Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.
Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.
Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.
Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.
Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencintai Rozen?
Pada kenyataannya Aurora masih merasa canggung walau suasana di meja makan sudah sedikit menghangat. Semua itu berkat Bianca dan percakapan sederhananya.
Beberapa anggota keluarga Salvadore juga mulai mengajak Aurora berbincang tentang hal biasa seperti menanyakan tentang kegemaran hingga kehidupannya sebelum menikah.
Aurora sangat senang hingga menjawab semuanya dengan sopan, tanpa berusaha menarik perhatian. Sikap rendah hati yang dimilikinya justru perlahan mengubah kesan sebagian anggota keluarga suaminya tentang dirinya.
Belum semuanya. Aurora mengerti bahwa tidak mungkin semua orang akan menerimanya dengan cepat. Aurora tidak boleh berharap bahwa semua orang harus menyambutnya dengan hangat.
Perlahan. Aurora harus menunggu dengan sabar.
Kemudian dari ujung meja, Marco yang sejak awal hanya mengamati Aurora akhirnya meletakkan gelasnya di atas meja. Gerakannya cukup sederhana tetapi cukup berhasil menarik perhatian Aurora dan tanpa sadar mengalihkan pandangan Aurora kepadanya, pada pria muda yang duduk dengan santai di seberang meja.
Aurora mengakui tatapan itu tidak setajam hunusan mata Rozen namun cukup dalam untuk membuat seseorang merasa sedang dinilai. Aurora tidak salah menduga. Pada nyatanya sejak awal kehadiran Aurora di ruang makan, perhatian Marco sudah tertuju padanya.
"Aurora," ucap Marco singkat.
Satu panggilan nama itu telah menarik seluruh perhatian menjadi menatap ke arah sumber suara. Panggilan itu juga membuat Aurora menegakkan tubuh seketika.
"Ya?" Jawaban singkat namun penuh kegelisahan. Aurora menduga-duga dengan cemas, apa yang hendak disampaikan kepadanya.
Marco menyandarkan punggungnya pada kursi, kemudian menatap Aurora beberapa detik sebelum akhirnya bertanya.
"Apa kau mencintai sepupuku, Rozen?" Ekspresinya terlihat tenang tetapi sorot matanya menyimpan keraguan.
Sayangnya, pertanyaan itu hanya membuat Aurora terdiam, sementara Marco tidak mengalihkan pandangan sedikit pun.
Putra tunggal Bianca tersebut tidak bermaksud untuk mempermalukan Aurora. Marco hanya ingin mendengar jawaban yang jujur.
Jika Aurora mengatakan bahwa ia mencintai Rozen, Marco ingin tahu apakah perkataan itu benar. Dan jika Aurora mengatakan tidak, setidaknya ia akan mengetahui bahwa wanita tersebut tidak datang ke keluarganya dengan kepentingan tersembunyi.
Untuk saat ini Marco akan berpatokan pada jawaban Aurora sebagai langkah pertama untuk menentukan apakah ia bisa menerima Aurora sebagai bagian dari keluarganya atau tidak. Karena sepertinya Marco masih belum siap menyebut Aurora sebagai keluarganya.
Bukan karena pria itu membenci Aurora.
Marco hanya belum percaya bahwa seorang wanita yang tiba-tiba menggantikan Isabella di hari pernikahan dapat dengan mudah mengambil tempat di keluarga mereka. Bagi Marco, pernikahan Rozen bukan sesuatu yang sederhana. Nama Salvadore membawa terlalu banyak kekuasaan, rahasia, dan tanggung jawab untuk diberikan kepada seseorang yang bahkan belum mereka kenal. Terlalu beresiko.
Sebenarnya sejak Aurora memasuki ruang makan, Marco sudah mengamati dan memperhatikan cara Aurora duduk, cara wanita itu menjawab pertanyaan, hingga bagaimana Aurora berusaha menyembunyikan kegugupannya setiap kali tatapan keluarga tertuju kepadanya.
Marco mengakuinya bahwa Aurora memang terlihat tulus. Tapi ketulusan saja belum cukup untuk membuatnya percaya. Ia ingin tahu satu hal yang menurutnya paling penting.
Apakah Aurora benar-benar menginginkan Rozen atau hanya sebatas menerima pernikahan tersebut karena keadaan?
...***...
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba.
Beberapa orang bahkan langsung menoleh ke arah Marco, seolah menganggap pertanyaan itu terlalu berani.
Sendok yang berada di tangan Aurora berhenti di udara. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu, terlebih di hadapan seluruh keluarga Salvadore.
Beberapa pasang mata langsung tertuju kepadanya. Memandangi Aurora dengan sabar, menanti jawaban darinya.
Aurora menelan ludah pelan. Jemarinya perlahan menurunkan sendok ke piring, sementara pikirannya berusaha mencari jawaban yang paling jujur. Jawaban yang tidak membuatnya dalam bahaya namun juga tidak mempermalukan Rozen di hadapan keluarga besarnya.
Aurora melirik Rozen sekilas, dan pria itu masih duduk tenang di sampingnya dengan wajah datar andalannya dan tetap memotong steak-nya dengan tenang, seolah sedang ikut menunggu jawaban Aurora tanpa berniat ikut campur.
Dan tampaknya pertanyaan tersebut sama sekali tidak mengganggunya.
Aurora yakin Rozen juga tidak akan membantunya. Kemudian matanya kembali menatap Marco.
"Aku belum tahu."
Suara Aurora sempat tertahan. Antara bingung dengan perasaannya sendiri dan takut pada jawaban yang mungkin akan menyinggung perasaan keluarga besar mafia tersebut.
