"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Orang pertama
"Lily, bukankah sebelumnya Dave sudah mengatakan kalau seluruh pelayan dalam rumah ini memang aku beli, termasuk Alena, mengapa masih bertanya?" ucap Lucas.
"Soalnya dia kepala pelayan jadi Lily pikir bukan dibeli," kata Lily.
"Tapi kenapa Kak Lucas jadikan Alena sebagai kepala pelayan? Kak Lucas suka Alena ya?" tanya Lily mengingat Lucas sering bicara dengan Alena walaupun sebatas perintah dan tidak dingin seperti pada pelayan lain.
Lucas memegang tengkuk Lily dengan sebelah tangan lalu mendekatkan wajah mereka.
"Akkkkkh!" teriakan tertahan Lily meremas baju Lucas yang tiba-tiba mengisap bahkan menggigit lehernya.
"Sekali lagi kamu berkata seperti itu, aku benar-benar akan menggigitmu," peringatan Lucas yang tidak terima dikatakan suka pada Alena oleh Lily.
"Alena itu menjadi kepala pelayan karena dia lebih disiplin dan tegas dari semua pelayan yang ada, serta perihal suka? Bukankah kamu tahu sejak kecil sampai sekarang aku tidak suka perempuan mana pun," kata Lucas dengan tegas.
"Loh, Lily pikir Kak Lucas cuma nggak suka Lily, ternyata semua perempuan nggak ada yang Kak Lucas sukai sampai sekarang?" shock Lily sampai menutup mulutnya dengan tangan.
Lucas yang masih memegang tengkuk Lily dengan sebelah tangannya tersenyum melihat wajah shock Lily dan memegang kedua tangan Lily.
Muachhh
Lucas mengecup bibir Lily sampai tiga kali lalu menciumnya dengan penuh kelembutan, Lucas memegang tengkuk Lily dengan kedua tangannya dan semakin memperdalam ciumannya.
"Kak," Lily menjauhkan wajahnya dan mendorong Lucas bahkan memukul dadanya.
"Dengar Lily, kamu adalah alasan yang membuat aku tidak menyukai seorang perempuan mana pun sampai sekarang," kata Lucas memegang kedua tangan Lily yang terus memukul dadanya.
"Kok Lily?" kata Lily mendadak terdiam.
"Sejak Papi mengirim aku untuk sekolah di luar negeri setelah mendorong kamu hingga akhirnya terluka, sejak saat itu aku tidak ingin lagi dekat dengan perempuan mana pun," jujur Lucas.
"Aku merasa, jika ada perempuan di dekatku itu hanya akan mendatangkan masalah untukku," sambung Lucas.
"Naasnya aku malah berjodoh dengan perempuan yang tidak aku sukai sejak kecil dan dia juga alasan yang membuat aku jadi tidak menyukai perempuan mana pun sampai sekarang," ucap Lucas.
Muachhh
Muachhh
Muachhh
Lucas mengecup bibir dan pipi Lily lalu menciumnya lagi karena belum puas.
"Apelnya benar-benar manis Lily," kata Lucas yang merasakannya di mulut Lily.
"Jadi kalau kita beli orang di pelelangan selamanya kita akan jadi Tuan yang memilikinya?" tanya Lily yang diangguki Lucas.
"Singkatnya cukup keluar uang sekali dilayani seumur hidup," kata Lucas dengan senyum kecutnya.
"Jadi mereka kerja tidak digaji, Kak Lucas benar-benar jahat, tidak berperikemanusiaan," teriak Lily tiba-tiba memukul Lucas kembali.
"Tidak berperikemanusiaan apa? Aku ini sudah baik dan mempekerjakan mereka sebagai pelayan, walaupun tidak digaji tapi mereka bisa tinggal dan makan di rumahku," kata Lucas.
"Bayangkan mereka dibeli oleh Tuan yang lain, pasti dijadikan pelampiasan hasrat atau yang lebih parahnya disiksa atau dijual organnya," sambung Lucas menjelaskan kalau dia tidak sekejam yang Lily bayangkan.
"Lily nggak menyangka di era modern seperti sekarang masih ada perbudakan seperti itu," kata Lily dengan ngeri.
"Tapi kenapa orang tua mereka tega menjual anaknya?" tanya Lily dengan tatapan sedih.
"Karena bandel dan nakal," kata Lucas dengan serius.
