"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 34, Kembali Rindu
Pintu lift terbuka di lantai tertinggi perusahaan.
Jeevan melangkah keluar dengan wajah yang tetap tenang, meski pikirannya belum sepenuhnya meninggalkan kejadian di minimarket tadi.
Pertemuan dengan klien seharusnya menjadi urusan yang paling menyita perhatiannya siang itu. Namun entah mengapa, yang terus berputar di kepalanya justru sosok perempuan berseragam minimarket dengan name tag bertuliskan Anna.
"Van!"
Suara panggilan yang sangat familiar membuat langkahnya berhenti dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
Abimanyu berdiri beberapa meter di depannya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan jas yang disampirkan di lengan. Sebagai direktur perusahaan sekaligus pewaris utama keluarga pemilik perusahaan tersebut, Abimanyu memiliki kebiasaan berjalan cepat seolah waktu selalu berlari mengejarnya.
Meski demikian, ada satu hal yang cukup ironis dalam kedudukannya. Jabatan presiden direktur masih ditempati oleh sang kakek.
"Sudah selesai pertemuannya?" tanya Abimanyu.
"Sudah."
"Bagaimana hasilnya?"
Jeevan berdeham pelan. "Mereka tertarik dengan proposal kita. Tinggal beberapa revisi di bagian sistem keamanan."
Abimanyu menghela napas lega. "Bagus. Kalau proyek itu berhasil, divisi kita bisa mendapatkan kontrak jangka panjang."
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang kerja.
"Kliennya banyak tanya?" Abimanyu kembali bertanya.
"Seperti biasa."
"Berarti kamu masih hidup." Celetuknya.
Jeevan terkekeh pendek. "Sayangnya."
Abimanyu tertawa.
Percakapan mereka mengalir ringan. Membicarakan proyek, tenggat waktu, presentasi, hingga beberapa hal yang harus diselesaikan sebelum akhir pekan.
Semuanya terdengar normal.
Hanya saja, di sela-sela percakapan itu, pikiran Jeevan sesekali menyimpang kepada Anna. Kepada wajah perempuan itu ketika pertama kali melihatnya setelah Anna memutuskan keluar dari rumah.
Suara lirih Anna tadi siang masih terngiang jelas di kedua telinganya, tatapan matanya yang penuh keterkejutan karena mungkin bertemu di saat yang tidak tepat seperti tadi membuat Jeevan mengingat malam-malam panjang bersama perempuan itu selama lima tahun terakhir.
...🌴🌴🌴...
Sore perlahan turun di Jakarta.
Cahaya matahari yang sejak siang menggantung terik mulai berubah keemasan, menyapu kaca-kaca gedung dengan semburat jingga.
Pekerjaan Jeevan akhirnya selesai.
Seperti biasa, ia menunggu MRT di stasiun dengan para calon penumpang lainnya. Setelah menaiki MRT, ia berdiri di gerbong kereta di dekat pintu.
Orang-orang di sekelilingnya sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang menatap layar ponsel, ada yang tertidur sambil berpegangan pada tiang, ada pula yang berbicara pelan dengan teman seperjalanan.
Jeevan hanya diam.
Pemandangan Jakarta berlari mundur di balik jendela. Namun pikirannya justru kembali ke depan, kepada Anna.
"Kenapa harus ketemu disana..." batinnya lirih.
Bukan karena tidak ingin melihat Anna. Justru sebaliknya, pertemuan singkat itu seperti membuka pintu yang selama beberapa Minggu berusaha ia tutup rapat-rapat. Pintu menuju segala sesuatu yang masih ia rasakan.
...🌴...
Pukul setengah tujuh malam, Jeevan akhirnya tiba di apartemennya.
Pintu di buka, dan saat langkahnya semakin dalam...kesunyian menyambutnya, tidak ada suara televisi, tidak ada perempuan yang berdiri menyambut kedatangannya di sofa ruang tengah dengan senyum indah yang sangat ia kagumi sejak pertama kali bertemu.
Ia menghela napas pelan nan berat. Tampak wajahnya sangat lelah, lalu gegas membuka sepatu dan berjalan ke arah sofa. Ia melempar tas kerjanya sembarang ke sofa satunya lagi, lalu menjatuhkan tubuh lelahnya.
Jeevan menatap langit-langit ruang tengah dengan pencahayaan samar. Biasanya, ketika ia tengah bersandar di sofa ada seseorang yang memanggilnya untuk sekedar meminum teh manis hangat.
"Teh manisnya masih hangat loh, Mas. Di minum dulu."
Perlahan kepalanya bergerak dan menatap ke arah dapur, biasanya disana ada Anna yang masih mengenakan celemek sambil menata menu makan malam.
"Mas, ayo makan malam. Udah selesai ini."
Jeevan tampak tersenyum getir mengingat semua gerak-gerik wanita itu. Jeevan kembali menatap langit-langit apartemen, membiarkan dirinya sendirian dalam kegelapan.
Entah mengapa, mungkin karena ia sudah terbiasa dengan suasana gelap. Atau mungkin karena sejak Anna pergi, apartemen itu memang kehilangan alasan untuk menjadi terang.
Perlahan Jeevan memejamkan matanya, dan seperti film dokumenter yang di putar ulang tanpa izin, pertemuan tadi kembali memenuhi pikirannya.
