Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 21
Keesokkan paginya yang cerah suara kicauan burung yang terdengar dari balik jendela kamar. kamarnya seorang anak muda yang berumur 10 tahun. memakai kacamata minus sedang rebahan sambil scrol video pendek di sebuah aplikasi,Yaitu bernama veric. Veric yang lagi asik-asiknya scrol video pendek tiba-tiba ia menemukan sebuah video yang berisi seseorang yang melakukan rekaman.
Sebuah video yang menampakkan kejadian semalam yang dimana sebuah peretasan di papan bilboard raksasa yang berada di tengah-tengah kota. Di dalam peretasan tersebut menunjukkan bahwa ada dua seorang pria misterius memakai topeng hitam layaknya perampok yang menunjukkan dokumen Athena dengan bangga serta memberitahu bahwa warga paradise sedang dalam bahaya.
veric yang kebingungan untuk mencerna video tersebut dengan inisiatif ia langsung membuka sebuah kolom komentar.
Dalam komentar tersebut beberapa orang mengatakan bahwa yang di katakan oleh dua pria tersebut adalah benar.
"itu benar yang di katakan dua pria aneh itu. Coba lihat kebanyakan hutan kita sekarang di isi oleh pabrik liar"
"sepertinya dua pria itu berkata fakta deh..."
"aduh.... Dua orang itu pasti tidak akan selamat"
Dan serta banyak sekali orang-orang yang berkomentar bahwa dua pria tersebut adalah pembenci dan menyebarkan kebencian.
"jangan percaya itu hoax... kertas dokumen itu adalah hoax"
"jangan percaya bohong saya tinggal dekat dengan alas hutan namun saya baik-baik saja"
"Mereka berdua benar-benar buta apa? Padahal lihat apa yang di lakukan para petinggi untuk kemakmuran negeri ini"
veric yang membaca seluruh komen yang menjadi dua kubuh yang memiliki pandangan yang berbeda.
Veric tetap saja kebingungan tiba-tiba ibunya memanggilnya karena salah satu temannya menjemputnya untuk bermain.
"VERIC!!! TEMANMU MENJEMPUTMU UNTUK BERMAIN!!!"
"siapa ibu?"
"KEVIN!!"
Veric segera menutup aplikasi dan turun dari kasurnya dan segera berlari menuju ke luar rumah untuk menemui Kevin.
Veric turun dari tangga dengan tergesa-gesa. Ibunya yang melihat veric turun tergesa-gesa segera mengingatkannya agar tidak jatuh.
"Veric pelan-pelan turun tangganya nanti jatuh!!"
"iya ibu... Veric tau"
sesampainya veric turun segera ia mengambil jaket hitamnya yang biasanya di buat ia main dari rak, dan segera memakainya cepat-cepat. Setelah itu veric membuka pintu di luar sana Kevin sudah menunggu veric di depan halamannya dengan menaiki sepedanya.
"hei... veric ayo ke taman. disana aku dengar ada orang yang melakukan aktraksi di sana"
"aktraksi?"
Kevin segera menjelaskan kepada veric tentang bayangan dan gambaran tentang aktraksi di taman padahal dirinya sendiri belum mengetahui bahwa aktraksi itu beneran ada atau tidak di sana.
"iya. Jadi veric di sana kita bisa melihat ada sebuah tenda besar yang di dalamnya ada gajah raksasa yang berjalan menggunakan bola kecil di satu kakinya serta burung beo yang pintar sekali menirukan suara sirine."
Veric yang mendengarkan itu merasa antusias serta penasaran. Dan segera menyuruhnya mengantar dirinya menggunakan sepeda milik Kevin menuju taman tersebut.
"serius Kevin?"
"iya dong..."
"ayo Kevin kita kesana. Pakai sepedamu... Kamu boncengin aku"
"Oke. naiklah"
Veric segera menaiki sepeda milik Kevin dan duduk di belakang
veric dan Kevin menuju taman menggunakan sepeda milik Kevin, untuk melihat sebuah aktraksi yang di katakan Kevin.
Hingga mereka berdua pun tiba ke taman yang mereka tujuh namun mereka berdua tidak melihat sebuah tenda besar yang di katakan oleh Kevin.
"Kevin mana katanya ada tenda besar?" (tanya veric)
"hehehehe... Kok tidak ada ya" (ujar Kevin pura-pura tidak tau)
Kevin segera menggoes sepedanya dan memutari sekeliling taman namun mereka tidak menemukan apa-apa.
Veric melihat kanan kiri serta sekeliling seksama di area taman tidak melihat sebuah atraksi serta tenda raksasa.
Veric yang kesal serta merasa di bohongin oleh Kevin ia segera turun dari sepedanya dan berjalan pergi.
"dasar pembohong" (ujar veric)
Kevin hanya menyengir saja saat dirinya di katakan pembohongan oleh veric. Saat veric berjalan menjauhi tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah seorang bapak tua dengan seekor burung beonya yang bertengger di tangan bapak tua tersebut.