"Hahhhh, beneran dijual karena nakal," shock Lily yang jadi takut dijual Daddy karena nakal dan bandel juga.
"Tapi kok Daddy mereka tega banget sih," kata Lily yang membayangkan betapa hancurnya hati para pelayan-pelayan itu.
"Lily mereka itu kebanyakan anak yang sudah tidak punya orang tua, kalau orang tuanya masih ada ya kali dijual begitu," tawa Lucas melihat wajah sedih bercampur takut Lily.
"Jadi yang jual mereka ke pelelangan siapa?" tanya Lily.
"Aku tidak tahu, bisa saja mereka diculik, diserahkan untuk bayar utang atau karena alasan, aku tidak tahu pasti," kata Lucas.
"Kenapa Kak Lucas tidak pernah menanyai mereka?" tanya Lily yang jadi penasaran alasannya apa.
"Untuk apa aku bertanya, tidak ada gunanya juga aku bicara dengan pelayan," ucap Lucas dengan arogan dan juga merasa itu tidak ada manfaatnya.
"Kak Lucas emang sombong ya," ketus Lily memandang Lucas sebelah mata selain arogan, pria itu juga tidak mau sekadar berbincang dengan orang yang statusnya lebih rendah.
"Ya emang tidak ada gunanya aku bicara atau tahu masa lalu mereka, toh selamanya mereka budakku," kata Lucas sampai Lily rasanya ingin menggeplak kepalanya.
"Dasar pria arogan!" teriak Lily jadi geram sendiri mendengar ucapan kurang ajar yang keluar dari mulut Lucas.
"Loh kok kamu malah marah, mereka memang budakku kan?" tanya Lucas merasa tidak ada yang salah, karena Lucas sudah membeli mereka.
"Ihhhhh, diam!" teriak Lily yang selalu merasa sakit hati setiap kali Lucas mengatakan wanita-wanita itu budaknya.
Sebagai seorang wanita ada rasa tidak terima di hati Lily!
Setelah lama saling diam Lucas akan berdiri tapi tangannya langsung dipegang Lily.
"Lily belum selesai nanya?" kata Lily dengan wajah betenya.
"Kamu kalau marah-marah terus, aku nggak mau jawab lagi," kata Lucas kembali duduk.
"Nggak marah lagi kok," kata Lily yang masih punya beberapa pertanyaan.
"Katakan," ucap Lucas duduk lebih mendekat bahkan merangkul pinggang Lily agar lebih dekat dengannya.
"Kak Lucas pernah hukum mereka?" tanya Lily dengan serius walaupun posisi wajahnya dan Lucas sangat dekat.
"Ya, kalau mereka melakukan kesalahan jelas dihukum," jawab Lucas apa adanya.
"Ma, maksud Lily dihukum, seperti yang dilakukan Tuan pada miliknya," kata Lily ragu-ragu.
"Lily katakan dengan jelas, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud," ucap Lucas yang sebenarnya paham hukuman seperti apa yang Lily maksud.
"Lily pernah nonton film, seorang mafia menghukum wanitanya di kamar," kata Lily dengan polosnya.
"Hukuman seperti apa?" tanya Lucas mengangkat sebelah alisnya.
"Tangannya diborgol, terus kakinya diikat Kak," kata Lily bercerita.
"Mmmm"
"Terus dipasang alat-alat yang menaikkan gairah, benar-benar menyiksa," kata Lily yang jadi tegang sendiri menceritakan film yang dia tonton.
"Lalu ditiduri sampai lemas," sambung Lily setelah beberapa saat terdiam.
"Kak Lucas pernah melakukan hal begitu juga?" tanya Lily.
"Akkkkh," Lucas mengisap leher Lily lagi namun kali ini di sebelah kiri, bekas isapannya untuk kedua kali benar-benar menyala di leher Lily.
"Kamu pikir aku ini pria seperti apa yang akan melakukan hal seperti itu pada pelayan?" tanya Lucas.
"Sekali lagi berpikir begitu kamu akan jadi orang pertama yang aku hukum dengan cara seperti itu," kata Lucas ke dekat telinga Lily.
"Ampun Kak," kata Lily jadi merinding merasakan napas Lucas berhembus begitu dekat dengan telinganya.
"Jangan panggil aku Kakak lagi," komplain Lucas.