasang matanya tampak berbinar penuh harapan dan perhatian.
Lantaran ingin agar Pangeran Zheng Liang memperhatikan dirinya, dia harus berbuat sesuatu untuk sang pangeran.
Ling Qingxue segera bangkit setelah membulatkan niatnya. Lalu pergi ke hadapan Pangeran Zheng Liang, hendak menuangkan sup pada sang pujaan hati, sebagai bentuk perhatian.
Namun apa lacur, Ling Yaofei sudah bertindak duluan. Dengan senyum licik yang disembunyikan di balik sikap santunnya, dia langsung memainkan elemen anginnya melalui ujung jarinya.
Lalu menyentilkan ke arah kaki Ling Qingxue tanpa siapa pun menyadari. Membuat kaki Ling Qingxue seketika goyah seperti tersandung.
Maka terjadilah apa yang telah terjadi.
Tanpa dapat dicegat lagi Ling Qingxue langsung oleng ke depan. Tanpa sengaja tangannya mengenai tangan pelayan yang membawa nampan sup tadi.
Nampan langsung terlepas dari genggaman pelayan yang terkejut dan terlempar. Lalu dalam sekejap saja mangkuk sup langsung jatuh dan tumpah. Dan sialnya tumpahannya langsung mengenai jubah mewah nan indah Pangeran Zheng Liang.
Seketika itu juga ruangan langsung berubah menjadi tegang. Semua orang langsung terkejut takut dibuatnya.
Sedangkan Ling Qingxue seketika terdiam membeku. Napasnya langsung tercekat, nyawanya serasa melayang waktu itu juga. Sepasang matanya terbelalak tegang dan ketakutan yang sangat.
Raut wajah Pangeran Zheng Liang yang tampan tetap tenang namun berubah dingin. Dia menatap jubahnya dengan emosi yang berusaha ditahan. Lalu kepalanya terangkat, langsung menatap Ling Qingxue dengan tajam.
"Kamu seorang nona bangsawan yang terhormat, Ling Qingxue," tegurnya bernada dingin dan tajam. "Tapi kenapa kamu selalu bertingkah ceroboh begitu? Tidak bisakah kamu bersikap lembut dan santun barang sedikit?"
Hati Ling Qingxue seketika mencelos mendengar kritikan yang tajam itu. Dia yang sudah panik ketakutan segera menyungkur berlutut di hadapan Pangeran Zheng Liang. Wajahnya yang pucat tertunduk dalam penuh rasa bersalah dan penyesalan.
"Zheng Huang Tai zi, mohon pengampunannya...," mohonnya penuh hormat dan ketundukan yang dalam. "Sungguh... hamba tidak sengaja melakukannya. Hamba...."
Namun, belum juga Ling Qingxue dapat melanjutkan ucapannya yang terputus, sudah terdengar suara tajam dan tegas Jenderal Ling Guojin menggema di ruang jamuan itu.
"Ling Qingxue! Beraninya kau berbuat tidak sopan di hadapan Zheng Huang Tai zi!"
★☆★☆★
kumpulkan kekuatan byk2 ,,
biar gx perlu pake byk tenaga buat ngebalas perbuatan mereka ,,
dan buat mereka menyesal ,,