"Maafkan aku...aku merindukanmu lagi, Anna..." gumamnya lirih.
Jeevan mengembuskan kembali napasnya. Jeevan merogoh ponsel dari saku celananya, ia membuka ponsel itu sehingga cahaya layar itu menerangi wajah lelahnya.
Di kontak itu nama Anna masih tersimpan rapi. Dengan emoticon love, ingin rasanya ia menghubungi wanita itu. Apakah Anna sudah membaik? Apakah Anna sudah pulang? Sedang apa sekarang? Atau pertanyaan biasa yang ingin selalu ia tanyakan, apakah dia sudah makan atau belum?
Ia kembali mematikan layar ponselnya, lalu meletakkan salah satu tangannya di matanya yang kembali terpejam.
"Aku kangen kamu, Na...." lirihnya.
Perlahan, ia mengatakan kepada dirinya sendiri. Jangan! Ia tidak boleh mengganggunya, mereka sedang menuju perceraian. Anna sedang mencoba membangun kehidupannya kembali, bukankah dirinya sudah berjanji untuk tidak menghalangi apa pun keputusan Anna kelak?
...🌴...
Jeevan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya setelah seharian bekerja.
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kamar itu temaram, terasa amat sangat sunyi. Biasanya ia akan melihat Anna sudah meringkuk di bawah selimut tebal sendirian. Sedangkan ia akan menghabiskan waktunya menonton pertandingan bola.
Ia tersenyum getir. "Apa selama ini aku terlalu mengabaikanmu, Na?"
Ia perlahan berjalan mendekat ke arah ranjang, lalu duduk di tepi, menatap ke arah sisi dimana Anna sering terbaring. Perlahan tangannya bergerak, mengusap kasur itu.
"Apa tidurmu nyenyak disana?" lirihnya lagi.
Ting!
Suara notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya membuyarkan kenangan Anna di dalam kepalanya. Ia menoleh ke arah meja, layar ponselnya menyala di atas wireless charger.
Ia bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menuju meja. Gegas, ia meraih ponselnya dan mendapatkan pesan dari seseorang tanpa nama.
Nomor baru!
Ia memencet tombol salah satu aplikasi chating, dan membacanya.
"Anna pulang pakai mobil bersama seorang pria."
Jeevan mengernyit, dan tiba-tiba dadanya terasa sesak. Tak lama kemudian, sebuah foto masuk. Jarinya bergerak membuka gambar tersebut.
Di dalam foto tersebut, tampak Anna yang berjalan ke sebuah pintu mobil yang di bukakan oleh seorang pria berpakaian rapi. Wajah pria itu tidak terlalu jelas, hanya saja membuat dada Jeevan menahan sesuatu yang bergejolak.
"Siapa dia? Atau mungkin...Anna sudah bisa melupakan aku? Begitu mudahkah?" gumamnya.
Satu pesan kembali masuk.
"Seriusan kamu mau cerai?"
Jeevan terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu ia kehilangan ketenangan.
"Kalau masih cinta, kenapa tidak kamu perjuangkan?"
Pesan itu membuat dirinya tertegun. Namun lagi-lagi ia kembali mengingat janjinya kepada kakaknya Anna.
Flashback on...
Acara pernikahan itu selesai begitu cepat, bahkan sangat cepat.
Jeevan duduk sambil membenarkan laptop milik adik laki-lakinya Anna pada saat itu, lalu kakaknya Anna duduk di sampingnya.
"Kenapa tuh kira-kira?" tanyanya basa-basi.
Jeevan menoleh. "Lcd nya kena."
Laki-laki yang mungkin seumuran dengannya itu mengangguk. Dan tak lama kemudian, sebuah permainan mengalir begitu saja.
"Van, kalau nanti Anna kembali ingin menulis. tolong jangan halangi dia. Sejak dulu, ia banyak berkorban untukku dan adiknya." Pintanya membuat tangan Jeevan berhenti bergerak.
Jeevan mengangkat wajahnya dan menatap kakak iparnya. "
"Jangan khawatir. Anna adalah perempuan yang bertekad kuat. Meskipun di luar ia terlihat rapuh, dan ketika ia memutuskan untuk menikah...aku yakin itu pilihan yang menurut dia bahagia." Ujar Jeevan.
"Maaf..." ucapnya lagi.
"Maaf kenapa?" tanya kakak iparnya.
"Karena aku tidak bisa berjanji untuk membahagiakannya. Tapi aku berjanji tidak akan pernah menghalangi jalan yang menurutnya bahagia." Janjinya penuh keyakinan.
Kakak iparnya itu tersenyum. "Bukan berarti kalau kamu sudah menikahnya harus membahagiakan pasangan. Aku lebih menyukai kejujuran ketimbang janji palsu." Ia berdiri. "Lain kali, aku akan mentraktirmu sate ayam kesukaan Anna."
Flashback off...
Jeevan kembali menatap layar ponselnya ketika panggilan masuk dari nomor tanpa nama tersebut.
...🌴🌴🌴...
Siapakah orang yang menelpon itu?
Tunggu jawabannya di bab selanjutnya. Jangan lupa like, komen, vote, subscribe, bintang lima follow akun Yehppee.
Kalau berkenan, jangan lupa kunjungi novel Yehppee dengan judul WASIAT TERAKHIR IBU. Udah tamat dan bisa baca maraton 🫶
...BERSAMBUNG...