Marco mengangkat alis. Merasa belum puas dengan jawaban yang diberikan Aurora tersebut.
Aurora akhirnya memfokuskan diri, lalu menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Pernikahan ini terjadi dalam keadaan yang tidak pernah kami bayangkan."
Dalam keadaan terpojok, Aurora masih tersenyum walau tipis. Meski ada sedikit kegugupan dalam sorot matanya.
"Aku akan sangat lancang jika mengatakan bahwa aku mencintainya."
Ruangan tersapu hening. Bahkan bunyi sendok yang saling beradu pun terpaksa dihentikan. Seluruh mata, seluruh fokus kini mengarah pada satu poros. Aurora Salvadore.
"Tapi Rozen adalah suamiku."
Aurora kemudian melanjutkan dengan suara lebih mantap. Tatapannya tanpa sadar bergeser kepada pria di sampingnya.
"Dan aku akan menghormati pernikahan ini."
Marco terdiam. Semua orang di ruang makan itu juga terdiam. Tidak menduga bahwa jawaban itu yang akan mereka dengar. Jawaban yang juga membuat Bianca tersenyum tipis. Bahkan Don Vittorio yang sejak tadi diam ikut menganggukkan kepala pelan.
Aurora menggenggam jemarinya di atas pangkuan, menahan napas sebentar guna menetralkan degup jantungnya yang tidak karuan.
"Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan mencintainya. Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin menjadi istri yang tidak membuatnya menyesal telah memilih mempertahankan pernikahan kami," tutur Aurora mengakhiri jawaban. Dalam hatinya Aurora memohon agar jawaban itu tidak akan menjadi bumerang baginya.
Marco menatap Aurora cukup lama sebelum sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jawaban yang jujur. Setidaknya kau tidak berpura-pura mencintainya hanya karena dia Rozen Salvadore." Marco tidak berkata apa-apa lagi setelah cukup puas dengan jawaban Aurora.
Aurora mengangguk dan tersenyum kecil. Sementara di sebelahnya, Rozen seketika menghentikan gerakan pisaunya dan mengalihkan tatapan tenangnya kepada Aurora.
Rozen mengamati istrinya dengan sorot mata yang sulit terbaca. Wanita itu tidak berpura-pura mengatakan bahwa ia mencintainya. Juga tidak berusaha mencari simpati dengan menjadikan dirinya sebagai korban. Aurora hanya berkata sejujurnya tentang apa yang dirasakannya.
Menurut Rozen, kejujuran itu terdengar jauh lebih meyakinkan daripada jawaban manis yang sering ia dengar dari orang lain.
Sudut bibir Rozen terangkat sangat tipis. Begitu singkat hingga nyaris tidak terlihat.
Kecuali oleh Bianca tentu saja. Wanita itu berhasil menangkap perubahan kecil yang mustahil terlihat di diri Rozen.
Bianca tersenyum dalam hati.
Mungkin Mansion Salvadore milik keponakannya itu akhirnya benar-benar mulai memiliki seorang nyonya yang mampu membawa kehangatan, meski hati sang mafia masih tertutup rapat.
...***...
Jamuan makan malam keluarga itu berakhir menjelang pukul sebelas malam.
Satu per satu anggota keluarga mulai berpamitan kepada Don Vittorio, sang tuan rumah. Ruang makan yang semula ramai perlahan kembali lengang.
Aurora mengembuskan napas lega. Malam itu dapat dilaluinya dengan cukup baik. Meski awalnya terasa berat, ternyata malam itu tidak seburuk yang ia pikirkan.
Namun tidak dapat Aurora pungkiri, masih ada beberapa tatapan yang masih dipenuhi rasa ingin tahu. Benar, bahwa tidak ada seorang pun yang secara terang-terangan merendahkannya. Hanya saja, sorot penuh curiga dari salah satu anggota keluarga suaminya itu masih sangat menggangu ketenangannya.
Tapi tidak apa-apa. Hal baik juga terjadi kala itu. Dan semua hal baik itu terjadi karena sosok suami yang tidak beranjak dari sisinya. Aurora melirik Rozen yang berjalan pelan di sampingnya menuju mobil.
Jika sejak awal Rozen tidak mengakui Aurora sebagai istri di hadapan semua orang, mungkin malam ini akan terasa jauh lebih berat.
Hingga saatnya Rozen dan Aurora berada dalam perjalanan pulang. Suasana di dalam mobil kembali dipenuhi keheningan.
Aurora memandang ke luar jendela, menikmati cahaya lampu kota yang berkelebat di sepanjang jalan. Sementara Rozen dengan berkas di tangannya.
"Rozen?” Aurora mengalihkan pandangan menghadap suaminya.
"Hm?"
"Terima kasih."
Rozen turut serupa dengan Aurora. Mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang dibacanya.
"Untuk apa?"
Aurora menahan napasnya, "Karena sudah berdiri di sisiku malam ini."
"Aku tau kamu melakukan itu karena tanggung jawab saja. Tapi, aku tetap ingin berterima kasih," ungkap Aurora memanjangkan kalimatnya yang terhenti sejenak.
Rozen tidak segera menjawab. Pria dingin itu memandang Aurora beberapa detik sebelum menutup sempurna berkas di tangannya.
"Itu memang tanggung jawabku."
Jawabannya masih tetap singkat. Tapi kali ini nada suaranya terdengar sedikit lebih lembut daripada biasanya.
Aurora mengangguk pelan karena jawaban itu sudah cukup baginya.
...***...