Veric segera mendekati bapak tua tersebut dengan rasa penasaran.
"wow.. Keren burungnya"
Bapak tua itu menoleh ke arah Veric
"iya. dek"
"ini burung beo pak?" (tanya veric dengan rasa penasaran)
"iya. dek ini bapak ajak kesini soalnya burungnya minta keluar dek"
"aku boleh pegang tidak pak?"
"boleh"
bapak tua itu jongkok untuk mengijinkan veric mengelus-elus burung tersebut.
Veric mengelus-elus dengan lembut bulu burung beo tersebut. Tiba-tiba Kevin menghampiri veric dengan menaiki sepedanya.
"veric!!!"
veric menoleh ke arah Kevin
"Kevin? Aku kira kamu sudah balik"
"tidak. Aku belum balik... Veric wow ada burung beo"(ujar Kevin sambil menunjuk burung tersebut)
Kevin segera turun dari sepedanya lalu menuntun sepeda nya untuk menghampiri burung beo tersebut untuk ikut mengelus-elus bulu burung beo tersebut.
"aku...aku... Mau ikut juga mau elus burung itu"
"boleh dek. Ini elus aja tidak apa-apa burungnya jinak kok dek" (ujar bapak tua)
"asik!"
Kevin dan veric yang asik-asiknya mengelus bulu burung beo, serta bapak tua pemilik beo tersebut juga menikmati serta berbahagia karena bisa merasakan kebahagiaan bersama. Mendengarkan tawa bahagia, serta senyum dari dua anak kecil tersebut.
Namun semua kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
tiba-tiba seluruh orang yang berada di taman terlihat berlari ketakutan dan berhamburan untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Bapak tua yang melihat keadaan orang-orang di taman yang amburadul seketika membuatnya merasa tidak aman dan panik segera bapak tersebut langsung bergegas menyelamatkan diri, berlari sambil memegangi burung beonya dan meninggalkan Kevin dan veric.
Veric dan Kevin yang kebingungan apa yang terjadi sebenarnya hanya bisa menontoni namun perasaan Kevin yang merasa was-was serta takut.
Tiba-tiba saat bapak tua yang langkah tujuh langkah tiba-tiba sebuah senapan di tembakan lalu mengenai kepala bagian belakang bapak tua tersebut.
DOR!!!
Bruk...
Bapak tua tersebut terjatuh dan terbaring terbujur sekarat. kemudian burung beo yang ia pengangin itu terbang melarikan diri.
Kevin dan veric melihat kejadian yang begitu sadis itu di depan matanya mereka segera menyelamatkan dirinya juga Kevin segera menaiki sepedanya lalu veric segera duduk di belakang sepeda milik Kevin. Namun saat veric hendak menaikan kakinya tiba-tiba sebuah senapan di tembakan lalu mengenai kepala bagain belakang veric.
BRUK!!!
Veric langsung terjatuh begitu keras kepalanya menghantam jalan beton taman begitu keras, darah mulai keluar begitu banyak veric segera meminta tolong kepada temannya Kevin.
"ke-kevin to-tolong"
Kevin yang melihat veric yang sekarat serta darah yang keluar begitu banyak segera Kevin mengulurkan tangannya kepada Veric. Veric pun memegang tangannya yang di ulurkan oleh Kevin namun suasana di tempat semakin mencekam satu persatu orang tumbang akibat tembakan yang mengenai kepala bagian dari belakang. Taman yang awalnya begitu ramai tawa bahagia serta rerumputan dan pepohonan yang rindang kini telah berubah menjadi arena layaknya pembantaian massal, darah berceceran dimana-mana, suara teriakan minta tolong serta tangisan menggelegar. Kevin yang melihat semua kejadian tersebut segera mendorong Veric yang berhasil berdiri sedikit.
veric terjatuh dengan keras, kemudian Kevin segera menggoes sepedanya sekencang mungkin karena rasa takut dan ego nya untuk menyelamatkan dirinya sendiri segera meninggalkan veric yang tergeletak sekarat.
veric yang melihat Kevin menggoes sepeda sekencang mungkin meninggalkan dirinya seorang diri hanya bisa melihatnya begitu saja. perasaan kekecewaan dan sedih campur aduk dalam hati kecilnya, veric hanya bisa menatapi kepergian Kevin dengan meneteskan air mata sambil menunggu ajalnya tiba.
Darah terus keluar, badannya perlahan-lahan mulai tidak bisa merasakan kehangatan lagi, serta ia kesulitan untuk mengambil napasnya veric hanya bisa berpasrah lalu ia memejamkan matanya
Tiba-tiba...
Terdengar sebuah langkah kaki seseorang yang mendekati Veric. kemudian seseorang itu menggendong veric yang sekarat lalu membawanya pergi.